Akan Tetap Mencintai Mu

Akan Tetap Mencintai Mu
Sabian Anjing Penguntit


__ADS_3

3 Minggu kemudian.


Alena turun dari bus dekat kantor Sabian dan berjalan menuju kantor suaminya. Ia terlihat sangat aneh dan mencolok. Memakai celana jeans dan hoodie berwarna hitam serta topi berwarna putih dan kupluk hoodie yang menutupi topi. Ia mirip seperti detektif bodoh yang sedang menyamar.


Tiba di lobi kantor Sabian ia merasakan kebingungan. Ia harus pergi kemana untuk mencari Sabian. Ia melihat meja resepsionis yang ada disampingnya dengan bimbang. Apakah ia harus bertanya dengan mereka dimana Sabian berada atau tidak. Bagaimana jika mereka mengenali Alena, bisa-bisa mereka langsung memaki Alena dan mengusirnya dari kantor ini sebelum bertemu Sabian. Tapi masalah ini harus segera diselesaikan secepat mungkin agar ia bisa hidup dengan tenang tanpa di teror-teror lagi. Ia memantapkan dirinya dengan yakin dan berjalan menuju meja resepsionis untuk bertanya mengenai keberadaan suaminya.


"Permisi..." Ucap Alena sopan.


Wanita yang ada di meja resepsionis itu memandang Alena dengan heran.


"Ada apa?" Jawab wanita itu dengan sinis.


Hati Alena berdebar sedikit takut dengan apa yang akan terjadi nantinya. Ia berkata dengan sopan. "Saya ingin bertemu dengan tuan Sabian. Dimana saya bisa menemuinya nona?"

__ADS_1


Wanita itu memandang Alena dengan tatapan menghina. Apakah wanita ini salah satu dari wanita gila yang menginginkan tuan Sabian, pikirnya. Ia lalu berkata dengan tidak ramah. "Tuan Sabian tidak ada, kau pergilah. Dia tidak menerima tamu sepertimu."


Alena tahu wanita itu berbohong. Tadi pagi Sabian pamit dengan dirinya kalau ia akan pergi bekerja ke kantor. Alena masih berusaha untuk mencoba. "Ini benar-benar sangat penting nona. Bisakah kau telpon tuan Sabian sebentar. Aku hanya akan berbicara sebentar dengannya."


"Ku bilang tidak ada ya tidak ada. Kenapa kau sangat pemaksa sekali. Pergi dari sini." Bentak wanita itu.


"Ada apa Diana?" Tanya seorang wanita yang baru saja datang dari arah belakang dan betapa terkejutnya Alena melihat siapa wanita yang datang ini. Dia adalah Sherly, kekasih Sabian. Kenapa begitu sial sekali bisa bertemu Sherly di sini, apa dia sedang mengunjungi Sabian kekasihnya. Sangat romantis sekali. Cibir Alena dalam hati.


Semua orang yang melihat Sherly datang langsung bersikap hormat dan berubah seketika menjadi penjilat. Semua orang tahunya bahwa Sherly adalah kekasih Sabian. Begitulah rumor yang tersebar dan Sabian pun tidak membantah ataupun membenarkan rumor itu. Lebih tepatnya ia tidak perduli dan tidak ingin tahu.


"Benarkah?" Ucap Sherly sambil menyeringai dan perlahan berjalan mendekati Alena. Saat tiba di depan Alena, ia menarik masker dan hoodie yang menutupi wajah Alena. Semua orang bahkan Sherly terkejut melihat siapa wanita dibalik masker yang ia kenakan. Itu adalah Alena, istri tuan muda Sabian yang selama ini telah tuan Sabian acuhkan keberadaannya. Wanita tukang selingkuh yang sudah mencoreng nama baik tuan Sabian berkali-kali serta wanita pembuat masalah dan suka mempermalukan tuan Sabian. Benar-benar tebal muka nona Alena yang tidak terhormat ini datang jauh-jauh untuk bertemu tuan muda Sabian. Apakah tidak punya rasa malu sama sekali. Pikir orang-orang yang ada di sana.


Sherly tersenyum licik memandangi Alena yang nampak khawatir dan gelisah menghadapi situasi ini. Ia lalu berkata dengan nada merendahkan dan menghina. "Wanita ****** datang kekantor kekasihku untuk menggodanya. Kira-kira apakah kekasih ku akan tergoda?" Ucapnya sambil melirik segerombolan karyawan wanita yang sedang berbisik-bisik memperhatikan Alena.

__ADS_1


Diana seperti melihat peluang emas untuk menjilat. Sherly adalah kekasih Sabian. Jika ia bisa membuat Sherly senang maka kemungkinan ia bisa meminta kepada Sherly untuk naik jabatan. Ia berjalan mendekati Alena dan berkata. "Nona Sherly, tentu saja tuan muda tidak akan tergoda. Siapa yang mau menyentuh wanita kotor seperti dia, bahkan anjing saja juga tidak sudi apalagi seorang tuan muda Ardhana yang terhormat. Mau di bawa kemana harga diri tuan muda."


Sherly tertawa mengejek dengan penuh hinaan dan berkata, "kau benar, wanita seperti dia tidak akan bisa menggoda kekasihku Sabian. Dia sangat mencintaiku, memiliki wanita sempurna seperti diriku apakah masih mau menyentuh ****** hina seperti dia."


Alena mulai geram dan tak tahan dengan tindakan kedua wanita menyebalkan di hadapannya ini. Ia tertawa meremehkan dan berkata, "hahahahaha, nona Sherly anda begitu percaya diri sekali sepertinya Sabian tidak akan menyentuhku hanya karena kau seorang. Ku beri tahu padamu, Sabian itu adalah anjing penguntit yang mengikuti ku kemana saja. Bahkan dia tanpa tahu malu memaksa untuk tinggal bersamaku di kediaman ku yang kecil dan sederhana. Aku mengusirnya tiap hari dan mengingatkan agar dia pergi menemui kekasihnya saja di bandingkan aku. Tetapi dia tidak pernah pergi dari kediaman ku dan bahkan ****** ******** saja masih terlipat rapih di lemari sebelah baju ku. Kau pikir saja disini siapa yang menjadi penggoda. Itu adalah Sabian. Kekasih mu seorang pria penggoda."


Semua orang menganga tak percaya mendengar perkataan Alena yang terdengar sangat kurang ajar. Apa katanya tadi Sabian adalah anjing penguntit, lelaki penggoda? Kurang ajar. Sherly berjalan dengan penuh emosi dan langsung menampar pipi Alena.


Plakk .....


Suara tamparan begitu nyaring terdengar di tempat yang luas dan senyap ini. "Wanita tidak tahu diri. Beraninya kau mengatai Sabian ku dengan kata kotor seperti itu hah! Kau pikir kau siapa? Jika Sabian mau dia bisa saja mencampakkan dirimu sekarang juga dan mempermalukanmu di seluruh penjuru negeri bahkan penjuru dunia sekaligus." Ucap Sherly berapi-api.


Alena menyentuh pipinya yang terasa panas dan sudut bibirnya yang sedikit robek mengeluarkan darah segar. Emosi serta tamparan dan kata-kata Sherly membuat Alena merasa marah dan tak terima. Ia berkata dengan lantang dan penuh emosi, "aku, Alena Ribero adalah wanita terhormat dan tidak pernah berselingkuh seperti kata mulut murahan mu itu. Ku beri tahu padamu yang murahan di sini adalah kau dan Sabian. Kalian adalah pasang selingkuh dan kalian sangat bangga akan gelar itu bahkan hingga dengan tidak tahu malunya menghina dan memaki ku sebagai pelaku padahal kalianlah pelaku itu. Ku beri tahu padamu nona, kalian berdua adalah pasangan pezina yang tidak tahu malu. Dan apa katamu tadi, Sabian bisa saja mencampakkan ku saat ini juga? Heh, itu tidak akan pernah terjadi. Aku, Alena Ribero yang akan mencampakkan kekasih pezina mu itu."

__ADS_1


"Ada apa ini?"


Hi readers. Jangan lupa untuk selalu mendukung cerita author ya dengan cara like, komen, dan share cerita author biar author makin semangat buat nulis ceritanya. Dukungan dari kalian adalah motivasi untuk author agar lebih semangat lagi dalam menulis. Di tunggu update selanjutnya dari kisah Alena dan Sabian. Semangat 😄🙌


__ADS_2