
Tiba di rumah sakit. Alena langsung di bawa ke ruang gawat darurat.
"Tuan, tolong tunggu saja di depan. Biarkan dokter yang bekerja di dalam." Ucap sang perawat menghentikan Sabian yang hendak masuk ke dalam.
"Aku ingin menemani istri ku." Jawab Sabian dingin.
Perawat itu gemetar ketakutan, tetapi asisten Jack langsung menengahi. "Tuan, biarkan para dokter bekerja dengan tenang di dalam. Sebaiknya kita menunggu saja agar tidak menggangu."
Sabian mendengus kesal dan berkata, "huh, baiklah." Lalu ia duduk dengan cemas di temani Jack yang senantiasa berdiri di samping Sabian.
Tak berapa lama kemudian seorang dokter wanita keluar dari dalam ruangan tempat Alena di periksa. Sabian dengan tidak sabar menghampiri dokter itu dan mencecarnya dengan rentetan pertanyaan. "Dokter, bagaimana keadaan istriku? Apa dia sakit parah? Apakah dia baik-baik saja?"
Dokter itu berdehem sejenak lalu berkata, "tuan, anda tidak perlu terlalu khawatir. Istri anda sedang hamil 3 mingguan. Kondisi tubuhnya yang lemah serta ia yang sepertinya mengalami tekanan dan banyak pikiran membuat istri Anda pingsan. Istri anda tidak perlu di rawat inap di rumah sakit. Dia hanya perlu perawatan dan perhatian di rumah saja."
Mendengar perkataan dokter barusan membuat Sabian bahagia dan terharu dengan kabar itu. Istrinya hamil. Itu berarti Alena akan semakin terikat dengannya dan akan semakin sulit untuk wanita itu melepaskan diri darinya. Ia berkata dengan antusias, "dokter, saya ingin menemui istri saya sekarang."
"Silahkan tuan, tapi istri anda belum sadar. Tunggu saja sekitar setengah jam lagi." Ucap dokter mempersilahkan.
"Baiklah." Jawab Sabian dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
__ADS_1
Sabian menghampiri istrinya yang terbaring lemah dengan wajah pucatnya. Ia mengangkat tangannya untuk mengelus wajah Alena dengan lembut dan penuh cinta. Seulas senyum bahagia terbit di wajahnya yang biasanya datar dan dingin itu. Lalu sabian mencium kening Alena dan berkata, "aku akan menjaga kalian dan tak akan pernah melepaskan mu sayang. Dengan adanya anak ini akan membuat semua orang dan bahkan kau sendiri tidak akan bisa memisahkan kita."
Sabian dengan setia menunggu Alena membuka matanya. Tak berapa lama setelah itu, Alena perlahan mengernyitkan keningnya dan membuka matanya perlahan. Sabian sangat senang melihatnya dan berkata, "kau sudah bangun, sayang.''
"Aku dimana?" Tanya Alena yang masih sedikit linglung.
"Kau di rumah sakit. Tadi kau pingsan di kantor ku." Jawab Sabian.
Mendengar hal itu Alena hanya ber oh saja dan kembali menutup mulutnya.
Sabian kemudian kembali berbicara dengan semangatnya, "kau tahu sayang, tadi dokter bilang kau sedang hamil dan usia kandungan mu 3 Minggu."
Sabian dengan hati-hati menyuruhnya berbaring lagi karena takut melukai janin yang ada di perut Alena. "Jangan bangkit tiba-tiba seperti itu. Kasihan baby nya."
"Kenapa aku bisa hamil?" Tanya Alena polos dan dengan wajah yang masih sedikit terkejut.
Sabian mengernyitkan matanya melihat tingkah Alena yang menurutnya sangat menggemaskan lalu berkata, "tentu saja kau bisa hamil. Kau kan punya suami, apalagi suami mu sehat dan gagah seperti ku." Ucapnya dengan bangga.
Sabian nampak sangat senang mendengar kabar kehamilan Alena, namun berbeda dengan Alena sendiri. Wajahnya tampak murung seperti memikirkan sesuatu. Melihat ekspresi murung Alena membuat rasa senang Sabian tiba-tiba seperti menguap ke udara. Ia bertanya, "kenapa kau seperti tidak senang?"
__ADS_1
Alena menoleh dengan wajah sendu dan berkata, "aku tidak mau hamil anak ini."
"Kenapa?" Tanya Sabian dengan suara yang lembut. Hati Sabian sedikit terasa sakit mendengarnya. Tapi jika Alena tidak menginginkan anak ini dan tidak mau melahirkannya karena takut merasa sakit atau dengan alasan yang bisa di terima, ia mampu untuk merelakan anak ini. Menurutnya anak tidak terlalu penting jika Alena tidak menginginkannya. Yang pria itu mau hanyalah Alena. Tetapi jawaban Alena membuat Sabian tiba-tiba saja langsung murka menahan amarah.
Alena menjawab, "karena kita akan bercerai. Aku tidak mau menjadi istrimu. Kasihan nanti anak ini."
Sabian tiba-tiba berdiri mendengar hal itu dengan raut wajah yang sudah di penuhi emosi. "Alena, apa kau serius ingin bercerai denganku?" Bentaknya.
Alena nampak ketakutan melihat Sabian yang sedang marah seperti ini. Ia berkata dengan wajah penuh sendu dan suara bergetar. "Sabian, keluarga mu tidak menyukaiku. Semua orang juga tidak menyukaiku berada di dekatmu. Citra ku di luar sana sudah sangat buruk. Ketika bertemu orang lain saja sudah pasti mereka akan menghina dan memaki ku. Kau sendiri juga tahu. Jika aku bertahan disisi mu dan anak ini lahir, semua orang juga pasti akan mencaci dan menghina anak ku. Aku tidak rela dan tidak sanggup. Kau itu tidak tau rasanya bagaimana karena semua orang menyanjung mu. Tapi tidak dengan ku. Meskipun aku sudah pias dan mati rasa akan kata-kata kasar orang lain tapi tidak jika yang mendapatkannya anakku." Tanpa sadar air mata itu jatuh membasahi pipi Alena.
Hati Sabian menjadi sakit mendengarnya. Ternyata istrinya itu sangat menderita selama ini dan dia dengan bodohnya tidak tahu dan tidak perduli. Emosi yang satu menguap kini telah berubah menjadi perasaan bersalah karena tidak becus menjaga istri sendiri. Ia mengelus kepala Alena dan berkata dengan lembut, "sayang, maafkan aku. Selama ini aku tidak perduli dengan mu dan hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan saja hingga aku mengabaikan mu. Tapi kau tenang saja, mulai sekarang tidak ada yang akan bisa menghinamu lagi. Aku akan menjagamu dan anak kita dengan sekuat tenaga ku. Tolong maafkan aku dan jangan lagi bicarakan tentang perceraian denganku. Ayo kita lahirkan anak ini. Aku jamin tidak akan ada yang menghinanya di masa depan."
Alena memandang sabian dalam-dalam untuk mencari jejak kebohongan di dalamnya tapi tidak ada. Perkataan Sabian memang sangat tulus.
Hati Alena tersentuh mendengarnya. Ia mengelus perutnya yang masih datar itu dan berkata dengan pelan. "Apakah benar kami akan baik-baik saja jika tetap berada di sisi mu?"
"Benar, aku janji." Ucap Sabian pasti.
"Sabian, kau tahu ada banyak sekali berita buruk tentang ku di luar sana. Di masa depan pasti akan lebih banyak lagi. Apakah kau akan selalu mempercayaiku?" Ucap Alena sambil memandang Sabian penuh harap.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan mempercayai apa yang kau katakan, sayang. Selama ini, aku tidak pernah mempercayai rumor-rumor yang beredar tentang mu. Setiap ada berita buruk tentang mu yang menyebar, aku selalu menyuruh Jack untuk mencari tau kebenaran yang terjadi. Aku tahu semuanya hanya saja dulu aku tidak memperhatikan mu hingga tidak perduli dengan berita itu. Maafkan aku, sayang. Tolong beri aku kesempatan." Ucapnya sarat akan permohonan. Jujur ini pertama kalinya Sabian memohon kepada seseorang, apalagi orang itu adalah istrinya sendiri. Jika orang di luar sana tahu seorang Sabian Ardhana, pewaris tunggal keluarga Ardhana yang di takuti dan di segani semua orang kini sedang memohon pada istrinya, mereka pasti akan menertawakannya.