
"Huh Kenapa kalian pergi tanpa mengajakku ?". Kata Kakak.
"Adikmu lebih suka berduaan dengan ayahnya daripada kakaknya". Kata Ayah sambil mengejek.
"Hah, itu tidak benar dia lebih suka sama aku". Kata Kakak yang marah.
Stella yang melihat mereka sedang marah tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.
"Ehm acu lapar mau macan". Kata Stella.
Akhirnya mereka berhenti dan pergi untuk memakan cemilan bersama. Mereka akhirnya berbaikan dan menghabiskan waktu bersama dengan sangat menyenangkan.
"Aku harus pergi berjalan-jalan. Aku sangat kenyang sekali". Kata Stella dalam hati.
"Acu mau pelgi cendili". Kata Stella pada Ayahnya dan Kakaknya.
"Oke Stella. Jangan jalan terlalu jauh ya nanti tersesat". Kata Ayah Stella.
"Huhuhu aku ingin pergi denganmu tapi kamu mau pergi sendiri jadi okelah". Kata Kakak.
Stella pun tertawa dan pergi berjalan. Dia melihat bunga-bunga yang cantik. Air mancur di tengah-tengah. Stella pun berbaring di bawah pohon.
__ADS_1
"Hey kamu menyingkir dari situ". Kata seorang anak yang sedang diatas pohon duduk.
"Camu Ciapa ?". Kata Stella yang sedang bergegas pindah.
Anak itu pun turun dan duduk di samping Stella.
"Acu Cella". Kata Stella.
"Oh kamu pasti tuan putri kan ? Aku Damien". Kata anak itu.
Anak itu berambut hitam dan bermata merah seperti ruby. Dia sangat tampan. Stella terus memandanginya. Dan anak itu menyadarinya.
"Hey kenapa kamu terus memandangiku ?". Kata Damien.
"Nah sudah sadar kan ?". Kata Damien.
"Ehem Camu Tampan". Kata Stella.
Damien pun merona dan malu. Dia berusaha menyembunyikan ekspresinya. Aku Stella mengetahui itu dan ikut merasa malu juga. Stella pun mengucapkan salam perpisahan dan pergi.
"Acu mau cembali". Kata Stella.
__ADS_1
Setelah Stella kembali dia melihat ayah dan kakaknya berbicara dengan sangat serius. Dia ingin menemui mereka tapi takut mengganggu dan akhirnya dia menunggu mereka selesai berbicara. Namun, Ayah melihatku berdiri disana dan akhirnya berhenti berbicara dengan kakak dan memanggilku kesana. Aku pun pergi ke mereka.
"Setelah dipikir-pikir pertemuan dengan Damien seperti pernah terjadi tapi aku lupa kapan itu terjadi". Kata Stella di dalam hati sambil berjalan ke ayah dan kakaknya.
"Bagaimana jalan-jalannya Stella ?". Kata Ayah.
"Apaan sih yang mulia baru juga aku mau menanyakannya". Kata Kakak.
"Makanya Cepat Kamu masih lambat". Kata Ayah.
"Menenacan". Kata Stella.
"Baguslah ayok kita masuk". Kata Ayah.
"Apakah aku harus menceritakan kepada mereka bahwa aku bertemu Damien saat jalan-jalan tadi ? Hmmm mungkin sebaiknya tidak karena tidak perlu". Kata Stella di dalam hati.
Ayah menggendongku dan membawaku ke kamar. Dia mengatakan bahwa aku harus tidur sebentar karena lelah dan dia akan membangunkanku jika makan malam sudah siap. Aku pun tertidur. Di dalam mimpi aku terus memimpikan bagaimana aku bisa mati. Ada suara yang tidak asing berbicara sebelum aku mati tapi saat itu aku merasa sangat sakit. Namun, yang terakhir kali aku ingat aku tidak sadarkan diri saat berbicara dengan mantan pacarku dan sahabatku. Disitu aku tidak merasa sakit saat tidak sadarkan diri. "Jadi bagaimana aku bisa mati ? Apakah aku melupakan sesuatu yang penting ? Atau bagaimana cari aku bisa mati ya ?". Kata Stella di dalam mimpi itu. Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh dengan sangat lembut dan sepertinya dia berbicara sesuatu, tetapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Aku pun langsung membuka mata dan melihat Ayah dan kakak yang panik dan takut. Aku pun juga kaget karena aku menangis ternyata yang membuat ayah dan kakak panik dan takut. Aku merasa aku harus berusaha mengingat apa yang terjadi itu karena menurutku itu seperti sebuah potongan puzzle yang harus aku temukan. Aku pun berpikir dengan keras saat itu tetapi tidak menemukan apa-apa akhirnya aku mengesampingkannya. Saat itu makanan pun siap dan ayah menggendongku ke meja makan.
"Stella sayangku kalau kamu bermimpi buruk kamu hanya perlu mengingatku dan memanggil namaku maka aku akan segera datang menyelamatkanmu". Kata Ayah.
"Aku juga dik". Kata Kakak.
__ADS_1
"Keluarga ini sangat baik, lembut, dan hangat. Aku harus membatasi diri dengan mereka karena kalau saatnya tiba aku akan menyesal dan tidak bisa kabur akhirnya akan berakhir sama dengan kehidupan sebelumnya". Kata Stella di dalam hati.
Stella menggangguk menjawab perkataan ayah dan kakaknya. Dia pun makan dan menghiraukan ayah dan kakaknya yang terus menatapnya dengan tatapan terharu. Setelah selesai makan dia pun kembali ke kamar bersama bibi pengasuh....