
Cika sedang berfikiran apakah keputusan yang dia ambil adalah jalan yang baik.
"apapun itu ayah sembuh itu adalah jalan terbaik"ucap Cika dalam hati,Fani sendiri semakin bingung
"kamu tenang saja ayah kamu akan baik baik saja dia juga akan mendapatkan penanganan yang baik jadi kamu jangan khawatir"ucap Linda beranjak dan duduk di sebelah Cika sembari mengusap punggungnya
"terimakasih buk atas bantuannya"ucap Cika
"tidak usah sungkan nak sebentar lagi kamu dan ayah mu akan jadi anggota baru keluarga saling membantu itu hal yang wajar dalam keluarga"ucap Linda tersenyum dan mengusap air mata Cika,Fani yang mendengar itu semakin bingung
"saya permisi dulu ya buk mau lihat ayah"ucap Cika
"iya kamu harus kuat biar ayah mu juga sapat energi kekuatan dari anak cantiknya jangan bersedih"ucap Linda tersenyum
"Fani bawa motornya jangan ngebut ngebut ya"ucap Linda
"oh iya buk siap pasti aman"ucap Fani tersenyum
Fani dan Cika keluar dari rumah itu,didalam perjalanan Cika hanya terdiam meratapi kehidupannya yang akan datang ia tak bisa membayangkan akan serumit dan sesulit apa yang akan terjadi
"Cika ibu itu kalau nggak salah nyokap nya bos kan"ucap Fani seperti tak asing
"ehhh nih bocah ngelamun"ucap Fani dalam hati dan memainkan remnya
"aduh fan kenapa motornya habis bensin ya"ucap Cika
"bukan habis bensin tapi pengen sadariin Lo dari tadi ngelamun terus ada apa sih ci sampe gue ngomong nggak di tanggapi "ucap Fani
"aghh maaf tadi Lo ngomong apa gue nggak fokus tadi"ucap Cika
__ADS_1
"itu tadi ibunya bos kan pak Leo"ucap Fani, mendengar itu cika terdiam
"yah ngelamun lagi udah lah"ucap Fani
"eh iya fan tadi ibu Linda ibunya bos Leo"ucap cika
"loh bisa pinjem duit ke dia sih fan apalagi dia bilang Lo sama bokap Lo akan jadi keluarga apa coba"ucap Fani
"etsss jangan jangan Lo sepupunya pak Leo ya"ucap Fani
"wah anjir Lo nggak bilang bilang"ucap Fani kaget
"bukan gue bukan siapa siapanya pak Leo"ucap Cika
"yah terus kalau bukan sepupunya nggak mungkin semudah itu dong buk Linda keluarin uang sebanyak itu untuk Opera bokap Lo"ucap Fani ,Cika kembali diam
"pokoknya lih hutang penjelasan sama gue"ucap Fani nampak tau sahabatnya sedang tertekan
"nyonya Cika ayah anda sekarang sudah dalam penanganan operasi "ucap pria berjas
"terimakasih tapi panggil saya Cika aja "ucap Cika
"baik nyonya cuka"ucap pria itu
"panggil Cika malah tetap ada nyonya "ucap Fani
pria berjas itu mengeluarkan kartu kamar hotel berbintang tak jauh dari rumah sakit itu
"apa ini "ucap cika bingung
__ADS_1
"nyonya besar menyuruh anda untuk istirahat di hotel Castel ,ayah anda akan saya handle jadi anda tidak perlu khawatir nyonya saya akan memastikan ayah anda baik baik saja"ucap pria itu
"hotel Castel?hotel mewah kelas sultan itu mah ci artis artis luar negeri kalau ke Jakarta nginep di situ tau "ucap Fani syok
"tapi tidak udah saya di sini saja menjaga ayah saya"ucap Cika hendak memberikan kembali kartu kamar itu
"maaf nyonya tidak bisa perintah nyonya besar tidak bisa di bantah,nyonya besar hanya mengkhawatirkan kesehatan dan kondisi anda "ucap pria itu
"udah ci kata ibu Linda bener juga kondisi Li juga penting kan nggak lucu kalau paman sadar terus Lo malah yang sakit"ucap Fani
"tapi..."ucap Cika melihat Fani
"Lo jangan takut gue temenin,boleh kan ya di temenin ibu Linda juga tau sama gue"ucap Fani,pria itu hanya mengangguk
"bang siapa namanya"ucap Fani
"aghh DefrianSyah"
"bang def mukanya jangan judes amat harus sering sering lihat stand up atau nggak senam wajah tau biar nggak datar ya paling nggak setelah itu bisa senyum senyum sedikit "ucap Fani mengolok
"canda kali bang Defri serius amat santai aja"ucap Fani saat di tatap sinis Defri
"tuan Defri kalau begitu saya minta tolong ya jagain ayah saya dan kabari perkembangannya "ucap Cika
"hemm ini nomor handphone saya"ucap Cika menyodorkan nomor telepon pada layar handphonenya yang sudah retak
"baik nyonya"ucap Defri
"saya permisi dulu ya,ayo fan"ucap Cika sembari menggandeng Fani
__ADS_1
"dadah bang Defri muka tembok"ucap Fani melambaikan tangan