AKU BUKAN CEWEK MATRE

AKU BUKAN CEWEK MATRE
Bab 10. Ungkapan Cinta


__ADS_3

"Jangan pergi. Temani aku di sini," ucap Daniel.


"Tapi, Pak ...."


"Tidak ada kata tapi. Ini perintah," ucap Daniel dengan tegas.


Dengan terpaksa Adel duduk di tepi ranjang. Dalam diam Daniel tertawa. Dia ingin mengerjai bawahannya itu.


Daniel lalu menarik pinggang Adel hingga gadis itu terjatuh ke atas ranjang, tepat di samping sang bos. Mata mereka bertemu. Saling menatap tanpa kedip. Pria itu makin mendekatkan wajahnya pada sang bawahan.


Jarak mereka saat ini hanya beberapa senti saja. Adel juga dapat merasakan deru napas sang bos. Daniel makin mendekatkan wajahnya, dan mengecup bibir Adel pelan. Wanita itu tidak bisa berkata-kata, hanya terdiam, terpaku.


Pinggang Adel makin di tarik hingga tubuh keduanya rapat. Gadis itu yang tak pernah sedekat ini dengan pria manapun, menjadi gugup. Jantungnya berdetak lebih cepat.


"Adel, maukah kamu menjadi kekasihku. Aku tahu ini mungkin terlalu cepat. Tapi bukankah cinta itu datang tanpa kita duga," ucap Daniel.


"Bapak ngomong apa, sih? Kalau mabuk ternyata lucu juga. Ungkapin cinta lagi," balas Adel dan mencubit pipi Daniel.


Adel berpikir Daniel memang mabuk dan bicara ngelantur karena efek dari mabuk itu. Dia tidak tahu jika itu memang ungkapin dari hati pria itu.


"Andai saja itu memang benar dan diungkap dari hati, aku pasti bahagia, karena akhirnya niatku untuk mengubah nasib akan terwujud. Menjadi kekasih orang kaya," gumam Adel dalam hati sambil tersenyum.


Dahi Daniel berkerut melihat gadis itu tersenyum sendiri. Dia yang memperhatikan Adel dari tadi jadi bertanya, apa yang ada dalam pikirannya.


"Adelia, Aku tidak pernah berpikir ada orang yang akan membuatku tersenyum, tertawa, dan merebut hatiku secepat yang kamu lakukan. Kamu adalah orang yang paling tak terduga yang datang ke dalam hidupku dan itulah mengapa aku mencintaimu. Kamu adalah cinta yang datang tanpa peringatan. Kamu memiliki hatiku sebelum aku bisa mengatakan tidak," ucap Daniel.


Adelia memandangi wajah Daniel tanpa kedip. Jika pria itu memang mabuk, tidak mungkin bisa merangkai kata seindah itu. Namun, dia tidak ingin berharap. Mana mungkin sang bos mencintainya. Dia bisa mencari wanita yang lebih segalanya dariku.


Daniel memeluk erat tubuh Adel agar tidak bisa pergi darinya. Mereka berdua terdiam tanpa bicara. Hingga satu jam berlalu, gadis itu melihat ke samping, ternyata sang bos telah terlelap.


Dengan pelan, Adel mencoba melepaskan pelukan di pinggangnya. Dia pergi dari kamar Daniel. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


Sampai di kamar, Adel termenung. Dia masih mengingat ungkapan cinta Daniel tadi. Apa itu benar atau efek dari mabuk.


Hingga jam tiga dini hari baru Adel bisa memejamkan matanya. Tinggal satu hari lagi dia dan Pak Daniel di kota ini.


**


Keesokan harinya, Daniel mengajak Adel untuk jalan ke tepi pantai sebelum mereka pulang besok. Gadis itu terlihat sedikit canggung saat berhadapan dengan sang bos.


"Kita jalan ke pantai sebelum besok kembali," ucap Daniel dengan suara yang lembut, beda dari biasanya yang penuh penekanan.


Adel hanya bisa menjawab dengan menganggukan kepalanya. Tak tahu kenapa dia menjadi canggung. Apa lagi Daniel tidak ada menyinggung tentang ungkapan cintanya itu, sehingga dia merasa pria itu mengatakan semua itu dibawah alam sadarnya.


Daniel tersenyum melihat Adelia menatap laut dengan penuh kagum. Mereka berdua berjalan-jalan di sepanjang pantai yang sepi, jauh dari keramaian kota yang biasa mereka alami. Daniel merasa lebih tenang di sini, dan dia berharap Adelia merasa sama.


"Malam ini langit begitu cerah, ya Pak," ujar Adelia memecah keheningan.


"Iya, sangat jelas," jawab Daniel sambil melirik ke langit yang luar biasa bersih.


Daniel tersenyum canggung, "Ya, aku juga merasa begitu." Dia benci dirinya sendiri karena selalu jadi begitu kikuk kalau ada di dekat Adelia.


Daniel teringat ungkapan cintanya kemarin malam. Dia tahu Adel pasti berpikir semua hanya main-main, padahal itu memang dari hatinya.


"Apakah Bapak mau duduk sebentar dan menikmati tempat ini di sana," ajak Adelia sambil menunjuk sebuah batu besar.


Mereka berdua duduk di atas batu tersebut dan terus menatap laut sambil membicarakan tentang hal-hal sepele. Tiba-tiba, sebuah keberanian menguasai Daniel, dan dia memutuskan untuk berkata jujur tentang perasaannya.


"Adelia, aku ingin bilang bahwa selama ini diam-diam mencintaimu," kata Daniel dengan sedikit gemetaran.


Adelia terkesiap, "Apa?"


Daniel menatap mata indah Adelia dengan tegas, "Sejak awal kamu bekerja, aku sudah merasakan perasaan ini. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi."

__ADS_1


Adelia terdiam, menggeleng-geleng kepala. "Aku tidak tahu harus berkata apa, Pak Daniel."


"Aku mengerti," kata Daniel. "Aku tidak menuntut apa pun darimu, hanya ingin mengatakan sesuatu yang selama ini aku sembunyikan."


Suasana menjadi canggung seketika. Adelia mengembalikan pandangannya ke laut, sementara Daniel cemas menunggu reaksi dari Adelia.


"Pak Daniel, aku menghargai kejujuran Bapak," kata Adelia akhirnya. "Tapi maaf untuk saat ini aku belum bisa menjawab. Beri aku waktu."


Daniel kecewa dan mulai bangkit dari duduknya, "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku tidak ingin merusak hubungan ini."


"Bukan begitu, Pak Daniel," Adelia meraih tangan Daniel. "Ini semua terlalu cepat bagiku. Beri aku waktu satu minggu. Aku akan jawab nanti."


Daniel mengangguk-anggukan kepalanya. "Aku mengerti, Adelia. Aku akan menunggu jawabanmu."


Namun Adelia mendorong tangan Daniel agar ia tetap duduk, "Tetaplah di sini, mari kita menikmati suasana pantai malam ini. Aku harap kedekatan ini tetap terjaga."


Meskipun merasa kecewa, Daniel menuruti permintaan Adelia dan kembali duduk di sampingnya. Mereka terus menatap laut, kali ini dengan atmosfer yang jauh lebih sedih. Daniel merasakan patah hati yang dalam, tetapi cukup bersyukur Adelia masih di sisinya. Dia takut penundaan itu adalah alasan saja, sebenarnya menolak.


Malam itu panjang dan tenang. Mereka berdua menikmati suasana pantai, berbicara tentang kehidupan dan mimpi-mimpi mereka. Sekitar jam 2 pagi, mereka memutuskan untuk pulang ke hotel. Setelah tiba, Daniel meminta izin untuk keluar sebentar.


"Saya perlu berjalan-jalan sendirian," katanya pada Adelia.


"Baiklah, tapi jangan pergi terlalu lama. Dan ingat jangan minum. Nanti Bapak mabuk lagi," kata Adelia sedikit cemas.


Daniel mengangguk dan keluar dari hotel, mencari tempat tenang untuk menyendiri. Dia menatap langit malam dan berbicara pada dirinya sendiri, karena cintanya belum diterima. Namun, Daniel tersenyum mengingat pesan Adel yang penuh perhatian tadi.


Sembari berjalan pulang, Daniel menyadarkan diri bahwa itu adalah malam yang menyenangkan. Dia menyadari betapa berharganya waktu yang ia habiskan dengan Adelia, meskipun itu membuat hatinya sedikit sakit.


Dia menghela nafas dan melangkah maju dengan penuh optimisme bagi masa depan. Dia akan menunggu jawaban dari Adel. Namun hingga saat itu tiba, mereka akan terus menjadi teman yang baik dan saling mendukung. Itu adalah yang terbaik bagi keduanya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2