AKU BUKAN CEWEK MATRE

AKU BUKAN CEWEK MATRE
Bab 18. Makan Malam


__ADS_3

Pagi ini Mama Meri datang berkunjung ke kantor putranya. Tanpa pamit pada siapa pun wanita itu langsung masuk ke ruang kerja Daniel.


Daniel yang melihat kedatangan sang mama mempersilakan wanita itu duduk.


"Daniel, nanti malam sibuk tidak?" tanya mama Daniel yang sedang duduk di sofa ruang kerjanya.


Mama Meri datang untuk memastikan jika nanti malam tidak ada kegiatan yang berarti untuk anak semata wayangnya karena ia telah merencanakan sesuatu untuk anaknya dan bisa dipastikan ini akan membahagiakannya.


"Tidak ada. Kenapa, Ma?" Menandatangani file penting dan juga mengecek satu per satu file tersebut, Daniel tampak serius dengan kerjaannya.


"Tidak." Mama Meri berjalan mendekat ke arah Daniel, mengusap lembut bahu putranya lalu mencium pucuk kepalanya. "Nanti jangan pulang malam-malam, ya? Jam 7 harus sudah ada di tempat makan yang biasa keluarga kita habiskan untuk malam minggu!"


Mendengar hal itu membuat Daniel memundurkan kepalanya, menatap sang mama dengan selidiknya. Ini bukan malam minggu atau hari libur tetapi mamanya meminta dirinya untuk pergi ke tempat makan itu. Dia tidak curiga karena itu memang tempat makan langganan keluarga mereka, tetapi tidak biasanya mereka akan makan di sana saat hari kerja. "Baiklah. Nanti Daniel akan pulang sore."


"Terima kasih. Mama pulang dulu," pamitnya setelah mengecup pucuk kepala Daniel lagi.


"Hati-hati di jalan, Ma."


Sepeninggal mamanya, dia disibukkan dengan file-file yang ada. Tanda tangan dan juga pengecekan serta laptop depannya yang tidak bisa ditinggal karena pekerjaannya yang sangat banyak. Daniel pun mengendurkan dasinya, lalu mengacak asal rambutnya karena banyaknya pekerjaan yang ada di hadapannya saat ini.


Selepas jam lima sore, para karyawan kembali ke rumah masing-masing. Ada beberapa yang lembur, tetapi Adelia terlebih dulu pamit jika dirinya akan pergi ke suatu tempat karena sedang ada keperluan. Daniel pun mengiyakan dan tidak bisa mengantar.


Hanya tinggal beberapa file yang harus dikerjakan. Daniel pun mempercepat pekerjaannya, ia tidak ingin datang terlambat dan mengecewakan mamanya. Kebahagiaan mamanya adalah kebahagiaannya.


Satu jam sudah berlalu, Daniel telah selesai dengan pekerjaannya. Ia pun bergegas membersihkan diri di ruang rahasia yang ada di dalam ruangannya serta telah mengganti pakaian kerjanya dengan setelan kemeja dengan warna berbeda.

__ADS_1


Berjalan menuju mobilnya, ia ingin mengendarai sendiri mobilnya tanpa sopir menuju tempat makan yang dimaksud mamanya siang tadi.


Di sini lah ia berada. Bangunan yang terdiri dari beberapa lantai itu, Daniel berada di lantai 56 pada gedung itu. Berjalan mendekat ke arah orangtuanya yang sudah duduk di sana. Mereka sama halnya dengan dirinya, mengenakan pakaian semi formal seperti sedang ada acara keluarga.


Alunan musik klasik mengiringi langkah kaki Daniel, terdengar merdu dan menenangkan. Sejenak, pria itu memejamkan mata saat mendengar alunan tersebut. Hatinya merasa hangat dan sejuk. Pemilihan tempat yang mamanya pilih tidak buruk.


Daniel terus melangkah, lalu mencium pipi kiri dan kanan orang tuanya itu, kemudian duduk di sebelah mamanya.


Terdapat lima kursi, yang artinya masih ada tiga orang lagi yang akan duduk di sana bersama mereka. Daniel tidak yakin jika itu Adelia, pasalnya tadi kekasihnya izin pergi ke suatu tempat karena ada keperluan.


Apakah mamanya mengizinkan dirinya bersama Adel? Itu tampaknya tidak mungkin, mengetahui jika mamanya sedikit ketus saat mereka mengobrol, membuat Daniel mengenyahkan pikiran tersebut. Ia pun menggelengkan kepalanya pelan.


"Ada apa, Niel? Pusing?"


Tidak lama Daniel menjawab itu, Sindy datang bersama kedua orangtuanya. Berjalan mendekat, sudah bisa dipastikan jika itu memang Sindy bukan Adelia seperti prasangkanya. Mama Meri menarik tangan Daniel untuk berdiri, menyambut kedatangan keluarga Sindy.


"Apa kabar, Jeng? Semoga selalu sehat, ya?" Senyuman Mama Meri terus mengembang saat menyapa keluarga Sindy.


"Syukurlah baik, Jeng. Bagaimana bisnis butikmu? Lancar?"


Setelah mencium pipi kanan dan kiri, kedua tangan mama Sindy masih memegang lengan mama Meri. Senyumnya juga tak kalah mengembang.


"Lancar. Silakan duduk!" Mama Daniel menyuruh keluarga Sindy untuk segera duduk.


Daniel yang bersebelahan dengan Sindy, mamanya berada di tengah—seberang mama Meri. Sejak kedatangan keluarga gadis itu, dia nnmasih mencerna semua kejadian ini. Kejadian tempo hari saat Sindy ke kantornya, membuat Adelia cemburu, lalu hari ini.

__ADS_1


"Daniel, ajak ngobrol nak Sindy. Jangan diam seperti itu." Mama Meri tersenyum pada Sindy yang dibalas senyum oleh gadis itu. Mata Mama Meri beralih ke kedua orangtua Sindy. "Silakan dimakan! Kita di sini hanya akan mempererat tali silaturahmi kita saja." Daniel dan Sindy mengabaikan suara itu.


"Niel, proyek kita sepertinya berjalan lancar dan akan sukses." Sindy menatap netra pria itu dengan binar kebahagiaan yang tidak tertandingi.


"Iya, akan jauh lebih sukses dari perkiraan awal. Karena itu memang tujuan kita, kan?" tanya Daniel.


"Iya, benar."


Mendengar hal itu membuat Mama Meri menginterupsinya dengan dehaman. "Ehm … berhubung dua keluarga sedang makan malam saat ini. Aku akan mengatakan sesuatu pada kita semua," ucap Mama Meri.


"Oh. Emmm … untuk meneruskan garis keturunan yang jelas, tidak ada salahnya jika kita memilih bibit bebet bobot dari keluarga yang jelas juga, bukan?" Mendengar hal ini, membuat Daniel mengeratkan rahangnya. Nafsu makannya sudah hilang, ia pun mengelap sudut bibirnya menggunakan kain lap yang ada di atas pahanya. "Aku bermaksud untuk menjodohkan anakku dengan Nak Sindy. Apa Nak Sindy bersedia?"


Mendengar hal itu, Sindy mengangguk cepat. Terlalu cepat karena reaksi bahagianya melebihi apa yang terlihat. Berbeda dengan reaksi Daniel yang tampak datar dan enggan menanggapi ucapan mamanya.


"Maaf, Ma, aku menyela sebentar." Semua mata bergantian menatap Daniel. Kedua netra pria itu hanya menatap mata sang mama. "Aku tidak mau menjadi anak yang durhaka. Tidak mau menjadi anak yang kurang ajar. Hanya saja, pernikahan itu dilakukan atas rasa saling suka, saling cinta dan saling memberi perhatian. Aku sama Sindy hanya sebatas teman, teman yang terbilang lama, sejak kecil. Tidak mempunyai perasaan lebih."


"Daniel ...," panggil Mama Meri lembut. Tangan kirinya mengusap tangan kanan anaknya. "Mama tahu, tapi semua perasaan itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Coba jalani dengan nak Sindy dulu."


Gelengan kepala Daniel jelas terlihat. Sindy tidak menyerah dengan penolakan pria itu. Di sini, ia yang harus berusaha mendapat hati dan cintanya. "Tidak apa-apa, Tante. Nanti Sindy yang akan terus berusaha agar hati Daniel terisi penuh dengan nama Sindy." Senyuman itu terus terukir di bibirnya. Penolakan Daniel tidak akan mengurangi langkahnya dalam mendapatkan hati pria itu.


"Aku tidak bisa, Sin," bisiknya pelan. Ia tidak ingin suaranya terdengar oleh kedua orangtua mereka. "Jangan berharap lebih dariku!" Daniel tersenyum pada kedua orangtua mereka.


"Tante, Papa, Mama, Sindy pamit keluar dulu sama Daniel, ya? Ada hal yang harus Sindy katakan sama dia," pamitnya. Ia pun menggandeng tangan kiri Daniel, mengajaknya keluar.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2