AKU BUKAN CEWEK MATRE

AKU BUKAN CEWEK MATRE
Bab 15. Rencana Mamanya Daniel


__ADS_3

Dehaman itu terdengar saat mama Daniel sedang mencari tahu bagaimana latar belakang keluarga Adel, dari keturunan dan siapa keluarga besar gadis itu. Tidak mungkin jika dia hanya sendirian tinggal di kota besar dan tidak ada keluarganya.


Mamanya Daniel yang bernama Meri percaya jika gadis itu yatim piatu, tapi tidak percaya jika dia hanya tinggal sendirian di kota yang tidak pernah tidur ini.


Menaruh sedikit rasa curiga pada gadis yang baru dikenal memang perlu, terlebih jika dekat dengan anaknya, Daniel. Gadis yang akan menjadi pendamping Daniel harus jelas asal usul dan juga latar belakangnya. Mama Meri tidak mau menyesal jika nanti menikahkan anaknya dengan gadis yang disukainya itu.


Menurut mama Daniel, menyelediki status Adel terlebih dahulu memang tidak ada salahnya daripada menyesal kemudian hari. Apa lagi setelah mendengar dari mulut wanita itu, jika dia hanyalah Office girl.


Terbukti dari fakta yang ia temukan mengenai latar belakang Adelia. Tidak sulit untuk menemukan fakta latar belakang gadis itu. Orang suruhannya telah mengumpulkan banyak bukti.


Mama Daniel mendengarkan orang suruhannya mengatakan semua yang diketahuinya.


"Adelia yang memiliki nama panjang Adelia Embun Chalandra merupakan anak tunggal. Ayahnya sudah meninggal sejak lama karena kecelakaan dan ibunya baru beberapa bulan lalu sebab telat di operasi, karena tidak ada biaya."


Mendengar penuturan orang suruhannya, rahang mama Daniel mengetat. Napasnya naik turun, juga mengembuskan napas dalam untuk meredakan emosinya. Tangan kanannya mengepal di balik sisi kanannya, tangan kiri memegang tepi meja di hadapannya.


Mereka yang saat ini berada di kafe langganan, dengan suasana terang yang dihiasi penuh dengan tanaman pot dan juga lukisan mural di dinding menambah kesan estetik dan juga unik.


Seperti anak muda memang, tetapi yang namanya kesukaan pada lukisan mural usia berapapun itu tidak ada larangan untuk menyukainya, bukan? Mama Daniel mengambil gelas kopi yang ada di depannya, diteguknya sedikit lalu diletakkan lagi dengan setia mendengarkan orang suruhannya mengatakan apa yang diketahuinya.


Orang suruhan itu sesekali melihat mama Daniel, lalu melanjutkan lagi ucapannya. "Beberapa orang di kantor mengatakan jika dia mendekati Pak Daniel karena taruhan. Dia bertahan untuk mendapatkan uang taruhan."


"Cukup. Terima kasih atas informasi yang kamu dapatkan. Kamu bisa pergi!" perintah mama Daniel dengan tangan menyuruh pergi orang suruhannya.

__ADS_1


Menghela napas panjang, satu kaki bertumpu pada kaki satunya lalu tangannya bersidekap di dada dan tubuhnya bersandar pada bangku yang didudukinya membuat mama Daniel sedikit lebih rileks.


Kedua netranya terpejam, membayangkan bagaimana nanti nasib Daniel jika berdekatan dengan Adeli. Ia sendiri tidak bisa membayangkan hal apa yang akan terjadi jika ini dibiarkan.


"Aku bisa mencari bukti jika dia mendekati Daniel hanya karena taruhan. Tapi selain itu aku harus mencari cara yang lain," gumam Mama Meri dengan diri sendiri.


Mama Meri harus mengambil tindakan agar Daniel jauh dari Adelia. Ia tidak mau anak kesayangannya menjadi korban cewek matre.


Mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, terlihat mama Meri sedang mencari nama seseorang yang bisa menolongnya. Ia sangat berharap pada orang ini agar bisa menjauhkan Daniel dari Adelia.


"Hallo, Sindy. Lagi di mana? Bisa ke kafe langganan tante?" Benda pipih itu menempel di telinga kanan, telunjuk tangan kiri memegang tepian cangkir kopinya.


"Lagi di jalan, Tan. Kebetulan ini arah ke sana. Sebentar lagi sampai."


"Baik. Ditunggu, ya?" Mama Meri mematikan teleponnya, kemudian memasukkan ke dalam tas lagi.


Tidak lama, Sindy datang dan duduk di seberang mama Meri. "Ada apa, Tan? Kayaknya penting banget," ucapnya setelah bercipika-cipiki dengan mama Meri.


"Kamu tidak mau pesan minuman dulu? Atau mau makan?" Mama Meri memanggil waitres untuk Sindy.


"Saya mau Latte satu sama kentang goreng satu, ya, Mbak?" Menutup menunya lalu diberikan pada pelayan itu.


"Baik, ditunggu, ya, Kak." Sepeningal waitres itu, Sindy membenarkan rambutnya yang tergerai lurus dan meletakkan tas selempangnya ke dekat tubuhnya setelah melihat ponselnya yang menyala kemudian menaruh benda pipih itu ke tempatnya lagi. "Ada apa, Tan? Serius sekali mukanya," tanyanya penasaran.

__ADS_1


Pasalnya, wajah mama Meri tiga kali lipat lebih serius saat menatap Sindy. Membuat gadis itu bergidik ngeri saat menatapnya. Ia pun segera mengelus kedua lengannya saking ngerinya. Berharap tatapan mata mamanya Daniel sedikit mereda.


"Ini lebih penting lagi. Sangat penting!" Mama Meri membenarkan tempat duduk, bersikap seolah siap untuk menghunus lawan bicaranya dengan netra yang menatap tajam.


Kedua tangannya berada di atas meja dengan tubuh yang sedikit membungkuk ke depan.


"Kamu sedang jomblo, bukan?" Terlihat anggukan dari Sindy membuat senyum mama Meri mengembang.


"Bagus. Dekati anak tante, kalau bisa pacaran sampai menikah! Kalian, kan, sudah kenal dari kecil pasti mudah buat kamu dekat dengan Daniel!" Suara pelan, mendominasi dan penuh tekanan.


"Sebentar. Ini ada apa? Kok, tiba-tiba menyuruh Sindy untuk dekat dengan Daniel? Tapi, dengan senang hati karena aku sudah menyukai Daniel sejak lama." Senyumnya merekah, seolah mendapat hal yang sangat diinginkan dengan mudah dan tanpa perlu usaha yang lebih.


Pesanannya tiba, tak lupa Sindy mengucapkan terima kasih lalu menyesap Latte dan kemudian mengambil kentang gorengnya satu biji.


"Bukan apa, karena tante tidak mau Daniel dekat dengan karyawannya yang bernama Adelia. Nanti kamu akan mengetahui gadis yang bernama Adel itu saat bermain ke kantor."


Mendapat lampu hijau dari Mama Meri membuat Sindy dengan senang hati dan tangan terbuka untuk menyambut Daniel. Terlebih lagi dia akan mengadakan kerja sama dengan perusahaan Daniel.


Takdir yang akan menjadikan Sindy dekat dengan Daniel, menjadi perempuan yang nantinya akan menjadi satu-satunya di hati pria itu. Sindy tidak sabar untuk menjadi Nyonya Daniel, ia pun tersenyum-senyum sendiri mendapati dirinya akan berdekatan dengan laki-laki yang sudah lama ia suka.


Pertemanan yang sudah terjalin sejak kecil tidak mustahil menimbulkan benih-benih rasa suka disalah satu dari keduanya, bukan? Itulah yang Sindy rasakan saat ini. Ia telah lama memendam rasa ini untuk seorang bernama Daniel.


"Besok aku akan ke kantor untuk bertemu Daniel, Tan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan juga. Pasti nanti ada Adel di sana, kan?" Sindy kembali menyesap Lattenya.

__ADS_1


"Bagus. Usahakan senatural mungkin saat kamu mendekati Daniel. Jangan sampai dia tahu jika ini rencana tante. Tante tidak mau dia menikah dengan gadis miskin yang matre itu," ucap Mama Meri dengan penuh penekanan.


...----------------...


__ADS_2