AKU BUKAN CEWEK MATRE

AKU BUKAN CEWEK MATRE
Bab 19. Di Kost Adelia


__ADS_3

Sindy memandang ke arah langit yang cerah dan jernih, bersemayam di sebuah taman belakang restoran. Ia merasakan angin yang sepoi-sepoi meniup rambutnya.


"Ada apa, Daniel?" tanyanya begitu mereka duduk.


"Sindy, aku ingin bicara tentang perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua kita, tadi," ucap Daniel.


"Iya, ada apa dengan perjodohan itu?" tanya Sindy.


"Aku harus jujur sama kamu, Sindy. Aku tidak bisa menerima perjodohan itu," kata Daniel dengan nada serius.


"Apa? Kenapa?" tanya Sindy kaget.


"Karena aku sudah punya kekasih. Namanya Adelia. Kami sudah berpacaran satu bulan," jawab Daniel.


Sindy pura-pura terkejut,walau sebenarnya dia telah mengetahui ini dari mamanya Daniel.


"Oh, aku nggak tau kalau kamu sudah punya pacar, Daniel. Maaf kalau aku pertanyaan yang kurang tepat".


"Tenang, Sindy. Aku mengerti. Dan aku harus memberitahumu, aku tidak bisa melakukan perjodohan itu. Aku pikir, kamu pun tidak bisa mengharapkan aku untuk menerima perjodohan ini. Kita sudah terlalu lama berteman untuk memaksakan apa yang tidak bisa terjadi," kata Daniel.


Sindy mengangguk-anggukkan kepala. Dia merasa hatinya sedih, tapi dia juga tahu bahwa Daniel berkata jujur. Dia tidak bisa membuat Daniel untuk menerima perjodohan itu.


"Aku paham, Daniel. Terima kasih sudah memberitahuku dengan jujur," kata Sindy dengan suara lemah.


Daniel tersenyum. "Tidak perlu berterima kasih, Sindy. Kita masih bisa berteman seperti biasa kan? Dan aku harap kamu bisa menemukan pasangan yang tepat dan bahagia".


Sindy tersenyum kecil. "Iya, karena itu yang saya harapkan juga, Daniel".


Setelah beberapa menit berbincang, mereka mengakhiri pembicaraan. Ia tak perlu memaksakan perjodohan jika ini tidak memang yang dia dan Daniel inginkan. Dan di lain pihak, dia yakin bahwa nanti, pasti akan datang seseorang yang tepat untuknya.

__ADS_1


Dalam pikirannya, dia sudah bisa merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Ia akan mencari cara agar dia lebih akrab dengan Adelia, kekasih Daniel. Siapa tau, mereka bisa berteman dan membuka kesempatan lain untuk mengenal lebih jauh satu sama lain. Sindy ingin tahu apa kelebihan dan kekurangan gadis itu.


Mereka berdua masuk ke dalam restoran lagi, dan Daniel segera pamit. Tak peduli apa lagi yang mereka obrolkan. Dia tadi telah meminta Sindy untuk mengatakan semua yang mereka bicarakan di taman.


**


"Nanti pulang kerja mau makan di mana?" tanya Daniel saat Adel memberikan jus di siang hari.


"Tidak tahu. Pecel ayam di sebelah gang sepertinya enak." Adel mengangguk-anggukkan kepalanya, jari telunjuk kanannya mengetuk-ngetuk meja Daniel.


Kedua netra Daniel yang saat itu melihat file langsung menatap Adel. Kedua tangannya langsung berada di meja, memangku dagunya sebagai tumpuan. "Sepertinya ada yang lagi bahagia. Ada apa?"


Bukan tidak mungkin, jika Adelia sedang mengetuk-ngetuk jarinya ke meja bukan sedang merasa bingung melainkan sedang senang. Memang aneh kebiasaan gadis itu tetapi itulah yang terjadi.


Berhubungan beberapa hari dengan gadis itu membuat Daniel sedikit paham dengan tingkah lakunya yang beda dari kebanyakan orang. Tidak suka keramaian, kebiasaan aneh salah satunya mengetuk-ngetuk jari ke meja saat merasa bahagia, lalu merasa bebas saat dirinya sedang santai di kamar dan tidak ada yang mengganggunya, termasuk Daniel dalam mengirim pesan atau telepon.


Dipandang seperti itu membuat Adel salah tingkah. Ia pun menutup mata Daniel dengan kedua tangannya. "Jangan tatap aku seperti itu! Kemarin aku ada beli buku yang isinya sangat sepadan dengan harganya. Tidak murah, tapi juga tidak mahal," ucap Adel mengalihkan pandangan Daniel darinya.


"Aku tidak membawanya. Bukunya ada di rumah. Ngomong-ngomong, tanganku jangan digenggam. Ini di kantor, banyak karyawan yang melihat!" Seperti udang yang di rebus, kedua pipi Adel kemerah-merahan.


"Memangnya kenapa? Kamu pacar aku." Semakin tidak dilepas, malah semakin erat Daniel menggenggamnya.


Menarik kedua sudut bibirnya segaris lurus. Memang susah jika mengatakan hal yang bertentangan dengan apa yang ada di isi kepala Daniel..


Tidak peduli sedang berada di mana, dengan siapa saja. Jika Daniel sudah mengatakan A maka yang terjadi harus A. Apabila dalam pikirannya hanya ada Adel maka sampai kapan pun ia harus bersama gadis itu apa pun yang terjadi.


Namun, bagi Adel, dicintai sebegitu dalamnya oleh laki-laki yang saat ini masih menggenggam erat kedua tangannya itu sangat beruntung. Dia belum pernah diinginkan seperti ini.


Setelah cukup menggoda sang pacar, Daniel kembali sibuk dengan laptop didepannya. Hingga jam pulang tiba.Selama perjalanan pulang, Adel terus mengatakan jika makanan yang ada di dekat rumahnya adalah yang terenak.

__ADS_1


Terbukti saat makan pecel ayam itu di rumah gadis itu. Tadi Adel memesan buat dibungkus dan makan di kosnya.


"Enak, kan, sambelnya?" Keringat sudah membasahi kening Adel, yang terjun bebas hingga rahang.


Melihat hal itu, dengan segera Daniel mengambil tisu yang ada di depannya untuk mengelap keringat Adel. "Kamu kalau makan pecel ayam sudah seperti makan daging steak."


"Lebih enak ini daripada daging steak." Adel masih terus memasukkan nasi dan sambel ke dalam mulutnya.


Suapan terakhir, Daniel mengambil gelas yang sudah terisi penuh oleh air minum dingin. "Buku yang kamu katakan tadi pagi mana?"


Keduanya duduk di lantai, tidak ada meja makan di tempat tinggal Adel. Ruangan yang hanya terdiri kamar mandi, dapur bergabung dengan pantri dan kamar tidur bergabung dengan ruang televisi. Memang sempit, karena Adel hanya tinggal sendiri.


"Ada di rak, tuh!" tunjuk Adel menggunakan dagunya. Rak yang dimaksud adalah sebelah televisi yang ada di belakang Daniel.


Daniel berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan, kemudian berjalan ke rak buku. Ia pun mencari buku yang ada terlihat masih baru dalam kemasan. Plastiknya belum dibuka sama sekali. "Kamu bilang bagus ceritanya, tapi belum dibuka sama sekali?"


"Baca saja di blurbnya! Bukankah sebuah buku bisa terlihat jelas dari blurbnya? Belakang buku, tuh!" Adel berjalan ke wastafel gantian, untuk mencuci tangannya setelah menenggak habis minumannya. Daniel pun terlihat membalik bukunya.


"Boleh dibuka?" tanya Daniel memastikan. Ia pun akan menyobek ujung bukunya dengan satu tangan.


Namun, alih-alih mendapat persetujuan. Adel langsung berlari bak pelari marathon yang sedang berlomba. Menerjang Daniel karena ingin membuka kemasan bukunya. Jika pria itu yang membuka, bukan dia yang merasakan membeli bukunya tetapi sang bos yang merupakan kekasihnya itu..


Yang Adel inginkan hanyalah membuka kemasan itu sendiri, bukan orang lain. Tidak akan diizinkan orang lain menyentuh barang baru yang belum dibuka kemasannya jika bukan dia sendiri yang membukanya. Gadis itu segera lari, mengejar buku dalam kemasan yang masih utuh agar tetap terjaga dan tidak dibuka oleh kekasihnya.


Niat Daniel memang bagus, untuk membuka buku tersebut dan membacanya, namun dirinya tidak tahu jika Adel hanya menginginkan saat membukanya saja, bukan menginginkan buku itu.


Terjangan Adel tadi malah membuat Daniel limbung dan langsung terjatuh di lantai dengan tangan kanannya menjadi tumpuan kepala gadis itu, sedang tangan kirinya dipegang oleh tangan Adel. Bukunya sudah jatuh ke sembarang arah. Sang wanita tidak menyangka jika yang dia lakukan hingga membuatnya jatuh ke pangkuan seperti ini.


Melihat perempuan yang ia cintai dari posisi dekat seperti ini membuat Daniel segera menerjunkan bibirnya pada bibir ranum milik perempuan yang ada di dekapannya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berdekatan dengan orang yang dicintainya.

__ADS_1


Entah siapa yang memulai, kini keduanya sudah saling berpagutan. Merasakan napas yang sesak, Adel mendorong dada Daniel dan bangun dari atas tubuh pria itu. Beruntung dia segera sadar dan tidak berlanjut ke sesuatu yang lebih bahaya.


...----------------...


__ADS_2