AKU BUKAN CEWEK MATRE

AKU BUKAN CEWEK MATRE
Bab 9. Ke Luar Kota


__ADS_3

Akhirnya Adel menerima tawaran Daniel untuk menemani dirinya ke luar kota. Pulang dari kerja, Daniel memanggil bawahannya itu.


Mendengar dirinya di panggil bos Daniel, gadis itu sedikit menggerutu. Temannya yang ingin pulang, melihat Adel masuk ke ruang kerja Daniel menjadi sangat penasaran. Mereka mengikutinya.


"Apa kita tidak keterlaluan jika menguping begini?" tanya Desi.


"Jangan sampai ketahuan, dong," jawab Merlin.


Keduanya berjalan pelan dan menguping dari balik pintu. Keduanya penasaran dengan apa yang akan Adel dan Daniel bicarakan.


"Adel, ingat besok kita ke luar kota untuk bisnis sekaligus jalan-jalan. Sudah siap?"


Adel spontan memberikan jawaban positif. "Siap, Pak Daniel!"


"Sip. Kita akan ke kota yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya, jadi pastikan kamu mempersiapkan dirimu baik-baik," ujar Daniel seraya menepuk pundak Adel.


Adel bersemangat. Bepergian bersama atasannya adalah kesempatan yang tidak sering terjadi. Selain itu, dia akan berkesempatan untuk menjelajahi kota baru yang dia belum pernah lihat sebelumnya. Meski dia harus tetap fokus pada pekerjaan, tampaknya ini akan menjadi perjalanan yang menarik.


Dari semua itu alasan dia semangat menerima tawaran itu adalah uang yang akan dia terima sebagai bayaran kerjanya. Adel sudah membayangkan berapa nominal yang akan dia terima.


"Kita akan bertemu di bandara besok pagi jam 7. Jangan terlambat, Adel. Sudahkah kamu memesan penginapan?"


"Belum, Pak Daniel. Apa yang harus saya lakukan?"


"Tenang saja. Aku akan menyiapkan semuanya. Kamu hanya perlu bersiap-siap dan membawa barang bawaanmu," ucap Daniel.


"Baik, Pak. Terima kasih," ucap Adel riang.


"Sekarang kamu boleh pergi. Jangan telat!" pesan Daniel.


Desy dan Merlin yang menguping langsung beranjak pergi sebelum ketahuan Adel atau Pak Daniel. Dengan langkah cepat, keduanya masuk lift. Di dalam lift keduanya saling pandang.


"Ternyata Pak Daniel dan Adel itu ada hubungan," ucap Desy.


"Kamu ingat foto wanita yang mirip Adel dan Pak Daniel di pesta. Berarti itu memang mereka," jawab Merlin.


"Pantas dia dengan santainya menerima taruhan, ternyata dia telah mengenal Pak Daniel. Sangat licik," balas Desy.


Mereka berdua terus saja membicarakan Daniel dan Adel. Sepertinya tidak terima dengan hubungan keduanya.


Hari berikutnya, Adel tiba di bandara tepat waktu. Dia melihat Daniel sedang menunggu di depan pintu masuk.


"Selamat pagi, Pak Daniel," sapanya.


"Selamat pagi, Adel. Sudahkah kamu sarapan?" tanya Daniel. Hal itu mampu membuat Adel tersipu karena di tanya begitu lembutnya.

__ADS_1


"Belum, Pak," jawab Adel dengan kepala menunduk karena malu.


"Baiklah, mari kita sarapan dulu sebelum terbang. Ada restoran di lantai atas, kita bisa makan di sana."


Setelah sarapan, mereka berangkat ke kota tujuan. Perjalanan ditemani pemandangan indah yang membuat Adel tak henti-hentinya berseru kagum.


"Ternyata kota ini sangat indah ya, Pak Daniel!" ucap Adel sambil mengamati pemandangan yang berlalu-lalang di luar jendela.


"Sudah ku bilang kan," jawab Daniel sambil tersenyum.


Sesampainya di kota tujuan, Adel terkesan dengan kenyamanan dan kemewahan hotel yang dipesan oleh Daniel.


"Wow, hotelnya sangat mewah. Terima kasih, Pak Daniel."


"Kami tetap harus fokus pada bisnis, jadi kamarnya harus nyaman dan tenang. Kita akan mulai membahas presentasi malam ini dan esok pagi. Kamu temani saya dan mencatat apa yang saya katakan. Kamu paham dan bisa melakukan itu?" tanya Daniel.


"Siap, Pak. Saya yakin bisa," jawab Adel yakin.


Saat malam tiba, mereka bertemu dengan klien potensial di sebuah restoran yang sangat terkenal di kota itu. Adel membantunya mempersiapkan presentasi yang harus disampaikan di hadapan para klien tersebut.


"Bagaimana? Apakah presentasinya sudah siap?" tanya Daniel.


"Sudah Pak," jawab Adel cepat.


Pada pagi hari berikutnya, mereka berjalan-jalan sekitar danau sambil mengobrol santai dan menikmati suasana tenang di sekitar kawasan.


"Kapan kita kembali ke Jakarta, Pak?" tanya Adel.


"Dua hari lagi. Kita akan kembali ke kantor langsung setelah acara selesai."


"Baiklah, Pak."


"Nanti malam temani aku bertemu klien," ucap Daniel.


"Siap, Pak," balas Adel.


Malam harinya, Pak Daniel mengajak Adel, karyawannya yang setia, ke sebuah klub malam di kota itu. Adel yang bingung dan takut bergidik, diam-diam bertanya di dalam hati mengapa bosnya mengajaknya kesana. Adel memang seorang karyawan yang rajin, cakap, dan selalu siap membantu kapan saja, namun ia tidak terlalu suka dengan kegiatan malam, apalagi ke sebuah klub. Namun, Adel tetap mengikuti perintah bosnya, karena ia adalah karyawan yang baik.


Adel takut mabuk lagi. Dia tidak mau kejadian saat di pesta terulang lagi.


Sesampainya di klub, Adel segera menyadari bahwa publikasinya salah besar tentang apa yang terjadi di sana. Ketika Adel melangkahkan kaki di atas jalan, ia melihat banyak orang berbaju glamor berkumpul di pintu masuk klub. Ada banyak mobil mahal yang terparkir di pinggiran jalan, mereka yang mampu membeli mobil-mobil mewah itulah yang datang dan berkumpul di klub tersebut. Adel merasa grogi ketika melihat orang-orang di sekitarnya, ia merasa bahwa ia adalah orang yang paling tidak layak untuk masuk ke klub tersebut.


Nyatanya, Pak Daniel sudah agak mabuk ketika mereka tiba di klub malam itu. Ia sudah meminta dengan amat sangat kepada pelayan di klub untuk dilayani minuman-minuman keras. Adel menjadi cemas dan khawatir tentang apa yang terjadi, namun ia tetap mengikuti Pak Daniel dan mencoba untuk meyakinkannya agar tidak mabuk terlalu banyak.


"Adel, coba ini. Minuman-muinuman keras ini ada yang enak lho. Salah satu mereknya favorit saya," ujar Pak Daniel sambil menyodorkan sebotol minuman keras yang terlihat gelap dan beraroma kuat.

__ADS_1


"Tidak, terima kasih Pak. Saya tidak meminum alkohol," jawab Adel dengan mantap.


"Ah, kamu anak muda paling tidak berani mencoba. Tidak apa-apa, saya bercanda saja kok," Pak Daniel melontarkan perkataan dengan sambil berdehem keras.


Adel hanya dapat tersenyum dan mengikuti Pak Daniel ke meja kosong di klub untuk bertemu dengan klien yang memanggil mereka. Sesampai di meja yang kosong itu, Adel merasa semakin tegang ketika melihat klien yang tampan dan elegan duduk di sana menunggu mereka.


Klien yang elegan itu tersenyum ketika melihat Pak Daniel dan Adel mendekat. "Halo, apa kabar kalian berdua?"


"Halo, kabar saya baik, Pak. Terima kasih telah mengundang kami ke klub ini," jawab Pak Daniel sambil tersenyum lebar.


"Iya, terima kasih ya Pak. Ini pertama kalinya saya kesini," tambah Adel dengan mengangguk kecil.


Klien itu tertawa kecil mendengar jawaban dari Pak Daniel dan Adel.


"Eh, sebelum kita berbicara bisnis, kenapa tidak kita merayakan malam ini dulu?" ajak klien itu sambil mengangkat botol rum.


Pak Daniel dan Adel merasa sedikit canggung ketika klien itu menawarkan minuman beralkohol kepada mereka. Adel merasa merinding ketika melihat Pak Daniel mengangkat satu botol minuman keras lagi.


"Sampai kapan kita bermain-main Pak? Saya rasa sudah cukup bagi saya," ujar Adel mencoba untuk menyelesaikan percakapan.


Pak Daniel hanya tertawa kecil dan meraih tangan Adel serta memohonnya untuk berdansa. Adel terpaksa menuruti permintaan bosnya, namun semakin cemas ketika bosnya mulai berkelakuan aneh setelah mabuk berat. Padahal Pak Daniel pura-pura mabuk dan dia mencoba untuk menyeret Adel ke dalam mobilnya.


"Sudahlah, jangan takut. Ayo ikuti aku. Masuklah, kita ke hotel lagi," balas Pak Daniel sambil tertawa.


Akhirnya mereka berhasil kembali ke hotel tempat mereka menginap. Adel tetap mengantarkan bosnya ke kamarnya dan memberikan segelas air agar dia tidak terlalu mabuk. Saat Adel ingin pergi, tangannya di tahan.


"Jangan pergi. Temani aku di sini," ucap Daniel.


"Tapi, Pak ...."


"Tidak ada kata tapi. Ini perintah," ucap Daniel dengan tegas.


Dengan terpaksa Adel duduk di tepi ranjang. Dalam diam Daniel tertawa. Dia ingin mengerjai bawahannya itu.


...----------------...


Bonus Visual


Daniel



Adelia


__ADS_1


__ADS_2