
Sudah satu minggu Adel pulang dari perjalanan bisnisnya dengan Pak Daniel. Hari ini rencananya, dia akan memberikan jawaban atas ungkapan cinta sang atasan.
Adel sangat bahagia, karena pulang dari luar kota kemarin, Daniel mentranfer uang senilai dua puluh juta ke rekening pribadinya. Hanya menemani pergi dapat uang banyak ditambah bisa jalan-jalan, siapa yang tidak akan bahagia.
Dengan hati yang riang, Adel berjalan menuju pantry. Di tangan gadis itu ada rantang yang berisi nasi lemak beserta pelengkapnya.
Desy dan Merlin mendekati Adel yang sedang membuat kopi untuk Pak Daniel. Mereka berdiri di samping kanan dan kiri gadis itu.
"Ternyata kamu licik juga," ucap Merlin membuka percakapan.
Adel yang tidak mengerti arah pembicaraan teman satu kerjanya itu, memandangi wajahnya dengan dahi berkerut. Dia tentu saja tidak tahu maksud dari ucapan Merlin.
"Kamu ingin menipu kami 'kan?" tanya Desy. Lagi-lagi Adel menjadi heran dengan arah pembicaraan kedua orang itu. Dia lalu menghentikan kegiatannya.
"Aku tak mengerti maksud Kakak berdua ini?" tanya Adel dengan dahi berkerut.
"Jangan pura-pura! Kau mau bodohi kami? Aku dan Desy telah mengetahui semuanya. Ternyata kau masuk ke sini karena telah kenal Pak Daniel. Pantas kau mau menerima tantangan kami. Kau ini bekerja sebagai office girl itu hanya sebagai alasan saja biar bisa setiap hari berada di kantor, betulkan?" tanya Merlin.
"Buktinya kerja kamu hanya melayani Pak Daniel, kau simpanan Pak Daniel 'kan?" tanya Desy.
Mendengar pertanyaan kedua wanita itu, Adel tidak bisa menahan tawanya. Dia di kira simpanan Pak Daniel.
Bagaimana mungkin Desy dan Merlin bisa berpikir sampai sejauh itu. Apa mereka tahu saat Pak Daniel mengucapkan cinta. Tapi itu tidak mungkin. Mereka saat itu ada di luar kota.
Selama satu minggu ini juga dia dan Pak Daniel bersikap wajar saja. Tidak ada yang aneh dan di luar batas.
"Kenapa kalian berdua bisa berpikir begitu? Jika aku kekasihnya Pak Daniel mana mungkin aku capek membuat lamaran dan melalui wawancara dengan Pak Candra. Aku bisa masuk kapan saja," ucap Adel.
"Jangan bohong, itu semua dilakukan agar tidak ada yang curiga," ucap Desy.
__ADS_1
"Jika memang aku kekasihnya Pak Daniel, kenapa kalian yang ribut dan tidak senang?" tanya Adel lagi.
"Kami bukannya ribut atau tidak senang, cuma kamu telah menipu kami. Tentu saja kau bisa bertahan karena bekerja dengan kekasih. Seharusnya pertaruhan ini batal."
"Tidak bisa. Besok tepat satu bulan pertaruhan kita. Kalian harus bayar, jangan ingkar janji. Lagi pula kalian yang mulai pertaruhan itu, dan tidak ada ketentuan jika aku kekasihnya Pak Daniel, pertaruhan batal! Kalian jangan coba-coba mengelak untuk membayar. Aku bisa adukan sama Pak Daniel!" ancam Adel.
"Dasar licik. Kau tak pantas dengan Pak Daniel. Pasti kau hanya ingin hartanya saja. Dasar cewek matre!" ucap Merlin.
"Dengarkan baik-baik, Desy dan Merlin! Munafik jika ada seorang wanita yang akan menolak cinta dari seorang CEO. Siapa pun itu pasti akan menerimanya. Apa ada di dunia ini wanita yang tidak matre? Hanya makan cinta saja! JANGAN MUNAFIK!" ucap Adel dengan penuh penekanan.
Dia lalu membawa secangkir kopi dan rantangnya. Berjalan meninggalkan kedua karyawan wanita itu. Baru beberapa langkah dia kembali berbalik.
"Ingat! Jangan lupa siapkan uang sebagai taruhan besok!" ucap Adel dengan tersenyum licik.
Desy dan Merlin jadi menggerutu mendengar ucapan wanita itu. Mereka mengajak karyawan lain ikut menggosipkan Adel dan Pak Daniel.
Adel membuka rantang yang dia bawa. Menyalin ke piring. Nasi lemak di tambah ayam goreng dan oseng tempe beserta bihun juga kerupuk.
"Pak, tadi aku buat nasi lemak. Bapak belum sarapan 'kan?" tanya Adel. Dia menyodorkan nasi dengan pelengkapnya ke hadapan sang bos. Melihat itu mata Daniel langsung melotot. Mulutnya juga ikut terbuka.
"Sepertinya ini enak, aku langsung makan ya. Kebetulan dari kemarin tidak makan nasi," ucap Daniel.
Daniel langsung menyantap dengan lahapnya. Adel melihat dengan senang hati. Dia suka karena apa pun yang dia masak. selalu di makan. Walau berasal dari keluarga kaya, Daniel bukan tipe pemilih makanan.
"Pak, apa tawaran Bapak minggu kemarin masih berlaku?" tanya Adel dengan suara pelan. Sebenarnya dia malu untuk bertanya tentang itu.
"Tawaran yang mana?" tanya Daniel.
Daniel bukannya tidak tahu maksud dari pertanyaan gadis itu. Namun, dia ingin mengerjainya. Apa lagi dia belum yakin jika Adel menerima cintanya.
__ADS_1
Adel menarik napas berat. Dia lalu menunduk, dan memainkan jarinya. Gadis itu berpikir mungkin Daniel telah lupa atau memang saat itu dia hanya main-main. Dirinya saja yang terlalu berangan bisa menjadi pendamping seorang CEO. Pasti karena impiannya yang tidak mau hidup susah lagi.
"Sudahlah, Pak. Lupakan saja. Mungkin aku saja yang berpikir terlalu jauh, Pak Daniel pasti saat itu hanya main-main saja," ucap Adel.
"Aku benar tidak tahu maksud kamu. Aku selama ini tidak pernah main-main dengan ucapanku. Aku lupa. Coba kau katakan lagi," ucap Daniel.
Daniel ingin dengar dari mulut gadis itu apa yang akan dia katakan. Dia berharap Adel menerima cintanya. Entah mengapa dia sangat tertarik dengan karyawannya ini. Dia selalu bersikap apa adanya. Tidak suka berpura-pura.
Adel tampak menarik napasnya kembali. Dia mengangkat wajahnya, menatap lurus tepat ke bola mata sang atasan.
"Aku ingin menjawab pernyataan cinta dari Bapak. Apakah itu masih berlaku, jika sudah terlambat, akan aku simpan saja jawabannya," ucap Adel dengan gugup.
Dia takut jika Daniel sudah tidak membutuhkan jawaban darinya. Bukankah dalam satu hari, orang sepertinya bisa mencari gadis yang jauh lebih segalanya dari dirinya.
"Tergantung jawabannya. Jika itu kan menyenangkan bagiku, aku masih membuka kesempatan. Namun, jika jawabnya akan membuat aku sakit hati, lebih baik lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakan itu, walau sebenarnya apa yang pernah aku nyatakan itu benar dan dari hati terdalam," ucap Daniel dengan penuh penekanan.
Adel tersenyum mendengar jawaban dari sang bos. Dia jadi yakin untuk mengatakan jawabannya.
"Jangan senyum-senyum saja. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan!" ucap Daniel dengan lantang.
"Aku belum memberi jawaban, tapi Bapak sudah marah saja," ucap Adel pelan.
Daniel menarik napas dalam. Menghadapi karyawannya yang satu ini sungguh membutuhkan kesabaran yang tinggi.
"Adelia, katakan apa yang ingin kau sampaikan!" ucap Daniel dengan suara pelan dan lembut.
Adel tampak menarik napas. Sepertinya sangat sulit baginya untuk bicara.
...----------------...
__ADS_1