AKU BUKAN CEWEK MATRE

AKU BUKAN CEWEK MATRE
Bab 14. Ke Rumah Daniel


__ADS_3

Perjalanan dari luar kota tampaknya membuat Daniel dan Adel ingin segera menuju rumah untuk melepas penat. Rasa capek dan pegal telah menggerogoti tubuh mereka bak ulet bulu yang hinggap di daun kering.


Tubuhnya merasa letih, namun perjalanan bersama Adel membuat Daniel tetap semangat dan mengenyahkan rasa letihnya karena bersama orang yang ia cintai.


Daniel ingin segera sampai rumah karena tidak sabar ingin mengenalkan Adel pada mamanya. Dia ingin orang-orang terdekatnya, terutama keluarganya mengetahui jika dirinya menyukai gadis yang saat ini memakai blouse berwarna putih tulang yang dipadu padankan dengan celana panjang berbahan kain.


Tangannya memainkan gawai dengan mata terus fokus pada layar pipih tersebut tanpa menoleh sama sekali. Membuat Daniel semakin gemas karena sesekali mengerucutkan bibirnya.


"Kamu kenapa, sih, Sayang? Buat aku gemas kalau lagi begitu." Tangan kirinya mengusap pipi Adel, matanya menyipit seperti bulan sabit karena terkikih.


Yang ditanya pun menoleh, ponselnya dipindah ke tangan kiri dan tangan kanannya memegang tangan Daniel.


"Ini, lagi baca cerita. Kisahnya ngeselin." Menatap Daniel sebentar lalu fokus pada ponselnya lagi. Tangannya sudah terlepas dari genggaman.


Menempuh jarak yang tidak sebentar, selama empat jam perjalanan membuat Daniel membawa Adel untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Keinginannya untuk memperkenalkan gadis itu pada mamanya begitu tinggi. Pasalnya dia ingin segera menikahi gadis yang duduk di sebelahnya jika mamanya mengizinkan.


Daniel berjalan cepat untuk membuka pintu mobilnya saat mereka tiba di depan rumah, membiarkan Adel keluar lalu digandengnya tangan kecil nan lembut itu untuk dibawa masuk.


Yang Adel rasakan saat memasuki rumah Daniel adalah asri, tenang dan harum. Banyak pot bunga yang tertanam yang di depan rumah membuat wanginya menguar memenuhi ruangan dan itu tercium oleh indera penghidu gadis itu.


Rumah dengan gaya tropis yang sangat cocok untuk dihuni di negara ini membuat rumah Daniel tetap adem karena perputaran udara yang pas dan juga kelembaban yang membuat Adel nyaman berada lama-lama di rumah pria itu.


Masih melihat ke sekeliling rumah, Adel fokus pada tanaman pot bunga yang berada di setiap sudut rumahnya. Ada dua atau tiga tanaman yang berhasil menarik perhatiannya. Dipegangnya perlahan tanaman yang ada di sudut ruang tamu itu, kemudian hidungnya menghirup sedikit bau harum yang menguar dari bunganya.


"Kamu suka bunga lili?" Terlihat Daniel yang masih berdiri di depan melihat Adel yang sudah berjongkok untuk mencium harum bunga lili yang ada di sudut ruangan.

__ADS_1


Sang gadis pun mengangguk, lalu masih mencium harumnya. "Kamu mandi dulu sana! Aku di sini sama bunga lili tidak masalah," perintah Adel yang kemudian duduk di kursi sambil memegang bunga lili.


Kedua tangan Daniel berada di depan perut, "Tunggu sebentar!" katanya yang langsung menghilang di balik tembok.


Adel masih melihat-lihat rumah Daniel. Kesan pertama yang ia dapat dari rumah ini begitu tenang membuatnya betah untuk berlama-lama untuk ditinggali.


"Sudah lama?" Adel menoleh saat ada suara asing yang masuk ke pendengarannya bersama dengan Daniel yang jalan di sampingnya. Gadis itu langsung berjalan menuju mama kekaihnya itu, untuk mencium punggung tangannya.


"Baru, Tante." Adel pun menunggu mamanya Daniel untuk duduk kemudian ia mengikutinya, duduk di seberangnya.


"Aku tinggal mandi dulu, ya? Mama ngobrol sama Adel dulu, jangan digalakin Adel-nya!" Daniel tersenyum lalu berlalu begitu saja.


Adel pun tampak kikuk dan sedikit tidak enak karena suasananya berubah menjadi serius dan canggung saat mengobrol dengan mama Daniel.


"Terima kasih, Tante." Adel meminumnya sedikit, lalu meletakkan ke meja lagi. "Baru beberapa bulan ini kerja di perusahaan Daniel, di bagian office girl, Tan."


"Apa ...? Office gilr? Apa Daniel tidak salah. Kamu tahu, kan? Kalau Daniel membawa pulang perempuan dan dikenalkan sama tante itu artinya dia menyukai gadis itu?" Terlihat Adel mengangguk paham. "Kamu berapa bersaudara?"


Dalam hatinya, mama Daniel tidak menyukai Adel karena hanya lah seorang office girl. Tidak pantas mendampingi putranya. Namun, dia tidak akan terang-terangan melarang.


Hatinya bergemuruh. Rasanya sudah tidak nyaman berada di situasi seperti ini. Namun, setiap perkenalan pasti keluarga yang akan ditanyai.


Dan, benar saja. Adel mendapat pertanyaan tentang keluarga yang bisa saja membuat orang lain merasa jika ia tidak memiliki siapa-siapa yang bertanggung jawab atas dirinya. Hidup di kota besar tidak berada dibawah pengawasan orangtua membuat mama Daniel pasti sedikit kuatir akan pergaulannya.


Kedua tangannya bergemeletuk untuk mengurangi rasa gugup. "Saya anak tunggal, Tante. Orangtua saya sudah meninggal."

__ADS_1


"Jadi anak yatim piatu?" tanya mama Daniel lagi.


Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut mama Daniel. Terkejut sekaligus tidak menyangka jika anaknya menyukai gadis yang tidak jelas asal usulnya. Ia tidak mau jika putranya akan menikahi gadis yatim piatu yang tidak jelas bagaimana bibit bebet bobot keluarganya.


Karena, menurut mama Daniel, anaknya harus menikahi gadis yang jelas garis keturunannya. Yang jelas dari mana asal keluarganya. Yang nantinya bisa memberikan keturunan yang tidak akan dipandang sebelah mata oleh orang lain.


"Iya, Tante." Adel mengangguk. Ia sendiri tahu, pasti mama Daniel akan terkejut mendengar hal ini. Terlihat dari sorot matanya yang membelalak kemudian ditutupinya dengan gerakan tubuh agar tidak terlihat.


Adelia paham bagaimana orangtua yang takut jika anaknya menikahi gadis yatim piatu seperti dirinya. Dari duduknya saja sudah terlihat sedikit menjauh, juga sejak tadi dari cara bicaranya seperti orang yang mengintimidasi. Membuat gadis itu tidak nyaman sekaligus gugup.


"Lalu saat ini tinggal dengan siapa? Keluarga dari mama atau papa kamu mungkin? Atau tinggal sendiri? Jaman sekarang buat was-was orangtua kalau tinggal sendiri, pergaulan jaman sekarang tidak bisa disangka. Yang diam saja kadang malah lebih mengkuatirkan, apalagi yang sering pulang malam."


Bagi Adel, kalimat itu seperti sindiran. Dia sendiri yakin dan tahu jika pergaulan jaman sekarang memang mengkuatirkan. Tetapi, ia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya di atas sana.


Yang ia perlukan saat ini adalah menghadapi mama Daniel yang memandang sebelah mata karena dirinya anak yatim piatu. "Saya tinggal sendiri, Tan."


Harum sabun mandi Daniel menguar, memenuhi penciuman Adel membuat gadis itu merasakan segar karena penuh sesak dengan pertanyaan mama kekasihnya. Duduk di sebelah mamanya, pria itu tersenyum pada wanitanya. "Mama tanya apa saja ke Adel? Tidak digalakin, kan, ya?"


"Kamu itu ngomong apa? Antarkan Adel pulang karena sudah malam! Tidak baik anak gadis pulang larut malam. Apa kata tetangga nanti!" Menepuk paha anaknya pelan, kemudian bergegas meninggalkan ruang tamu tanpa mengucap sepatah kata pun pada gadis itu.


Adelia tahu pasti jika mama Daniel tidak menyukainya. Ia juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk menyukainya.


Setelah kepergian mama Daniel, pria itu pun lekas mengantar pulang Adel ke kontrakannya. Dia berdiri, memberikan tangan kirinya agar digandeng tangan gadis itu menuju keluar rumahnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2