
Adel meletakan jus yang dia bawa ke atas meja kerja sang bos yang mulai hari ini telah menjadi kekasihnya. Gadis itu tersenyum dengan manisnya.
"Jus nya terlalu manis," ucap Daniel.
"Padahal tadi aku tidak memberi gula, karena aku tahu Kak Daniel tidak suka," balas Adel.
"Berarti manis karena senyummu," jawab Daniel.
Wajah Adel memerah karena malu. Daniel lalu mendekati gadis itu. Duduk di pinggir meja kerjanya.
"Aku ingin mengenalkan kamu dengan kedua orang tuaku," ucap Daniel.
"Apakah ini tidak terlalu cepat, Kak?" tanya Adel.
"Jika itu niat baik, katanya harus di segerakan," jawab Daniel.
Adel memandangi wajah Daniel dengan mata berkaca. Daniel adalah pria kedua yang hadir dalam hidupnya setelah Galih, mantan kelasihanya saat sekolah dulu. Dia tidak pernah berpikir akan mendapatkan tambatan hati setelah Galih pergi meninggalkan dirinya.
Adel memeluk pinggang Daniel yang duduk di atas meja, dan tangis wanita itu akhirnya pecah dipelukan sang bos.
"Aku takut ini semua hanya mimpi. Saat aku terbangun, semua telah berlalu. Jika ini memang mimpi, biarkan aku tidur selamanya."
Daniel mengacak rambut Adel dengan penuh kasih sayang. "Ini bukan mimpi, tapi aku akan mewujudkan semua impianmu. Aku akan membuat kamu menjadi ratu dalam hiidupku seperti yang kamu impikan." Daniel mengecup pucuk kepala Adel. Pria itu mengajak gadis itu untuk makan malam dan juga keliling kota merayakan hari jadi mereka.
Malam harinya, Daniel menjemput sang kekasih. Adel tampak cantik walau dengan busana sederhana yang dia miliki.
"Kamu selalu cantik, kapan jeleknya sih." Daniel berucap sambil mencubit hidung sang kekasih dengan pelan.
"Kak Daniel juga ganteng banget," ucap Adel dengan pelan karena malu.
__ADS_1
Mobil melaju terus menuju sebuah restoran. Daniel telah memesannya sore tanpa Adel ketahui.
Saat makan malam, ternyata tanpa Adel ketahui Daniel telah memesan satu meja yang sangat romantis. Restoran yang berada di tepi pantai itu menambah keromantisan.
Meja hanya diterangi lilin, begitu juga suasana sekitarnya hanya diterangi dengan bola lampu kecil. Adel merasa angat terharu atas perlakuan istimewa dari Daniel, yang saat ini telah menjadi kekasihnya.
"Sayang, usia aku saat ini tidak muda lagi. Aku juga tidak ingin main-main dalam berhubungan. Dalam waktu dekat, aku akan kenalkan kamu dengan keluargaku."
"Apa tidak terlalu dini perkenalkan aku dengan keluargamu, Kak?" Kembali Adel bertanya hal yang sama.
"Ini sebagai bukti keseriusanku."
"Aku takut di saat aku telah menyayangi kamu sepenuhnya, ternyata keluarga kamu tidak bisa terima hubungan ini," balas Adel dengan suara pelan.
"Jangan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi. Semua kita jalani saja apa adanya. Aku akan ngomong dulu dengan Mama, jika saat ini telah memiliki kekasih. Setelah itu baru aku kenalkan kamu sama mama." Daniel membawa Adel ke dalam pelukannya.
Setelah makan malam, Daniel membawa wanita itu berjalan ke tepi pantai dengan bertelanjang kaki. Melihat bintang bertaburan di Langit. Senyum keduanya tampak selalu terkembang.
"Kak Daniel, kamu telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan. Kamu mungkin memegang tanganku untuk sementara waktu, tetapi kamu memegang hatiku selamanya."
"Aku senang melihatmu bahagia. Aku janji akan selalu mengukir senyum di bibir mungilmu," ucap Daniel.
Hidup hanya datang sekali, jadi lakukan apa yang membuatmu bahagia, dan berada di sekitar orang yang membuatmu tersenyum. Senyuman terbaik datang setelah saat-saat tersulit. Jangan pernah biarkan kesedihan masa lalumu membuatmu merusak kebahagiaan saat ini.
Daniel yang berdiri dibelakang Adel memeluk pinggangnya. Mengecup berulang kali pipi gadis itu.
"Aku ingin bisa memelukmu setiap saat, dan terutama aku ingin saat aku membuka mata, orang pertama yang aku lihat adalah kamu," ucap Daniel.
Adel membalikkan tubuhnya menghadap Daniel, "Aku juga ingin saat aku membuka mata, ada tubuh yang memeluk badanku."
__ADS_1
Daniel mempererat pelukannya dan mendekatkan wajah mereka. Pria itu mengecup bibir Adel. Ciuman yang awalnya lembut, akhirnya menuntut. Cukup lama keduanya saling bertautan bibir.
Angin malam yang makin kencang, membuat tubuh Adelia merasa kedinginan. Daniel membuka jas miliknya dan memasangkan ke tubuh sang gadis. Pria itu mengajak kekasihnya duduk di batu besar yang ada di pantai.
"Besok kita akan ke luar kota lagi. Sebaiknya kita pulang saja. Biar kamu bisa istirahat."
"Terserah Kak Danie aja," ucap Dyra dengan suara gemetar menahan dingin.
Daniel memeluk tubuh Adel sepanjang jalan menuju mobil. Gadis itu masih tampak kedinginan. "Kamu nggak tahan udara dingin?"
"Nggak, aku akan demam dan flu kalau kedinginan apa lagi kehujanan," jawab Adel.
"Kenapa tak ngomong dari tadi?" tanya Daniel kuatir.
"Aku suka suasana pantai. Tapi aku nggak tahan udara dingin. Jadi aku harus gimana?" Adel bukannya menjawab pertanyaan Daniel, justru bertanya kembali.
"Jika ingin bermain di pantai pada malam hari berarti kamu harus berpelukan denganku terus. Biar nggak kedinginan."
"Maunya kamu, Kak!" ucap Adel mencubit lengan Daniel.
Daniel mengendarai mobil sambil menggenggam tangan kanan Adelia sepanjang perjalanan menuju kost-nya wanita itu. Sesekali Daniel mengecup tangannya.
Sampai di halaman kos-nya Adelia, Daniel menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Aku nggak pernah jatuh cinta hingga sedalam ini dengan wanita manapun. Aku nggak tahu, apa yang membuat aku begitu menyayangimu. Yang jelas aku begitu takut kehilangan kamu. Entah mengapa, untuk berpisah kali ini aja, aku merasa keberatan."
Adel membiarkan Daniel memeluk tubuhnya erat, hingga pria itu sendiri yang melonggarkan pelukan mereka. Dia tersenyum menanggapi perlakuan sang bos.
"Jangan lupa besok pagi-pagi aku jemput kamu. Langsung tidur ya. Jangan begadang. Jangan mikirin aku. Jangan bayangkan kejadian di pantai." Daniel sengaja menggoda Adel, karena pria itu sangat senang melihat wajah cemberut kekasihnya itu.
Adem langsung masuk ke kamar dan melompat ke kasur. Gadis itu tampak kegirangan. Dia teringat semua kejadian dari siang hingga malam. Semua begitu indah dikenang dan diingat.
__ADS_1
"Ya, Tuhan. Ini semua terasa mimpi. Aku tidak pernah membayangkan atau memimpikan semua ini. Aku pikir, tidak akan ada pria yang mau menjalin hubungan denganku seorang cewek dari keluarga miskin."
...----------------...