
Hari mulai menyelidiki kecelakaan yang menimpa adiknya, dia masuk ke kamar Raya, dan memperhatikan tempat kejadian peristiwa tersebut. Dia berjongkok dan menyusuri di sekitar dekat tempat tidur, dan matanya pun tertuju pada gelang milik seseorang, dan Hari pun mengambilnya dengan bantuan sehelai kain (lap tangan Hari yang diambilnya dari belakang saku celananya).
Diamatinya gelang itu, dan digelang tersebut ada gantungan love, dibukanya gantungan love itu, dilihatnya ukiran tulisan A & D. Matanya membola dan inisial nama itu ....
Iya Hari sekarang tahu, siapa dalang dari semua ini. Dan dia akan mengusutnya sampai tuntas. Orang yang sudah melukai adiknya harus bertanggung jawab atas tindakannya, meskipun orang itu adalah orang yang sangat dekat dengan Raya.
Hari pun gegas ke rumah orang tersebut, dia tidak ingin menunggu lama untuk menyelesaikan kasus adiknya. Dan orang itu langsung terperanjat dengan kedatangan Hari yang sedang menahan emosinya. Dia pun mengerti dengan kedatangan Hari yang tiba-tiba dan dengan wajah yang menahan emosi.
"Aku ingin kamu bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan kepada adikku!!" Pekik Hari seraya mengepal kedua tangannya.
"Ma_maksud Kakak apa?" Jawabnya dengan nada pelan karena takut.
"Sudahlah tidak usah pura-pura, aku pikir kamu orang yang benar-benar baik. Dan jelaskan apa maksudmu melukai adikku hingga tak berdaya seperti sekarang!!" Lantang Hari seraya menunjuk pas diarah kening orang tersebut.
"A_a_aku..." suaranya semakin terbata begitu pun dengan matanya yang sendu. Hari mendekati orang itu, dia melangkah maju dan orang itu perlahan mundur dan mundur hingga dirinya tertahan tembok dinding rumahnya.
"Mau lari kemana lagi kamu!! Sampai kapan pun tak akan aku maafkan. Adikku sudah begitu baik padamu, dia merelakan orang yang dia cintai bersama mu. Dan kau membalasnya dengan melukainya hingga tak berdaya. Memang benar buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Kau sama saja dengan Papamu!!!" Pekik Hari yang masih mengepalkan tangannya.
Dwi, iya dia adalah Dwi, orang yang sudah melukai sahabatnya sendiri dan adiknya Hari. Dan Hari pun mengetahui kalau Raya mencintai Angkasa. Mungkin diam-diam Hari mengetahuinya tanpa Raya bercerita atau memberitahu kakaknya sendiri. Dan begitu pun dengan Dwi, dia kaget dengan ucapan kak Hari yang benar-benar membuatnya terasa ditampar.
"Maaf, Kak. Waktu itu aku emosi dan aku meluapkankan seketika begitu saja tanpa memikirkan akibatnya. Dan aku pun menyesalinya. Maaf kak." Jelas Dwi dan air matanya pun berjatuhan.
"Maaf memang mudah, tapi aku tidak akan memafkanmu. Aku akan melaporkan mu pada yang berwajib. Supaya kamu jera!" Ancam Hari, rasanya dia ingin memukul Dwi. Bila dia lelaki mungkin Dwi sudah babak belur.
"Tolong ka, jangan..." Dwi memohon dan berlutut dikaki Hari seraya terisak.
"Sudahlah aku, tidak akan terpedaya dengan sikapmu yang menjijikan seperti ini. Tunggu saja tanggal mainnya. Camkan itu!!" Timpal Hari dan gegas dia pergi meninggal Dwi yang masih berlutut dan terisak menangisi penyesalannya.
Dia tidak mempercayainya kalau kak Hari akan semarah itu, mungkin benar kata Angkasa, dia sudah keterlaluan. Dwi sudah tidak memiliki hati, atau mungkin hatinya tidak ada.
Sekarang Dwi hanya bisa merutuki penyesalannya, apa yang harus dia lakukan sekarang, mungkin dia harus menemui Raya supaya kak Hari tidak melaporkan nya. Dan dia harus meminta maaf kepada Raya. Tapi dia tidak berani menemui Raya, dia takut tidak kuat melihat Raya dengan kondisi saat ini.
Hari kemudian pergi ke kantor polisi dan melaporkan Dwi, dia ingin Dwi jera dengan tindakan tempramennya, jangan sampai Dwi lebih parah dari ini dan melebihi Papa Dwi sendiri. Karena Hari tahu betul kalau Dwi terlahir dari seorang Papa yang tempramen, Papa Dwi sering melakukan kekerasan kepada istrinya, sampai istrinya dirawat berkali-kali di rumah sakit, dan yang terakhir Hari ingat perut Mama Dwi ditusuk, untung saja tidak terlalu dalam dan segera ditangani tim medis dengan cepat dan tepat. Itu yang paling parah. Sungguh miris dengan keluarga Dwi. Dan Hari Ingin Dwi sadar kalau perbuatannya itu salah dan sudah keterlaluan sehingga membuat sahabatnya sendiri (adik Hari) terluka parah. Apapun masalahnya itu tidak membenarkan kekerasan sebagai jalan keluarnya.
Setelah melaporkan Dwi, Hari langsung berangkat ke kantornya meskipun jam sudah menunjukan jam 11 siang, tapi dia sudah memberitahu orang kantor kalau dia akan masuk siang. Hari bekerja di perusahaan terbesar di kota nya, dia disana bekerja sebagai Direktur Keuangan. Dan dari hasilnya bekerja dia sudah menabung untuk menikahi Fitri dan sudah membeli rumah kelak untuk dia bersama keluarga kecilnya nanti. Rumahnya itu cukup sederhana dengan bangunan yang elegan dan modern juga satu lantai dengan jumlah kamar tidur 3 (satu kamar utama, satu kamar tamu, dan satu kamar pembantu), kamar kecilnya pun ada 3 (satu di kamar utama, satu di dekat kamar tamu dan satu didapur). Sedangkan untuk kendaraan, dia memilih kendaraan beroda dua (motor) karena baginya motor itu simpel dan cepat, kalau kena macet di jalan, motor bisa melaju tanpa henti meskipun pelan, tidak seperti mobil kalau kena macet, ya sudah mobil sulit untuk melaju.
"Siang pak Hari..." Sambut rekannya dengan senyum ledeknya. Hari menatap tajam mata rekannya dengan senyum tipisnya seraya memasang kedua jarinya dari mata ke mata. Rekannya pun tergelak.
"Hahahahaha.... kacau kacau..." serunya seraya duduk kembali dan fokus kepekerjaannya yang menumpuk.
Hari langsung masuk ke ruangannya dan langsung duduk kemudian memeriksa beberapa laporan keuangan yang belum terselesaikan 2 hari yang lalu, karena 2 hari yang lalu dia harus menghentikan pekerjaan secara mendadak begitu saja tanpa mengalihkan pekerjaannya kepada bawahannya, bukannya dia tidak percaya kepada mereka, tapi lebih baik dia sendiri yang mengerjakannya. Dan pekerjaannya tertunda karena kecelakaan yang menimpa adiknya, dan itu lebih penting dibanding pekerjaan.
Kring....
Kring....
Kring....
Bunyi telepon dimejanya, gegas dia mengangkatnya
"Iya ada apa Las?" Dijawabnya dengan bertanya pada Lastri, asistennya.
"Maaf pak, barusan pak Samsul menanyakan laporan keuangan bulan ini yang 2 hari bapak kerjakan. Apakah sudah selesai?" Tanyanya dengan nada pelan karena takut Hari tersinggung. Seandainya Hari mau melemparkan tugasnya itu kepada asistennya pasti pak Samsul tidak akan menanyakan laporan, karena laporan itu sangat penting dan akan di audit sore ini.
"Iya maaf Lastri, sepertinya aku ceroboh. Tapi tenang saja dua jam lagi pasti selesai. Aku harap kamu tidak perlu khawatir. Bila telat, biar aku yang kena sanksi pak Samsul." Jelas Hari seraya meyakinkan Lastri supaya percaya kepadanya.
"Baiklah pak, jika bapak berkenan, aku siap membantu." Pintanya dengan sopan tanpa sedikit menyinggung hati Hari.
"Tidak perlu, tapi bila aku perlu nanti aku kabari ya." Jelas Hari kembali, dan gegas menutup teleponnya.
Gegas Hari melanjutkan pekerjaannya, tanpa mengeluh sedikitpun. Dia targetkan dua jam, itu janjinya kepada Lastri. Lastri hanya menelan salivanya dan mengintipnya di celah kaca jendela ruangan Hari. Lastri tau betul Hari adalah atasannya yang bertanggung jawab, propesional, tegas dan tidak pernah main-main dengan pekerjaan. Hari juga disukai banyak karyawati disana, begitu pun dengan Lastri, dia sangat menyukai Hari, meskipun dia sering memberikan perhatian lebih kepada Hari, tapi Hari tidak pernah menolehnya. Lastri juga setiap pagi hari selalu menaruh dan mengganti setangkai bunga mawar merah yang selalu ada di meja Hari. Karena mawar adalah bunga kesukaan Hari dan Lastri juga.
__ADS_1
Dulu pernah saat liburan akhir tahun, perusahaannya mengadakan liburan karyawan penting saja. Dan Mereka duduk bersampingan, Lastri tertidur, dan kepalanya bersandar dibahu Hari. Hari diam saja, malahan dia meminjamkan bahunya itu dan melindungi Lastri supaya merasa nyaman. Dari sana Lastri mulai menyukai Hari, padahal Hari bersikap seperti itu karena lebih mengutamakan kenyamanan seorang wanita apalagi wanita itu rekan kerjanya, dan tidak lebih dari itu. Tapi Lastri merasa itu adalah sikap seorang pria kepada wanitanya, bila bukan, mana mungkin Hari melakukan itu, pasti Hari akan bergeser dan memilih tidak memberikan bahunya.
"Maaf..." Lirih Lastri
"Tidak apa-apa, kalau kamu merasa nyaman seperti tadi, bahuku akan menopang kepalamu, biar kamu merasa nyaman." Sahut Hari dengan senyumnya.
"Terimakasih pak." Sahut Lastri dengan senyum manisnya dan kembali bersandar. Hari hanya tersenyum dan memberikan bahunya untuk Lastri.
Dari sanalah tumbuh benih cinta Lastri kepada Hari, meskipun sampai sekarang tidak terbalaskan. Karena Hari sudah menambatkan hatinya untuk Fitri dan hanya Fitri satu-satunya wanita yang selalu membuat Hari jatuh cinta dan selalu menggebu-gebu. Bila kepada Lastri itu hanya sekedar perasaan seorang teman tidak lebih.
Sesampainya di tempat wisata, mereka turun dan melihat pemandangan yang sangat indah. Luasnya pemandangan, tingginya bukit pegunungan kebun teh, disitu mereka tertuju ka satu tanaman hias yang indah berwarna merah dan menarik perhatian mata mereka. Mereka gegas berjalan ke tanaman itu, dan...
Seeeet ...
Tangan mereka bersamaan memegang sekuntum bunga mawar dan tangan mereka saling berpegangan. Jantung Lastri berdegup kencang sedangkan Hari biasa saja, Hari langsung melepaskan genggamannya dan meminta maaf.
"Maaf... aku pikir hanya aku saja yang tertuju ke bunga mawar yang indah ini, ternyata kamu juga sama. Dan aku biarkan bunga ini jadi milikmu, bila kamu sangat menyukainya." Jelas Hari dengan senyum manisnya.
"Tidak apa-apa pak, dan maaf juga aku tidak tahu kalau bapak menyukainya." Sahut Lastri seraya melepaskan tangannya dari bunga mawar itu.
"Dan sebaiknya bunganya biarkan saja tumbuh disini pak, seperti hatiku..." Timpalnya dan tak berani dia melanjutkannya. Karena dia tahu atasannya sudah mempunyai kekasih, dan dia tahu juga dia itu siapa.
"Hatimu...?" Tanya Hari seraya melihat sekeliling sekitar, disitu yang ada ternyata hanya mereka berdua, dan yang lainnya sudah masuk ke villa.
"Maaf, maksudku hatiku yang ikhlas tidak memiliki bunga ini, kan kasihan pak bunganya kalau di petik nanti daunnya menangis karena bunga nya hilang." Jelas Lastri dengan senyumnya seraya tangannya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Ooooo..." Hari melongo dan gegas dia beranjak dari tempat itu tanpa pamit kepada Lastri. Lastri hanya terdiam mematung, melihat Hari yang berjalan meninggalkannya bersama mawar indah itu.
Dia yang begitu tampan, baik hati dan selalu membuat para wanita mengaguminya telah membuat hatiku jatuh cinta. Dan perasaan ini akan kupendam sampai tiba waktunya, atau mungkin akan ku hapus dengan rinai hujan saja. Tak perlu aku membuatnya melihat hatiku, dan tak perlu dia tahu perasaanku. Cukup aku saja yang merasakan indahnya jatuh cinta pada dirinya.
Lirih batinnya dengan senyum manis dipipinya, gegas Lastri pun berjalan mengekori Hari yang kian jauh dipelupuk matanya. Dia sudah ikhlas akan cintanya yang tidak akan terbalaskan. Dan sampai detik ini, Hari tak membalas cintanya, meskipun berulang kali Lastri mencoba memberi perhatian lebih, dengan selalu membawa bekal makan siang untuk Hari atau sekedar cemilan untuk Hari. Karena Lastri tahu kalau Hari sangat suka cemilan karena lelaki satu ini bukan perokok. Ini juga yang membuat Lastri menyukainya.
"Maaf pak..." Sahut Lastri dan langsung berdiri dari duduknya.
"Ini sudah selesai. Sesuai janjiku kan, malah lebih cepat dari yang dibayangkan." Timpal Hari seraya menyerahkan berkas hasil laporan keuangan bulan ini.
"Baik pak." Lastri langsung menerima berkas nya dan gegas melangkah menuju ruangan pak Samsul CEO perusahaan itu dengan perasaan canggung dan gugupnya. Hari hanya melihatnya dan sedikit bertanya dalam hatinya.
Sepertinya dia masih menyukaiku. Tapi maaf Lastri, kamu bukan pilihan hatiku. Dan maaf aku sudah memberi perhatian padamu dulu, seharusnya aku tahu itu kalau wanita selalu bermain perasaan dan aku tidak peka akan kehadiranmu dihidupku. Sudah cukup kita jadi rekan kerja saja, dan inilah takdir kita. Terimakasih sudah baik dan selalu memberiku perhatian. Dan maaf aku tidak akan membalas semuanya. Bathin Hari dengan mantap dan menelan salivanya, kemudian dia beranjak ke ruangannya lagi dan menutup pintunya perlahan.
Hari kembali bekerja dan mengecek semua laporan yang baru datang lagi, mungkin kemarin Lastri menyimpannya di mejanya.
Dreeeet....
Dreeeet....
Dreeeet....
Gawai Hari bergetar, dan dilihatnya panggilan masuk dari Mamanya. Gegas Hari mengangkatnya, takutnya Terjadi sesuatu kepada Raya.
"Iya Ma, apa ada sesuatu yang terjadi dengan Raya?" Tanya Hari dengan nada paniknya.
"Tidak nak, Mama cuma mau bilang nanti sepulang dari kantor, kamu kesini dulu ya, belikan makanan yang enak-enak, kasian adikmu ini, kayaknya pengen makanan yang enak-enak." Jelas Bu Anita.
"Syukurlah... Hari takut saja ada kenapa-napa sama Raya. Baik kalau begitu, nanti Hari belikan. Tapi sepertinya tidak bisa cepat Ma... Soalnya pekerjaan Hari masih banyak, paling setelah Magrib atau setelah Isya Ma. Tidak apa-apa kan Ma?" Celoteh Hari dengan sedikit berharap kalau Mama nya mengerti.
"Iya tidak apa-apa, yang penting nanti belikan ya, kasian adikmu." Pinta Mama.
"Iya Mamaku sayang..." Jawab Hari dengan senyum manisnya.
Tok...
__ADS_1
Tok...
Tok...
Suara ketukan dibalik pintunya mengakhiri percakapannya Hari dengan Mama nya. Hari pun menyuruh orang tersebut masuk.
"Masuk..." Ucap Hari yang masih duduk dan menatap ke arah pintunya.
"Permisi pak..." Sahut Lastri seraya berjalan menghampiri atasannya.
"Ada apa?" Tanya Hari.
"Maaf pak, apakah laporan keuangan yang saya berikan kemarin sudah di cek?" Timpal Lastri sopan seraya sedikit membungkukkan badannya karena menghormati atasannya itu.
"Sedang saya cek, dan sebentar lagi selesai. Jujur saya puas dengan hasil kerja kamu yang selalu detail menjelaskan satu persatu nya sehingga disini terlihat jelas dan mudah untuk difahami. Dan saya lebih cepat mengerjakannya. Saya harap, kamu selalu tetap memuaskan perusahaan ini." Jelas Hari dengan sedikit tegas dan berwibawa. Lastri jadi berbangga hati dan sedikit tersenyum licik, entah apa yang ada dipikirannya.
"Terimakasih atas pujiannya pak. Tapi apakah saya perlu membantu memperjelas kan sebagiannya supaya lebih cepat, karena pak Samsul memerlukannya sore ini juga pak. Saya juga heran, kenapa beliau mendadak sekali. Padahal laporan ini untuk Minggu depan di auditnya." Jelas Lastri dengan sedikit memperjelas alasannya yang ingin membantu Hari. Ini pun dia lakukan untuk perusahaannya. Meskipun ini kesempatan dia untuk bisa lebih dekat dengan Hari. Kata pepatah, siapapun itu, kejar terus sebelum janur kuning melengkung.
"Baiklah, saya kali ini kalah. Dan saya memang butuh bantuanmu." Jelas Hari.
Mereka pun langsung bekerjasama dan dengan cepat, Hari dapat menyelesaikan pekerjaannya. Lastri memang jenius, dia tidak salah memiliki asisten yang tepat seperti Lastri. Sudah cantik, tinggi semampai, putih dan memiliki skill diatas rata - rata , orang menjulukinya Smart Girl. Dan itu memang terbukti benar adanya. Sehingga Hari merasa dirinya sangatlah beruntung memiliki rekan kerja seperti Lastri.
"Terimakasih Las, berkat bantuanmu, pekerjaanku lebih cepat selesai." Ucap Hari yang sedang menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, hari ini menurutnya sangat melelahkan, dan keberuntungan sedang berada disekelilingnya.
"Sama-sama pak." Jawab Lastri seraya merapihkan lembaran demi lembaran laporan keuangan Minggu ini. Dan tanpa sengaja Lastri menyenggol foto Hari dan Fitri tunangannya, sehingga terjatuh dimeja, Untung saja, Lastri secepat mungkin menghadangnya sehingga tidak sampai jatuh kebawah.
"Maaf pak." Sahutnya. Hari hanya menatapnya, memang sungguh cantik paras Lastri, lelaki yang jadi suaminya kelak pasti beruntung mendapatkannya. Tetapi lebih beruntung lagi Hari telah memiliki calon istri lebih baik dari Lastri.
"Kenapa bapak melihat saya seperti itu?" Tanya Lastri seraya merapihkan kembali meja atasannya.
"Tidak, saya hanya berfikir, kenapa kamu tidak pernah membuka hati untuk pria lain. Mungkin diluar sana masih banyak yang antri menunggu kehadiranmu." Jelas Hari seraya menengadahkan kepalanya dan menatap tajam Lastri.
"Maksud bapak? Saya jomblo sejati gitu?" Lastri merasa sedikit tersinggung dengan penjelasan Hari. Usia Lastri memang lebih tua 2 tahun dibanding Hari. Tetapi karena Lastri terlihat awet muda, jadi dia tidak terlihat lebih tua dari Hari, malahan terlihat lebih muda. Dan banyak lelaki di kantornya yang menyukai Lastri, tetapi Lastri menutup hatinya, karena dihatinya masih dia simpan nama Hari seorang.
"Bukan gitu, maksud saya, diluar sana banyak lelaki yang menyukaimu dan menunggu kehadiranmu. Apa tidak sebaiknya bukalah hatimu untuk salah satu dari mereka. Dan maaf bukan saya menggurui lho Las, tapi saya hanya merasa kamu butuh seseorang untuk mengisi hari-harimu lebih berarti lagi. gitu maksud saya." Jelas Hari dengan berbolak balik penjelasannya, takut Lastri tersinggung lagi.
"Ok. Kalau begitu nanti malam kita dinner, aku tunggu di cafe dekat pusat kota. Disana menunya enak-enak dan berkelas. Saya harap bapak datang dan saya akan lebih berbaik hati bila bapak sekali ini saja melihat saya sebagai wanita biasa bukan sebagai wanita smart seperti apa kata mereka." Pinta Lastri.
"Aduh maaf sekali Las, aku malam ini sudah ada janji dengan Mamaku dan adikku. Gimana kalau lain waktu saja ?" Tolak Hari seraya merapatkan kedua telapak tangannya dengan sedikit memohon.
"Sudah saya duga. Anda memang tidak bisa membalas Budi kebaikan saya. Tapi tidak apalah, sebelum saya tambah sakit hati." Ketus Lastri dan gegas keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ruangan pak Samsul.
Hari merasa tidak enak hati, dan dia langsung mengekori Lastri sampai di daun pintu ruangan pak Samsul. Dan terhenti disana. Hari menunggu Lastri dengan perasaan galaunya. Entah apa yang dia rasakan sekarang, tapi kata-kata yang disampaikan Lastri sangatlah mengena ke hatinya.
Lima belas menit berlalu, Lastri keluar dari ruangan pak Samsul. Dan dia melihat Hari berdiri didekat daun pintu, Lastri sedikit heran, kenapa Hari mengekorinya dan menunggunya.
"Maaf, kita harus bicara sekarang!" Ajak Hari, Lastri pun mengiyakannya. Dan mereka pergi ke kantin kantor, kebetulan sekarang sudah adzan ashar dan waktunya shalat, jadi mereka pergi ke ke kantin dulu untuk meluruskan masalah mereka.
"Ada apa pak?" Tanya Lastri seraya mengibaskan rambutnya yang menghalangi parasnya yang cantik. Sehingga membuat Hari menelan salivanya, dan Hari pun menundukkan pandangannya.
"Bukan maksudku membuat kamu sakit hati, aku hanya tidak ingin memberi harapan yang nantinya akan lebih menyakitimu. Dan jujur memang benar malam ini aku ada urusan dengan Mama dan adikku, mereka sangat membutuhkanku. Bila kamu tidak percaya, kamu boleh menghubungi Mamaku dan berbicara dengannya." Jelas Hari. Lastri hanya terdiam dan merasa kini Hari mulai melihat hatinya. Tapi benar apa kata Hari, dia memang lelaki gantle dan berani berterus terang.
"Dan kamu juga memiliki paras yang cantik, supel, baik dan smart. Pasti banyak pria yang menunggu kehadiranmu, dan lihatlah mereka juga bukalah hatimu untuk yang lain jangan kau tutup. Dan aku tidak pantas untuk memulai ukiran dihatimu, karena aku sudah memiliki ukiran dihati wanita yang aku cintai dan sayangi. Maaf mungkin kalimatku sedikit membuatmu bingung. Tapi itu aku jelaskan supaya kamu lebih memahaminya, meskipun sangat sulit untuk dicerna." Timpal Hari sambil tersenyum manis.
Lastri sekarang faham, cintanya yang dia simpan untuk Hari tak akan mungkin terbalas, karena sekarang Hari sudah memastikan, hatinya tertutup untuk wanita lain. Malah meminta Lastri membuka hatinya untuk pria lain.
"Aku merasa bahagia bisa menyukai pak Hari dan mungkin bisa dikatakan aku mencintaimu pak. Dan aku terlalu berharap lebih untuk bersamamu. Bunga mawar yang selalu aku simpan dimejamu mungkin tadi yang terakhir aku beri, besok aku janji tidak akan memberinya lagi. Begitu dengan hati ini, biar kandas dan menghilang tanpa jejak. Dan terimakasih sudah hadir dalam hidupku dengan menghiasi warna dihatiku." Lirih Lastri dengan matanya yang sendu, dan dia pun gegas pergi dari hadapan Hari. Tak ingin dia tunjukan air matanya jatuh membasahi pipinya, lebih baik air mata ini mengalir tanpa sepengetahuannya. Cukup hatinya yang merasakannya
Hari hanya bisa duduk terdiam tanpa kata, dia yakin Lastri tidak akan semudah itu menghapus cintanya untuk Hari, mungkin butuh waktu lama. Tapi setidaknya Hari mengingatkannya sebelum benih-benih cinta datang kepada Hari. Karena dia tahu sekali lelaki mudah tergoda dan akan mudah berlabuh ke pelabuhan lain, jika pelabuhan itu lebih indah dibanding pelabuhan yang pertama. Dan itu pasti akan membuat hancur kapalnya bahkan nahkoda nya.
* * *
__ADS_1