Aku Di Matamu

Aku Di Matamu
Bab 11


__ADS_3

Tiga hari berlalu, Dwi mendapat surat panggilan dari kepolisian setempat dan dia harus memberikan keterangan tentang peristiwa kejadian yang membuat Raya terluka dan tak berdaya. Dwi pun terperanjat setelah menerima surat itu, dia tidak percaya kalau Kak Hari benar-benar melaporkannya ke polisi. Dan Dwi juga tidak memberanikan diri untuk minta maaf kepada Raya, karena dia takut Raya tidak ingin bertemu dengan nya bahkan tidak ingin lagi berteman dengannya, sahabat pun enggan disebutkan lagi dalam pertemanan mereka.


"Ada apa Dwi?" Tanya Mama Dwi (Bu Rasmi) seraya duduk disamping Dwi dan matanya tertuju pada surat itu.


"Lihat saja Ma..." Dwi memberikan suratnya dengan tertunduk dan meratapi nasibnya kini. Bagaimana dengan masa depannya nanti.


"Astaghfirullah... Ternyata kejadian yang menimpa Raya sampai dilaporkan ke kantor polisi. Mama juga kemarin sudah menjenguk Raya dan meminta maaf pada Raya dan Bu Anita juga pak Bagas dan Hari. Mereka pun memaafkannya tetapi Mama lihat Raya seperti Trauma, Mama lihat juga Hari seperti enggan memafkanmu, dia hanya tersenyum tipis". Jelas Bu Rasmi.


Ketika di rumah sakit


"Maafkan atas kesalahan anak saya Dwi. Saya tahu betul yang dilakukannya sangatlah keterlaluan bahkan sudah kriminal. Dan dia anak yang tempramen, jadi dia akan bertindak kasar bila hatinya sakit dan hancur atau tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Saya pun sudah mencoba mengobatinya ke psikiater tapi apa boleh buat dia susah diatur, dia merasa itu adalah jiwa yang di turunkan dari Mas Rian (Papa Dwi). Karena dia merasa itu tidak akan hilang dari jiwa nya, dan akan selalu ada." Jelas Bu Rasmi dengan matanya yang sendu seraya tertunduk karena merasa malu dan takut bila keluarga Atmaja tidak akan memaafkan anaknya.


Mereka hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.


"Maaf..." Lirih Bu Rasmi dan kemudian terisaklah. Bu Anita menghampiri dan merangkul seraya mengusap-usap bahu Rasmi. Dia juga sama seorang ibu yang menyayangi anaknya bahkan lebih dari itu. Anita sangatlah faham menjadi seorang ibu seperti Rasmi yang membesarkan anaknya sendirian dengan keadaan anaknya yang temperamental adalah sebuah perjuangan yang sangat besar. Tapi Rasmi sangatlah penyabar, dia tidak lelah mendidik dan membesarkan Dwi sendirian dari umur Dwi kelas 5 SD. Meski Rasmi sering juga kena pukul dan kena tendang Dwi bila hati Dwi kacau atau marah. Itu pun Anita mengetahuinya dari ibu-ibu tetangga nya yang lain. Karena Bu Anita dan keluarganya pindah kesana pas Raya SMP jadi tidak begitu tahu dengan keadaan mereka.


"Sudahlah Bu, Bu Rasmi jangan merasa bersalah seperti ini. Kami sekeluarga memaafkan apa yang telah Dwi lakukan pada Raya, tetapi apa sebaiknya Bu Rasmi membujuk Dwi kembali untuk ... maksud saya... maaf Bu bukannya saya lancang, tapi saya hanya ingin Dwi seperti yang lainnya." Ucap Bu Anita seraya memegang kedua tangan Bu Rasmi.


"Iya Bu, saya juga memikirkan hal itu. Rencananya besok atau lusa, saya akan membawa Dwi ke psikiater lagi. Dan semoga dipermudah, terimakasih Bu Anita atas perhatiannya, Anda memang berhati malaikat." Ucap Bu Rasmi dengan senyum lebarnya, matanya yang sendu pun sekarang sudah berwarna lagi, air mata yang membasahi pipinya pun diusapnya.


"Dan terimakasih banyak khususnya nak Raya, terimakasih karena telah berhati lapang untuk memaafkan Dwi." Timpal Bu Rasmi seraya menghampiri Raya dan merangkul Raya yang tengah duduk di ranjang pasien sedari tadi. Raya membalas rangkulan Bu Rasmi, walau sebenarnya terasa berat memafkan Dwi, tapi memafkan itu hal terpuji yang dapat membuat kita belajar ikhlas. Dan kini yang tersisa dihati Raya hanya trauma, dia merasa enggan bertemu Dwi dulu. Begitulah Raya dia itu wanita lemah dan itu yang kurang dari dirinya, dia tidak seberani orang-orang.


"Iya Tante." Ucap Raya. Alhamdulillah sekarang Raya sudah lancar berbicara, dan dia sudah diperbolehkan pulang dalam dua hari kedepan, karena otot-otot nya masih lemah belum bisa 100% untuk bebas bergerak. Itu pun bila ada perkembangan lebih baik lagi dengan otot-otot nya.


"Terimakasih nak, terimakasih..." Timpal Bu Rasmi dan melepaskan rangkulannya dengan senyum lebarnya lagi.


"Semoga dilain waktu, nak Dwi sudah ada perubahan baik ya Bu. Dan anak kita bisa bersahabat lagi seperti sebelum peristiwa itu." Sahut pak Bagas dengan memberi semangat baru kepada Bu Rasmi.


"Iya pak, Insya Allah... dan terimakasih, kalian memang orang tua berhati malaikat, pantas nak Raya dan nak Hari begitu baik dan cerdas. Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Pasangan yang baik akan mendapatkan keturunan yang baik pula, begitu pun sebaliknya. Dan saya akan berjuang untuk kesembuhan Dwi. Sekali lagi terimakasih banyak." Jelas Bu Rasmi dengan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada seraya menganggukkan kepala dengan senyum dipipinya.


Begitulah saat di rumah sakit.


Tapi saat itu Rasmi melihat Hari tidak mengeluarkan suara, dia hanya tersenyum tipis. Mungkin dia merasa sakit hati atas perlakuan Dwi kepada Raya yang membekas hingga saat ini, dan sekarang adalah hari dimana Dwi menerima surat panggilan dari kepolisian, apakah ini akhir dari masa depan anaknya? Padahal hari ini dia berencana membawa Dwi ke psikiater, tapi dengan kejutan ini membuat dia mengurungkan niatnya. Dan waktunya pun siang ini juga, benar-benar bagai petir menyambar seketika.


"Ma... aku tidak mau dipenjara..." Lirih Dwi dengan matanya yang sendu dan akhirnya terisaklah, air matanya sudah tak bisa dibendung lagi.


"Mama juga tidak tahu harus berbuat apa? Meminta maaf sudah, tetapi seandainya kemarin-kemarin kamu mau mengecilkan egomu untuk meminta maaf pada Raya, mungkin ini tidak akan terjadi. Tetapi nasi sudah jadi bubur, sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Sekarang sebaiknya kamu mempertanggung jawabkan tindakanmu, ikuti alur ceritanya dan ikhlaskan hatimu menerima semua ini." Jelas Bu Rasmi seraya memeluk Dwi dan mencium kening juga seluruh wajah Dwi, dia tidak ingin melihat anak yang disayanginya dipenjara.


Dwi pun terisak dalam pelukan Bu Rasmi. Dia tidak ingin berpisah dari Mamanya, dia takut benar-benar takut bila sampai dipenjara.


Beralih ke Angkasa. Angkasa sepagi ini sudah siap-siap untuk menjenguk Raya. Dia ingin melihat pujaan hatinya, karena sudah berhari-hari ini dia merindukannya. Dia berharap Raya mau menerimanya, meskipun tidak seindah waktu bersahabat dulu.


Sesampainya di rumah sakit, Angkasa terperanjat melihat Bram sudah berada di dalam ruangan Raya, dia pun melihat Bram menyuapi Raya, dan diruangan itu hanya mereka berdua, Angkasa mengitari pandangannya ke sekeliling ruangan, tak terlihatnya nampak orang tua Raya ataupun kak Hari. Sungguh hati Angkasa merasa membara ingin rasanya menarik Bram dari ruangan itu, dan menggantikan posisinya menyuapi Raya. Dia tidak habis pikir sejak kapan mereka dekat? Angkasa pun masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." Ucap Angkasa seraya berjalan menghampiri Raya dan Bram, dia juga membawa bingkisan makanan kesukaan Raya dan keluarganya.


"Waalaikumusalam..." Jawab Raya dan Bram bersamaan. Raya membolakan matanya melihat pujaan hatinya menjenguknya, namun dia sudah tidak mengharapkan Angkasa lagi. Bukan karena ada Bram disampingnya, tetapi ini karena luka lama tak ingin dia kenang lagi, cukup sekali dia merasakan itu.


"Maaf mengganggu keharmonisannya." Celetuk Angkasa dan berdiri samping ranjang Raya pas disamping Raya juga kerena Raya sedang duduk di ranjang itu.


"Bagaimana kabar sahabatku satu ini? Maaf aku baru sempat menjengukmu hari ini, dan ini aku bawakan makanan kesukaanmu dan keluargamu. Nanti sebahis makan sarapannya, dimakan ya?" Timpal Angkasa seraya memberikan bingkisan itu kepada Raya.


"Alhamdulillah baik dan bisa dilihat dengan kedua matamu, aku sudah begitu membaik. Dan simpan saja bingkisannya di meja." Jawab Raya tanpa senyum sedikit pun, sungguh bukan Raya yang Angkasa kenal.


Bram hanya menyaksikan dan tersenyum tipis, dia merasa kali ini menang dari Angkasa, dulu Bram tak pernah dilirik dan dipedulikan Raya dan sekarang kebalikannya. Rasanya impas.


"Baiklah. Oh iya besok kamu terakhir disini, dan aku ingin menjemputmu pulang ya? Bolehkan Raya?" Pinta Angkasa sambil merapatkan kedua telapak tangannya didepan dadanya dan mengedip-ngedipkan matanya.


"Tidak perlu repot-repot, besok Raya akan pulang bersama keluarganya dan tentunya bersama saya juga." Tekan Bram seraya menyuapi Raya lagi.


Angkasa tertunduk sebentar kemudian memalingkan wajahnya menutup matanya yang sendu. Mungkin harapannya untuk bersama Raya tak kan kunjung datang, pengambilan keputusan yang dulu adalah suatu kesalahan. Dan kini tinggalah penyesalan.


"Ok. Tapi jika kamu tidak keberatan, besok aku akan kesini, meskipun aku tidak menjemputmu pulang." Pinta Angkasa dengan senyum manisnya berharap Raya masih mau bertemu dengannya lagi.


Raya menatap mata Bram sekilas meminta pendapatnya, tapi kenapa dia harus meminta pendapat Bram, memang Bram siapanya Raya, aneh. Tapi entah kali ini Raya benar-benar bingung. Bram hanya mengangkat alisnya dan menyerahkan jawabannya kepada Raya.


"Hmmmm... i-itu terserah kamu mau kesini atau tidak, yang jelas nanti aku pulang bersama keluarga ku dan Bram." Jawab Raya masih tanpa senyum dipipinya.


"Terimakasih Raya." Ucap Angkasa dengan senyum manisnya. Senyum itu membuat detak jantung Raya berdegup, entah Raya masih mencintainya atau dia kini membencinya.


Susana di ruang rawat Raya pun jadi hening Aya ada suara mangkuk dan sendok yang sedang dipegang Bram dan masih menyuapi Raya. Angkasa hanya bisa melihatnya dengan hati yang membara, ingin rasanya mengambil mangkuk dan sendok itu, tapi apa daya, dia tidak ingin membuat keributan.


Keheningan pun buyar seketika Bu Anita masuk dan melihat dua lelaki yang menyukai anaknya, Bu Anita hanya tersenyum. Anak gadisnya kini sudah dewasa dan berhak untuk dicintai dan mencintai seorang lelaki dewasa. Dan kini anaknya berhak untuk memilih salah satu diantara mereka berdua.


"Ternyata ada nak Angkasa, sedari tadi? atau baru datang?" Tanya Bu Anita, dan Angkasa langsung Salim takdzim kepada Bu Anita.


"Ada sekitar lima belas menitan yang lalu Tan." Jawab Angkasa dengan senyum dipipinya.


"Oh... sehat nak Angkasa? Besok Alhamdulillah Raya bisa pulang." Ucap Bu Anita seraya membuka bingkisan dari Angkasa, dilihatnya makanan kesukaan keluarganya sendiri, Angkasa memang sudah tau makanan kesukaan mereka. Dan kebetulan Anita lapar karena sedari tadi belum makan.


"Alhamdulillah sehat Tante. Syukurlah kalau Raya sudah bisa pulang. Besok Insya Allah saya kesini dan bila tidak keberatan saya akan membantu membawakan barang-barang yang perlu dibawa." Tawaran sopannya kepada Bu Anita, dengan sepintas memang dia minta izin untuk menjemput Raya juga. Karena izin orang tua lebih kuat dibanding ucapan Bram tadi.


"Iya boleh." Jawab Anita dan langsung mencicipi makanan yang dibawa Angkasa.


"Kamu tau aja makanan kesukaan kita. Terimakasih ya..." Ucap Anita seraya memakan makanannya dengan lahap.


"Iya Tante sama-sama. Kalau Tante ingin nambah, nanti sore saya belikan lagi." Sahutnya dan berharap Bu Anita menyetujuinya.

__ADS_1


"Tidak usah repot-repot Angkasa, tapi masih pengen lagi, kalau kamu tidak keberatan belinya yang banyak ya..." Celoteh Bu Anita yang masih mengunyah makanannya dan menahan senyumnya karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Baiklah, nanti sore saya belikan yang banyak. Pelan-pelan makannya Tan." Ucap Angkasa seraya berjalan ke arah dispenser dan mengambilkan minum untuk Bu Anita. Angkasa memang lelaki yang peka, dia juga menyanyangi Bu Anita seperti Mama nya sendiri.


Disimpannya gelas yang berisi air minum di meja dekat Bu Anita dengan perlahan.


"Minum dulu Tan, nanti tersedak, karena tidak baik makan tanpa minum terlebih dahulu." Ucap Angkasa sedikit mengingatkan karena saking sayangnya.


"Oh iya, Tante lupa belum minum. Kamu sih bawa makanan seenak ini, Tante jadi pengen cepet-cepet makan." Jelas Bu Anita dan tidak lama meminum air yang dibawakan Angkasa.


Bram dan Raya hanya bisa melihatnya dan mereka saling pandang, memang Angkasa pandai bercengkrama dengan orang tua Raya. Sedangkan Bram baru dekat dan itu harus dia lakukan nanti, dia harus bisa mengambil hati kedua orang tua Raya.


"Tante bisa aja." Angkasa serasa disambut hangat oleh Bu Anita, yang tadinya dingin sedingin batu es, sekarang suasananya mencair seperti bongkahan es terkena panasnya matahari dan mencairlah es itu. Mereka pun bercengkrama dan tertawa bersama, hingga membuat Bram sedikit terkalahkan. Tetapi Bram disini masih merasa menang, karena dia bisa lebih dekat dengan Raya.


Sebelumnya Raya tidak begitu dekat dengan Bram, tetapi karena Bram hampir setiap hari kesana, dengan membawakan bingkisan dan dapat menghibur hati Raya, Raya kini membuka hatinya kembali, meskipun dia tau kalau Bram lelaki friendly terhadap wanita dan dia suka memanfaatkan para wanita itu. Tetapi Bram telah berjanji, bila dia dekat dengan Raya, dia akan merubah kebiasaan buruknya itu. Dia akan mengistimewakan Raya.


Flashback Bram


"Aku janji mulai detik ini, dan bila aku mendekatimu, dimana pun aku berada, aku tidak akan seperti dulu lagi, akan aku tutup hati ini untuk yang lain. Hanya kamu yang ada di hatiku. Dan aku yakin aku bisa, karena kamu wanita teristimewa yang pernah ada dihatiku." Janji Bram seraya menggenggam tangan Raya dengan lembut.


Karena ucapan janji manis Bram, Raya pun memulai membuka hatinya kembali. Entah ini waktu yang tepat atau ini hanya sebuah pelampiasan. Hanya waktu yang akan bicara.


"Baik aku pegang janji manismu itu. Dan apabila kamu melanggarnya, jangan harap aku akan memafkanmu, dan jangan harap kamu bisa dekat denganku lagi." Sahut Raya yang sedari tadi risih digenggam tangan oleh Bram, Raya pun melepaskan genggaman itu.


"Siap Periku." Sahut Bram dengan senyum manisnya. Bram berjalan mengambil buah jeruk dan langsung mengupasnya, lalu menyuapi Raya, padahal Raya tidak minta diambilkan atau pun disuapin. Bram memang lelaki romantis dan perhatian. Itulah mengapa para wanita pengagumnya sangat betah dengan dia.


"Sebaiknya kamu makan buah jeruk dulu ya... biar fresh..." Sahut Bram seraya menyuapi Raya.


"Hmmmm..." Raya memakan buah jeruk yang sudah dekat dengan mulutnya.


"Aku kan ga minta diambilkan atau disuapin seperti ini. Lagian aku bisa sendiri." Celetuk Raya seraya mengunyah buah jeruk yang ada di mulutnya.


"Memang benar, tapi aku ingin kamu lebih fresh dan setidaknya aku disini ada kerjaan kan dari pada diem ga jelas kayak patung." Candaan Bram membuat Raya tergelak. Lelaki ini memang pintar membuatnya terhibur, dibalik liarnya ada sesuatu yang indah didalamnya, iya tidak semua orang bisa dilihat dari kesingnya, Bram memang seperti lelaki baj*ng*n tapi setelah dekat dengannya Raya merasa nyaman. Entah apa yang kini dia rasakan, tidak mungkin jatuh cinta dengan secepat kilat. Mungkin ini hanya terbawa suasana saja.


Bu Anita pun melihat sisi baik dari Bram mampu membuat Raya terhibur dan tersenyum kembali. Anita berharap Bram mampu membahagiakan Raya dan tidak membuatnya kecewa. Karena mungkin luka dihati Raya masih berbekas dan malas untuk membuka hatinya kembali.


"Awas lho Bram, janji jangan diingkari." Celoteh Bu Anita dengan matanya yang mendelik kearah Bram.


"Siap Tante." Sahut Bram seraya memberi hormat tentara. Raya pun tersenyum kulum melihat tingkah Bram. Bu Anita hanya menggelengkan kepalanya seraya mengupas buah jeruk dan langsung menyantapnya.


Flashback off


* * *

__ADS_1


__ADS_2