Aku Di Matamu

Aku Di Matamu
Bab 13


__ADS_3

Di rumah sakit, Raya bersiap-siap untuk pulang ke rumah nya. Disitu sudah ada kedua orangtuanya, kak Hari dan Angkasa, sedangkan Bram belum kunjung datang, entah dia dimana sekarang, padahal ini sudah jam 9 pagi. Raya tidak percaya kalau Bram akan terlambat untuk datang atau mungkin tidak datang. Padahal semalam dia berjanji akan datang menjemputnya dan bila ada sesuatu hal dia akan menghubungi Raya, tapi ini tidak.


"Bram ga jadi jemput kamu nak?" Tanya Bu Anita seraya memasukan pakaian Raya kedalam koper.


"Ga tau Ma." Singkat Raya seraya merapihkan topi kupluk pemberian Angkasa sedari tadi. Angkasa hanya bisa melihatnya dan memuji kecantikan Raya, angkasa juga senang karena barang yang dia beri langsung dipakai Raya.


"Sudahlah, anak Casanova seperti dia tidak perlu ditunggu." Jelas Kak Hari seraya memasukan makanan dan minuman kedalam wadah plastik putih besar.


"Kamu jangan bilang seperti itu, itu tidak baik. Mau pria macam apa pun dia, kalau dia akan berubah jadi lebih baik, ya Papa tidak apa-apa asalkan dia menepati janjinya akan setia pada Raya. Kalau dia ingkar ya Papa akan memutuskan hubungan mereka. Buat apa Papa berikan anak Papa yang cantik ini untuk pria yang menyakiti hati anak Papa. Karena rasa sakit yang anak Papa rasakan akan lebih terasa sakit oleh Papa." Jelas Pak Bagas Atmaja membuat semua orang disana terdiam.


Angkasa yang sedari tadi memperhatikan Raya pun langsung membantu membawakan barang-barang yang lainnya yang sudah siap diangkut ke luar ruangan dan akan dia simpan di bagasi mobil. Dia tidak berani ikut campur kedalam percakapan keluarga Raya. Karena ini sebuah percakapan privasi untuk keluarga Raya, dan tidak baik untuk menguping.


Satu jam kemudian, mereka selesai membereskan barang juga administrasi nya. Mereka pun masuk kedalam mobil. Raya bersama kedua orang tuanya, sedangkan kak Hari dan Angkasa memakai motornya masing-masing. Mereka memajukan kendaraannya dibelakang mobil orang tua Raya. Namun ditengah perjalanan, Hari berbeda arah, dia langsung pergi ke kantornya karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan secepatnya. Sedangkan Angkasa sudah mengambil cuti satu hari ini untuk Menemani Raya meskipun Raya tidak menginginkannya. Tetapi Angkasa merasa dia harus menemani Raya.


Sesampainya di rumah Raya, Angkasa bergegas membawakan semua barang yang ada di bagasi mobil. Dia bereskan semuanya, dia simpan barang-barang itu dengan rapi dan sesuai di tempat masing-masing. Raya yang duduk di ranjangnya hanya bisa melihatnya dengan lirikan matanya yang pura-pura tak memperhatikannya, sedangkan Bu Anita pergi ke dapur untuk memasak masakan kesukaan Raya juga memasak untuk keluarga dan tamunya (Angkasa). Sedangkan Pak Bagas langsung pergi lagi ke kantornya, karena hari ini beliau ada meeting yang tidak bisa ditunda ataupun di wakilkan, karena beliau termasuk orang penting di kantornya.


"Bram sama sekali tidak menghubungimu?" Tanya Angkasa seraya membereskan barang-barang milik Raya yang tadi dia bawa dari rumah sakit.


"Tidak." Singkat Raya seraya melihat handphone nya mengecek apakah ada pesan WhatsApp masuk dari Bram, ternyata tidak ada.


"Sebaiknya kamu telpon dia. Menunggu dihubungi itu suatu hal yang egois. Kamu mengalah aja dulu, siapa tahu dia ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan atau dia sakit jatuh pingsan, sehingga dia tidak bisa menghubungimu." Jelas Angkasa seraya tersenyum tipis dan tangannya masih sibuk beres-beres.


Raya pun mengiyakan saran sahabatnya itu. Dia langsung memanggil Bram melalui WhatsApp nya. Telepon berdering namun sudah 3x panggilan keluar tak diangkat juga. Raya pun kesal dan langsung membaringkan badannya dan memeluk bantal gulingnya, ditutupnya wajahnya. Angkasa memperhatikannya dan menghela nafas secara perlahan.


"Kirim pesan saja. Mungkin dia lagi tidak membawa gawai." Timpal Angkasa positif tingking saja.


Raya membuka kembali gulingnya yang sedari tadi menutup wajahnya. Bibirnya pun mulai melebar memberikan senyumnya. Raya langsung mengirim pesan pada Bram.


Bram kamu sibuk ya? Gawaimu ketinggalan? Aku tadi menunggumu lama di rumah sakit. Karena lama, aku dan keluargaku juga Angkasa pun pulang ke rumah. Aku sekarang sudah ada di rumah. Aku tunggu alasan yang tepat darimu.


Pesannya pun dikirimkan dan centang dua namun tak dibaca juga. Mungkin benar apa kata Angkasa Bram sibuk atau tidak membawa gawainya. Raya pun menyimpan kembali gawainya di nakas samping ranjangnya.


Angkasa pun selesai membereskan barang-barang milik Raya. Dan dia langsung menghampiri Raya. Dia duduk di sofa samping ranjang Raya.


"Raya aku tunggu kamu disini ya? Apakah kamu mau aku bacakan novel kesukaanmu?" Tanya Angkasa seraya duduk dan menatap dalam Raya. Angkasa merasa bahagia bisa menemani Raya, meskipun Raya sedikit ketus padanya.


"Terserah." Ketus Raya dan kembali berbaring dengan membelakangi Angkasa, Raya tidak ingin melihat wajah Angkasa yang tampan, putih dan senyumnya itu membuat jantung Raya berdetak kencang. Karena lesung pipi nya membuat Angkasa semakin tampan dan berseri.


Kenapa harus dia Tuhan?


Kenapa aku tidak menyuruhnya keluar?


Kenapa terserah?


Detak jantungku ini tidak karuan, rasanya mau copot yaa Tuhan, kuatkan imanku.

__ADS_1


Gumam dalam batin Raya seraya memejamkan matanya.


"Baiklah, aku ambil dulu ya novelnya." Angkasa berdiri dan berjalan menuju rak buku Raya samping dekat jendela kamar. Dipilihnya novel yang paling Raya dan Angkasa suka.


Dulu sebelum kejadian ini, mereka setiap seminggu dua kali membaca novel bareng-bareng di halaman belakang rumah Raya. Kebersamaan itu selalu membuat hangat mereka meskipun hanya sebatas persahabatan yang disematkan cinta yang terpendam diantara mereka. Namun kini persahabatan itu kian memudar juga dingin. Sekarang Angkasa ingin menyatukan persahabatan yang hilang itu dan juga menghangatkannya kembali.


Setelah menemukan novelnya, Angkasa kembali duduk di sofa tadi dan dimulailah dia membacakan novelnya. Meskipun Raya baringan membelakangi Angkasa, tetapi Raya menjadi pendengar yang baik, dia meresapi apa yang disampaikan Angkasa, sehingga dia masuk kedalam cerita itu dan membayangkan apa yang terjadi dalam kisahnya. Sampai satu jam Angkasa membacakan novel itu. Dan selasailah ceritanya. Setelah selesai, Angkasa menyimpan kembali buku novelnya ke tempat semula. Dan kembali duduk, namun dia tidak melihat Raya membalikan badan ke arahnya. Angkasa pun memanggil Raya tanpa menyentuhnya.


"Raya..." Panggilnya, namun Raya masih terdiam. Angkasa pun sedikit cemas, dia takut Raya kenapa-napa dan dia pun beralih ke sebelah ranjang depannya. Dilihatnya mata Raya terpejam, dan masih bernapas. Angkasa tersenyum lega, ternyata Raya tertidur. Angkasa pun beranjak dari kamar Raya dan pergi ke halaman belakang untuk menghirup udara dibelakang rumah Raya yang penuh dengan tanaman dan pohon-pohon kecil yang rindang dedaunannya.


Bu Anita memperhatikan Angkasa dari jendela dapur, yang sudah selesai memasak, seraya mencuci peralatan masaknya tadi. Bu Anita merasa Angkasa lebih cocok dan lebih menyayangi Raya dibandingkan dengan Bram. Tapi semuanya beliau serahkan kepada Raya, karena yang menjalani hubungan adalah Raya dengan lelaki pilihannya. Bu Anita sebagai orang tua hanya mendukung keputusan anaknya dan menasehati apa yang sekiranya bila ada yang ganjil.


"Angkasa ayo kita makan dulu!" Ajak Bu Anita yang sedang berdiri di daun pintu belakang rumahnya.


"Iya Tante, Terimakasih sebelumnya. Maaf saya sudah merepotkan." Jawab Angkasa dengan sopan seraya berjalan masuk ke dalam rumah. Dan Bu Anita berjalan didepannya.


Angkasa langsung duduk di meja makan, sedangkan Bu Anita menyiapkan makan untuk Raya.


"Tan, Raya sedang tidur." Ucap Angkasa dan dia tahu Bu Anita menyiapkan makan untuk Raya.


"Ooo begitu. Baiklah Tante liat dulu ya, siapa tahu dia sudah bangun." Ucap Bu Anita dan langsung berjalan menuju kamar Raya dan menghampiri Raya, dilihatnya Raya tertidur cukup pulas. Bu Anita tidak tega membangunkannya, karena semalam Raya kurang tidur.


Bu Anita kembali ke ruang makan, piring yang buat Raya dia simpan kembali. Bu Anita pun makan bersama Angkasa, ini suatu hal yang sudah tidak asing, karena Angkasa sering makan bersama keluarga Raya, bedanya sekarang mereka hanya makan berdua saja, tanpa ditemani Raya karena sedang sakit.


"Maaf Tan karena aku, Raya jadi seperti sekarang ini." Celoteh Angkasa.


"Iya Tan, aku akan ingat itu dan akan aku lakukan." Singkat Angkasa dengan senyum manisnya dan melanjutkan makannya. Begitu pun dengan Bu Anita.


Setelah selesai makan, Angkasa membereskan meja makan dan mencuci alat makan yang kotor, dia tidak ingin merepotkan Bu Anita lagi.


"Apa tidak ada kabar dari Bram?" Tanya Bu Anita seraya membuat minuman untuknya dan untuk Angkasa.


"Tidak ada Tan, tadi juga sudah dihubungi oleh Raya juga sudah di chat namun tidak ada jawaban. Saya berfikir dia tidak membawa gawainya dan mungkin dia sedang sibuk juga." Jelas Angkasa menenangkan hati Bu Anita. Meskipun Angkasa tahu Bram itu bad boy tapi dia tidak ingin menjatuhkan Bram hanya untuk kebahagiaan nya. Dia ingin bersaing secara sehat tanpa harus mendzolimi saingannya.


"Oh begitu, Tante hanya takut dia mempermainkan Raya." Gumam Bu Anita pelan namun masih terdengar jelas oleh Angkasa.


"Tenang saja Tan, bila itu terjadi aku akan memberi pelajaran kepadanya." Jelas Angkasa semakin menenangkan Bu Anita.


"Kamu memang sahabat Raya yang terbaik, andai..." Celoteh Bu Anita tak ia lanjutkan.


"Terimakasih atas pujiannya, saya harap saya tidak akan mengecewakan kepercayaan yang Tante berikan." jelas Angkasa seraya mengelap tangannya yang basah dengan senyum manisnya.


Bu Anita pun tersenyum dan berlalu menghampiri Raya dilihatnya Raya sudah bangun dari tidurnya namun masih berbaring lemas karena mungkin belum makan.


"Sayang kamu sudah bangun, sekarang makan dulu ya, biar ada tenaga." Sahut Bu Anita seraya mengelus ubun-ubun Raya.

__ADS_1


"Iya Ma... aku laper banget." Rintihnya seraya memegang perut yang sedang keroncongan.


"Baiklah, tunggu ya..." Singkat Bu Anita dan kbali pergi ke dapur untuk membawakan makan Raya.


"Raya sudah bangun Tan?" Tanya Angkasa seraya duduk di kursi sofa ruang tv.


"Iya, nih mau Tante ambilin makan." Sahut Bu Anita seraya menyiapkan makan untuk Raya.


"Biar aku bawain dan suapin Tan. Dan sebaiknya Tante istirahat saja, dari tadi semenjak datang, Tante belum istirahat." Tawar Angkasa dengan tulus.


"Baiklah kalau kamu tidak keberatan, Tante memang sedikit lelah apalagi lutut Tante serasa mau lepas, pegal sekali." Jelas Bu Anita seraya memberikan makanan untuk Raya ke tangannya Angkasa.


"Oh iya Tante lupa minuman kamu tadi tadi taruh di meja makan, Tante lupa. Tante juga sekarang mau ke halaman belakang menikmati minuman Tante ya." Jelas Bu Anita seraya mengambil minumannya dan berlalu ke halaman belakang.


"Baik, terima kasih Tan." Angkasa mengambil minumannya dan dia simpan dulu di meja ruang tamu. Kemudian dia mengambil minum dan makan untuk Raya. Dia pun berlalu menuju kamar Raya.


Dilihatnya gadis yang dia sayangi, dan betapa cantiknya senyum yang Raya miliki dan tebarkan saat ini. Jantung Angkasa kembali berdetak kencang tidak karuan. Begitu pun dengan Raya yang masih sama dengan getaran detak jantungnya yang berdesir kencang.


Rasa cinta dan sayang mereka masih sama seperti dulu, namun kini rasa itu mereka simpan karena takut akan menyakiti hati mereka lagi.


"Makan dulu ya Ra. Dan biar aku yang suapin kamu. Tante Anita istirahat dulu sebentar, kasihan beliau dari tadi belum istirahat." Jelas Angkasa dengan senyum manisnya.


Raya hanya mengangguk dengan senyum manisnya. Dan senyuman itu membuat jantung Angkasa kembali bergejolak meronta-ronta.


Kenapa rasa ini selalu sama malah makin kuat. Sabar Angkasa, dia kini milik orang lain. Dan kamu harus tau diri. Batinnya seraya menahan detak jantungnya yang kini meronta-ronta.


Angkasa menyuapi Raya dengan perlahan seraya menatap bib*r pink milik Raya yang pernah dia sentuh dengan bib*r nya sendiri, di malam itu dimana awal dari masalah mereka dimulai. Cium*n itu adalah frist kiss bagi Angkasa begitu juga bagi Raya. Sehingga susah dilupakan oleh mereka dan kejadian itu selalu terbayang dipikiran mereka meskipun mereka telah mencoba untuk melupakannya.


"Raya maaf untuk malam itu, itu malam yang buruk bagimu, kejadian nahas yang kau alami adalah benar - benar diawali dari kesalahanku. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku ingin mengulang semua dengan sempurna dan indah. Maaf..." Lirih Angkasa seraya menyuapi Raya. Raya terdiam sesaat dan menjawab dengan rasa sesaknya.


"Sudahlah itu sudah terjadi dan biarkan semuanya berlalu. Dan aku ingin melupakan semuanya meski ku akui kau mencuri frist kiss aku, Angkasa." Dengan sedikit tekanan suaranya. Angkasa terpelongo dan merasa tak percaya kalau itu frist kiss Raya, begitu pun dengan dirinya.


"Apa? itu frist kiss kamu, Raya!?" Kaget Angkasa dengan mulut menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iya itu frist kiss aku, emang kenapa? Tadinya aku akan berikan untuk lelaki yang benar-benar mencintai dan menyayangiku begitupun sebaliknya, dan dengan hubungan yang benar-benar pacaran atau lebih baik untuk suamiku kelak. Tapi kamu mencurinya dan aku merasa itu malam yang buruk bagiku." Jelas Raya dengan bib*r nya yang sedikit cemberut. Dan bib*r cemberut itu membuat Angkasa gemas.


"Sebenarnya aku kaget karena begitu pun denganku. Itu juga frist kiss aku, Raya. Demi Tuhan Raya, itu adalah frist kiss aku." Terang Angkasa dan menyimpan sendok di piring, tangannya pun diangkat dan menunjukkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Jadi...itu juga frist kiss kamu!!" Heran Raya tak percaya apa yang telah dia dengar.


"Iya." Angkasa mengangguk dengan penuh kejujuran.


"Selama pacaran dengan Dwi, aku belum pernah menci*mnya atau mengec*pnya. Kamu lah frist kiss aku. Karena aku sangat menyayangimu dan mencintaimu." Timpal Angkasa terang - terangan dengan meyakinkan Raya. Raya merasa tak mempercayainya, selama pacaran dengan Dwi, Angkasa benar-benar menjaga tidak melakukan itu. Tapi kenapa tanpa adanya hubungan status, Angkasa berani mencurinya dari Raya.


"Entahlah aku merasa kau sudah mencuri frist kiss aku." Lirihnya dan memalingkan wajahnya dengan memutarkan kedua bola matanya.

__ADS_1


Angkasa mengulum senyum melihat Raya seperti itu, dan dia pun kembali menyuapi Raya. Raya pun melanjutkan makannya meskipun hatinya sekarang sedang bercampur aduk, entah senang atau kecewa. Yang jelas sekarang Raya ingin melepas penatnya.


* * *


__ADS_2