
Raya menatap Mama nya dan Mama nya pun langsung menghampirinya, sedangkan Angkasa memilih untuk duduk di sofa ruang tv. Dia tidak ingin ikut campur dengan pembicaraan ibu dan anak itu.
"Jadi Kak Hari melaporkan Dwi? Kenapa tidak izin dulu ke Raya, yang jadi korban kan Raya bukan Kak Hari, dan yang berhak melaporkan Dwi juga Raya." Ucap Raya seraya kedua tangannya bersidekap, dia merasa tidak dihargai oleh keluarganya, terutama oleh Kak Hari.
"Bukan gitu sayang, Kak Hari melakukan itu karena dia sangat menyayangimu. Bila menunggu persetujuan mu pasti Dwi tidak akan mendekap di sel saat ini. Dan tujuan Kak Hari hanya ingin memberinya pelajaran supaya dia sadar kalau perbuatannya itu sudah fatal dan membahayakan nyawa orang. Sikap tempramennya nya harus diobati dan itu pun salah satu caranya. Kalau kamu ingin mencabut laporannya silahkan saja sayang, karena itu hak mu. Dan Mama percaya sama kamu kalau kamu lebih faham tentang ini." Jelas Bu Anita seraya menggenggam tangan Raya.
Raya pun merasa ini adalah cara yang benar meskipun hatinya merasa sedih dan kasihan kepada Dwi. Mungkin Dwi pantas mendapatkan itu, karena dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia juga tidak pernah datang menemui Raya untuk meminta maaf padanya. Bahkan lewat chat WhatsApp pun tidak.
"Mungkin aku akan membiarkannya dulu di sel. Namun bila dia berniat meminta maaf dan tidak akan mengulangi perbuatannya itu, aku akan mencabut laporannya." Jelas Raya.
"Baiklah Mama serahkan semuanya padamu sayang."
"Oh ya, cake nya tidak kamu habiskan?" Tanya Bu Anita.
"Engga ah Ma. Malas." Jelasnya dan berlalu pergi ke kamarnya dengan perlahan karena langkahnya yang belum seimbang. Bu Anita pun memapahnya karena melihat anaknya yang seperti kesusahan berjalan.
"Terimakasih Ma." Ucap Raya dengan senyumnya.
"Sama-sama sayang."
"Istirahat lah dulu, biar pikiranmu tenang." Timpal Bu Anita seraya membantu Raya berbaring.
"Iya Ma, kepala Raya pusing." Jelasnya dan melepas kupluk nya yang setia melindung tempat mahkotanya.
cup...
Kecupan bibir Bu Anita mendarat di kening Raya, yang kemudian mengelus keningnya dengan rasa sayangnya.
"Tidurlah sayang." Bisiknya, Raya hanya tersenyum dan memejamkan matanya.
Bu Anita pun berlalu keluar kamar Raya dan menutup sedikit pintu kamarnya, hanya menyisakan celah kecil supaya kalau ada apa-apa terdengar.
Seketika Angkasa datang dan menanyakan keadaan Raya.
"Raya ok kan Tan?" Tanya Angkasa
"It's ok. Kamu tenang saja. Tante yakin Raya itu Gadis yang tegar meskipun dia itu lemah. Makanya tadi dia tidak melanjutkan memakan cake nya." Jelas Bu Anita.
"Cake nya biar aku simpan di kulkas ya Tan?" Tawar Angkasa yang sebenarnya cake itu ingin dibuangnya namun saking sayangnya kepada Raya dia memilih menyimpan cake itu ke kulkas.
"Iya simpan saja." Singkat Bu Anita.
Angkasa pun berlalu menyimpan cake pemberian Bram.
Waktu pun berlalu berganti malam. Angkasa berpamitan pulang ke rumah nya. Karena sudah ada kak Hari dan Pak Bagas, mungkin Angkasa sudah tak diperlukan lagi.
"Kalau begitu saya pamit dulu Tan, Om, kak Hari." Sahutnya
"Iya sayang, terimakasih ya. Kalau tidak ada kamu, Tante pasti kesulitan." Ucap Bu Anita.
"Sama-sama Tan, terimakasih juga sudah memberi kesempatan untuk menjaga Raya." Timpal Angkasa.
"Iya Bro, Thanks!" Sahut Kak Hari seraya menepuk bahu Angkasa.
"Iya sama-sama Angkasa, hati-hati dijalan." Jawab pak Bagas.
Angkasa mengangguk dan langsung berlalu dengan motornya. Rasanya hari ini adalah hari terindah baginya, meskipun dia merasa hatinya cukup teruji untuk menyaksikan Raya yang sedang jatuh cinta kepada laki-laki lain selain dirinya. Entahlah apakah itu cinta atau hanya rasa empati karena Bram yang baik padanya. Yang jelas hanya Hati Angkasa yang merasakannya.
Bu Anita menghampiri Raya yang sedang duduk seraya membaca novel di kursi meja tempat iya menulis di kamarnya.
"Sayang..." Ucap Bu Anita seraya memegang bahu kanan Raya.
"Iya Ma." Raya menoleh ke belakang dan menyimpan dulu novelnya.
"Mama ingin bicara dulu sebentar." Ajak Mama yang masih berdiri dibelakang Raya.
Raya pun berdiri dan berjalan beriringan dengan Bu Anita ke kursi Sofanya, mereka pun duduk, dan Raya siap mendengarkan.
__ADS_1
"Sayang, kamu kan dari dulu menyukai Angkasa. Terus dengan adanya kejadian kemarin yang membuatmu seperti ini, apakah kamu masih menyukainya?" Tanya Bu Anita seraya menatap kedua manik milik Raya.
"Entahlah Ma, aku selalu sakit bila melihat dia karena mengingatkanku pada kejadian itu. Dan bila aku jauh darinya aku selalu merasa rindu. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Dan aku ingin mencoba membuka hatiku untuk yang lain." Jelas Raya dengan maniknya yang menatap kelangit-langit kamarnya.
"Itu tandanya kamu masih menyukainya bahkan disini kamu mencintainya. Hanya saja kamu takut kejadian itu akan terulang kembali dan itu membuatmu trauma hebat. Salah satu cara supaya trauma menghilang, kamu harus selalu bersamanya." Jelas Bu Anita meyakinkan Raya.
"Mmmmmh... Tapi Ma, kalau Angkasa benar-benar menyayangiku, aku yakin dia akan menungguku sampai trauma ku itu hilang dan dia juga akan selalu hadir di sampingku. Semisal dia menyerah dipertengahan jalan, itu berarti rasa sayangnya cukup sampai disitu." Jelas Raya.
"Ok, Mama yakin dia menyayangimu dengan tulus, dan akan Mama buktikan." Timpal Bu Anita seraya mengusap bahu Raya dan meyakinkan ketulusan Angkasa.
Beralih ke Bram yang kini berada di desa kelahirannya. Dia yang kini sedang berduka, melihat layar gawainya dan dilihatnya foto Raya yang dulu yang masih memiliki mahkota sebagai pelindung kepalanya, Dulu Bram sempat memotret Raya yang sedang tersenyum memperhatikan anak-anak panti bermain berlari-larian mengelilingi Raya, dari situ Bram langsung berinisiatif memotret nya. Dan itulah awal Bram jatuh cinta kepada Raya. Senyum manis yang dimiliki gadis berusia 23tahun itu meleburkan hati Bram yang selalu singgah di setiap ruang hati para wanita pengagumnya.
Raya, betapa cantiknya senyum mu itu, tak ada wanita yang memiliki senyum manismu, dan rambutmu begitu indah, suatu saat nanti mahkota mu pasti akan kembali menghiasi wajahmu. Dan aku yang pertama yang akan menikmati keindahan yang kau miliki. Batin Bram dengan senyum nya yang penuh misteri.
Seketika lamunannya kabur, dan dikagetkan dengan suara Mama nya.
"Bram ayo kita makan malam dulu, dari tadi kamu di kamar terus. Oh iya tadi ada Gladis mencarimu, besok pagi dia mengajakmu lari pagi mengelilingi desa. Dia itu cantik lho, dia gadis desa disini, semua lelaki mengejarnya dan berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya. Tapi dia malah memilihmu, dan menunggumu sampai saat ini." Jelas Mama Bram, dan Bram mengerenyitkan kedua alisnya.
"Gladis yang judes itu kan? Malas Ma ah... Dan cuma cantik se_ desa ini kan? Engga se_ Indonesia. Bram sudah gede Ma, sudah bisa memilih wanita yang cantik seperti apa dan yang baik seperti apa. Kalau Mama sudah mengenal wanita pilihan Bram, Bram yakin Mama akan memilih wanita pilihan Bram." Jelas Bram meyakinkan Mama nya.
"Dari dulu kamu selalu berbicara seperti itu, dan ujung-ujungnya kamu hanya main-main dengan mereka, dan mereka agresif, Mama tidak suka. Mereka juga menjual murah tub*h mereka, tidak seperti Gladis, dia judes karena dia menjaga keperaw*nannya dan itu bagus dia jual mahal, dari pada wanita-wanita pengagum mu yang merendahkan harg* dir*nya hanya untuk kamu permainkan." Timpal Mama Bram.
"Aku tidak seburuk itu Ma, masa aku merawa*nin wanita-wanita pengagum ku. Aku juga menjaga keperjak*anku Ma." Jelas Bram sedikit emosi, dia tidak suka dengan perkataan Mama nya, yang seakan-akan dia Casanova kelas atas.
"Terus kenapa kamu cek in hot*l dengan wanita-wanita pengagum mu? Mama juga nge cek kartu debit dan kredit mu Bram!?" Mama Bram pun emosinya sedikit memuncak.
"Itu aku hanya mencoba pemanasan aja Ma. Tapi aku tidak melebihi batas Ma, aku tau batasan mana yang boleh dan tidak boleh Ma." Jelas Bram.
"Sama saja Bram, Mama hanya ingin kamu segera bertaubat sebelum kamu menyesal dikemudian hari." Jelas Mama Bram dan berlalu pergi meninggalkan anaknya yang kini terdiam dan membenarkan apa kata Mama nya tadi.
Betapa rendahnya aku di mata Mama ku sendiri, apa aku lelaki sejahat itu? Batin Bram dan dia langsung berjalan keluar kamarnya menuju ruang makan dengan langkahnya yang lemah.
Bram pun duduk di kursinya, kedua orang tuanya memperhatikannya begitu pun juga dengan kedua adik kembarnya yang masih duduk di bangku SMA, mereka juga tidak begitu akrab dengan Bram karena Bram jarang ada di rumahnya, dia selalu tinggal di cafe nya atau di apartemennya. Dan begitu juga dengan saudara -saudaranya paman, bibinya dan sepupunya.
"Kenapa memperhatikan ku. Ada yang salah denganku?" Tanya Bram sedikit lantang.
Bram pun langsung mengambil nasi dan lauk pauk secukupnya, dan tidak lama dia memakannya dengan lahap.
"Bram bila kita sudah sampai di rumah besok lusa, kenalkan kami pada wanita yang kamu bicarakan tadi." Jelas Mama Bram secara tegas tanpa basa basi sedikit pun.
Mama Bram memang seorang ibu yang sangat tegas, dan sedikit judes juga tidak suka dengan wanita centil, agresif dan sok cantik. Dia lebih suka wanita pekerja keras, dewasa, tidak agresif terhadap lawan jenisnya, modis dan terlihat bersemangat dalam hidupnya (ceria). Dan itu semua ada di diri Raya, namun Raya saat ini tidak mungkin bisa untuk bertemu, karena keadaan yang tidak memungkinkan (sakit).
Bram seketika terperanjat dan tersendak, dia pun batuk-batuk karena ucapan Mama nya.
"Kenapa? kamu kaget? kamu hanya omong kosong Bram?" Tanya Mama nya dan membuat Bram susah untuk menelan saliva nya.
"K kenapa harus besok lusa Ma? Kan masih ada waktu lain. Soalnya dia sedang diluar kota urusan kerjaannya." Bram mulai berbohong kepada Mama nya, padahal dia tidak ingin mengenalkan dulu Raya disaat ini, karena tidak tepat dan dia pun masih pendekatan belum jadian.
"Ok. kapan dia kembali?" Tanya Mama nya dengan nada datar seraya meminum air putih yang ada di genggamannya.
"Tidak tahu Ma, yang jelas dia lama tinggal disana. Bram pun belum menanyakan lagi kapan dia akan pulang." Jelas Bram penuh dengan kebohongan.
"Mama akan coba untuk percaya meskipun kamu terlihat sedang berbohong. Mama tahu kamu Bram kamu itu lahir dari perut Mama dan Mama mengurusmu dari kamu baru lahir sampai sekarang. Mama juga tahu kamu tidak akan bisa membohongi Mama. Dimana pun dia berada, kenalkan dia kepada kami besok lusa." Tegas Mama dan beliau langsung berdiri dan gegas pergi meninggalkan meja makan.
Huuuuuf....
"Apa yang Mama mu ucapkan adalah benar, malam ini kamu berbohong Bram. Apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Papa Bram yang lebih lembut dibanding Mama nya dan Papa nya juga lebih pengertian.
"Bukan saatnya untuk aku jelaskan Pa. Yang jelas, besok lusa aku tidak akan bisa mengenalkannya. Itu bukan waktu yang tepat." Jelas Bram.
"Ok. Papa yakin perempuan itu ada. Dan jelas ada, tapi ada suatu hal yang kamu rahasiakan dari kami. Dan kami akan secepatnya mengetahui rahasiamu." Jelas Papa Bram dan gegas pergi menyusul istrinya ke ruang tv.
"Cukup rumit juga ya?" Celoteh saudara sepupu Bram.
"Diam kamu, ini urusanku dan keluargaku." Sentak Bram yang tidak suka urusannya disentuh orang meskipun itu saudara sepupunya sendiri.
"Sensi banget, biasa aja kali." Ketusnya dan langsung pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Bram pun langsung berdiri dan tidak melanjutkan makannya, dia merasa muak dengan semuanya. Kenapa hidupnya harus diatur oleh semua orang padahal dia sudah dewasa dan jauh lebih mapan, dan bebas untuk memilih pasangan hidupnya. Tapi ini diatur oleh keluarganya khususnya Mama nya sendiri.
Dilihatnya jam tangan yang terpasang di lengan kirinya. Waktu sudah menunjukan jam sembilan malam. Dia pun meraih gawainya yang terletak di nakas samping tempat tidurnya.
Diklik kontak Rayaku Pujaanku
tuut...
tuut...
tuut...
"Raya..."
Iya, ada apa?
"Kamu belum tidur?"
Baru mau, ada apa?
"Tidak, aku hanya kangen saja sama kamu. Bolehkan aku nelpon malam-malam?"
Kamu bisa aja, masa kangen sama cewek yang sakit kayak aku. Apalagi aku bukan Raya yang dulu, yang cukup sempurna. Namun sekarang Raya yang cacat.
"Kamu jangan bicara seperti itu. Dimataku kamu tetap Raya yang dulu, yang cantik manis dan periang. Aku suka sama kamu Raya."
Raya terdiam dia tidak menyangka Bram mengungkapkan perasaannya lewat telepon, apakah dia tidak berani menatapnya yang cacat seperti sekarang ini.
Kamu bercanda Bram? Kamu hanya ingin membuatku bahagia namun akan menjatuhkan ku kan Bram?
"Tidak aku serius, aku suka sama kamu Raya. Saat itu aku melihatmu seperti wanita tidak biasa kamu bagiku wanita luar biasa, dan hanya kamu yang bisa meleburkan hatiku sampai saat ini, detik ini."
Sudahlah Bram, ini sudah malam. Aku mau istirahat.
Raya langsung mematikan saluran teleponnya. Dia tidak ingin berlarut-larut terbuai dalam rayuan Bram. Karena dia tahu, Bram adalah lelaki buaya dan cerdik juga picik. Dia tidak ingin terbuai terlalu dalam, meskipun dia ingin membuka hatinya untuk yang lain selain Angkasa, tapi entah mengapa hatinya tidak rela bila Bram masuk dalam relung hatinya.
Kenapa dia mematikan saluran telponnya, aku kan belum selesai ngungkapin perasaanku. Apa aku terlalu cepat? Ya ampun aku lupa dia kan lagi sakit, mana mau dia menerimaku begitu saja. Lagian secepat ini aku menembaknya, lewat telpon lagi. Bodohnya aku. Saking takutnya dengan ucapan Mama, aku jadi sebodoh ini. Batin Bram.
Bram pun mengetik pesan untuk Raya, dia takut Raya jadi salah faham.
Raya maaf... aku terlalu terburu-buru mengungkapkan perasaanku. Dan aku janji akan mengungkapkan isi hatiku diwaktu yang tepat. Sekali lagi maafkan aku. Kamu dimataku tetaplah Wanitaku bidadariku, I Love you Rayaku Pujaanku.
Pesan pun terkirim ke Raya, Raya pun langsung membacanya, hatinya cukup kalah membaca rayuan gombal Bram. Dia memang pintar merayu wanita. Dia juga tidak tahu harus membalas pesan Bram seperti apa.
Tidak lama, ada pesan dari Angkasa, Raya pun langsung membacanya.
Assalamualaikum... Malam bidadariku, belum tidur kan? Aku lihat WhatsApp mu on line. Aku pun **mem**beranikan diri mengirim pesan malam-malam. Semoga malam ini hatimu tersenyum seperti senyum manismu saat membaca pesanku sekarang.
Hati Raya pun bingung, lelaki yang sedang dekat dengannya, dua duanya mengirim pesan dan memanggilnya bidadariku. Entah apa yang terjadi dengannya, padahal Raya tahu dia sekarang sedang sakit, mana ada lelaki yang mau dengannya. Tapi nyatanya kedua lelaki ini benar-benar menginginkannya.
Pesan masuk lagi dari Bram
Meskipun pesanku hanya dibaca saja, aku yakin kamu malam ini sedang bingung. Tidak apa. Tidurlah bidadariku. Besok aku hubungi kamu lagi.
Jelas Bram dan mengakhiri chatnya.
Raya hanya bisa menghela nafas dan membuangnya dengan perlahan.
Pesan masuk lagi dari Angkasa
Kenapa Bidadariku, apa yang sedang kamu pikirkan? Maaf aku memanggilmu Bidadari. Aku hanya ingin kita semakin dekat lagi. Kamu dimataku tetap Bidadari indah yang selalu ada dihatiku, tak kan pernah terganti oleh siapapun. Semoga malam ini kamu mimpi indah, selamat malam, sampai jumpa besok pagi ya... Wassalamu'alaikum...
Deg...
Jantung Raya berdetak kencang, betapa hebatnya perasaan ini saat membaca pesan indah dari Angkasa. Benar adanya Raya masih memiliki rasa untuk Angkasa tidak untuk Bram. Bram hanya pelariannya, dia hanya berempati kepada Bram karena telah membantunya untuk menghindari Angkasa. Namun dengan seiringnya waktu, hati Raya tak bisa lari dari Angkasa dan akan tetap kembali. Karena perasaannya begitu dalam dan mungkin terlalu dalam.
Kali ini Raya harus memilih sesuai dengan hatinya bukan karena paksaan dan bukan karena kasihan dan juga dengan hatinya yang tulus.
__ADS_1
* * *