
Matanya sembab, badan terasa pegal-pegal tidak nyaman dengan sekitarnya, tidur pun hanya beralaskan tikar tanpa bantal dan tanpa selimut, mentari pagi pun tak terlihat, tak ada celah jendela, yang ada hanya lampu dan jeruji besi yang mengelilingi tempat tinggalnya yang berukuran hanya 2x3 meter. Dipeluknya kedua lututnya, kepalanya tertelungkup, air mata pun kembali terjatuh begitu derasnya, polisi jaga hanya bisa menatapnya dengan tatapan iba kepadanya namun apa daya tugasnya hanya menjaga para tahanan disana.
Ada satu tahanan yang selalu memperhatikan wanita malang itu, ingin sekali dia mendekati, tapi dia merasa malas karena dulu pun tak ada satu tahanan yang Iba terhadapnya, malah mereka mengejeknya dan bila melawan malah kena bully. Dia pun mengurungkan niatnya untuk mendekatinya.
"Tahanan Dwi." Sahut polisi yang datang dan mengagetkan Dwi yang sedang meratapi nasibnya. Air matanya pun dia seka sesegera mungkin.
"Iya pak." Balas Dwi dan langsung berdiri dari duduknya.
"Buka kuncinya!" Perintahnya pada polisi jaga disana.
"Siap pak!!" Polisi jaga langsung membuka kuncinya dan membukakan pintu, kemudian Dwi keluar dan polisi itu langsung menutup kembali pintu jeruji besinya kemudian menguncinya kembali
"Kami kapan keluar pak?" Tanya salah satu tahanan.
"Kalau ada orang yang menebus kalian baru kalian bisa keluar." Jelas polisi yang memanggil Dwi.
"Yaelah pak... kesalahan kami cuma dikit, masa ditahannya lama banget." Celoteh tahanan yang lain.
"Mencuri setiap hari dapat 10 korban sampai lebih, apa itu sedikit? Sudah sebaiknya kalian bertaubat saja, lakukan hal yang lebih baik lagi. Daripada keluar dan kembali ke jalan yang hitam." Perintah polisi itu dan dia langsung keluar beriring dengan Dwi dibelakangnya.
"Saya bebas pak?" Tanya Dwi merasa bahagia.
"Tidak. Saya hanya membawamu keruangan lain. Orang yang melaporkan mu meminta kepada kami memindahkan mu ke ruangan yang lebih layak." Jelas polisi tadi dengan jalannya yang tegak dan berwibawa. Dwi hanya mengekorinya dengan perasaan yang lebih baik dibanding tadi.
"Aku kira aku bebas. Tapi gak apa, mungkin ruangannya lebih enak dibanding sebelumnya." Lirih Dwi.
"Masuklah!" Perintah polisi tadi dan memang benar ruangannya cukup lebih layak dibanding tadi. Ini ada kasur lantainya dan bantal juga selimut, dan hanya sendiri saja. di situ juga ada buat ruangan tahanan yang lain. Mereka juga sendiri-sendiri dan ini ukurannya masih 2x3 tapi untuk sendiri tidak untuk 5 orang seperti sebelumnya.
"Terimakasih pak." Ucap Dwi.
"Iya." Polisi pun langsung mengunci gemboknya dan berlalu pergi.
"Selamat datang di kawasan orang berduit. Kamu mau nyumbang makanan apa teman baru?" Tanya salah satu tahanan dari samping ruangannya.
"Maaf saya tidak bisa menyumbang." Lirihnya dengan perasaan takut, meskipun tidak satu ruangan tapi hanya dibatasi oleh jeruji besi dan masih nampak jelas terlihat
"Kacau... teman baru ternyata kere..." Celotehnya
"Salah kamu apa? Bisa ditahan disini?" Timpalnya penasaran.
"Aku...aku..."
"Kenapa gugup? pasti baru melakukan kesalahan sekali dan tidak sengaja, sudah terlihat. Kamu orang baik-baik. Kasihan sekali. Nasibmu berakhir disini. Coba seperti kami melakukan kesalahan itu tidak tanggung-tanggung." Timpalnya dengan sedikit meledek Dwi. Dwi hanya terdiam dan duduk di kasur lantainya, dia tidak ingin mengingat kejadian itu. Kejadian itu telah membuatnya sadar kalau kekerasan bukanlah akhir yang indah.
"Sudahlah, tidak penting. Biarkan saja dia." Ucap seorang tahanan yang lain.
Berselang dua jam kemudian, polisi datang dan langsung membuka kunci jeruji besi Dwi, Dwi terperanjat dari lamunannya, dan dia langsung berdiri menghampiri polisi itu.
"Ada apa pak?" Tanya Dwi cukup penasaran.
"Ada Mama mu. Dia juga bawa makanan untukmu. Waktumu hanya setengah jam untuk berjumpa dengannya. Gunakan waktu sebaik mungkin." Jelas polisi itu dengan mukanya yang datar.
"Baik pak." Singkat Dwi, dan langsung berjalan mengekori polisi tadi.
Sesampainya di ruang besuk tahanan, Dwi langsung menghampiri Mama nya dan memeluk erat, rasa kerinduannya bercampur aduk dengan rasa penyesalannya.
"Dwi kangen Ma... Maafkan Dwi Ma..." Ucap Dwi dengan maniknya yang sendu.
"Iya sayang, Mama juga kangen. Yuk makan dulu Mama suapin ya... Ini Mama buatkan makanan dan lauk kesukaanmu." Bu Rasmi langsung membuka bingkisan untuk Dwi, dan gegas beliau menyuapi anaknya. Tak mau dia gunakan waktu besuk setengah jam dengan ngelamun, berdebat atau hal negatif lainnya. Dia gunakan waktu besuknya dengan sebaik mungkin.
"Makasih Ma..." Lirih Dwi seraya mengunyah makanannya dan mengusap air matanya yang jatuh ke pipinya.
"Sudahlah sayang jangan menangis terus, matamu sampai sembab gitu. Mama tau kamu tidak bisa tidur dengan kondisi ruangan tahanan seperti itu. Tapi Mama yakin kamu kuat sayang. Setelah makan, kamu harus meminta maaf langsung kepada Raya. Nanti minta izin untuk menelpon Raya dari sini." Jelas Bu Rasmi seraya menyuapi Dwi dengan perlahan.
__ADS_1
"Iya Ma, dari tadi Dwi memikirkan itu. Tapi Dwi hanya takut Raya tidak memaafkan Dwi, Ma..." Jawab Dwi
"Percaya dan yakin sayang, semua akan baik-baik saja. Apalagi Raya itu anak yang baik dan berhati mutiara. Dia tidak seperti apa yang kamu bayangkan. Dia pasti memafkan mu. Asalkan kamu meminta maaf dengan tulus sayang." Timpal Bu Rasmi seraya memeluk Dwi dan memberi semangat kepada Dwi.
"Iya Ma." Jawab Dwi singkat seraya menganggukkan kepalanya.
"Lanjutkan lagi makannya sayang." Pinta Bu Rasmi.
"Oh iya sayang, Mama kemarin ke rumah Raya, dan Mama melihatnya sangat berbeda, kasian dia sayang jadi..." Ucap Bu Rasmi dan tidak sanggup melanjutkan ceritanya, karena Bu Rasmi merasa itu aib untuk Raya. Tapi Dwi juga perlu tahu, akibat ulahnya, Raya jadi kehilangan keseimbangannya dalam berjalan (cacat).
"Jadi apa Ma?" Dwi penasaran dengan cerita Mama nya.
"Iya dia... sekarang bukan Raya yang dulu." Jelas Mama Dwi.
"Dia bukan Raya yang dulu? Dia berubah Ma? Dia jadi jahat atau bagaimana Ma?" Tanya Dwi semakin penasaran.
"Bukan, maksudnya dia tidak bisa berjalan seperti dulu tidak seperti kita. Kasian dia..." Timpal Bu Rasmi dan membuat Dwi semakin bersalah.
"Dia cacat Ma?" Tanya Dwi.
Bu Rasmi hanya menganggukkan kepalanya, seraya menyuapi Dwi. Dan Dwi seketika menghentikan makannya dan matanya kembali sendu, akibat ulahnya Raya jadi Cacat dan itu adalah hal buruk bagi seorang perempuan.
"Apa mungkin dia bisa kembali normal Ma?" Tanya Dwi penasaran.
"Entahlah, tapi Mama harap dia kembali normal. Dan itu mungkin butuh waktu lama. Dan Mama pun melihat Angkasa setia menemaninya. Dia sangat beruntung di cintai dan disayangi lelaki sebaik Angkasa. Meskipun dia tidak seperti dulu tetapi dia di sayangi semua orang." Jelas Bu Rasmi.
"Karena dia orang baik Ma. Dan aku yang sudah mencelakainya. Aku jahat dan bukan sahabat yang baik. Aku memang pantas dihukum seperti ini Ma..." Dwi langsung menangisi penyesalannya.
"Sudahlah sayang, penyesalanmu itu tak akan merubah semuanya pabila kamu tidak meminta maaf kepada Raya." Jelas Bu Rasmi seraya memeluk anaknya dan menghapus air mata Dwi yang membasahi pipinya.
"Iya Ma." Ucap Dwi.
Dwi pun selesai makan dan melanjutkan berbincang dengan Mama nya, tidak lama dia dan Mama nya meminta izin mau menelpon Raya kepada polisi jaga disana. Dan mereka pun diizinkan kemudian langsung menelpon Raya.
Dengan hati dan perasaan yang tidak bisa tenang, Dwi mencoba berdamai dengan keadaan, apapun keputusan Raya nanti Dwi siap menerimanya.
"Ini aku Dwi, maaf Raya aku mengganggu waktumu."
Raya terdiam sesaat dia terperanjat, ternyata di seberang sana yang menelpon dirinya adalah Dwi sahabatnya yang kini merasa hubungan mereka sedingin es.
"Raya...?" Dwi memanggil Raya, dia tahu Raya pasti kaget menerima telepon dari nya. Tapi Dwi harus mencoba bersabar menerima perlakuan dari Raya atas kesalahannya.
Iya ada apa Dwi? Jawab Raya datar.
"Maaf..." Ucap Dwi terhenti karena takut Raya tidak memaafkannya.
Iya, maaf untuk?
"Maafkan aku Raya, aku...tidak berani meminta maaf padamu dari awal, rasa egoku dan gengsiku terlalu besar. Padahal sejak kamu sadar dari koma, aku ingin menemuimu dan meminta maaf, tapi rasanya berat, aku hanya takut kamu tidak akan memaafkan ku. Dan kini aku beranikan diri untuk itu. Maafkan aku Raya, aku benar-benar salah, aku bodoh, aku tidak waras, aku..." Penjelasannya terpotong Raya.
Sudah Dwi, cukup. Aku hanya heran, kenapa disaat setelah seperti sekarang ini, kamu baru meminta maaf? Selama ini kamu kemana saja? Inikah sahabatku Dwi yang kukenal dulu? Dwi yang tahu kalau aku jiwa pemaaf. Kesalahan sebesar apapun apabila orang itu berani meminta maaf, akan aku maafkan. Apalagi kamu sahabatku, sebesar apapun kesalahan mu, pasti akan aku maafkan. Tapi kenapa tidak kau coba dulu Dwi, kenapa kamu harus menghindari semuanya.
"Iya itu dia, aku takut kamu tidak memaafkan ku, karena kesalahanku sangat fatal, kejadian itu mengakibatkan cidera parah untukmu. Aku menyesal Raya, aku benar-benar menyesal, maafkan aku, maaf..." Dwi pun terisak dengan sedikit menahan isakannya, dadanya terasa sesak.
Dwi kamu adalah sahabat terbaikku, sejahat apapun kamu, aku tahu itu tidak berdasarkan akal sehat. Tapi itu emosi sesaat yang tidak terkendali. Semuanya berawal dariku, karena dari awal aku tidak jujur dengan perasaanku kepada Angkasa. Aku memilih diam dan menutupi perasaanku itu. Dan setelah semuanya terbongkar, kamu mungkin merasa aku telah merebut kekasihmu. Tapi itu tidak mungkin karena aku tahu kamu begitu mencintainya, aku rela buang jauh-jauh perasaanku padanya, aku rela melepaskan dia untukmu. Tetapi kamu tidak mau mendengarkan penjelasan ku, kamu malah menyerang ku dengan membabi buta.
"Iya itu kesalahan terbesarku, aku terlalu egois. Aku tidak memberi kesempatan untukmu untuk menjelaskan semuanya. Karena aku terlalu mencintai Angkasa. Tapi kini aku rela pabila Angkasa memilihmu. Karena aku tahu kalian saling mencintai dan cinta kalian begitu besar. Sekali lagi maafkan aku Raya. Maaf." Dwi mencoba tegar air matanya yang deras kini perlahan berhenti.
Iya Dwi aku maafkan. Dan maaf Dwi atas kebodohanku karena berada diantara kalian
Raya pun terisak, dia tahu benar selama Dwi hubungan dengan Angkasa, dia selalu ada diantara mereka.
"Kamu tidak salah Raya, malah kamu hebat, kamu bisa menahan semuanya. Tetapi Angkasa yang tidak bisa menahan semuanya. Terima kasih Raya, terima kasih karena kamu telah memaafkan ku dan terima kasih karena kamu sahabat terbaikku yang selalu menyayangiku."
__ADS_1
Iya Dwi terima kasih kembali
Telepon pun terputus, dan kini hatinya mulai lega, ternyata tak serumit yang dia bayangkan sebelumnya. Raya memang sahabatnya yang berhati mulia, itulah mengapa ada saja lelaki yang menyukai Raya. Sudah cantik, menarik, baik hati pula. Apalagi Raya terlahir dari keluarga yang harmonis dan cukup berada, namun Raya tidak manja, malah dia mandiri. Dwi terkadang suka iri apa yang dimiliki Raya. Sehingga bila Raya memiliki apapun, Dwi selalu tertarik ingin memilikinya, terutama Angkasa, Dwi juga berfikiran seperti itu (dia harus mendapatkan Angkasa dengan cara apapun) Dan itu telah dia lakukan. Namun dengan cara piciknya, dan kini dia menuai hasilnya. Angkasa sudah tidak mau bertemu lagi dengannya dan malah hubungan mereka berakhir begitu saja.
Beralih ke Raya, Raya terduduk di kursi teras depan rumahnya, iya langsung menyimpan gawainya yang baru saja menerima telepon dari Dwi. Bu Anita menatapnya dengan penasaran, beliau ingin mengetahui siapa yang menelpon Raya, sehingga membuat Raya terisak.
"Telepon dari siapa nak? Ko kamu sampai terisak gitu?" Tanya Bu Anita penasaran seraya menghampiri Raya dan mengusap bahunya, mencoba menenangkannya.
"Dwi, Ma..." Singkatnya seraya menyeka air matanya yang sudah membasahi pipi manisnya.
"Apa yang dia katakan, sehingga membuatmu terisak?" Timpal Bu Anita dengan rasa penasarannya.
"Dia menyesali yang sudah diperbuatnya kepadaku dan dia juga meminta maaf. Aku terharu karena dia menurunkan egonya dan berani meminta maaf walaupun hanya melalui telepon, mungkin mau bertemu pun tak bisa karena dia sedang ditahan." Jelas Raya.
"Kamu memang berhati malaikat sayang. Semoga permintaan maaf nya itu tulus dan kamu semakin rendah hati sayang." Ucap Bu Anita seraya mencium kening Raya dengan senyum manisnya
Raya tersenyum manis. Tidak lama, Angkasa datang dan menghampiri mereka, Angkasa salam takzim pada Bu Anita juga menyapa Raya dengan senyum manisnya.
"Assalamualaikum... Tante, Raya sehat? Semakin membaik kah hari ini?" Sapa Angkasa
"Waalaikumusalam wa Rohmatulloh, Alhamdulillah nak Angkasa kami sehat, dan Raya juga makin membaik, tidur pun sudah nyenyak." Jawab Bu Anita.
"Iya sayang?" Tanya Bu Anita pada Raya yang masih terdiam karena terpana melihat ketampanan Angkasa.
"I-iya." Singkatnya dan menundukkan pandangannya.
"Maaf, aku terlambat datang, karena tadi aku mempersiapkan dulu keperluan tim relawan untuk berangkat ke daerah yang terkena bencana banjir bandang." Ucap Angkasa.
"Tidak apa-apa, terima kasih atas perhatiannya selama ini nak Angkasa. Raya juga sekarang sudah bisa beraktifitas walau hanya sedikit-sedikit." Jelas Bu Anita
"Alhamdulillah, aku senang Tan, kalau Raya sudah bisa beraktifitas kembali. Tapi izinkan sehari lagi saja, saya membantu Tante dan juga Raya, selagi kehadiran saya tidak merepotkan Tante dan Raya." Angkasa menawarkan dirinya untuk membantu Raya dengan tulus, meskipun Angkasa lihat Raya merasa canggung dan salting melihat Angkasa.
"Iya sayang mungkin Tante akan butuh bantuanmu nanti. Sudah makan?" Ucap Bu Anita.
"Belum Tan, tapi aku masih kenyang. Nanti aja Tan kalau aku laper, pasti aku makan. Kan bukan pertama kali aku kesini Tan." Jelas Angkasa dan langsung duduk di samping Raya tanpa menghiraukan ke canggungan Raya.
"Apaan sih... ko senyam senyum gitu?" Tanya Raya seraya mengambil gawainya yang tergeletak diatas meja antara Raya dan Angkasa.
"Aku merasa lucu aja, liat kamu kaku gitu. Kamu kenapa? terpesona ya melihat ketampanan babang Angkasa." Ledek Angkasa seraya menyentil hidung mungil Raya.
"Ge-er banget sih jadi orang siapa lagi yang terpesona sama babang Angkasa." Ucap Raya sedikit ditekan yang membuat Angkasa tergelak mendengar perkataan Raya.
Bu Anita pun masuk kedalam, biarkan suasana mereka mencair tidak seperti tadi. Raya pun akhirnya tersenyum malu dan menutup mukanya yang memerah.
"Tuh kan bener, mukamu aja sampai merah gitu." Ledek Angkasa kembali.
Raya pun spontan langsung memukul lengan Angkasa, dan Angkasa pun kesakitan.
"Aduuuh...sakit tau... Kamu sekarang punya tenaga ya, berarti sudah bisa lari dong." Angkasa meledek Raya lagi. Lagi-lagi Raya memukul lengan Angkasa. Angkasa pun semakin tergelak.
Ini yang Angkasa dan Raya rindukan, kehangatan persahabatan mereka disaat mereka sedang berdua seperti sekarang ini. Angkasa merasa bahagia melihat Raya sudah mulai bisa bercanda lagi dengan nya, begitu pun dengan Raya, dia merasa sangat bahagia dan merasa semua kesedihannya berakhir bahagia.
"Senyummu dan tertawamu membuat hatiku bahagia, seindah itukah kebahagiaan yang Tuhan berikan untukku. Kamu wanita pertama yang masuk kedalam relung hatiku. Dan aku ingin kamu menjadi wanita terakhir dalam hatiku dan hidupku. Raya, aku ingin kamu tahu, hatiku masih sangat menyayangimu dan mencintaimu. Rasa itu tak kan pernah hilang meskipun disaat saat kita dulu tak saling menyapa dan tak ada sua untuk saling memberi kabar. Disini didalam relung hatiku, telah terukir namamu. Tak kan ada satu wanita manapun yang dapat menghapus ukiran namamu. Janjiku, aku akan selalu menjaga namamu disini dan menjaga kepercayaan mu." Jelas Angkasa, membuat Raya terpana dan tenggelam dalam kata-kata puitisnya. Betapa bahagianya hatinya saat ini. Lelaki yang selama ini dicintai dan disayangi nya terbuka padanya dan mencurahkan semua isi hatinya. Apakah dia mampu berkata untuk menjawab semua curahan hati Angkasa.
Tak terasa air matanya jatuh perlahan, air mata kebahagiaan. Angkasa langsung menyeka air mata itu dengan tangannya yang penuh dengan kasih sayang.
"Air mata ini bukti kalau kamu masih merasakan hal yang sama padaku. Terima kasih Raya, karena kamu masih mencintai ku dan menyayangiku." Ucap Angkasa dengan senyum manisnya. Ingin rasanya dia mengecup kening Raya, namun di hempaskan keinginannya, dia tidak ingin Raya marah lagi dan salah faham dengan semuanya. Biarlah waktu berjalan dengan sendirinya. Biarkan hari-hari nya terisi dengan kisah cerita cinta mereka.
"Entah apa yang harus aku katakan, aku tidak tau apa yang sedang aku rasakan saat ini. Tapi aku senang kamu bisa mencurahkan isi hatimu seperti tadi. Dan aku berterima kasih atas semua yang telah kamu katakan dan lakukan. Tapi untuk memerimamu, aku belum siap. Karena aku saat ini sedang memilih mana yang terbaik untukku." Jelas Raya.
"Iya, aku tau itu Raya. Aku akan tetap menunggumu sampai kamu memutuskan pilihan yang terbaik untukmu. Dan aku akan selalu berada di sampingmu." Jelas Angkasa seraya menggenggam tangan Raya.
Raya tersenyum manis dan membalas genggaman itu. Angkasa pun bahagia dan spontan dia mengecup punggung tangan Raya.
__ADS_1
Kebahagiaan ini yang mereka tunggu-tunggu selama ini. Dan sikap romantis Angkasa juga yang selama ini di tunggu Raya.
* * *