Aku Di Matamu

Aku Di Matamu
Bab 14


__ADS_3

Drrrtt...


Drrrtt...


Drrrtt...


Gawai Raya bergetar, dilihatnya panggilan masuk dari Bram. Raya pun mulai tersenyum manis, Angkasa hanya menatapnya dengan rasa entah sedih entah harus bahagia melihat Raya kembali tersenyum manis.


Namun saat mengangkat teleponnya, mulut Raya kembali cemberut mungkin merasa kesal terhadap Bram karena baru menghubunginya.


"Iya Halo..." Lirihnya pelan.


Raya maaf aku tadi ada keperluan emergency, nenekku berpulang, dan handphone ku ketinggalan di rumah. nenekku tinggal di desa. Aku kesana waktu subuh tadi. Dan barusan aku pulang dulu ke rumah karena aku butuh handphone ku untuk memberitahumu. Dan sekarang aku sedang diperjalanan menuju desa, satu jam lagi sampai, karena nenek akan dikebumikan sore ini. Penjelasan Bram disebrang sana dengan suaranya yang serak mungkin sudah menangis.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un... Semoga Husnul Khatimah dan semoga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Maaf aku tidak bisa menemanimu." Jawab Raya dengan perasannya yang sedih mendengar kabar buruk dari Bram.


Tidak perlu Raya, Kamu kan sedang dalam pemulihan. Malahan aku yang minta maaf karena kecerobohan ku, kamu jadi menungguku. Dan untungnya ada Angkasa saat menjemputmu pulang dari rumah sakit. Kalau tidak ada dia mungkin kamu akan lebih kecewa karena ingkar ku. Timpal Bram, Raya langsung melirik Angkasa dan membenarkan itu.


"Iya..." Singkatnya


Kamu tidak apa-apa kan? Tanya Bram, berharap Raya tidak kecewa terlalu dalam.


"Untuk?"Balik Raya merasa bingung.


Iya, kamu tidak apa-apa aku sudah mengecawakanmu karena ingkar padamu? Jelas Bram.


"Oh itu, ya aku kecewa itu pasti tapi setelah tahu alasannya, aku sedikit lega. Terimakasih atas kejujurannya. Aku harap kamu selalu terbuka seperti ini." Jelas Raya sedikit menekankan suaranya.


Baiklah. Aku akan selalu terbuka. Terimakasih Raya Karena kamu memafkan kesalahanku akan kecerobohan ku. Sampai ketemu besok siang ya... Love you Honey... Ucap Bram dan dengan diakhiri kalimat love, itu membuat Raya berbunga-bunga dan tersenyum manis. Namun Raya enggan membalas kata love pada Bram karena dia merasa belum sepenuhnya mencintai Bram, dia takut perasaannya hanya pelampiasan saja.


Tut...


Tut...


Telepon pun terputus, dan Raya menyimpan kembali gawainya diatas nakas.


"Sepertinya ada yang berbunga-bunga nih..." Sahut Angkasa dan kembali menyuapi Raya yang tinggal satu suapan lagi.


"Kata siapa. Aku hanya lega saja kalau dia terbuka padaku." Jelas Raya sambil mengunyah makanannya.


"Oh..." Angguk Angkasa seraya membereskan bekas makan Raya.


"Akhirnya habis juga, lama juga ya nyuapin anak mandiri tapi manja seperti kamu." Terang Angkasa sedikit meledeknya.


"Enak saja, aku tidak manja. Aku kan sedang sakit, lagian siapa suruh nyuapin aku." Jelas Raya seraya memukul Angkasa dengan bantalnya.


Buk...


"Aw... sakit tahu." Ucap Angkasa


Raya pun terkekeh, dan ini kali pertama setelah kejadian itu, dia melihat Raya tertawa terpingkal. Angkasa merasa bahagia, sekarang dia mulai akrab lagi dengan Raya.


"Aku ke dapur dulu ya, mau membersihkan piring kotor ini. Dan minumlah airnya sampai habis. Setelah ini langsung minum obatnya, itu sudah aku siapkan diatas nakas samping gawaimu." Jelas Angkasa dan langsung berdiri lalu berlalu ke dapur.


Raya mengangguk dan langsung minum juga meminum obatnya yang telah disiapkan oleh Angkasa.


Kamu memang baik Angkasa, aku tidak percaya kamu kuat melihatku dekat dengan pria lain. Dan kamu masih setia menemaniku meskipun aku tidak secantik dulu lagi. Batin Raya dan tak terasa matanya sendu dan jatuhlah air matanya.


Beralih ke Angkasa yang sedang mencuci bekas makan Raya seraya memperhatikan Bu Anita yang sedang menikmati keindahan halaman belakang yang dipenuhi tanaman bunga - bunga dan pohon yang daunnya rindang.


Setelah selesai mencuci piring, Angkasa kembali menemui Raya, dan tak lupa, dia mengambil minuman yang telah dibuatkan Bu Anita untuknya.


"Raya, aku ke halaman belakang dulu ya. Mungkin kamu butuh istirahat lagi setelah selesai makan dan meminum obatnya." Pinta Angkasa berdiri di daun pintu kamar Raya seraya memegang gelas berisi minumannya.


"Iya..." Singkat Raya yang sedang duduk dan merapihkan seprai yang sedikit berantakan karena sedari tadi Raya baringan di tempat tidurnya.


Angkasa pun berlalu menuju halaman belakang, dan menghampiri Bu Anita.

__ADS_1


"Maaf Tante apa perlu ditemani?" Tanya Angkasa dengan senyum manisnya.


"Silahkan Angkasa." Jawab Bu Anita seraya mempersilahkan Angkasa duduk di samping kursi yang terhalang meja kecil.


Angkasa pun duduk dan meminum minumannya, kemudian menyimpannya di meja kecil.


"Angkasa, Tante merasa kamu yang pantas menyandang Raya. Maaf bukannya Tante membandingkan kamu dengan Bram. Tapi Tante lebih suka Raya disanding kamu dari pada Bram." Sahut Bu Anita seraya menengadah ke langit melihat awan putih dan langit yang cerah menuju sore.


"Jangan seperti itu Tante, semuanya kembali lagi ke Raya, Raya sekarang sedang dekat dengan Bram dan dia kini memilih Bram ada dihatinya. Meskipun itu terlalu cepat, aku bahkan tidak tahu awal kedekatan mereka. Tetapi mungkin ini takdir, dan ikutin saja alurnya, dan kita do'akan saja semoga Raya bahagia." Jelas Angkasa seraya meneguk minumannya.


"Kamu pria baik dan tulus Angkasa, seandainya Raya membuka hatinya kembali untukmu, betapa beruntungnya dia." Lirih Bu Anita yang masih melihat langit cerah.


Tanpa sepengetahuan mereka, Raya menguping pembicaraan mereka, Raya berdiri dibalik dinding dekat daun pintu. Dia ke dapur karena mau mengambil air minum, meskipun jalannya masih belum seimbang, namun dia melangkah perlahan sambil berpegangan ke dinding tembok sepanjang dia berjalan ke dapur.


Raya menghela nafasnya perlahan, dan memang benar apa yang diucapkan Mama nya, kalau dirinya akan beruntung bila memilih Angkasa. Namun dia teringat Dwi sahabatnya, dia tidak ingin bertengkar kembali dengan sahabatnya gegara seorang pria. Lebih baik dia mengalah, melupakan rasa sayang dan cintanya kepada Angkasa hanya untuk sahabatnya.


"Tante bisa saja. Aku ini manusia biasa juga Tante, malah Raya terluka gegara aku. Seandainya malam itu aku tidak melakukan hal bodoh mungkin kejadian itu tak akan terjadi." Timpal Angkasa menyesali perbuatannya.


"Sudahlah Angkasa, itu adalah jalan dimana kalian harus saling mengetahui bahwa kalian saling mencintai." Jelas Bu Anita sedikit menguatkan Angkasa supaya tidak terus menerus menyesali apa yang telah dia lakukan di malam itu.


Raya pun kembali ke kamarnya dengan perasaan yang bimbang, entah harus menerima Angkasa yang tulus mencintainya atau menerima Bram pria baru tapi bad boy juga dijuluki pria casanova dan dia tidak tahu Bram benar-benar tulus atau penasaran dengan Raya karena dari dulu Bram ingin menaklukan hati Raya yang dingin kepadanya.


Sesampainya di kamar, gawainya bergetar lagi


Drrrtt...


Dilihatnya chat WhatsApp dari Bram, dibukalah chat itu dan dibacanya


Raya lihatlah ke depan rumahmu! Bila kau suka, ambilah. Bila tidak suka, buanglah!Pesan Bram di seberang sana.


Raya pun kembali berdiri dan memapah dirinya berjalan ke depan rumahnya, dilihatnya 3 buket bunga mawar merah dan 3 buket lagi mawar putih. Juga ada sebuah kotak, entah apa isinya.


"Ya Tuhan... maksudnya apa ini?" Raya terperanjat dan tidak percaya semua ini. Suara kaget Raya mengejutkan Bu Anita dan Angkasa yang masih berada dihalaman belakang rumahnya.


Mereka pun berjalan ke teras depan, ingin melihat ada kejadian apa sehingga membuat suara Raya terdengar ke belakang.


"Ada apa sayang...?" Tanya Bu Anita seraya menghampiri Raya dan berdiri disamping Raya.


"Hah!!!" Mulut Bu Anita menganga karena heran dengan apa yang sedang dilihatnya dengan kedua matanya sekarang.


Begitu pun dengan Angkasa, dia terkejut melihat semuanya, dan begitu penasaran dengan sebuah kotak yang di pegang pria asing itu. Tapi dia sudah mengetahui kalau semua ini pasti ulah Bram, karena dia sangat mengenal Bram.


"Ini semua dari siapa sayang?" Tanya Bu Anita seraya mengucek-ngucek matanya karena bisa jadi ini hanya khayalan nya saja.


"Siapa lagi yang sedang dekat dengan Raya." Ucap Raya yang masih tak percaya dengan semua ini.


"Angkasa... disini tidak mungkin. Mmmmmh Bram?" Ragu Bu Anita. Raya hanya mengangguk perlahan, seraya mendekati kotak dan membuka kotaknya.


Tara...


Isinya makanan kesukaan Raya cake Rainbow Mille crepes, Raya tersenyum dan langsung mengambil cake itu, kemudian dicicipinya dengan penuh semangat. Dia pun langsung berjalan ke rumahnya dengan perlahan dibantu Angkasa yang memapahnya.


"Sayang terus ini bunga nya gimana?" Tanya Bu Anita seraya berbalik badan ke arah Raya.


"Entahlah Ma. Terserah Mama saja mau diapain." Jelas Raya tak mau melihat lagi ke arah bunga itu, yang penting baginya cake yang sedang dipegangnya seraya dicicipi sedikit-sedikit.


"Dasar Raya, liat makanan aja ijo. Bunga seindah ini dibiarkan. Lebih baik buat Mama saja, buat hiasan di dalam rumah kan bagus." Gumam Bu Anita yang terdengar oleh orang suruhan Bram.


"Bunganya kalian simpan aja ya ke dalam sekalian di rapi kan. Ayo sini masuk!" Suruh Bu Anita seraya memimpin orang suruhan Bram dan langsung mengatur letak dimana bunga-bunga itu harus disimpan. Mereka hanya bisa menuruti maunya nyonya besar.


"Nah... udah disitu bagus. Nah yang itu geser dikit... bagus bagus... yang empat bawa kesini. Nah simpan disimpan, bagus... nah yang ini simpan dekat guci besar itu. Ok bagus." Bu Anita terus mengaturnya, sehingga ruang tamu, ruang tv dan ruang makan pun dihiasi bunga mawar merah dan putih.


"Hasilnya sempurna. Saya suka dengan kerja kalian." Sahut Bu Anita dengan senyum puasnya dan hatinya yang bahagia.


"Terimakasih nyonya. Kalau begitu kami pulang dulu." Jelas salah satu dari mereka.


"Apa kalian mau minum atau makan dulu?" Tawar Bu Anita.

__ADS_1


"Tidak perlu nyonya, kami langsung saja, karena kami harus bekerja kembali." Jelas orang tadi.


"Baiklah jika seperti itu. Silahkan dan terimakasih." Ucap Bu Anita dengan tulus.


"Sama-sama nyonya." Ucap mereka semua dan gegas mereka langsung berlalu dari rumah Raya.


"Mama heran sama kamu, bunga sebagus ini dibiarkan, kenapa kamu memilih cake itu yang nanti bikin kamu gemuk." Celoteh Bu Anita seraya mencium bunga mawar merah dihadapannya.


"Lagian aku bingung, ko bunga sebanyak itu, mau aku apain coba? Mending aku pilih cake nya, kenyang iya, enak iya. Kalau itu kan menuhin tempat saja. Terus nanti jadi sampah kalau layu. Aku kan tidak pandai mengurus bunga, tidak seperti Mama yang rajin mengurus tanaman." Jelas Raya masuk akal juga.


Bu Anita hanya menggeleng, dan duduk seraya menikmati keindahan bunga mawar yang ada dihadapannya.


Angkasa hanya bisa menghela nafasnya perlahan seraya berjalan ke halaman belakang dan melanjutkan aktifitas nya menikmati keindahan tanaman disana, dan menghabiskan minumannya.


Ketika mereka sedang mensyukuri kenikmatan yang Tuhan berikan saat ini, tiba-tiba Bu Rasmi datang dengan membawa air matanya, beliau meminta Raya mencabut laporannya.


"Nak, Raya..." Panggilnya seraya berdiri di depan pintu dengan tatapan sendunya mengarah ke arah Raya yang sedang mencicipi cake seraya duduk manis di sofa ruang tamu.


Raya pun terperanjat seketika menghentikan kenikmatan yang sedang ia rasakan.


"Raya... maaf sebelumnya bisa kita bicara sebentar?" Pintanya seraya memohon dengan kedua tangannya yang dirapatkan didepan dadanya.


"Iya, masuk saja Tante." Jawab Raya dan langsung menyimpan cake nya diatas meja.


"Maaf Raya, Tante sudah lancang menemuimu tanpa menanyakan kabarmu saat ini, karena Tante disini hanya ingin memohon padamu sayang..." Ucap Bu Rasmi yang kemudian air matanya kembali jatuh dan membasahi pipinya.


Bu Anita dan Angkasa pun langsung menghampiri mereka dan melihat apa yang terjadi, namun mereka tidak ingin ikut campur dengan permasalahan ini. Mereka cukup mengetahuinya, dan memberi masukan bila itu perlu.


"Iya tidak apa-apa Tante, memangnya ada apa Tan?" Tanya Raya dengan hatinya yang bingung.


"Tante mohon padamu Raya, tolong cabut laporan dikepolisian anak tante, Dwi. Dwi sahabatmu nak... Meskipun dia mempunyai kesalahan yang fatal terhadapmu, tapi tolong nak, cabut laporannya. Tante mohon, demi persahabatan kalian, cabutlah laporan itu. Dan maafkan Dwi sayang... maaf..." Bu Rasmi benar-benar memohon seraya memegang kedua tangan Raya dengan air matanya yang terus berjatuhan membasahi pipinya bahkan air matanya itu jatuh ke tangan Raya yang sedang digenggam Bu Rasmi.


Raya tak percaya kalau Dwi dilaporkan ke polisi, padahal Raya tidak pernah melaporkannya atau menyuruh keluarganya untuk melaporkan Dwi.


"Tapi Tante, aku sama sekali tidak melaporkan Dwi, dan aku juga tidak menyuruh keluargaku melaporkannya. Maaf Tante aku bingung???" Jelas Raya dengan penuh kebingungan, dia bingung harus berbuat apa? Dan apakah boleh dia mencabut laporannya sedangkan dia tidak tahu siapa yang melaporkannya.


"Jadi kamu tidak mengetahuinya?" Tanya Bu Rasmi.


"Iya." Raya mengangguk pelan.


"Baiklah, maaf nak Raya, yang melaporkan Dwi adalah kakakmu nak Hari. Tante kira nak Hari memberitahukanya padamu." Bu Rasmi pun menoleh ke arah Bu Anita.


"Maaf Bu Anita, tolong saya... tolong anak saya..." Mohonnya dengan sepenuh hati.


"Maaf Bu Rasmi, semuanya saya serahkan kepada anak saya Raya, dia lebih berhak." Jelas Bu Anita. Bu Rasmi pun memahami itu, dan kini dia menoleh lagi ke arah Raya, masih dengan memohon untuk mencabut laporannya.


"Tante mohon nak Raya, hanya kamu yang bisa membantu Dwi. Kakakmu pasti setuju dengan apa yang akan kamu lakukan. Kamu anak baik dan penyayang. Tante yakin kamu pun menyayangi sahabatmu Dwi." Rayu Bu Rasmi dengan tulus.


"Aku sangat menyayangi Dwi melebihi apapun, tapi apakah Dwi juga seperti itu? Aku hanya ingin Dwi bisa lebih tenang dalam menghadapi masalah tidak berapi-api bahkan tempramen. Tapi itu tidak mungkin, dan kini aku hanya ingin dia sadar dengan apa yang telah dia lakukan." Jelas Raya dan melepaskan genggaman Bu Rasmi.


"Tapi nak Raya, tolonglah Tante, bila sekarang kau membenci Dwi atas perbuatannya yang telah dia lakukan padamu, tolong lihatlah Tante. Kasihanilah Tante yang sudah tua ini sayang, teman hidup Tante hanya Dwi, Tante kesepian dan Tante takut Dwi ketakutan dan kesepian disana. Tolong nak Raya cabut laporan itu." Bu Rasmi seraya memelas dan air matanya kembali jatuh.


Hati Raya tidak kuat melihat kesedihan yang dialami Bu Rasmi sekarang. Raya menghela nafasnya perlahan seraya menatap dalam kedua manik mata Bu Rasmi yang sendu.


"Apakah Tante yakin Dwi tidak akan melakukan hal yang sama atau malah mungkin bisa jauh lebih dari itu? Apakah Tante juga sudah membicarakan dengan Dwi, jika dia bertemu denganku akan baik-baik saja, atau mungkin dia akan kembali menyerang ku?" Tanya Raya penuh keraguan.


Bu Rasmi pun terdiam dia tidak tahu apakah anaknya bisa menahan emosinya atau malah sebaliknya. Dan dia pun lupa tidak membicarakannya dahulu dengan Dwi. Akhirnya dia memutuskan kembali menemui Dwi dan akan membicarakan apa yang diinginkan Raya.


"Maaf nak Raya Tante sudah mengganggu ketenangan mu hari ini. Kamu benar, harusnya Tante bicarakan dulu dengan Dwi. Tante juga merasa ragu dengan Dwi. Terimakasih nak Raya." Ucap Bu Rasmi.


"Maaf Bu Anita?"


"Tidak apa-apa Bu Rasmi, saya juga minta maaf karena tidak bisa melakukan apa-apa."


"Anda tidak salah, apa yang Bu Anita lakukan adalah benar. Kalau begitu saya pamit dulu." Bu Rasmi langsung berdiri.


"Iya Bu, terimakasih." jawab Bu Rasmi dengan senyum simpulnya.

__ADS_1


Bu Rasmi pun berlalu dengan langkah lemahnya, dengan matanya yang sendu membawa angan yang tak bertepi. Entah apa yang harus dia lakukan untuk membahagiakan anaknya kini.


* * *


__ADS_2