
Dwi merasa ketakutan, kalau tidak datang ke kantor polisi takut nanti dijemput paksa sama polisi, kalau datang kesana takut langsung di bui. Dia pun sampai kepikiran kabur dan menghilangkan jejaknya. Tapi itu malah tambah repot dan menyusahkan Mama nya. Ditambah lagi dia jadi DPO.
"Sebaiknya kamu datang saja kesana, kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu perbuat. Jika kamu berfikir positif, insya Allah semua akan baik-baik saja." Jelas Bu Rasmi seraya mengusap bahu Dwi.
Dwi merenungkan penjelasan Mamanya, dan dia pun menyetujuinya, apapun keputusannya nanti, dia akan menerimanya, karena dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Baiklah Ma... tapi temenin ya Ma..." Sahut Dwi. Dan Mama pun mengangguk sambil memeluk Dwi, diusapnya punggung anaknya itu, dan meneteslah air mata yang sedari tadi sudah sendu.
"Bagaimana hubunganmu dengan Angkasa? Apa kalian sudah bicarakan kembali?" Tanya Rasmi seketika membuat Dwi terperanjat.
"Hu_hu_hubungan ku dengan..." Dwi terbata-bata, dan bingung mau menjawab apa, karena dia tidak tahu hubungannya dengan Angkasa sekarang ke arah yang mana.
"Sebaiknya kalian bicarakan, supaya tidak menggantung, tapi jangan pernah memaksakan keinginanmu untuk bersama dia. Lepaskan dia bila dia ingin lepas darimu. Memaksakan hubungan yang sudah tak indah lagi itu tidak baik, meskipun diperbaiki, karena yang satu sudah jemu dan tak ada rasa lagi, percuma sayang." Jelas Rasmi.
Dwi terdiam dan hanya mengangguk, dia tidak mau membahas cintanya lagi. Dan Dwi pun langsung masuk ke kamarnya untuk siap-siap pergi ke kantor polisi. Begitu pun dengan Rasmi, dia menguatkan dirinya dan hatinya, padahal dia takut bila anaknya nanti jadi tersangka dan diadili, dihukum dan dibui. Perasaannya campur aduk, tapi ini memang harus dipertanggung jawabkan.
Gegas mereka pun pergi ke kantor polisi, tepat waktu. Dwi sangat takut dan gelisah, Bu Rasmi menenangkannya dengan sekuat hati nya. Dilihatnya ruangan polisi yang hanya didalamnya bertugas 5 orang petugas saja. Mereka tampak sibuk dengan tugas mereka masing-masing, dan Dwi duduk di kursi tunggu dengan jantung berdebar keras. Bu Rasmi merangkulnya dan mencium keningnya, seraya menenangkan hati Dwi, dido'akannya anaknya dengan penuh kasih sayangnya. Disini Dwi seakan menjadi anak kecil lagi yang akan melakukan kontes naik kepanggung namun dipanggung itu terdapat beberapa jebakan yang akan membuatnya jatuh.
"Awali dengan basmallah sayang, yakin semua akan baik-baik saja. Mama disini selalu mendo'akanmu. Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga mu sayang." Ucap Bu Rasmi seraya mencium kening Dwi. Dwi mengangguk dan tersenyum, dia beruntung memiliki seorang ibu yang selalu ada disampingnya meskipun Dwi sering membangkang dan menyakiti hatinya. Tak terasa matanya sendu dan air matanya pun terjatuh begitu saja.
"Sayang nanti didalam, jawab pertanyaan polisi dengan tepat, cepat, singkat, dan jujur. Karena kalau kamu berbohong, semuanya akan sulit, sesulit kamu mempersulit mereka." Timpal Bu Rasmi seraya mengusap bahu Dwi dengan sentuhan kasih sayangnya.
"Iya Ma..." Dwi terisak dipelukan Bu Rasmi. Dia merasa kali ini benar-benar butuh Mama nya, penyesalan pun menemani kesedihannya.
"Dwi silahkan masuk ke ruang interogasi. Saya harap kamu bisa bekerjasama dengan kami." Sahut salah satu polisi.
Dwi mengangguk dan berdiri lalu berjalan ke arah dimana polisi itu menunjukan tempatnya. Dwi pun didalam di interogasi dengan cukup lama sekitar satu jam. Dan bu Rasmi duduk terkadang berdiri dan mondar mandir karena gelisah menunggu anaknya yang sedang di interogasi.
"Apa hubunganmu dengan Raya Atmaja Putri?" Tanya polisi tanpa senyum sedikit pun.
"Kami bersahabat". .
"Sejak kapan?" Tanya polisi lagi.
"Sejak SMP." Singkat Dwi kembali.
"Cukup lama juga."
"Selama itu kamu bersahabat dengannya, tetapi kamu tega melukainya? Atas dasar apa kamu melukainya?" Tanya polisi cukup panjang. Dan Dwi sedikit termenung. Dia takut salah menjawab dan teringat pesan Mama nya dia harus menjawab tepat, cepat, singkat dan jujur.
"Atas dasar cinta pak." Jawab Dwi seraya menunduk dan menutupi matanya yang mulai sendu, dia teringat kejadian itu, sungguh diluar nalarnya dan akal sehatnya.
"Cinta? Apa cinta membuatmu buta? Dia sahabat mu lho!?" Polisi mulai menekan Dwi. Polisi itu berdiri dan duduk diatas meja, ditatapnya Dwi yang menunduk seraya menutupi matanya yang sendu.
"Benar itu cinta atau hanya ambisimu saja? Karena Cinta tidak akan menyakiti orang lain." Jelas polisi dengan pertanyaan yang membuat Dwi terperanjat.
"Ci_cin_ta pak." Jawabnya terbata, mata Dwi membola dan air matanya bergenang dibola matanya.
"Bukan!!" Bentak Polisi seraya berdiri dan duduk kembali di kursi. Dwi memejamkan matanya, dan air matanya pun jatuh seketika.
__ADS_1
"Kau menyesal telah membuat sahabatmu terluka hingga tak berdaya? Apa kau sudah meminta maaf?" Tanya polisi lagi dan Dwi pun menyeka air matanya, dia tidak ingin terlihat lemah.
"Aku menyesal pak. Tapi Mama sudah minta maaf, aku...aku..." Jawabnya diakhiri kata aku dengan gugupnya.
"Harusnya kamu yang minta maaf, bukan Mama mu. Dia tidak salah, yang salah kamu." Bentak Polisi lagi.
"Disini sudah jelas bahwa kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan." Sahut polisi.
"Bagaimana kamu melukai sahabatmu? Jelaskan!?" pertanyaan polisi kali ini membuat Dwi lebih teringat lagi dengan kejadian nahas itu.
"Awalnya aku hanya ingin menggertaknya supaya dia menjauh dari pacarku, aku sakit hati karena pacarku menyukainya dan menyanyanginya melebihi rasanya padaku. Dan dia juga sama merasakan hal itu pada pacarku. Aku merasa dibodohi pak. Aku lepas kendali, karena aku tahu dia lemah dan mudah digeretak jadi aku dorong dia sekuat mungkin. Aku tidak tahu kalau akhirnya akan seperti itu. Dia terjatuh keras, kepalanya terbentur keras ke lantai, dan keluarlah darah dari belakang kepalanya. Sungguh aku waktu itu kalap pak. Karena rasa sakit di hatiku." Jelas Dwi dengan suara yang bergetar, jari-jari tangannya dia remas-remas, wajahnya pucat pasi. Dia takut penjelasannya akan membuatnya terkurung di jeruji besi.
"Kalian baru pacaran, bagaimana kalau sudah menikah. Kamu terlalu terobsesi dan berambisi untuk memiliki pacarmu seutuhnya. Dan itu bukan cinta. Cinta tidak seperti itu, cinta itu membahagiakan orang yang kita cintai. Kalau pacarmu tidak menyayangi mu, buat apa kamu pertahankan. Lepaskan saja dia. Memaksakan keinginan itu tidak baik, itu bisa menyakiti diri sendiri bahkan juga orang lain. Contohnya apa yang sedang kamu alami sekarang." Jelas pak polisi, dari situ polisi pun tahu, kalau Dwi tak secantik rupanya dan jelas Dwi tidak sehat tidak seperti orang normal kebanyakannya.
"Sejak kapan kamu mengetahui mereka saling suka bahkan saling menyayangi?" Tanya pak polisi lagi, padahal ini diluar pertanyaannya, polisi hanya ingin tahu saja.
"Sebelum saya menjalin hubungan dengan pacar saya pak. Dan saya sengaja memisahkan mereka. Karena saya sangat menyukai dia pak." Terang Dwi, sungguh dia sangat picik.
Pak polisi hanya tersenyum sinis, hati tertuduh sangatlah picik, disini memang yang salah Dwi dan Dwi terlalu terobsesi dengan laki-laki itu.
"Sudah jelas disini. Kamu terlalu terobsesi dan ambisius. Segala cara kamu lakukan untuk memiliki lelaki itu. Bahaya juga kamu. Pertanyaan saya sudah cukup, dan ini akan jadi bukti saksi pengakuanmu." Terang pak polisi dan dia pun pergi meninggalkan Dwi seorang diri diruang interogasi.
Dwi tertunduk matanya sendu dan mulai terisak. Dia tidak menyangka pengakuannya membuat dirinya tersudut dan bisa membawa dirinya kedalam jeruji besi. Saat dia terisak dalam penyesalannya, seseorang masuk kedalam ruangan itu. Dan orang itu mengagetkan Dwi, mata Dwi yang sendu membola seakan mau keluar dari tempatnya.
"Kenapa kaget?" Sentaknya
"Sejak kapan kamu disini?" Tanya Dwi seraya berdiri dari duduknya.
"Sejak dari tadi, aku mendengarkan pengakuanmu melalui suara spiker diluar, sangat jelas, jelas sekali. Dan itu cukup untuk meyakinkanku memutuskan hubungan denganmu. Kak Hari juga sudah mendengarnya, aku sambungkan suaramu melalui gawai, aku telepon dia dan kami mendengarnya dengan cukup jelas." Jelas Angkasa, ya dia Angkasa. Dia mewakili kak Hari untuk datang ke kantor polisi, karena kak Hari sedang meeting di kantornya dan tidak bisa ditinggalkan.
"Kalian benar-benar ya... apa tidak cukup puas membuatku merasa bersalah seperti ini. Dan asal kamu tahu aku melakukan itu karena aku terlalu cinta sama kamu. Dan cinta membuatku buta Angkasa. Apa kau tidak sadar itu!?" Sentak Dwi.
"Iya sangat jelas sekali Dwi. Tapi yang aku liat dan dengar itu bukan cinta tapi ambisimu." Angkasa menunjukan jari telunjuknya pas di hati Dwi.
Dwi pun merasa lemas, lututnya bergetar, dia langsung terduduk. Kini cintanya akan hilang bersama penyesalannya.
"Maaf Angkasa, aku sudah membuatmu kecewa. Dan sungguh itu diluar nalarku." Lirih Dwi yang duduk seraya tertunduk dan terisak.
Angkasa hanya melihatnya, hatinya ingin menenangkan Dwi mendekapnya dan membelai rambutnya, tapi itu tidak mungkin dia lakukan karena bila terjadi, akan semakin sulit berpisah dari Dwi karena sekarang adalah kesempatan emas buatnya untuk berpisah dari wanita sepicik Dwi.
"Minta maaflah pada Raya. Karena dia yang lebih berhak mendengar kata maafmu. Dan terimakasih sudah menjadi wanita baik yang selalu memperhatikanku dan menyanyangiku selama kita menjalin hubungan." Jelas Angkasa dan dia gegas keluar ruangan, meninggalkan Dwi sendiri lagi. Dwi pun semakin terisak dengan penyesalannya.
Ketika diluar ruangan, Bu Rasmi melihat Angkasa begitu dengan Angkasa, dan Angkasa menyalami Bu Rasmi, dia masih menghormati orang tua Dwi, karena yang salah Dwi bukan orang tuanya.
"Kamu dari tadi didalam?" Tanya Bu Rasmi sedikit kaget dengan kemunculan Angkasa tiba-tiba.
"Iya Tante, malah sebelum Tante dan Dwi datang kesini. Maaf Tante saya pamit, karena mau langsung ke kantor lagi. Dan soal Dwi saya serahkan kepada kak Hari dan polisi. Karena saya kesini hanya ingin mewakili kak Hari. Semoga semuanya baik-baik saja. Assalamualaikum..." Jelas Angkasa dan gegas dia pun beranjak dari kantor polisi menuju ke tempat kerjanya.
"Iya, Waalaikumussalam warahmatullaah..." Balas Bu Rasmi dan kembali duduk dengan hatinya yang gelisah tak tahu apa yang terjadi dengan anaknya didalam ruangan itu.
__ADS_1
Tidak lama berselang lima menit, Dwi keluar dari ruangan interogasi. Dilihatnya Mamanya yang duduk setia menunggunya, Dwi langsung menghampiri Bu Rasmi, dipeluknya dan terisaklah Dwi dalam pelukan ibunya. Begitu pun dengan Bu Rasmi yang menahan air matanya supaya tidak terjatuh, dadanya sangat sesak, ingin rasanya meneriakan rasa sesaknya itu melihat anaknya dalam masalah besar saat ini.
"Sabar, kuat sayang." Ucap Bu Rasmi seraya memeluk Dwi dan mengusap punggungnya. Dwi terus terisak melepas rasa takutnya dan penyesalannya.
"Menangislah selagi itu bisa membuatmu sedikit reda." Timpal Bu Rasmi yang masih memeluk anaknya.
Dua polisi memperhatikan mereka dan saling pandang. Mereka tersenyum tipis entah apa yang ada dipikiran mereka. Dan sepertinya mereka berhasil membuat satu tertuduh ini menjadi jera. Salah satu polisi menghampiri mereka, dan menyuruh mereka duduk di kursi yang sudah tersedia untuk mereka. Dwi menyeka air matanya dan menuruti apa kata polisi itu. Begitu pun dengan Bu Rasmi yang berjalan dibelakang polisi diiringi Dwi yang berjalan hampir sempoyongan karena mungkin bathin nya merasa lelah dengan kejadian barusan. Bu Rasmi sedikit memapah Dwi menahan anaknya supaya tidak terjatuh.
"Tenang sayang, nanti Mama ambilkan air minum, mungkin kau butuh kesegaran." Sahut Mama, dan polisi itu mendengar sahutan Bu Rasmi, seketika polisi belok ke arah dispenser dan mengambil air minum hangat buat Dwi. Bagaimana pun Dwi tetaplah manusia, meskipun dia disini sebagai penjahatnya.
"Minumlah dulu, supaya kau tidak pusing. Banyak sekali orang mengalami hal seperti mu. Mereka tidak sanggup menyatakan pengakuan yang sebenarnya dan banyak diantara mereka sesudahnya mengaku malah pingsan, dan itu wanita." Jelas polisi itu.
Dwi mengambil gelas yang sudah berisi air hangat, dan langsung di teguk sampai tetes terakhir, dadanya langsung merasa lega dan kembali fresh, meskipun masih merasa takut, setidaknya kini badannya tidak bergontai seperti tadi.
"Terimakasih pak." Ucap Dwi dan menyimpan gelas itu di meja dispenser. Polisi itu tersenyum dan mengangguk, kemudian mereka kembali berjalan, dan akhirnya sampai. Mereka duduk, Dwi duduk di depan meja pak polisi itu, sedangkan Bu Rasmi di kursi tunggu.
Pak polisi pun mengisi data Dwi, dan menjelaskan kalau Dwi akan ditahan dulu sampai ada keputusan lagi. Bola mata Dwi membola seakan akan keluar dari tempatnya. Begitu pun dengan Bu Rasmi yang duduk tidak jauh dari sana. Tapi ini harus di terima dengan lapang, bagaimana pun Dwi sudah bersalah dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
" Apa aku tidak bisa jadi tahanan luar saja pak. Aku janji setiap hari akan absen kesini. Tolong pak aku kan harus bekerja, aku tulang punggung keluarga pak. Tolong izinkan aku pak, aku mohon." Pinta Dwi dengan memohon dan merapatkan kedua tangannya didepan dadanya. Tak ingin dia ditahan, kasihan Mama nya sendirian, dan Dwi memang tulang punggung keluarga. Mereka hidup hanya berdua, yang mencari uang selama ini adalah Dwi. meskipun Mama Dwi suka membuat kue dan menyimpan ke warung² tapi itu tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka.
Polisi itu menatap Dwi penuh dengan rasa iba, tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Karena dia juga hanya menjalankan tugasnya sebagai polisi yang taat dan patuh dengan aturan di kantor polisi.
"Maaf aku tidak dapat membantu mu. Yang akan membantumu hanya keadilan dan keluarga korban bila keluarga korban mencabut laporannya." jelas polisi itu.
Dwi pun langsung tertunduk dan menahan tangisnya, tangannya dikepalkan, dan dia pun tidak terima dengan semua ini. Hatinya mulai berkecamuk, api amarah yang di dadanya mulai menyala, sikap tempramennya pun keluar begitu saja. Dia melempar semua barang yang ada didepan matanya sambil teriak-teriak. Pak polisi pun terperanjat, dan langsung berdiri. Ini kah sikap tempramennya.
"Aaaaargh... Kalian baj*ngan, brengs*k.... Apa gunanya aku berkata jujur kalau akhirnya aku ditahan, kalian pembohong...!!!!!!" Teriak Dwi, dia memberontak dan polisi itu jadi sasarannya, dia memukul mukul dada polisi itu dan menampar pipinya juga kemudian mendorong polisi itu.
"Dwi.... sayang jangan kau lakukan itu..." Ucap Bu Rasmi sambil menghampiri Dwi dan mencoba menenangkan Dwi, tapi Dwi semakin menjadi, dia semakin brutal, wajah polisi itu hampir babak belur. Karena Dwi jago beladiri, polisi mencoba menghadangnya, namun gagal terus karena gerakan Dwi sangat cepat. Seketika ada salah satu polisi memukul leher belakang Dwi, dan Dwi pun terdiam dan langsung terjatuh pingsan.
"Gila, perempuan ini benar-benar gila." Celoteh polisi yang jadi korban amukan Dwi seraya mengusap-usap pipinya yang sakit, dan ada darah disudut bibir kirinya.
"Maaf pak, maaf...." Bu Rasmi mencoba meminta maaf seraya membungkukkan badannya dengan rasa hormat kepada polisi itu. Dan Bu Rasmi langsung menghampiri Dwi yang terkapar dibawah lantai karena pukulan keras oleh salah satu polisi tadi.
"Dwi bangun sayang..." Bu Rasmi mencoba membangunkan Dwi.
"Maaf Bu, kami akan membawa Anak ibu keruang isolasi. Dia harus diperiksa kejiwaannya. Dan itu akan menghabiskan waktu lama. Sebaiknya ibu pulang saja dulu. Nanti kalau sudah selesai kami akan memberi tahu." Jelas polisi yang memukul Dwi.
"Dan anak ibu ini akan baik-baik saja, saya hanya menjatuhkannya saja. Karena dia sudah brutal disini dan mengganggu pekerjaan kami." Jelas polisi tadi.
Bu Rasmi pun mengiyakannya. Dan memohon kepada polisi supaya Dwi jangan disakiti lagi, karena bagaimana pun dia tetap anak kandungnya, sejahat apapun itu.
"Saya harap anda dan yang lainnya tidak memperlakukan anak saya dengan tidak wajar." Ucap Bu Rasmi seraya menatap wajah Dwi dengan sendu.
"Tenang saja Bu, kami juga punya hati." Jawab polisi tadi seraya menggendong Dwi dengan sekuat tenaganya. Bu Rasmi hanya melihat Dwi dengan matanya yang sendu, air matanya pun jatuh perlahan dan membasahi pipinya.
Semoga kamu baik-baik saja nak, Mama akan menjumpai keluarga Raya, semoga saja hati mereka terketuk untuk mencabut laporannya. Bathin Bu Rasmi dan gegas pergi meninggalkan kantor polisi.
* * *
__ADS_1