Aku Di Matamu

Aku Di Matamu
Bab 17


__ADS_3

Waktu malam pun tiba, Angkasa pamit pulang, dengan senyuman manisnya dia meninggalkan kenangan indah untuk Raya. Entah mengapa perasaan Raya terasa berat bila Angkasa pergi dari sana. Mungkin sudah sekian lama, mereka tidak seakrab dan sehangat dulu, dan sekarang mereka memulai hubungan persahabatan mereka kembali.


"Woy!! ngapain berdiri terus di sini, orang dia sudah pergi dan tak terlihat batang hidungnya lagi." Kaget kak Hari yang membuat Raya terperanjat.


"Astaghfirullah...kak ko ngagetin gitu sih..." Raya mengusap dadanya dan langsung pergi ke dalam rumah dengan berjalan perlahan.


"Kakak rasa, CLBK nih..." Kak Hari mulai menggoda Raya seraya memapah Raya karena jalannya yang agak kesulitan.


"Apaan sih kak Hari ini sok tau banget." Raya menyembunyikan mimik nya yang malu.


"Kakak tau kok, kalau kamu menyimpan perasaan pada Angkasa. Kakak menyetujui hubungan kalian. Malah kakak orang pertama yang akan mendukungmu 100 persen." Dukungan ini membuat hati Raya bahagia. Namun Raya takut perasaannya saat ini akan berubah.


"Sudahlah kak, aku malas membicarakan itu. Oh iya kak, aku ingin membicarakan Dwi." Ucap Raya mengalihkan pembicaraannya.


"Ok." Sahut kak Hari. Dan mereka pun langsung duduk di kursi ruang keluarga.


Mama dan Papa nya pun sedang berasa disana seraya menonton acara berita televisi.


"Ma, Pa, Kak Hari. Raya ingin bicara tentang Dwi." Ucap Raya.


"Baik sayang." Jawab Mama dan Papa serempak sedangkan kak Hari menatap Raya dengan serius.


"Biasa aja kali Kak..." Raya merasa risih dengan tatapan kakaknya, terkesan menggoda Raya lagi.


"Ok..ok...ok." Celoteh Hari.


"Raya dan Dwi adalah sahabat. Kami sudah lama menjalin persahabatan. Sebelum kejadian itu, hubungan kami sangat baik. Dan aku ingin kak Hari mencabut laporannya. Aku tidak ingin melihat Dwi tersiksa di jeruji besi. Rasanya hatiku sakit Kak. Mama dan Papa juga pasti tidak keberatan kan dengan keputusan yang Raya ambil saat ini. Raya sudah memikirkannya matang-matang." Jelas Raya dengan tatapan lembutnya, maniknya pun membuat hati kak Hari luluh, begitu juga dengan Mama dan Papanya.


"Ok. Apa nanti kamu tidak akan menyesalinya?" Tanya Hari.


"Kalau Mama sama Papa percaya dengan keputusan mu sayang. Karena kamu yang lebih tau, jalan terbaik untukmu dan Dwi." Jelas Mama.


"Iya sayang, Papa percayakan keputusan ini padamu." Timpal Papa meyakinkan Raya.


"Aku tidak akan menyesali keputusan ku Kak. Karena aku sudah memikirkannya dengan matang. Dan aku yakin Dwi tidak akan mengecewakan kita semua." Jelas Raya.


"Baiklah adikku. Kakak akan cabut laporannya besok atau lusa. Kamu yang sabar ya sayang..." Jelas kak Hari seraya menyentil hidung Raya yang mungil.


Perlakuan kak Hari, membuat Raya teringat kembali pada Angkasa. Kehangatannya tadi membuat jantung Raya berdetak kencang.


"Lho ko bengong." Sahut Kak Hari mengagetkan Raya dan mencairkan lamunannya.


"Enggak kak, aku pikir kakak tidak akan setuju. Terima kasih kak." Ucap Raya dan langsung memeluk erat kakak nya itu.


"Iya sayang." Kecupannya pun mendarat di kening Raya seraya membelai kepala Raya dan matanya pun sendu. Karena belaiannya itu membuatnya sedih, rambut indah yang dimiliki Raya hilang untuk sementara.


Mama dan Papa pun ikut sendu dan tak terasa air mata mereka jatuh perlahan. Tetasan air mata Hari menetes ke lengan Raya, dirasakannya oleh Raya dan Raya pun melihat manik kakaknya itu dan menyeka air matanya.


"Ko jadi drama gini..." Celoteh Raya.


"Kamu sih bikin sedih aja." Sahut kak Hari.


"Tapi tenang saja, semua akan berlalu dan kembali membaik. Semangat sayang...!!" Seru Kak Hari dengan semangatnya.

__ADS_1


"Iya kak, terima kasih banyak."


"Sebanyak apa?" Goda kak Hari.


"Sebanyak semut berkerumun." Goda Raya kembali dan langsung memukul dada bidang kakaknya dengan pukulan yang lembut.


Mereka pun tergelak begitu pun dengan Mama dan Papa nya. Suasana ini sangat dirindukan mereka setelah kejadian Raya kemarin, malam ini awal mereka tertawa bersama.kembali, setelah kejadian nahas yang menimpa Raya.


Beralih ke Angkasa yang sedang duduk termenung di balkon depan kamarnya, dalam lamunannya tersirat wajah Raya yang cantik, manis dan berseri. Senyum manis yang dimiliki Raya membuat detak jantung Angkasa berdetak kencang. Rasanya ingin sekali memiliki Raya seutuhnya, tetapi itu entah kapan, dan apakah mereka berjodoh. Semua yang tau hanya Tuhan Yang Maha Pencipta.


Angkasa pun langsung mengambil gawai nya yang berada disampingnya. Ditekannya nama kontak Bidadariku Pujaan Hati.


Dreeeet ...


Dreeeet ...


Dreeeet ...


Gawai Raya pun bergetar dan Raya langsung meraihnya di atas nakas samping tempat tidurnya. Raya pun tak heran melihat kontak bernama Angkasa, tak ada embel-embel nama panggilan kesayangan atau pun apa.


Assalamualaikum... iya ada apa?


"Waalaikumusalam wa Rohmatulloh... Kamu belum tidur?"


Belum, aku susah tidur. Kamu sendiri? susah tidur atau... memang belum ngantuk?


"Iya aku susah tidur. Aku mikirin kamu terus. Susah ngilangin wajahmu dipikirkan ku."


"Kenapa diam? Ucapanku salah ya?" Angkasa jadi salting, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


E-enggak kok, aku hanya aneh aja, kamu sampe mikirin aku terus, memangnya ga ada kerjaan lain?


"Ga ada, dalam pikiran ku terpenuhi wajahmu saja."


Raya kembali tergoda dengan gombalan Angkasa. Pipinya merah merona, bak memakai blash on.


"Oh ya kamu sedang apa tadi? Kamu juga mikirin aku kan?" Celetuk Angkasa berharap Raya mengiyakan pertanyaannya.


Aku tadi lagi nonton tv terus pas kebetulan ke kamar, ada panggilan masuk dari mu. Ya aku angkat lah... Memangnya aku juga harus sama ya mikirin kamu?


Ucapan Raya membuat Angkasa lemas. Ternyata tak sama dengan apa yang dipikirkannya.


"Aku ke pede an ya?" Angkasa langsung berdiri dan melangkah mendekati pembatas pagar balkon dilihatnya langit yang penuh bintang.


Tidak juga, malah tadi di pikiranku sempat terlintas bayangan wajahmu, aku teringat tadi waktu kamu menggodaku


Raya pun rebahan di kursi sofa kecilnya


Angkasa langsung tersenyum girang dan mengucapkan satu kata yang membuat Raya terperanjat.


"Yes!!!" Ucapnya penuh semangat.


Raya terperanjat langsung duduk dan menanyakan kegirangan yang dilakukan Angkasa.

__ADS_1


Kamu kenapa? Girang banget.


"Iyalah... karena kamu dan aku saling terhubung. Itu berarti kita sehati dan itu bisa jadi jodoh lho!!" Yakin Angkasa


Raya terdiam.


"Raya, kamu lihat deh bintang di langit malam ini, begitu banyaknya. Mereka saksi kalau aku benar - benar sayang sama kamu."


Gombal. Memangnya mereka bisa bicara? Apa itu berlebihan.


Raya kembali berbaring di sofa nya.


"Aku tidak gombal, dan mereka memang tidak bisa bicara, tetapi mereka bentuk ciptaan Tuhan Yang Maha Indah. Kamu tau betapa indahnya malam ini. Aku disini melihat dan menyaksikan itu dan aku juga merasakan kebahagiaan yang sedang kamu lalui saat ini. Kamu bahagia kan dengan semuanya? Apa yang kamu lalui dan rasakan saat ini." Jelas Angkasa.


Iya aku bahagia. Dan terima kasih untuk itu. Karena kamu sudah menemani hari-hari ku. Kamu memang baik dan aku belum bisa membalas kebaikanmu. Kamu juga bisa menghiburku dengan sangat begitu sempurna, sehingga aku tak bisa membedakan mana rasa sakit dan mana rasa bahagia itu. Karena kamu telah memberikan ku kebahagiaan yang tak bisa aku dapatkan dari yang lain.


"Raya, bila nanti Bram menemuimu dan menyatakan cintanya padamu, apa kamu akan menerima nya?"


Raya terdiam sesaat.


Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kita kan sedang membahas tentang kita. Bukan aku dan dia.


"Aku hanya ingin tau saja. Sebelum semuanya terlambat, aku hanya ingin membuatmu bahagia dan ingin selalu berada di sampingmu."


Angkasa, kamu lelaki baik dan kamu lebih baik dari lelaki mana pun. Dan aku wanita biasa yang hanya bisa menerima kebaikanmu, aku juga wanita biasa yang tak bisa menyakitimu, aku juga tak bisa membohongi perasaanku. Dimana disaat ini yang aku rasakan aku masih merasakan rasa yang sama padamu. Dan entah untuk Bram. Bisa saja aku berubah, bisa saja aku berpaling. Dan aku tidak berjanji akan selalu merasakan itu padamu. Jadi aku tidak bisa memastikan aku akan menerima dia atau aku akan menerima mu. Aku sekarang hanya ingin sendiri, kita bersahabat dan jalani semuanya dengan jalan apa adanya. Biar waktu dan cerita yang menjawab semuanya.


"Itulah yang aku takutkan dari kemarin, aku takut kamu berpaling dan memilih dia. Tapi sebelum itu aku akan terus mencoba membuatmu terus jatuh cinta kepadaku."


"Jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama itu adalah suatu hal yang indah dan penuh kesetiaan."


Iya aku tau itu Angkasa. Maka dari itu aku selalu jatuh cinta padamu. Entah apa yang ada pada dirimu sehingga membuatku berkali-kali jatuh cinta.


"Kau tau, itu pun yang aku rasakan sekarang aku merasa tenang, kalau kamu merasakan hal sama seperti ku. Dan itu sudah jadi bukti kalau kamu tidak akan berpaling dariku."


Kalau aku berpaling, bagaimana?


"Aku akan terus berjuang untuk mempertahankan kamu selagi aku bisa dan selagi hatimu masih terbuka untukku."


Gombal


"Ga ada dalam kamus ku, aku tidak gombal, itu nyata, karena kamu wanita pujaan hatiku yang aku sayang."


so sweet


Mereka pun tergelak dan tak terasa waktu sudah berputar dan sudah jam setengah sebelas malam. Mereka pun mengakhiri teleponnya dengan perasaan hati berbunga-bunga. Raya berbaring di tempat tidurnya dengan senyum di pipinya yang manis. Begitu pun dengan Angkasa, dia berjalan penuh kegirangan dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya dibumbui senyum manisnya yang lebar.


"Mimpi indah... it's coming..." Teriak Angkasa dengan penuh semangat. Tubuhnya mendarat pas di tengah ranjangnya dan langsung dipeluknya dan diciumnya guling yang dia peluk.


Beralih ke Raya yang tersipu malu seraya bersembunyi dibalik selimutnya, dia tidak bisa membayangkan kalau barusan dia berkata jujur tentang isi hatinya pada Angkasa, padahal selama ini dia menyembunyikan perasaannya. Betapa malunya dirinya itu, tak terbayangkan bagaimana besok kalau dia dan Angkasa bertemu.


Raya keluar dari balik selimutnya, ditatapnya langit-langit kamar tidurnya. Dipejamkannya mata indahnya, terlintas lah Angkasa yang rupawan itu, senyum manisnya yang menghiasi alam khayalnya. Raya pun tersipu malu lagi, dan tidak lama dia pun tertidur, dengan hatinya yang sangat bahagia. Berharap kebahagiaannya tak kan pernah berakhir begitu saja.


* * *

__ADS_1


__ADS_2