
Raya sekarang sudah dipindahkan keruang rawat, dan kak Hari duduk di kursi samping Raya. Dilihatnya Raya yang sedang istirahat terlelap dalam tidur siangnya. Tak pernah Hari pikirkan kalau adiknya kini terbaring lemah tak berdaya, Hari juga merasa ada yang ganjil dengan kejadian Raya, tidak mungkin Raya terjatuh begitu saja di kamar tidurnya, sedangkan di kamar Raya tidak ada lantai keramik yang licin, Hari pun ingin menyelidiki kecelakaan yang menimpa adiknya. Dia berencana akan menyelidikinya nanti kalau ada kesempatan untuk pulang dulu ke rumahnya. Karena sekarang giliran kedua orangtuanya dulu yang istirahat di rumah.
Dua jam kemudian, Raya terbangun dan dia melihat kak Hari tertidur disampingnya, seketika Raya tersenyum, dia merasa adik yang paling bahagia karena memiliki seorang kakak yang sayang padanya. Raya pun menyentuh rambut kak Hari, dan kak Hari pun terbangun dengan senyum di pipinya. Dilihatnya adiknya yang sedang tersenyum kepadanya.
"Kamu sudah bangun? Mau minum? atau makan mungkin..." Tanya Kak Hari sambil menyentil hidung imut dan mancung milik adiknya itu.
Raya mencoba mengeluarkan suaranya namun belum keluar juga, dia merasa suaranya tak kan pernah kembali lagi. Raya pun memperagakan minum dan makan dengan tangannya yang masih lemas, dan tangannya pun mengusap-usap perutnya yang lapar seraya tersenyum manis pada kakaknya.
Kak Hari pun mengerti dengan kode gerakan tangan adiknya itu, kak Hari langsung mengambil air minum dan makanan Raya kemudian menyuapinya perlahan.
"Kakak bahagia melihatmu sudah bisa makan dan minum, meskipun dibalik itu kakak sedih melihatmu seperti ini. Kakak berharap besok atau lusa kamu sudah bisa berbicara." Celetuk kak Hari yang masih setia menyuapi Raya.
Raya hanya tersenyum tipis dan menghela nafasnya. Dia ingin sekali memberitahu kakak nya kalau semua ini karena Dwi, tapi dia juga menyayangi Dwi sahabatnya sendiri meskipun dia tau Dwi sudah keterlaluan. Mungkin Dwi melakukan itu karena merasa Raya sudah merebut kekasih pujaannya, padahal itu jauh dari kenyataan, yang ada Raya merelakan orang yang dia sayang untuk Dwi.
Kunyahan Raya jadi pelan dan terhenti, kakak nya merasa ada sesuatu hal yang membuat pikiran Raya terganggu. Mungkin Karena adiknya memikirkan gangguan pada suaranya karena benturannya yang keras.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Kak Hari menatap tajam mata Raya. Raya hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan kunyahan, mungkin tadi Raya menghentikan kunyahan karena membayangkan kejadian kemarin dengan Dwi. Raya pun langsung melanjutkan kunyahan nya, dengan senyum manisnya.
"Ok. Kalau kamu memikirkan tentang gangguan yang kau rasakan sekarang, kamu jangan khawatir, kata dokter besok atau lusa kamu bisa berbicara lagi, asalkan kamu banyak istirahat dan jangan ada pikiran dulu. Harus fresh sayang. Ok!?" Jelas Kak Hari dengan perasaan gemasnya pada adiknya Tangan kak Hari seraya menyubit hidung imut milik Raya. Raya pun kesakitan dan membalas cubitan kakaknya, mereka pun tergelak. Meski tak ada suara yang keluar dari Raya, tapi dia tidak merasa berbeda, yang penting hatinya senang bisa merasakan tawa bersama kakaknya.
Beralih ke Mama dan Papa Raya, suasana hati Mama sendu, mau makan pun tak ada gairah sama sekali, seharian Mama melamun di meja dapur, masak pun Mama malas. Dan Papa tidak tinggal diam, Papa memesan lauk pauk dan makanan ke tetangga seberangnya, untungnya ada tetangganya yang jualan nasi rames, jadi Papa bisa menyediakan makanan untuknya dan istrinya juga.
"Ma... yuk kita makan dulu!" Ajak Papa Raya seraya menyiapkan makanan di meja makan, kalau nasi tadi Mama sudah memasaknya di magic com. Dan Papa siapkan, nasi yang di magic com Papa pindahkan ke bakul nasi untuk makan dua orang saja.
Mama masih melamun, dan tak menjawab ajakan Papa. Papa pun mendekati Mama, dan memeluk Mama dari belakang seraya menyimpan dagunya diatas bahu Mama dan mencium pipi kiri Mama. Mama pun tersenyum manis dan merasa geli.
Papa Raya memang pria yang romantis, pengertian dan setia. Dia selalu menomorsatukan keluarganya, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk mengkhianati cinta kasih Mama, meskipun ada wanita yang mendekatinya dan menggodanya. Papa tidak pernah membuka ruang sekalipun celah pintu sekecil apapun, ruang itu sudah tertutup untuk yang lain, hanya untuk istri dan anaknya saja.
"Yuk, sayang. Kita makan dulu, supaya kita tidak sakit, kasihan Raya kalau kita sakit, apalagi kondisi Raya sekarang, dia butuh kita, sayang..." Timpal Papa Raya yang masih memeluk Mama dari belakang dan dagunya masih disimpan diatas bahu kiri Mama.
"Baiklah Pa..." Jawab Mama seraya tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya. Mama dan Papa pun melangkah berjalan ke meja makan, Papa menyiapkan kursi untuk Mama. Sikap Papa benar-benar membuat Mama sangat dihargai dan dicintai, Mama merasa beruntung memiliki suami yang pengertian seperti Papa Raya.
Mama mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Papa dengan penuh kelembutan dan senyum dipipinya. Papa menatap Mama dengan penuh kasih dan sayang. Mama pun sempat merasa malu dengan tatapan Papa padanya, sehingga membuat wajah Mama merah merona.
__ADS_1
Setelah itu Mama mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri, seketika Papa menggenggam tangan Mama yang masih mengambil lauknya, dan disimpannya sendok yang sedang dipegang Mama, entah mengapa Papa mendekati Mama dan wajahnya semakin mendekat, hingga hidungnya menempal, dan dikecupnya bibir Mama dengan sentuhan lembutnya, terasa hangat dan mesra. Tanpa pikir panjang, Mama membalas kecupan itu. Terjadilah suasana hangat, romantis, dan mesranya ci*man suami istri hingga melupakan perutnya yang lapar.
Alangkah indahnya kejadian tadi membuat hati seakan penuh warna seperti pelangi yang menghiasi langit. Membuat Mama Raya semangat hidup lagi. Mungkin alasan Papa melakukan hal seromantis tadi hanya untuk membuat hidup Mama Raya kembali bersemangat lagi. Dan alhasil Mama sekarang berenergi lagi seperti baterai Alkalin.
"Terimakasih Pa..." Celoteh Mama dengan senyum manisnya seraya mencuci piring bekas makannya tadi.
"Untuk?" Sahut Papa yang sedang mengelap meja makannya.
"Yang tadi Pa..." Tekan Mama yang gereget pada suaminya. Papa ini pura-pura lupa, kebiasaan. Batin Mama.
Papa terkekeh dan menghampiri Mama, diciumnya pipi kiri Mama dari samping seraya memeluk Mama kembali. Tak hentinya Papa Raya membuat hati Mama kembali tenggalam kesuasana hangatnya.
"Apapun akan Papa lakukan untuk membuat hati Mama bahagia. Dan disini Papa ada untuk Mama." Puitisnya kembali lagi. Sungguh dewa pujangga dalam sosok seorang Papa yang terlihat kalem dimata anak-anaknya.
Beralih ke Dwi yang hatinya berkecamuk, hancur dan sakit. Dwi menangisi perpisahannya dengan Angkasa. Tak terbayangkan kalau kekasih pujaannya akan memutuskan hubungan secepat itu, sungguh sakit hati Dwi. Sehingga Dwi melampiaskannya pada barang-barang yang ada di dekatnya. Dia lempar bantalnya, gulingnya, selimutnya, lampu tidurnya segala barang yang dekat dengannya, sehingga handphone dan tasnya dia lempar. Tak peduli kerusakan yang akan membuatnya rugi itu, yang penting buatnya lega dengan perasaan marahnya.
"Aaaaargh......Aku benci kamu Angkasa, kamu bajing*n, kamu lupakan kebaikanku dengan satu kesalahanku. Bajing*n brengs*k!!" Teriaknya seraya terisak-isak.
Sifat Dwi diturunkan dari Papa nya, namun Papa nya sudah berpisah dengan Mama nya sejak Dwi masih kecil. Mereka berpisah karena Papa Dwi sering menampar, memukul, menendang hingga membabi buta terhadap Mama Dwi. Dwi sering melihat Mama nya di hajar habis-habisan oleh Papa nya, dan terekam olehnya bahwa itu hal yang wajar baginya namun cukup menyakitkan. Sehingga dia pun berbuat sedemikian apa yang Papa nya lakukan bila suasana hatinya kacau dan hancur. Sungguh sangat disayangkan bukan? Dan setelahnya dia akan merasa lega namun diakhiri penyesalan.
Tidak lama, berselang lima belas menit, Angkasa datang dengan perasaannya yang marah karena dia telah mengetahui kejahatan Dwi terhadap Raya. Angkasa ingin penjelasan dari Dwi. Namun dia dicegah Mama Dwi, untuk tidak menemui Dwi saat ini.
"Sebaiknya kamu pulang saja, percuma berbicara pada Dwi saat ini. Karena hatinya sedang marah, nanti kamu akan terluka." Celoteh Mama Dwi seraya menahan Angkasa yang sedang menahan amarahnya, kedua tangan Mama Dwi memegang kedua lengan Angkasa dengan sekuat tenaga. Karena Angkasa begitu marah.
"Tapi Tante, dia sudah keterlaluan. Aku ingin penjelasan darinya, kenapa dia tega membuat Raya sampai tak berdaya seperti saat ini." Sahut Angkasa dan sedikit mereda amarahnya.
"Jadi Raya kecelakaan karena ulah Dwi, Angkasa?" Kaget Mama Dwi seraya melepaskan tangannya dari lengan Angkasa dan beliau langsung terduduk lemas. Sungguh ini diluar pikirannya, tak sepatutnya Dwi melakukan tindakan kriminal kepada sahabatnya sendiri.
"Tante, apa Tante baik-baik saja?" Tanya Angkasa seraya membungkukkan badannya dan melihat Mama Dwi yang kelihatan memucat, dia takut Mamanya Dwi pingsan.
"Tante baik-baik saja Angkasa, cuma Tante tidak menyangka tindakannya kali ini sudah keterlaluan, ini sudah masuk ke tindakan kriminal. Seandainya waktu itu dia tidak melihat kekerasan rumah tangga yang dilakukan Papanya dulu terhadap Tante pasti dia akan tumbuh seperti anak-anak yang lainnya. Dan kini dia menjadi anak temperamental seperti Papanya." Jelas Mama Dwi dengan matanya yang sendu dan akhirnya terisak.
Angkasa tak menyangka begitu kelam nasib Dwi yang terlahir dari seorang ayah tempramental. Sekarang dia mengerti kenapa Dwi tega melakukan kejahatan kepada sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Angkasa pun duduk di kursi sofa yang lainnya, dia bingung harus berbuat apa. Dia mengacak-acak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Angkasa memilih menunggu Dwi keluar dari kamarnya, sehingga dia tertidur di sofa itu.
Tiga jam berlalu, Dwi keluar dari kamarnya dengan wajahnya yang kusut dan matanya yang sembab karena menangis dari tadi sampai tertidur. Dia pun kaget melihat Angkasa tertidur pulas di kursi sofanya. Dilihatnya lelaki yang dia cintai, wajahnya begitu tampan dan damai. Dwi ingin sekali memeluk dan merasakan kehangat dalam dekapan Angkasa. Dwi pun menghampiri Angkasa dan duduk dilantai dibawah kursi sofa yang ditiduri Angkasa. Ditatapnya wajah pujaannya, disentuhnya hidung mancungnya lalu bib*r kecil dan tebal milik Angkasa, disentuhnya terus menerus, ingin rasanya bib*r Dwi mendarat di atas bib*r Angkasa dan merasakan aroma naf*snya juga sentuhan hangatnya.
Seketika Dwi pun melakukannya, dan terus semakin dalam hasratnya. N*fsunya sudah membendung dalam benaknya untuk memiliki seutuhnya. Ketika merasakan kehangatan sentuhan bib*r dan aroma naf*s Angkasa, Angkasa pun terbangun dari tidurnya dan dia benar-benar kaget. Karena baru kali ini dia dici*um seperti itu, terasa sedikit pan*s. Mungkin hasr*t Dwi begitu dalam kepada Angkasa. Sehingga dia berani melakukan itu.
Mata Dwi membola kaget ternyata Angkasa langsung terbangun, begitu juga dengan Angkasa yang merasa ini tidaklah benar. Angkasa terperanjat dan langsung berdiri menghindari Dwi. Dia tidak ingin ikut larut dalam suasana hening, sepi dan panas itu. Sungguh ia merasa ini bukanlah Dwi yang dia kenal.
"Apa - apa an kamu Dwi?" Heran Angkasa seraya matanya menatap tajam dan bib*r Angkasa pun ia lap dengan tangannya sendiri.
"Aku sungguh sangat mencintaimu Angkasa, aku rela bila mungkin aku harus menyerahkan tub*hku ini padamu." Celoteh Dwi dan langsung berdiri seraya berjalan mendekati Angkasa.
"Kamu g*la Dwi!! Harga dirimu dimana Dwi!?" Sentak Angkasa dan melangkah mundur menjauh dari Dwi.
"Aku memang sudah g*la, g*la terlalu mencintaimu. Apapun akan kulakukan asal kau tetap menjadi milikku seutuhnya." Ketus Dwi dengan menaikan nada bicaranya. Suaranya terdengar oleh Mama nya. Dan Mama nya sangat terkejut dengan ucapan anaknya itu. Mama Dwi langsung menghampiri mereka, dan berusaha menyadarkan Dwi.
"Dwi kamu benar-benar sudah diluar batas. Apa yang ada dalam otak mu!?" Teriak Mama Dwi.
"Angkasa sebaiknya kamu pergi saja, biar ini jadi urusan Tante." Timpal Mama Dwi seraya mendekati Angkasa dan mempersilahkan Angkasa untuk pergi dari sana. Mama Dwi tidak ingin anaknya melakukan hal bodoh (menyerahkan keperaw*n*nanya diluar nikah)
"Maaf Dwi." Lirih Angkasa seraya pergi keluar dengan jalan sedikit cepat, karena dia tidak ingin berlama-lama terdiam disana.
Dwi hanya tertunduk dan matanya pun sendu dan dia pun langsung terisak. Melihat itu, Mama nya langsung memeluknya dan memberikan kehangatan yang Dwi inginkan dari seorang ibu yang mungkin bisa sedikit mendamaikan suasana hatinya.
"Maaf sayang, Mama hanya tidak ingin kamu melakukan hal bodoh yang akhirnya akan membuat kamu menyesalinya seumur hidupmu. Kamu boleh mencintai seseorang tapi kamu harus ingat, bila orang itu sudah tak mencintaimu, lepaskan dia, jangan kamu paksa, itu tidak akan baik sayang. Itu malah akan menyakiti dirimu sendiri dan bahkan orang-orang yang kamu cintai dan sayangi akan merasa tersakiti." Jelas Mama Dwi yang masih memeluk dan mengusap-usap punggungnya.
"Tapi Ma, aku tidak ingin kehilangan dia. Aku sangat mencintai dia Ma. Aku takut, tidak bisa hidup tanpa dia." Rengek Dwi dengan isakannya yang semakin menjadi.
"Kamu salah sayang. Tanpa dia kamu pasti akan baik-baik saja. Karena Mama tau, kamu bukan mencintai dia tapi kamu hanya berambisi ingin menang dari Raya kan? Dari dulu kamu tidak suka bila melihat Raya atau temanmu yang lain, lebih segalanya darimu. Sudahlah Dwi, jalani hidup semampumu. Jangan terlalu paksakan ambisimu itu, belajarlah ikhlas menerima kenyataan sayang. Bila kau ikhlas, yakinlah sesuatu yang indah itu akan datang menghampirimu." Tutur Mama Dwi.
Air mata Dwi pun perlahan berhenti mengalir, dan isakannya pun sudah tak terdengar. Entah apa yang ada dalam hatinya, entah dia akan mencoba untuk ikhlas atau dia tetap dengan ambisinya.
* * *
__ADS_1