Aku Di Matamu

Aku Di Matamu
Bab 7


__ADS_3

Jari jemari Raya mulai bergerak, layar monitor EKG pun menunjukan denyut jantung Raya yang normal. Mata Raya mulai terbuka, dilihatnya ruangan kecil dan alat-alat medis menempel padanya, tangannya juga dimasukan jarum infusan dan hidungnya pun dipasang selang oksigen. Kepalanya dibalut perban dan terasa berat juga nyeri. Teringat kejadian yang dialami Raya sebelum terbaring lemah tak berdaya, Dwi sudah diluar kendali, Raya pun meneteskan air matanya, rasanya lebih sakit dari yang ia rasakan sekarang. Sahabatnya yang dulu menyayanginya dan selalu mendukungnya, kini membencinya malah mungkin lebih dari itu. Dia tidak mengira kalau cintanya dengan Angkasa akan mengakibatkan seperti ini. Padahal dia tidak ingin merebut Angkasa, dia cukup memiliki rasa itu. Cinta membuatnya seperti ini, tak ingin lagi dia jatuh cinta, tak ingin lagi dia dicintai. Cukup satu kali saja.


Dokter pun memberi kabar yang baik kepada keluarga. Dan mereka diizinkan masuk untuk melihat Raya, namun dibatasi cukup seorang atau dua orang saja. Mama dan Papa orang yang pertama melihat Raya. Mama langsung memeluk dan mencium kening Raya, dia melihat anaknya yang cantik jadi layu, dia juga melihat air mata masih membasahi pipinya, disekanya air mata itu sama Mama.


"Alhamdulillah, kamu sadar nak. Mama takut sayang" Mama masih memeluk Raya. Raya tersenyum tipis, mencoba untuk kuat. Raya belum bisa berbicara, rasanya mengeluarkan suara terasa berat baginya, jadi dia hanya mengangguk dan tersenyum.


"Kamu kuat kan nak? Papa yakin kamu bisa melalui semua ini." Harap Papa Raya sambil menggenggam tangan kiri Raya. Raya tersenyum simpul dan mengangguk. Dia tidak ingin menampakan kalau hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Diluar ada kak Hari dengan Angkasa, kata Dokter kami hanya bisa melihatmu 10 menit. Sekarang giliran mereka ya?" Ucap Papa, tetapi Raya menggelengkan kepala, dia meremas tangan Papanya. Papa merasa mungkin anaknya ketakutan. Papa pun diam sejenak, dan menenangkan Raya. Padahal Raya tidak ingin bertemu Angkasa, dia tidak mau hatinya semakin sakit.


"Tenang sayang, Papa dan Mama ada disini, kami menunggumu di depan ya?" Papa meyakinkan Raya, meski Papa tahu Raya itu anak gadisnya yang lemah. Tapi dia selalu mengajarkan untuk kuat dan harus kuat. Raya pun mengangguk dan melihat mereka keluar ruangan. Tidak lama berselang 5 menit, kak Hari dan Angkasa masuk. Kak Hari langsung memeluk Raya, sedangkan Angkasa tersenyum manis merasakan kebahagiaan yang tak bisa terbendung, rasanya dia ingin memeluk Raya dan melepas kerinduannya. Tapi di pikir lagi, takutnya Raya menolaknya dan juga ada kak Hari, pasti akan memarahinya.


Mata Raya sama sekali tidak mau melihat Angkasa, rasa sakit dihati kalau dia melihat Angkasa. Matanya hanya tertuju sama kak Hari saja. Tak ingin dia indahkan keberadaan Angkasa disana. Angkasa pun merasa Raya tidak menyukai kehadirannya. Pikir Angkasa, mungkin Raya menjaga jarak padanya, hanya untuk mengindahkan perasaan Dwi.


Tapi disini tidak ada Dwi, ah mungkin dia takut Dwi tiba-tiba datang. Yang penting hati ini tetap milikmu Raya.


"Raya, kamu terluka seperti ini awalnya seperti apa? ko bisa sampai berdarah banyak sekali, kalau jatuh biasa, mungkin tidak akan seperti ini, tapi kalau akibat dorongan yang kencang, bisa jadi seperti ini. Jujur saja, bagaimana kejadiannya?" Tanya ka Hari, sambil menggenggam tangan kiri adiknya dan berdiri aga membungkung condong mendekati adiknya itu.


Raya hanya bereaksi tersenyum tipis dan menggelengkan kepala, entah kenapa mau mengeluarkan suara terasa berat dan sakit. Apa mungkin saraf komunikasinya terganggu. Hari merasa heran dengan keadaan Raya, kenapa adiknya ini tidak mau berbicara?


Kenapa dengan Raya? Biasanya dia tidak seperti ini, apa mungkin karena baru siuman.


"Raya kenapa tidak menjawab? coba kamu ucapkan kata apa gitu..." Pinta kak Hari yang masih berdiri disamping Raya.


Raya pun mencoba untuk berbicara, tetapi sulit sekali untuk mengeluarkan suara, meskipun sudah berusaha. Kak Hari pun langsung menekan tombol emergency di atas kepala dekat ranjang Raya. Angkasa merasa sedikit panik, takut Raya jadi tidak bisa berbicara, akibat benturan dikepalanya.


Tidak lama Dokter dan perawat masuk keruangan Raya


"Ada apa dengan pasien?" tanya dokter, dilihatnya seperti tidak terjadi apa-apa. Kak Hari pun menjelaskannya dengan baik.


"Sepertinya adikku kesulitan berbicara dok." jelas Kak Hari sambil melangkah mundur, mempersilahkan dokter memeriksa Raya.


Kemudian Dokter memeriksa Raya dengan sangat teliti, Kak Hari dan Angkasa pergi keluar sebelum dokter memintanya.


"Ada apa? kenapa Dokter masuk lagi?" Tanya Mama penasaran. Kak Hari menghela nafasnya, dan kemudian menjelaskannya apa yang tadi terjadi dengan adiknya.


"Raya kesulitan berbicara tidak ada suara yang keluar sepatah kata pun." Jelas Kak Hari, seketika mata Mama sendu dan berlinang air mata, air matanya pun berjatuhan ke pipinya dan terisak. Kak Hari mendekap Mama dan membelai jilbab Mama. Rasanya begitu sakit mendengar Raya tidak bisa berbicara, bagaimana nanti dia berkomunikasi dan melanjutkan hidupnya. Apakah dia akan kuat?


Ketika suasana sendu seperti itu, Dwi dan Bram datang bersamaan, mereka sempat mendengar penjelasan Kak Hari. Dan mereka benar-benar kaget dengan apa yang terjadi dengan Raya, meski ada kabar baik Raya sudah sadar, tapi Raya sekarang jadi cacat. Dwi semakin merasa bersalah, tak ada niat dia untuk membuat Raya seperti ini. Dwi pun sendu dan air mata pun membasahi pipinya. Bram hanya terdiam dan mengatur nafasnya yang sesak, dia tidak percaya wanita yang dia puja sekarang cacat. Rasanya pahit sekali, apa harus dia melanjutkan mendekati Raya atau cukup sudahi saja disini?


Maaf Raya, semua salahku, aku terlalu egois dan berambisi. Aku tak berfikir akan seperti ini. Aku sahabatmu yang picik yang tidak punya hati, maaf Raya maaf... Batin Raya yang masih terisak.


Angkasa menghampiri Dwi, didekapnya kekasihnya itu, meski mereka sekarang sedang berantem, tapi Angkasa mengenyampingkan dulu rasa kesalnya sama Dwi. Dia tenangkan dulu hati kekasihnya, dia tahu meskipun Dwi sempat kesal karena Angkasa menyukai Raya, Dwi tetap sahabatnya yang sayang sama Raya.


Beberapa menit berlalu...

__ADS_1


Dokter pun keluar dengan memberitahu keadaan pasien.


"Akibat benturan kepala yang sangat keras, Raya mengalami gangguan berbicara, jadi untuk beberapa hari ini, mungkin Raya tidak bisa berbicara. Ini juga bisa diakibatkan karena stress dan kelelahan. Jadi Raya butuh istirahat dan jangan dulu menanyakan atau membahas permasalahan, lebih baik buat dia happy dan bila dia tidak suka dengan sesuatu lebih baik hindarkan itu untuknya." Jelas Dokter.


"Baik dok terimakasih banyak" sahut Papa Raya.


Dwi pun melepaskan dekapan Angkasa, dan menyeka air matanya. Angkasa pun melepaskannya, dan langsung bertanya sesuatu hal dan membuat Dwi bingung.


"Apa kamu mau melihat Raya?" Tanya Angkasa sambil tersenyum simpul. Dwi merasa kebingungan, dia takut kondisi Raya semakin down bila melihat Dwi ada dihadapannya, tapi dia ingin melihat sahabatnya dan meminta maaf padanya.


"Aku ..aku .. " mulut Dwi bergetar ketakutan. Angkasa menatapnya dalam, tak biasanya Dwi seperti ini, atau mungkin Dwi kaget mendengar penjelasan dokter.


"Kamu kenapa? Aku yakin Raya akan senang melihatmu." Angkasa memberi semangat kepada Dwi.


"Aku ingin sekali melihat Raya, tapi kamu ingat kan tadi apa kata dokter? Dia butuh istirahat." Jelas Dwi, dan sedikit berkilah dengan alasan yang tepat dan benar. Angkasa pun teringat pesan itu dan mengiyakannya. Pantas saja tadi Raya langsung tidak bisa berbicara, mungkin karena melihat dirinya.


Suasana pun seketika jadi terasa dingin dan hening, Suara Kak Hari pun memecahkan suasana itu.


"Sebaiknya semuanya pulang dan beristirahat, dan terimakasih atas do'a dan kesetiaannya menunggu Raya sampai sadar. Biar aku sendiri yang disini menjaga adikku sendiri." Ucap Kak Hari.


" Mama Papa, sebaiknya pulang dulu kerumah, istirahatlah. Biar Raya dengan Hari. Nanti kalau ada kabar baik lagi, Hari hubungi Mama atau Papa." Timpal Kak Hari.


"Iya baiklah kami istirahat dulu. Terimakasih nak. Dan kabari kami terus ya?" Papa menepuk bahu kak Hari 3x, dan memberi semangat. Papa pun mengajak Mama istirahat dulu, biar Mama bisa mengisi perut dulu, karena dari siang sampai sekarang sudah pagi, Mama tidak tidur dan juga tidak makan. Papa takut nanti Mama malah tumbang.


Disepanjang lorong rumah sakit, Bram mengingatkan Angkasa karena perlakuannya pada Dwi semalam.


"Angkasa, sebaiknya kamu jangan pernah menyakiti pasanganmu, seperti tindakan kamu semalam. Jaga perasaannya jangan menyimpulkan sesuatu yang belum pasti." Sahut Bram dan langsung melenggang pergi, sampai punggungnya pun tak terlihat.


Angkasa menghela nafas panjang dan menatap Dwi dengan dalam, dilihatnya wanita yang selama ini setia menemaninya. Dia baik dan sedikit manja, tapi dia juga cukup picik, dia lakukan segala cara untuk mendapatkan yang dia inginkan.


"Dwi kita harus bicara, tapi sebelumnya kita cari makan dulu yuk. Aku laper, kamu laper juga kan?" Ucap Angkasa yang masih berjalan disamping Dwi. Dwi mengiyakan ucapan Angkasa, dan mereka pun pergi ke tempat makan. Semalam cukup melelahkan menunggu Raya sadar dari masa kritisnya. Dan mereka pun memilih tidak makan, jadi sepagi ini perut sudah berdemo minta makan.


Sesampainya ditempat makan, mereka memesan makanan yang mengenyangkan. Sambil menunggu makanan datang, Dwi menanyakan hal yang ingin Angkasa bicarakan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Dwi sambil meminum teh hangat yang baru datang barusan.


"Nanti saja kalau sudah selesai makan. Aku ingin mengisi perutku dulu, rasanya perutku sudah demo sejak tadi." Jelas Angkasa. Angkasa tidak ingin membuat nafsu makannya jadi hilang, karena ini soal hubungannya dengan Dwi. Dia juga tidak ingin membuat selera makan Dwi jadi hilang.


Lima belas menit kemudian makanan pun datang, dan mereka langsung memakannya dengan lahap, apalagi Angkasa karena lebih lelah menunggu Raya dan menahan laparnya dari semalam. Sampai makanannya pun tidak bersisa sedikit pun.


"Kamu benar-benar lapar? Sampai lahap dan bersih di piringmu tak bersisa satu pun, kecuali piring, sendok dan garpu." Celoteh Dwi dengan sedikit ledekan.


Sedangkan Dwi masih melanjutkan makannya, tapi dia menghentikannya karena sudah cukup kenyang.


"Ya, aku memang lapar. Kamu tidak menghabiskan makanannya?" Tanya balik Angkasa sambil meminum teh tawar hangatnya sampai tegukan terakhir.

__ADS_1


"Sudah kenyang, porsinya terlalu banyak." Jawab Dwi sambil mengusap perutnya yang kekenyangan.


"Oh iya, apa yang ingin kamu bicarakan? Apakah penting?" Tanya Dwi penasaran sedari tadi memikirkan apa yang akan Angkasa bicarakan sepagi ini.


Angkasa menelan salivanya dan menghela nafasnya panjang. Digenggamnya tangan kiri Dwi yang berada tepat diatas meja dekat dengan tangan Angkasa.


"Dwi. Kau tau kan dulu sewaktu kamu mengungkapkan perasaanmu, aku belum mencintaimu namun saat itu aku hanya mengagumimu. Dan kau selalu hadir menemaniku disaat aku merasa sepi dan disaat aku membutuhkan kehadiran Raya, kau selalu ada. Dari sana aku mulai sadar kau adalah wanita yang baik dan pengertian. Tapi apakah kau tau? Didalam hatiku ini masih tersimpan nama seseorang, yang mungkin susah untuk aku lupakan. Maaf Dwi, aku bukan bermaksud untuk menyakiti hatimu. Tapi aku hanya ingin kau tau, kalau hatiku ini masih menginginkan cintanya." Jelas Angkasa.


Hati Dwi merasa sakit sesakit sakitnya, terasa dicobak cabik dan diporak porandakan, tak ingin rasanya dia mendengar penjelasan yang sesakit ini dari mulut kekasihnya, tapi itu memang kebenarannya, dia mengetahui kalau kekasihnya dari dulu mencintai sahabatnya sendiri, tapi dia sembunyikan hal itu, dia tidak ingin lelaki yang dia suka menjadi milik sahabatnya, jadi dia menikung sahabatnya sendiri. Dan kini akhirnya perasaan itu pun diketahui sahabatnya sendiri begitu pun sebaliknya.


Entah apa yang harus Dwi lakukan saat ini apakah dia harus mundur dan menerima kenyataan pahit ini, atau dia bertahan dan memaksakan Angkasa untuk selalu menjadi kekasihnya. Tapi memaksa hanya akan menyakiti hatinya dan hati yang lainnya. Entahlah Dwi bingung akan pilihannya.


"Dan aku pun merasa hubungan kita tak akan baik kalau terus dilanjutkan, aku bukan bermaksud mematahkan hatimu yang begitu mencintaiku, tapi aku tidak ingin kau merasakan sakit yang begitu dalam." Timpal Angkasa yang masih menggenggam tangan kiri Dwi. Seketika mata Dwi sendu dan berlinang lah air matanya. Angkasa semakin erat menggenggam tangan Dwi. Dia tau pasti rasanya sakit dan hancur. Tapi jujur itu lebih baik dari pada nanti Angkasa akan semakin menyakiti hati Dwi.


"Maaf Dwi, aku tidak bermaksud untuk menghancurkan hatimu. Tapi aku hanya ingin jujur dengan perasaanku saat ini dan mungkin jauh sebelum hari ini. Aku sudah membohongi perasaanku sendiri, dan itu membuatku sakit Dwi." Mata Angkasa pun sendu, dan berjatuhan tanpa tak tertahankan.


"Jadi maksudmu, kau ingin memutuskan hubungan kita sampai disini?" Lirih Dwi dengan hatinya yang hancur.


Angkasa menunduk tak kuasa mengatakan iya pada kekasihnya itu, dia hanya terdiam dan melepaskan genggamannya yang tadinya erat menjadi terlepas begitu saja. Dwi menganggukkan kepalanya dan mengerti dengan jawaban Angkasa. Akhirnya hatinya benar-benar hancur sehancur hancurnya. Dwi berdiri dari duduknya dan mengambil gelas yang ada dihadapannya, dia siramkan pada ubun-ubun Angkasa, padahal airnya tinggal sedikit lagi, meskipun sedikit tapi itu membuat hati Dwi yang kesal merasa terobati meski tak akan sembuh sampai kapanpun.


Angkasa menerima apapun perlakuan Dwi, meskipun dia ditampar berkali-kali atau dipukul dia terima dengan lapang. Yang dipikirannya saat ini, dia ingin jujur dengan perasaannya, tak ingin dia menyakiti hatinya dan hati yang lainnya semakin dalam. Cukup dia akhiri sampai disini.


"Maaf Dwi..." Lirih Angkasa dan menatap Dwi yang wajahnya merasa kesal dan air matanya masih membasahi pipinya.


"Maaf tak cukup bagiku Angkasa! Aku tak rela melepaskan mu begitu saja. Aku tak ingin hubungan kita berakhir sampai disini, karena cintaku terlalu besar untukmu. Kau tau? Kenapa keadaan Raya seperti sekarang? Itu karena ...." Tutur Dwi dan perkataannya terputus begitu saja, dia takut Angkasa membencinya, haruskah dia berkata sebenarnya dengan apa yang terjadi dengan Raya.


"Itu karena apa Dwi?" Heran Angkasa seraya menengadah menatap kedua mata Dwi dengan tajam.


"Ka - ka - karena..." Suara Dwi terbata-bata, dia takut Angkasa marah dan membencinya.


"Iya karena apa!?" Bentak Angkasa karena Dwi gugup dan membuat Angkasa penasaran.


"Karena aku yang membuat Raya tak berdaya!!" Ketus Dwi seraya mengepalkan kedua tangannya.


"Apa!?" Angkasa terperanjat dan langsung berdiri, matanya menatap Dwi dengan sangat tajam, dikepalkannya kedua tangannya. Seandainya Dwi laki-laki sudah Angkasa hajar sampai babak belur, tapi dia seorang wanita.


Angkasa merasa tak habis pikir, Dwi tega melakukan itu, Dwi terlalu ambisi dan emosional sehingga membuat Raya tak berdaya. Manusia macam apa wanita yang ada dihadapannya sekarang ini, tak ada hati kah untuk mengasihani sahabatnya? Apa cinta yang membuat Dwi buta sehingga membuat sahabatnya tak berdaya? Sungguh mengiris hati.


"Kamu tega !! Hatimu sudah busuk atau hilang tak ada sisa? Rasa kagum ku sirna mengetahui kau berbuat seperti itu. Pantas saja kau terus-menerus menangisi Raya dan kau tidak berani bertemu dengannya. Jadi ini yang kau sembunyikan dari ku dan keluarganya, hah!!?" Ketus Angkasa yang masih berdiri dan menatap Dwi tajam, tangannya pun masih dikepalkannya menahan emosinya yang akan meledak.


"Iya aku memang tega. Aku lakukan itu karena aku terlalu cinta sama kamu!!" Ketus Dwi dan dia langsung pergi meninggalkan Angkasa begitu saja. Dwi tidak ingin emosinya semakin memuncak dan tak terkendali. Dia juga merasa malu karena dia beradu mulut dengan kekasihnya di tempat umum. Padahal disitu belum banyak orang, cuma ada 2 pembeli lainnya dan 3 orang pelayan, tapi itu membuatnya rendah dimata orang-orang. Karena dia mengakui kejahatannya didepan khalayak umum.


Angkasa menarik dan mengeluarkan nafasnya secara cepat dan kemudian beraturan, dia langsung menyimpan uang 3 lembar warna merah diatas mejanya, dan langsung pergi begitu saja untuk menyusul kepergian Dwi yang punggungnya sudah tak terlihat oleh matanya.


* * *

__ADS_1


__ADS_2