
Satu jam berlalu, Penanganan Raya sudah selesai, dan Raya masih dalam keadaan kritis. Mama Raya pun sudah duduk diantara Papa dan kak Hari, sedangkan Dwi duduk di samping Angkasa. Bram berdiri didekat Angkasa, rasanya ini sangatlah membuat mereka gundah gulana dan merasa takut akan kehilangan seseorang yang mereka kasihi.
Tiba-tiba Dwi menangis dan menggenggam tangan Angkasa, diremasnya tangan Angkasa, Angkasa langsung membalas remasan Dwi, dan dia merangkul Dwi, Angkasa tahu meskipun Dwi sudah menyakiti hatinya dengan kepicikiannya untuk menghadang asmara dia dengan Raya, Angkasa masih ada rasa iba terhadap Dwi, mungkin Dwi melakukan itu karena terlalu mencintai Angkasa.
Bram melirik mereka dan berdehem, dia tidak suka melihat kemesraan mereka disaat hatinya sedang gelisah menunggu Raya yang sedang melawan masa kritisnya.
"eheeeem" Deheman Bram membuat Angkasa melepas rangkulannya. Angkasa mengangkat wajahnya dan melihat ke arah mata Bram.
"Bisa tidak disini?" bisik Bram
"Maaf" Angkasa berdiri dan mendekati pintu ICU, dilihatnya dari kaca pintu, ingin dia melihat Raya dan duduk disamping Raya menemani Raya dari masa kritisnya, Angkasa merasa takut, dia terus bergumam dan memanjatkan do'a untuk Raya.
Tidak lama Dokter keluar dari pintu ICU dan mengagetkan Angkasa.
"Alhamdulillah pasien Raya sudah melewati masa kritisnya, tapi masih harus tetap di ruang ini, untuk penanganan lebih lanjut, kami akan melihat sampai 3 jam dari sini, apakah ada perkembangan lebih baik atau malah akan memburuk. Kami mohon bantuan do'anya." Jelas Dokter membuat hati keluarga dan orang-orang yang menyayangi Raya merasa lebih tenang, namun masih mengambang karena ada kemungkinan memburuk.
"Terimakasih banyak Dok". Ucap Angkasa yang berada di bibir pintu samping Dokter berdiri. Dokter hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dan dia pun berlalu pergi, mungkin istirahat dulu.
"Tante, Om, saya permisi mau ke Mushola dulu, mungkin dengan bermunajat kepada sang Maha Pencipta dan sang Maha pengasih dan penyayang, Raya akan segera membaik." Angkasa pun berlalu pergi ke Mushola, dia tidak mempedulikan Dwi yang masih menyeka air matanya. Dwi tahu kalau Angkasa sangat menyayangi Raya. Tak seharusnya Dwi menghalangi kisah asmara mereka. Dwi pun bernadzar dalam hatinya, bila Raya sadar, dia akan menyerahkan Angkasa untuknya. Karena ulah Dwi, Raya jadi seperti ini. Entah bila keluarga Raya atau Angkasa tahu, kalau ini adalah ulah Dwi, pasti tiada maaf.
"Pa... Mama takut." Lirih Mama Raya.
Papa langsung merangkul dan memeluk Mama Raya, dikecupnya kening istrinya itu dan diusapnya jilbab Mama Raya. Kemudian membisikan sesuatu sama istrinya.
"Kau tahu? Aku ada disini, dan do'a kan yang terbaik untuk anak kita. Dan benar kata Angkasa tadi, sebaiknya kita bermunajat kepada-Nya. Hanya Allah semata yang akan menolong kita dan menyembuhkan anak kita." Bisik Papa Raya yang masih memeluk istrinya. Mama pun menyeka air matanya, dan mengiyakan bisikan suaminya.
Mereka pun langsung pergi ke Mushola dan diikuti dengan kak Hari. Sedangkan Dwi dan Bram memilih duduk menunggu kabar baik Raya, semoga saja semuanya baik-baik saja.
Bram menatap Dwi, dan mendekat duduk disamping Dwi. Tiba-tiba Bram merangkul Dwi, kegenitannya mulai datang kembali, dasar lelaki buaya. Disaat seperti ini, masih bisa-bisa nya dia mencuri kesempatan dalam kesempitan. Dwi menatap Bram, dan mengerutkan dahinya. Dilepaskannya rangkulan Bram.
"Apa-apaan..." Celoteh Dwi.
"Sudahlah, aku hanya merangkul tidak lebih.Aku hanya ingin menenangkan kegundahanmu. Itu saja. Kalau kamu tidak suka ya sudah, aku tidak memaksa." Jelas Bram.
"Ga jelas." Timpal Dwi dan langsung berdiri dan menjauh dari Bram.
"Tidak usah menjauh seperti itu donk, aku jadi tersinggung, memangnya aku punya penyakit menular, aku sehat lahir batin. Kalau aku sakit, mungkin darahku tidak akan diambil." Bram merasa tersinggung dengan apa yang dilakukan Dwi.
Laki-laki ini memang aneh, padahal dia itu kegenitan, mana suka Dwi diperlakukan seperti itu, meskipun dia sedang membutuhkan kehangatan dan ketenangan untuk hatinya. Tapi kalau tiba-tiba diperlakukan seperti itu oleh lelaki yang bukan pacarnya atau pun bukan keluarganya, mana mau.
Dwi hanya mengangkat kedua bahunya dan matanya memutar dan tak ingin dia melihat Bram. Pikirnya lelaki itu memang tidak waras, tangannya kegatelan, tak bisakah dia diam sejenak, menjaga rasa malunya dan menghormati wanita sebagaimana mestinya.
"Kamu sudah lama berteman dengan Raya?" tanya Bram sedikit mengulik tentang Raya.
"Kemana saja kamu Bram selama ini, bukankah kamu tahu, kami selalu berdua malah bertiga dengan Angkasa." Sewot Dwi dengan matanya yang judes, Apakah tidak ada percakapan yang lain, basi banget. Gerutu Dwi dalam hatinya.
"Ko kamu sewot, aku cuma nanya. Aku tahu kalian berteman, tapi kan aku tidak tahu kalian mungkin berteman sejak lama atau pas bergabung di tim relawan. Makanya aku nanya." Jelas Bram, matanya masih memperhatikan Dwi dari atas ke bawah ke atas lagi.
__ADS_1
"Iya aku berteman dengan Dwi pas masih kelas 3 SMP. Jadi kami berteman sudah lama, dan dia teman sekaligus sahabat terbaik yang pernah ada untukku. Seandainya kejadian itu ...." Penjelasan Dwi terpotong, hampir saja keceplosan. Bram sedikit curiga dengan kalimat terakhir Dwi. Dia pun penasaran dan berharap Dwi melanjutkan kalimatnya.
"Seandainya kejadian itu ... terus lanjutannya apa? Ko malah diam? Apa ada yang disembunyikan?" Tanya Bram menatap Dwi curiga.
Dwi gelagapan, dia mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin kejadian tadi terungkap dengan begitu saja, dia belum siap dibenci Angkasa kekasih pujaannya dan dibenci keluarga Raya. Gara-gara egonya, Raya jadi terbaring tak berdaya. Seandainya saja dia menahan emosinya tadi, mungkin Raya baik-baik saja.
"Kamu suka ya sama Raya?" Dwi berhasil mengalihkan pembicaraan.
"Kamu ko tahu? Raya cerita ya sama kamu?" Bram balik bertanya dengan senyum manis di pipinya. Dwi menatap Bram yang sedang kegeeran, dia tidak menyangka kalau pertanyaannya dijawab dengan terbuka, tanpa ada rahasia.
"Tidak, dia belum pernah cerita. Tapi dulu aku pernah menggodanya, karena sering memperhatikan kamu. Tapi dia selalu menjawab kalau kamu bukan tipenya. Dan aku kira kamu tidak menyukainya atau tidak tertarik dengan dia. Karena kamu sering dikelilingi wanita-wanita cantik dan seksi." Jelas Dwi. Ternyata benar dugaan Bram, Raya sering memperhatikannya walaupun tak pernah mempedulikannya. Ini celah Bram untuk masuk dihati Raya, ada kesempatan yang tak terduga olehnya.
"Ooo... jadi dia selalu memperhatikan aku. Mungkin saja dia malu harus bersaing dengan wanita-wanita pengagumku. Aku sih sama wanita-wanita itu hanya main-main saja, tidak pernah tuh aku serius dengan mereka. Dari pada nganggur ga ada acara, ya aku ladeni mereka aja, lagian ga ada ruginya juga aku ladeni mereka. Tapi kalau semisal Raya menerima cintaku. Aku janji ga bakal tuh meladeni mereka." Jelas Bram sambil melihat ke kaca pintu ICU, dia berharap Raya cepat sadar.
"Beneran kamu suka sama Raya?" Tanya Dwi sekali lagi, menurut Dwi ini adalah celah terbaiknya, dia akan mendukung Bram sepenuhnya, siapa tahu nanti Raya membuka hatinya untuk lelaki yang ada dihadapannya sekarang. Dan Dwi pun bisa memiliki Angkasa sepenuhnya tanpa harus berbagi dengan Raya sahabatnya. Tapi bukankah itu melanggar nadzarnya yang tadi dia ucapkan dalam hatinya. Ini membuat Dwi bimbang.
"Dwi, bisa kan bila Raya sudah sadar, bantu aku dekat dengannya?" dirapatkannya kedua telapak tangan Bram sedikit memohon. Dwi hanya tersenyum sedikit dan menaikan alisnya.
Tanpa mereka sadari, Angkasa sudah berada disana, dan dia mendengar percakap mereka berdua, Angkasa hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Dwi pun tersadar melihat Angkasa sudah berdiri dibelakang mereka, matanya membola terkejut. Kalau Bram biasa saja karena menurut Bram mereka sepasang kekasih dan tidak mungkin Angkasa melarangnya.
"Aku keberatan, aku tidak mau sahabat ku mempunyai pacar hidung belang seperti kamu Bram. Meskipun kamu sudah membantu kami, dan bila itu membuat kami harus berbalas Budi sama kamu, aku tetap keberakatan dengan itu." Jelas Angkasa dengan sedikit mengingatkan Bram. Angkasa tahu persis Bram lelaki macam apa, begitu pun dengan Dwi dan Raya. Bila Dwi menyetujuinya dan membantunya, Angkasa akan semakin membenci Dwi. Karena sudah menjerumuskan Raya ke lubang buaya.
"Dan kamu Dwi, aku perhatikan kamu senang Bram menyukai Raya. Aku kira kamu sahabat yang baik, ternyata...kamu..." Angkasa jadi jijik melihat Dwi seperti itu, dia tidak menyangka sebenci itu kah Dwi kepada Raya. Padahal sahabatnya kini sedang terbaring tidak sadarkan diri.
"Mungkin kamu tadi menangis bukan dari hati. Itu hanya sekedar rasa bersalah aja." Timpal Angkasa cukup pedas juga, sehingga mata Dwi berkaca-kaca. Bram membela Dwi dan tidak terima dengan perkataan Angkasa yang menganggap dirinya itu mengharapkan balas Budi dan juga dia di cap lelaki hidung belang.
Air mata Dwi pun menetes dan seketika Bram merangkul Dwi dan menenangkan Dwi. Angkasa pun mendekat ke arah Dwi, dan meminta maaf akan perkataannya tadi.
"Maaf Dwi, aku tadi emosi. Karena rasa ini terlalu besar untuk Raya, dan Bram maafkan aku juga, sudah keterlaluan, tak seharusnya aku emosi seperti tadi." Lirih Angkasa sambil menyeka air mata Dwi. Dan Bram pun melepaskan rangkulannya.
"Sebesar itu kah rasa sayang mu kepada Raya? Sehingga hatiku kau sakiti?" Pertanyaan Dwi, membingungkan Bram, ada apa ini? apakah cinta segitiga? batin Bram.
"Maaf Dwi, maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu." Angkasa tak bisa menjelaskan lagi, karena ada Bram. Dia tidak ingin masalahnya semakin keruh, ini harus dibicarakan empat mata.
"Sudahlah Angkasa, sekarang sudah jelas, kalau kamu lebih memilih Raya sahabatmu dibandingkan aku kekasihmu." Dwi pun pergi dari ruang itu, dia berjalan melangkah melalui lorong-lorong. Bram menggelengkan kepalanya dan langsung pergi menyusul Dwi yang sudah jauh dari sana malah batang hidungnya pun sudah tak terlihat.
Angkasa menjambak rambutnya sendiri dan melepas amarahnya. Dia merasa bersalah dengan perkataannya tadi. Angkasa pun duduk di kursi dan merenung sebentar, masalahnya saat ini adalah memperbaiki hubungannya dengan Dwi, tetapi dia juga harus mengakhiri hubungannya dengan Dwi. Dia sudah tidak bisa lagi membohongi perasaannya.
Beralih ke Dwi dan Bram, langkah Dwi terhenti oleh Bram, ditariknya pergelangan Dwi. Dwi pun langsung berbalik ke arah Bram, pergelangannya masih digenggam Bram, ditatapnya wajah Bram yang tampan dan senyumnya yang mempesona, memang Bram lelaki yang sempurna Dimata para wanita, Dwi mengakuinya. Air mata Dwi pun diseka Bram, seketika Dwi sadar dan melepaskan genggaman Bram.
"Lepas." Lirih Dwi
"Ok." Bram melepaskan genggamannya. Dwi pun mundur sedikit, begitu pun dengan Bram.
"Aku cuma khawatir takutnya kamu bunuh diri. Tapi aku lihat kamu cukup baik-baik saja." Timpal Bram.
"Aku tidak butuh perhatianmu. Yang aku butuhkan hanya Angkasa. Sebaiknya kamu pergi dari hadapanku. Karena gara-gara kamu, tadi aku dan Angkasa salah faham." Pinta Dwi
__ADS_1
Bram tersenyum tipis, dia tak menyangka kalau Dwi akan berkata seperti itu. Dia kira Dwi akan suka bila diperhatikan oleh lelaki selain Angkasa. Karena dia lihat Dwi memang wanita picik. Tapi ini diluar prediksinya.
"Wanita aneh. Sudahlah." Bram membalikan badannya dan ketika mau melangkah pergi, dia ingatkan kembali tentang keinginannya untuk dekat dengan Raya.
"Oh iya, bila Raya sadar, aku tunggu kamu membantuku untuk dekat dengan Raya." Pintanya, dan dia langsung pergi begitu saja.
"Ga jelas. Dia itu lelaki teraneh, dia memang selalu tebar pesona, perhatian pada setiap wanita yang dikenalnya. Tidak bisa dibedakan mana yang tulus, mana yang cari muka. Aaaaargh....." Dwi pun pergi ke toilet untuk sekedar mencuci mukanya biar terasa fresh, karena penat dengan keadaannya sekarang. Ingin rasanya dia pergi ke pantai atau pegunungan untuk melepaskan rasa penatnya.
Beralih ke Angkasa yang duduk termenung, dan membayangkan apa yang harus dia lakukan sekarang, dia tidak ingin melukai hati Dwi, tapi dia ingin bersama Raya.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara hentakan sepatu, membuat Angkasa tersadar dari lamunannya, dilihatnya dokter dan perawat masuk ke ruang ICU tempat Raya berada. Angkasa berharap Raya baik-baik saja. Karena sudah 3 jam Raya belum sadarkan diri. Mama, Papa dan kak Hari pun berdatangan, dan mereka duduk kembali. Angkasa memilih berdiri disamping pintu. Dilihatnya lorong yang tadi dilewati Dwi dan Bram, belum terlihat lagi kemunculan Dwi dan Bram.
Apakah aku harus mencari mereka? Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Disisi lain aku tidak ingin meninggalkan Raya, tapi disisi lain Dwi membutuhkan aku. Batin Angkasa.
Kak Hari sejak dari tadi memperhatikan Angkasa yang kelihatan gelisah, dia pun langsung menghampiri Angkasa. Ditepuknya bahu Angkasa, seketika Angkasa terkejut.
"Kamu kenapa? ko gelisah dan melamun?" Tanya Kak Hari sambil menepuk nepuk bahu Angkasa.
"Gak apa-apa kak, aku hanya memikirkan Raya saja." Jelas Angkasa berbohong sedikit, karena tak ingin kak Hari tahu permasalahan yang sebenarnya.
"Ok. kita berdo'a saja, semoga Raya baik-baik saja."
"Iya ka." Angkasa melihat kembali ke arah kaca pintu ICU. Harapannya kini hanya satu, kesembuhan Raya. Dia memilih tinggal dan menunggu Raya sadar, tak ingin dia hiraukan lagi Dwi. Mungkin ini jawaban kalau di hati Angkasa kini hanya terukir satu nama yaitu Raya.
Raya, aku disini menunggumu
aku harap kau terbangun dari tidurmu
tak usah risau tak usah ragu
aku kan selalu menjagamu
aku kan selalu membuatmu bahagia
dalam hati dalam raga
hanya kau yang selalu ada dihatiku
Raya, kaulah pujaan hatiku
* * *
__ADS_1