
Raya sekarang sudah bisa mengeluarkan suara meskipun itu hanya beberapa kata yang pendek, kalau kalimat panjang, dia belum bisa karena pita suaranya terasa begitu sakit. Kaka Hari begitu senang. Dan hari ini giliran Mama yang jaga Raya, sedangkan ka Hari mau istirahat dulu di rumah sekalian siangnya mau ke kantornya karena sudah dua hari dia tidak masuk kerja.
Ketika kak Hari mau beranjak dari ruang rawat Raya, Fitri calon istrinya datang bersama Mama Fitri (Bu Elma). Mama Raya (Bu Anita) menyambutnya dengan hangat.
"Assalamualaikum..." Suara Fitri dan Bu Elma terdengar dari balik pintu yang terbuka setengahnya.
"Waalaikumusalam..." Jawab Mama dan kak Hari
Kak Hari pun menghentikan langkahnya, dan menatap syahdu calon istrinya, senyumnya pun jadi mekar. Dan segera menyambut hangat calon istri dan calon mertuanya.
"Selamat datang di rumah sehat kediaman Atmaja..." Sambutnya dengan senyum mekar di pipinya. Tak lupa ia Salim takzim kepada mertuanya. Mereka pun tersenyum manis dan berjalan mendekat ke arah Raya dan Bu Anita (Mama Raya) seraya memberikan parcel buah-buahan dan dus kotak kue bolu.
"Maaf Bu Anita, kami baru menjenguk. Karena kami baru saja tiba di kota ini, kemarin selama seminggu kami pulang kampung dulu. Kangen sama sonak sodara disana." Celoteh Bu Elma seraya bersalaman dan cium pipi kanan juga pipi kiri Bu Anita dengan hangat. Begitu pun dengan Fitri yang langsung mencium tangan kanan calon mertuanya dengan takzim.
"Sehat Ma?" Tanya Fitri dengan senyum manisnya.
"Alhamdulillah sayang, semoga kalian juga dalam keadaan sehat." Jawab Bu Anita.
Mereka pun mendekati Raya dan memberi salam juga bersalaman. Raya mencium tangan kanan Bu Elma juga tangan Fitri dengan takzim sebagai tanda penghormatan kepada calon mertua dan calon istri kakaknya. Mereka pun tahu kalau kemarin Raya tidak bisa berbicara tetapi mereka belum tahu kalau Raya sekarang sudah mulai bisa berbicara walau sepatah dua patah kata, karena baru saja Raya bisa mulai berbicara dan kak Hari belum sempat memberi tahu calon istrinya tersebut.
"Kami turut prihatin dengan keadaan nak Raya, semoga dengan kedatangan kami kesini nak Raya bisa semakin membaik dan sabar ya sayang, Allah memberikan cobaan ini karena nak Raya mampu menghadapinya dan insya Allah semuanya akan ada hikmah dan indah pada waktunya, kuat sayang ". Dukungan Bu Elma membuat Raya tersenyum manis dan semakin semangat untuk menjali hidupnya kembali, meski sekarang hatinya masih terasa sakit bila mengingat kejadian dua hari yang lalu. Dan suara pun keluar dari mulut Raya dan mengagetkan Bu Elma begitu juga Fitri.
"Te_ri_ma ..." Suara Raya keluar pelan dan dengan sekuat tenaga untuk melanjutkan lagi ucapannya.
"Ka_sih" timpalnya dengan senyum manisnya.
Bu Elma dan Fitri pun terkejut bahagia seraya memeluk hangat Raya dengan silih berganti, kebahagiaan itu membuat Raya kembali semangat lagi. Dia beruntung memiliki banyak sekali orang yang sayang kepadanya.
__ADS_1
"Kami bahagia sekali mendengar nak Raya sudah bisa berbicara. Semoga lekas sembuh sayang." Sahut Bu Elma seraya mengusap ubun-ubun Raya dengan pelan karena kepalanya dibalut perban. Rambut Raya pun terlihat di potong pendek sekali mendekati rambut cepak laki-laki karena dokter harus menjahit kepala Raya yang terkena benturan.
Rambut adalah mahkota bagi seorang perempuan, bila rambut itu habis entahlah mungkin Raya merasa bukan dirinya. Rambut panjang hitam dan lebat sedikit bergelombang miliknya kini sudah tak terlihat lagi. Awalnya Raya kaget Rambut indahnya sudah tak berada didirinya. Tapi Raya sadar kalau lukanya mungkin akan membuat perubahan dalam dirinya. Mungkin cukup berminggu-minggu bahkan beberapa bulan untuk memanjangkan lagi rambutnya. Begitu juga dengan hatinya dia perlu untuk menata hatinya kembali, untuk menerima hancurnya persahabatannya dengan Dwi dan dengan Angkasa. Cinta membuatnya luka Dan cinta itu tak ingin dia rasakan kembali. Entah sampai kapan dia bisa membuka hatinya kembali.
Perbincangan mereka berlanjut, sampai tak terasa sudah setengah jam mereka berbincang-bincang. Dan terhenti lah oleh kedatangan Bram yang mengagetkan semuanya. Apalagi Raya, dia ga percaya kalau Bram akan datang untuk menjenguknya. Bram pun kaget melihat keadaan Raya yang berbeda 90% karena melihat mahkota indahnya hilang. Karena kemarin Bram tidak sempat menjenguk Raya dikarenakan dokter menyarankan untuk membiarkan Raya istirahat dulu. Dan kini Bram sempatkan dirinya untuk menjenguk Raya dengan membawakan seikat bunga mawar dan bingkisan buah-buahan.
"Sini nak...Bram." Sambut Bu Anita dengan senyumnya.
"Kenapa bengong? Heran ya liat adikku yang cantik jadi tambah cantik dan sek*i." Celoteh Kak Hari seraya mengedipkan satu mata kirinya. Kemudian merangkul Bram dan mengajaknya mendekati Raya. Juga mengambil bingkisan buah-buahan yang dibawa Bram, Sedangkan seikat bunga mawar biar Bram yang memberikannya pada Raya langsung.
Bram yang kaget dan bengong pun tersadar dari lamunannya. Dia mengedipkan matanya berulang dan menelan salivanya, dia tidak percaya perubahan Raya sekarang ini, tapi ini tidak ingin membuatnya mundur begitu saja, karena mungkin dia harus menerima Raya apa adanya. Entah ini hanya obsesi nya karena dulu Raya wanita satu-satunya yang tidak memperdulikan keberadaannya, atau ini cinta kasih yang tulus? Entah...
"Raya selalu cantik dimataku dan sampai kapanpun dia akan selalu jadi peri dihatiku." Celoteh Bram membuat orang-orang yang disana tak mempercayai masih ada lelaki baik seperti Bram yang mau menerima Raya apa adanya.
"Terimakasih nak Bram." Ucap Bu Anita.
"Oh iya ini buat peri ku" Bram tersenyum manis seraya memberikan seikat bunga mawar kepada Raya. Dan Raya menerimanya dengan senyum tipisnya, dia merasa malas mengahadapi pria satu ini, karena dia sangat mengetahui tingkah laku Bram selama ini terhadap para wanita pemujanya.
"Kami pamit pulang dulu, semoga nak Raya cepat sembuh ya sayang. Jangan lupa istirahat yang cukup, dan jangan terlalu banyak pikiran." Ucap Bu Elma seraya bersalaman cipika cipiki dengan Bu Anita dan Raya. Begitu juga dengan Fitri salam takzim kepada calon mertuanya dan salam sayang untuk calon adik iparnya.
"Terima kasih Bu Elma." Ucap Bu Anita
"Terima kasih sayang, apakah tidak menemani Mama Anita dulu?" Timpal Bu Anita dengan sedikit menggoda Fitri, Fitri terlihat cantik berseri dan manis, hijab dan gamisnya menutup auratnya, dan juga guru mengaji di mesjid tempat tinggalnya. Calon menantu idaman siapa pun. Hari memang pintar mencari calon istri, ditambah lagi Fitri pandai memasak, karena dia memiliki usaha katering yang cukup besar juga, sehingga banyak sekali orang-orang yang sudah mengenal usaha katering nya. Awalnya Hari mengenal Fitri saat memesan katering untuk acara di kantornya, dari situlah awal pertemuan mereka. Dan ternyata Hari menambatkan hatinya untuk Fitri seorang.
"Maaf Ma, Fitri bukannya tidak mau, tapi Fitri..." Tolak Fitri dengan sedikit penyampaian yang terpotong karena dia bingung mau menjelaskan nya, dan mungkin saja Bu Anita tahu maksudnya.
"Iya Mama ngerti sayang, kamu lagi banyak pesanan, dan kamu tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu. Baiklah... semoga kamu sehat selalu ya..." Timpal Bu Anita dengan senyum dipipinya.
__ADS_1
"Terimakasih atas pengertiannya Ma... Assalamualaikum..." Sahut Fitri dan langsung melangkah keluar bersama Bu Elma dan diikuti Hari di belakangnya. Hari pun mengantar mereka pulang sekalian dia pulang dulu ke rumah nya, dia juga ingin mengungkap kasus kecelakaan adiknya, dia ingin tahu kejadian yang sebenarnya.
Kini di ruangan 4x5 meter itu tinggal bertiga, Raya Mama (Bu Anita) dan Bram. Mama pun ingin mengenal Bram lebih dalam lagi, karena Mama mengenal Bram di rumah sakit pas waktu dia mendonorkan darahnya untuk Raya. Tidak pernah Raya membawanya ke rumah atau bercerita tentang dirinya, yang Mama Raya tahu, di hati Raya cuma ada Angkasa saja.
"Nak Bram, sebelumnya Tante ucapkan terimakasih banyak atas pertolongannya karena sudah mendonorkan darahnya untuk Raya. Entah apa jadinya kalau Raya tidak segera mendapatkan donor darah." Ucap Bu Anita dengan senyumnya seraya duduk di kursi sofa sambil membuka plastik parcel buah dari Bu Elma tadi.
"Sama-sama Tante, yang aku lakukan itu karena kebetulan golongan darah kami sama dan Raya membutuhkan itu. Tapi... itu pun didasari karena aku menyukai anak Tante. Jujur saja aku takut jarum suntik." Celoteh Bram sambil mengedipkan mata kirinya kepada Raya. Raya hanya memutar bola matanya dan malas buat membalas kedipan Bram si lelaki ganjen itu.
"Oo... Jadi kamu menyukai anak Tante? sejak kapan? dan kalau boleh tahu kalian sudah lama saling kenal?" Tanya Bu Anita bertubi-tubi, membuat Raya sedikit kesal, sedangka Bram merasa senang dengan pertanyaan Bu Anita.
"Iya aku menyukai anak Tante. Meskipun dia itu cuek dan tak pernah mempedulikan kehadiranku. Aku mengenalnya sudah dua tahun, tapi aku baru menyadari rasa suka ini enam bulan yang lalu. Dan itu aku sembunyikan, soalnya Raya dingin banget dan ketus sama aku. Sebenarnya aku juga heran, masa aku yang tampan ini tidak pernah membuat anak Tante menyukaiku? Padahal banyak lho Tan, wanita yang mengagumimu, kalau tidak percaya tanya saja anak Tante atau tanya Angkasa." Jelas Bram dengan rasa percaya dirinya.
Bu Anita menatap Raya yang kelihatan kesal dengan penjelasan Bram. Mama nya tahu sekali rasa kesal yang disembunyikan Raya saat ini, meskipun dia tidak mengeluarkan suaranya.Tapi gelagatnya sangat jelas terlihat. Dan anehnya Bram biasa saja melihat gelagat Raya seperti itu, malah dia senyam senyum.
"Apa kamu meladeni wanita-wanita pengagum mu?" Tanya Bu Anita membuat Bram terperanjat dan matanya membola, tak seharusnya Bram memberitahu beliau kalau ternyata banyak yang menyukainya.
"Ja_wab .. ju_jur.. sa_ja.. Bram" Pinta Raya dengan terbata-bata dan pelan. Bram pun mengangguk dan merasa ini tanda kalau dia akan gagal mendekati Raya.
"Sudah Tante duga, laki-laki tidak akan membuang kesempatannya selagi itu nyaman baginya. Tapi Tante harap kamu bisa merubah sikapmu, bila kamu dekat dengan Raya. Jika kamu hanya untuk main-main dekat dengan Raya, sebaiknya dari sekarang kamu undur diri." Jelas Bu Anita seraya menatap tajam pada kedua mata Bram yang sesekali Bram menunduk dan melihat kearah Raya.
"Baik Tante." Janjinya dan langsung berdiri kemudian pamit pulang karena dia merasa tidak nyaman dengan ucapan Bu Anita.
"Saya pamit pulang dulu, karena saya ada urusan pekerjaan. Assalamualaikum..." Pamit Bram seraya menyalami Bu Anita dan berlalu pergi.
"Dasar lelaki buaya. Enak saja mau mempermainkan anak Mama yang cantik dan baik hati ini." Celoteh Bu Anita seraya berdiri dan menghampiri Raya kemudian mencium kening Raya.
"Te_ri_ma_ka_sih.. Ma.." Ucap Raya masih terbata dan pelan.
__ADS_1
"Iya sayang..." Jawab Mama.
* * *