
"Assalamualaikum.. permisi" Aurell membuka pintu UKS dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Terlihat sosok tampan yang tak asing baginya, Ejaz. Disekolah ini Aurell memiliki 2 orang sahabat yang selalu ada disampingnya baik saat suka maupun duka yaitu Ejaz dan Ghea. Mereka bersahabat sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini.
Ejaz sosok yang sangat ramah dan santun, cita-citanya menjadi dokter sehingga membuatnya memilih mengikuti program ekstrakurikuler PMR dan hari ini ia sedang mendapat tugas piket manjaga UKS.
"Eh elo Jaz, tolongin gue dong.. perih nih!" dengan nada memelas sambil memegang pelipisnya yang terluka.
"Kamu kenapa? Main basket? emang bisa? Sini aku bersihin lukanya sebelum infeksi" Ejaz dengan sigap membantunya mengobati lukanya dengan sangat hati-hati tanpa didampingi suster karena kebetulan saat itu suster UKS sedang beristirahat dikantin sekolah.
__ADS_1
Ejaz memang berstatus sebagai sahabat Aurell namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sering memikirkan Aurell lebih dari sekedar seorang sahabat. Karena Ejaz merupakan anak semata wayang, maka ia lebih sering menyibukkan diri di sekolah dan berinteraksi dengan teman-teman di sekolahnya. Aurell yang sudah menganggap Ejaz adalah sahabat sekaligus pendengar terbaiknya setelah Ghea maka tak jarang ia juga sering menceritakan segala yang terjadi antara dirinya dan Arka jika sedang bertengkar kepada Ejaz. Ejaz melakukan tugasnya sebagai seorang sahabat dan pendengar yang baik, seringkali ia memberi saran dan nasihat kepada Aurell.
"Tuh Bola emang ngeselin banget, ngapain nempel dimuka gue coba?! Jadi begini kan muka gue... huaaaa.. huaaaa sakiiit perih Jaz". Tangis Aurell pecah di ruang UKS yang saat ini hanya berisikan dirinya dan Ejaz.
"Kamu itu kalau mau marah jangan sama bola, marahlah sama yang mengarahkan bola itu ke kamu!". Jawab Ejaz mencoba mengejeknya
Mendengar jawaban Ejaz tangis Aurell makin menjadi "Huaaaa.. lu mah tega Jaz! Sahabat macam apa lu bukannya belain gue".
"Jaz, gue salah ga sih ngalah terus sama dia. Gue ga tega klo mau marah depan dia. Gue cuma mau dia tuh paham klo suatu hubungan itu harus saling memahami satu sama lain bukannya cuma satu pihak yang belajar memahami pihak lainnya tapi semakin gue diemin dianya malah semakin ga peka" Ucap Aurell memulai sesi curhat dadakan.
__ADS_1
"Hmmmpt.. berat bgt pikiran kamu. Ngapain kamu mikirin orang yang ga mikirin kamu. Kamu fokus aja UN trus SNMPTN tuh baru mikir yang lain sebagai selingannya" jawab Ejaz tanpa ingin membahas lelaki yang telah membuat wajah Aurell terluka.
Raut wajah Aurell bertambah sendu mengingat ucapan orangtuanya semalam karena hampir sama dengan apa yang dikatakan oleh Ejaz yang berujung pada dirinya harus bisa mandiri jika ingin melanjutkan pendidikan selanjutnya "Yah jadi kepikiran lagi kan lo bahas begitu".
Ejaz mengernyitkan dahinya dan berusaha untuk mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Aurell
"Yaudah jangan dipikirin, ntr darahnya jadi banyak yang keluar kalo sekarang kepalanya diajak mikir yang berat²" Ejaz mencoba menghibur dan membalikkan badannya sambil menahan tawa saat meletakkan peralatan medis usai mengobati Aurell.
Aurell panik dengan apa yang dikatakan Ejaz dan langsung berdiri mencari kaca "Emang darahnya banyak Jaz?"
__ADS_1
Ejaz tak bisa menahan tawa membuat Aurell menyebalkan bibir karena kesal akibat ulahnya.