
POV IBU FARHAT
Kini belanja di tukang sayur menjadi rutinitas yang harus ku biasakan. Kalau masih Rengganis menjadi istri Farhat , dia akan ku suruh belanja di pasar. Lebih murah dan lebih fresh. Tapi sekarang ?? Aku tak kuasa untuk berpanas-panasan pergi ke pasar. Apalagi suamiku yang sangat susah untuk dimintai tolong belanja ataupun sekedar mengantarkan aku ke pasar.
Dia lebih suka bermain dengan ayam-ayamnya yang menambah pengeluaran uang tanpa menghasilkan apapun.
"Eh Bu Yati... kayak nya Rengganis sekarang lebih berani lagi ya, Tadi ku lihat mobil yang biasa ia tumpangi jemput ke rumah Ibu loh" Minah mulai bergosip.
"Iya... ternyata benar, Aku baru liat dengan mata kepala ku sendiri tadi. Benar-benar nggak nyangka saya Bu, Farhat juga lihat tadi...."Aku menambahkan.
"Terus gimana kata anak Ibu?" tanya Bu Rifa.
"Yah nggak gimana-gimana Bu, kan udah ditalak. Aniesnya aja yang tidak tahu malu masih mau tinggal di sini"
Bu Rifa dan Bu Minah memonyongkan bibirnya.
"Emang udah putus kali urat malunya" Sahut Bu Rifa lagi.
"Kalau aku ya Bu jadi Anies? udah dicerai gitu ya pulang, ngapain masih tinggal di rumah mantan suami"
"Yah maklum lah Bu, Anies kan miskin, yatim piatu lagi... mau tinggal dimana dia kalau nggak numpang di rumah kita" Ucapku semakin benci dengan mantan menantu ku itu.
"Terus kalau sudah ketuk palu gimana? Apa masih mau tinggal disini Bu" tanya Bu Rifa lagi.
"Eh Bu.. jangan-jangan dia ingin balas dendam loh" tiba-tiba Bu Minah menyela.
"Balas dendam gimana Bu?" tanyaku kurang paham.
"Anies sengaja tinggal disini, Dan dia berbuat yang tidak-tidak untuk menjelekkan nama baik Farhat"
"Iya Bu... kalau Anies jual diri kan nanti yang jelek adalah nama suaminya. Pasti Farhat dijuluki ular tanpa bisa karena tidak bisa mengajari istrinya dengan baik"
Aku terdiam, otakku terasa mendidih mendengar ucapan tetangga ku itu.
"Hemmm ya udah, Ini berapa Bang?? Pindang, kangkung dan telur ?" Tanyaku pada tukang sayur.
"Semuanya 30 ribu"
__ADS_1
"Hah?? mahal banget Bang, Aku kalau nyuruh Rengganis ke pasar lima puluh ribu cukup untuk dua hari. Itu pun pakek Ayam,, Ini cuma pindang tiga ekor sama telur dan kangkung yang cuma seimprit ini Sampek tiga puluh ribu" ocehku tak terima.
"Ya sudah kalau gitu belanja aja di pasar Bu" balas si tukang sayur tak terima.
"Uh... sombong amat sih, Udah untung aku mau beli. Nih dua puluh ribu, sisanya ngutang dulu"
Aku memutar tubuh lalu pergi tanpa perduli Tatapan mata si penjual sayur yang mungkin jengkel padaku.
Sampai di dapur, Yasmine anak perempuan ku satu-satunya datang menghampiri ku.
"Bu... minta uang dong mau beli data"
"Ibu nggak punya uang" jawabku ketus.
"Ah Ibu pelit amat, Ayo dong Bu... Masak tega lihat anakmu yang cantik ini sakit karena menahan rindu"
"Bo-doh amat... Itu bukan urusan ku"
"Bu.... jangan gitu dong... Ah Ibu..."
"Pak... Yasmin minta uang dong" Seru Yasmine lantang.
"Uang nya ada sama Ibumu" seru suamiku dari dalam.
"Kata Ibu nggak ada, Yasmin jual ayam bapak ya..."
Aku terkejut mendengar keberanian Yasmin. Saat itu juga Suami ku datang kembali masuk ke dapur.
"Berani kau jual ayam Bapak? ku gorok leher kau"
Aku bergidik ngeri mendengar ancaman suamiku.
"Ah Bapak, ternyata lebih sayang sama Ayam dari pada anaknya" Yasmine sama sekali tidak takut dengan ancaman sang Bapak.
"Iyalah, Ayam mudah di atur, suruh diem dia diem... Manut sama Bapak. Lah kamu?? susah sekali di atur, main hp aja kerjaannya "
"Ayam juga kalau tahu main hp dia bakal main hp juga Pak, sekalian ikut mobile legend. Sayangnya ayam nggak tahu main hp" gerutu Yasmine seraya keluar dari dapur melewati pintu yang tadi dilewati oleh bapaknya.
__ADS_1
"Huh dasar, anak perempuan satu-satunya tapi suka sekali membangkang" Suamiku juga ikut menggerutu seraya masuk kembali ke dalam rumah.
Aku hanya terpaku, sesekali menarik nafas dalam-dalam agar tetap tenang dan terkontrol.
*
Sore harinya, tumben Farhat datang lebih awal. Dia berjalan seperti mayat hidup.
"Farhat ??? kamu kenapa Nak??" Aku mendekati nya karena khawatir. Anak sulungku itu mengangkat kedua matanya,ia memandang ku dengan sayu.
"Ibu..." tiba-tiba dia memelukku dan menangis. Aku heran, Apa yang terjadi sebenarnya.
"Kamu kenapa Far?? kok malah jadi nangis ??"
Suara tangisan Farhat memancing seluruh penghuni rumah yang lain untuk keluar. Mereka sama seperti diriku,heran dan bingung.
"Apa Kak Mawar yang diangkat jadi Direktur ?" Yasmine mencoba menebak,Farhat justru semakin menjadi-jadi. Membuatku semakin bingung.
"Farhat... nak... jangan sedih ya, mungkin masih belum rejeki" Bujuk ku yang tidak ingin anakku terus bersedih.
"Bukan Bu bukan... Ini bukan tentang Mawar "Akhirnya Farhat mulai menjelaskan. Ia merenggangkan pelukannya pada ku.
"Terus tentang siapa?" tanyaku, Semua menunggu penjelasan selanjutnya.
"Anies hiks hiks hiks hiks" Farhat mengusap air matanya yang semakin deras bercucuran.
"Hemmm Mas Farhat menyesal toh" Celutuk Dino.
"Hus ngomong sembarangan" Celutuk ku tak terima " Ngapain dia harus menyesal karena sundel itu"
Farhat menangis semakin menjadi, Ia seperti anak kecil yang merayu meminta mainan yang tak kunjung dituruti.
"Cup cup cup sayang... Aduh ini kenapa sih??"
ASSALAMUALAIKUM....
Sebuah suara yang tidak asing berseru dari luar. Aku mengernyitkan kening, tumben pakek ngucapin salam dan lewat pintu depan. Biasanya suka masuk lewat pintu dapur, pikirku sendiri.
__ADS_1