
POV FARHAT
Sudah jatuh, ketiban tangga pula.
Pepatah itu sangat sesuai dengan nasib ku sekarang.
Sejak aku menceraikan Rengganis dan memilih Mawar sebagai pendamping hidup. Aku selalu ketiban apes.
Dan sekarang di tambah lagi dengan kenyataan bahwa perusahaan di tempat aku bekerja, adalah milik keluarga Rengganis .
Kenapa lah aku bo-doh sekali?? Andai aku tidak tergoda dengan kecantikan dan kecerdasan Mawar , Mungkin aku tidak akan bernasib seperti ini.
Hidup ku akan terjamin cepat atau lambat. Karena pasti nya rahasia Rengganis akan terbongkar juga.
Rengganis adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki saudara. Jadi pasti akulah yang akan menjadi pewaris utama.
Hah?? Pewaris utama?? kedua mataku berbinar memikirkan nya. Bukankah pernikahan kami belum ketuk palu? Memang aku sudah ucapkan talak, tapi aku bisa rujuk dengan nya.
Besok adalah hari sidang kedua setelah sidang pertama di tunda.
Aku harus datang dan mengatakan kepada hakim kalau aku ingin rujuk. Tidak perduli Rengganis menolak nya, aku harus menghalangi Tuan hakim mengetuk palu perceraian kami.
Setidaknya hal itu akan memberikan waktu padaku untuk melenyapkan Rengganis .
Yah!!! Dengan begitu, seluruh kekayaan Rengganis akan jatuh kepada ku, suaminya!!
Aku tersenyum senang, segera ku hubungi Mawar untuk melancarkan rencana ku.
Karena aku sudah tidak memiliki rencana lain lagi, kalau tidak nekat. Entah bagaimana nasibku nanti?
" Hallo,,,," jawab Mawar dari seberang.
" Sebentar lagi jam makan siang, yuk kita keluar" Ajakku.
" Dalam situasi seperti ini, kau masih memikirkan Perut mu??" cetus Mawar .
" Jangan lah marah-marah, rencana A gagal, masih ada rencana B" bibirku melengkung sempurna.
" Tidak ada A,B, atau C. Kita sudah kalah telak" Mawar terdengar sudah putus asa.
" Aduh sayang, kemana Mawar yang aku kenal dulu?? yang penuh semangat dan pantang putus asa. Jangan menolak, sebentar lagi kita keluar untuk makan" Ku matikan telepon secara sepihak. Tidak perduli bagaimana respon Mawar disana?
*
Tiba waktunya jam makan siang, ku datangi meja kerja si Mawar . Begitu melihat ku, dia langsung bangun dan menyangkut kan tas dibahunya.
Kami berjalan berdua beriringan menuju lift. Karena hampir semua karyawan akan pergi makan siang, jadi dia lift yang disediakan penuh semua. Kami harus antri untuk bisa turun ke bawah.
Pada saat itu, ku lihat Pak Indra datang bersama Rengganis . Bos kami mengulas senyum menyapa , aku beserta beberapa teman sekantor yang lain membalas sapaannya.
__ADS_1
Sepertinya Pak Indra belum tahu mengenai diriku, buktinya dia masih bersikap ramah. Dan Rengganis bersikap seolah-olah tidak mengenal ku serta Mawar .
Baguslah,,, setidaknya aku tidak sungkan kepada Pak Indra.
Lift kami sudah tiba, aku dan Mawar terpaksa naik satu lift dengan Pak Indra. Ku lihat dia begitu melindungi Rengganis dari desakan orang-orang.
Disini aku merasa hatiku sakit dan cemburu. Mawar melirik ku, mungkin kah dia bisa membaca apa yang ada dalam pikiran ku??
Setibanya di bawah, kami mengambil tujuan yang berbeda. Aku memang sengaja mengajak Mawar ke restoran yang sedikit lebih privasi. Agar aku bebas membicarakan tentang rencana ku kepada Mawar .
" Aku ingin tahu, apa yang kamu maksud kan dengan rencana B?" Tanya Mawar setelah membasahi kerongkongan nya dengan jus orange pesanan nya.
" Ini hanya kita yang boleh tahu" Ku pelan kan Suara ku agar tidak ada yang bisa mendengar nya.
Mawar mencondongkan kepala nya mendekat.
" Besok, aku akan datang ke sidang perceraian ku dengan Rengganis . Aku akan meminta rujuk "
Mawar melotot mendengar rencana ku.
" Oh jadi ini rencana mu?" suara Mawar naik beberapa oktav membuat ku segera mendiamkan nya.
" Ssttttt jangan keras-keras, dengarkan dulu kelanjutan nya" bisikku.
Mawar sudah menekuk wajahnya, tapi ia mau juga di ajak kompromi.
" Aku hanya ingin menunda Hakim mengetuk palu, jadi aku bisa punya waktu untuk membu-nuh Rengganis. Kalau belum ketuk palu, meskipun aku sudah mengucapkan kata talak , aku tetap suami secara hukum"
Mawar menggeleng dengan kerutan di dahi nya.
" Artinya,, jika Rengganis meninggal, akulah pewaris atas semua hartanya. Pabrik RDA dan RS akan jatuh ke tangan ku"
Dua bola mata Mawar berbinar binar, bibirnya melengkung. Rasanya dia baru memahami apa yang aku maksud.
" Kau pintar sekali Mas?? Dapat ide dari mana??" Mawar memuji ku.
" Kalau otakku sudah bekerja, semua akan jadi mudah " jawab ku.
Mawar tersenyum riang, ia memeluk lengan ku dengan erat.
"Iiihhhh aku bahagia sekali Mas, aku pikir kita sudah game over. Ternyata kamu justru mempunyai rencana yang sangat berlian"
Aku menepuk dadaku dengan bangga.
" Siapa dulu??"
" Uh jadi tidak sabar, tapi Mas! Kita harus memikirkan rencana yang sangat matang dan sempurna. Sehingga polisi tidak mencurigai mu. Kalau sampai terciduk, semua rencana kita akan sia-sia" Mawar memperingati ku. Aku mengangguk setuju dengan pendapat nya.
" Kita harus menyusun strategi yang bagus, pokoknya sesempurna mungkin. Ok??'
__ADS_1
Mawar mengangguk semangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV INDRA LESMANA
Rengganis merahasiakan siapa mantan suami nya dari ku. Entah apa alasannya, tapi bukan hal yang sulit untuk ku mencari tahu.
Baru tiga puluh menit aku meminta spy untuk menyelidikinya. Aku langsung mendapatkan data mantan suami nya, tanpa Rengganis sadari.
Ia tengah sibuk membuat desain di depan ku. Rupanya kehidupan Rengganis bersangkutan dengan Mawar , orang pertama yang melapor jika Rengganis telah melakukan plagiarisme.
Ku tatap wajah ayu di hadapan ku ini, dia khusyuk menggambar. Ku lirik jam di tangan kiriku, sudah saatnya makan siang.
" Yuk kita makan, aku udah laper" Ku gosok perut ku untuk menggoda nya.
Rengganis tersenyum sembari menutup buku gambar nya.
" Yuk..." ucapnya seraya bangkit.
Kami berjalan beriringan menuju lift, disana aku melihat si Mantan dengan si pelakor bersama beberapa staf yang lain. Aku tersenyum menyapa, mereka membalas nya.
Pasti mereka mengira aku tidak tahu apa-apa, justru Itu lebih baik agar tidak terlalu waspada.
Saat aku dan Rengganis menyantap makanan, tanpa Rengganis sadari aku menggunakan airphone untuk mendengarkan semua percakapan si Mantan dan si pelakor di sebuah restoran.
Spy yang aku bayar diam-diam mengikuti mereka dan duduk di belakang si Mantan.
Entah dia menggunakan alat seperti apa, sehingga bisa menyadap dengan jelas pembicaraan Si mantan dan Si pelakor.
Aku tersenyum tipis, dan sikap ku itu membuat Rengganis mengernyitkan keningnya.
" Kok senyum-senyum sendiri??" tegurnya.
" Lagi happy aja, karena makan siang sama kamu" jawab ku, Rengganis mencebikkan bibirnya.
" Ohya, besok sidang kelanjutan perceraian kamu ya??" sambung ku , Rengganis mengiyakan dengan mulut yang penuh dengan makanan.
" Kamu datang ke pengadilan?"
" Iya" jawab nya pendek.
" Aku anter ya"
" Nggak usah, nanti takut nya kehadiran kamu dijadikan kesalahan untuk ku" ia menolak.
" Tenang saja, aku akan berpenampilan seperti supir mu" balasku santai, Rengganis tersenyum menahan tawa.
" Jam enam aku sudah akan standby di depan rumah mu" imbuhku setengah memaksa.
__ADS_1
Rengganis hanya tersenyum, sepertinya ia tidak akan menolak nya.