AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
PERGI 17


__ADS_3

Ku papah Desi dan ku dudukkan dia kembali di Sofa.


"Kamu ternyata tidak berubah, Masih suka ribut" ucapku setelah ku duduk di sisi Desi .


"Aduh Say... gatel banget tangan aku Say"Jawab Desi .


"Aku tadi sudah khawatir banget saat dia bilang akan melaporkan kamu ke Polisi "


"Hahahahaha emang kamu baru tahu aku ?tapi serius, Aku akan cari tahu dimana mereka akan bekerja. Akan ku buat mereka malu di tempat kerja yang baru... Ohya Nies.. Kamu undur aja sidang perceraian kamu. Jangan cepat-cepat cerai"


"Loh kok??? " Aku bingung kenapa Desi berkata demikian.


"Permainkan saja dulu si Mawar, Tadi ku lihat seperti nya Farhat juga kayak menyimpan perasaan sama kamu"


Aku diam..


"Kamu harus balas semua sikap mawar yang sombong itu, enak aja dia bilang kita pelit sama karyawan. Besok akan ku ikuti mereka diam-diam "


"Kamu nih... Kayak nggak ada kerjaan aja" sergahku.


"Biarin aja, Kau ingat ya.. Tunda sidang perceraian kamu"


"Gimana caranya ??"


"Emmm nanti aku tanya pengacara, pokoknya kamu harus ikuti instruksi dari aku. Paham?"


Aku menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Desi nih kalau sudah marah sama orang,yah beginilah.


*


*


POV FARHAT


Ku tarik Mawar keluar dari ruangan Rengganis . Lalu ku biarkan saja dia di lorong yang menuju ke ruang kerja nya, sementara aku pergi ke ruangan ku.


Eh saat ku mau menutup pintu, Ia justru mengekori ku. Aku membuang nafas kesal, Dan ku biarkan dia masuk.

__ADS_1


"Dasar orang gila" umpatnya.


"Kamu bisa nggak jangan bicara sembarangan, lihat sendiri kan apa akibatnya ? Kalau benar Bu Desi datang ke tempat kerja kita yang baru gimana ?? Apalagi sampai nunjukin video yang dia maksud ? Mam-pus kita di pecat " Aku sudah tidak bisa menahan kekesalan ku lagi.


Mawar diam tak menjawab, ku tinggalkan dia untuk duduk di kursi. Dia terlihat gontai berjalan menuju sofa.


"Menyesal pun sudah tidak berguna" sambung ku.


"Aku tidak menyangka jika dia punya video kita"


"Meskipun dia tidak punya, Tapi kamu sudah melakukan kesalahan fatal dengan mengajak nya ribut. Kita datang baik-baik ke pabrik ini, berhenti pun harus baik-baik "


Mawar memutar bola matanya, Ia menyender lemas.


Tak bisa ku bayangkan jika Bu Desi benar-benar memiliki video kami.


"Ohya..." tiba-tiba Mawar bangkit dari duduknya " Aku yakin Bu Desi itu hanya menggertak saja"


"Kenapa begitu ??" Tanyaku.


Aku tidak menjawab, Tapi aku memikirkan segala kemungkinan.


"Itu benar,,, Tapi... Ini Rengganis , bukan kamu"


"Maksud mu Mas?" Mawar mengernyitkan keningnya.


"Kalau kamu di posisi Rengganis, dan ada yang mengadukan tentang perselingkuhanku. Kamu pasti akan marah sekali dan akan membabi buta"


"Ya iyalah... masa aku diemin begitu aja" ketus Mawar .


"Tapi Rengganis beda mawar,,, dia tidak akan langsung marah . Dia akan memikirkan segalanya apa yang akan diperbuat. Buktinya... tiga tahun aku bersama dia tiga tahun itu Aku tidak tahu kalau dia ternyata adalah pemilik pabrik ini"


Mawar menelan ludah, Ia merasa tenggorokan nya kering sekali.


"Jadi... kemungkinan Bu Desi .. Benar-benar punya video kita??"


"Bisa jadi... huffffff" Aku merasa ruangan ku jadi gerah.

__ADS_1


"Sudahlah... cepat kemasi barang-barang mu, Dan kita langsung pulang"


Mawar tak menyahut, wajahnya ditekuk seperti ada yang membebani pikiran nya. Ya iyalah,,, kalau Bu Desi melakukan apa yang diancamkan ? otomatis karir kami akan hancur saat itu juga. Secara kita tahu, lingkup pergaulan Bu Desi adalah para bos-bos besar.


Tentu bukan hal yang sulit untuk bertemu dengan Bos kami yang baru.


Usai mengemasi semua barang-barang, Aku memasukkan nya ke dalam kotak. Lalu ku bawa keluar dari ruangan ku.


Sebelum ku tutup pintu, ku pandangi ruangan yang begitu banyak menyisakan kenangan. Dulu,,, betapa bahagianya aku saat aku diangkat menjadi Jenderal Manager. Rengganis sampai sujud syukur di lantai dapur begitu ku beritahu dia.


Entah berapa ratus kali dia mengucapkan kalimat Alhamdulillah. Meskipun aku tahu, Sejak kami menikah. Dia sama sekali tidak memegang gajiku, karena semua gajiku dikelola oleh Ibuku.


Kata Ibuku, Rengganis tuh yatim piatu dan Miskin. Jadi ia khawatir, jika Rengganis tidak bisa mengontrol keinginan nya saat memegang uang banyak.


Aku menurut saja apa kata Ibu, asal jangan sampai belanja dapur kekurangan.


Tapi ternyata, uang Rengganis lebih banyak dari uang ku. Pantas dia tidak pernah mengeluh saat tidak memegang uang dari ku.


Ku hembuskan nafas ku dalam-dalam, sesak rasanya bila mengingat kejadian lampau. Aku menyesal sangat menyesal...


Tiba-tiba ku dengar suara ribut-ribut dari meja kerja si Mawar . Ku langkahkan kaki ku cepat untuk mengetahui apa lagi yang sudah diperbuat oleh perempuan itu.


"Apa??! sibuk aja ngurusin hidup orang,, emang kenapa kalau aku merebut Mas Farhat dari istrinya ?? Iri Bos" suara Mawar semakin jelas terdengar.


"Eh nggak la Yao.. ngapain iri sama pelakor. Pelakor itu kayak pemulung, yang suka ngambil barang bekas"


"Eh kalau kamu yang digoda sama Mas Farhat saat itu? pasti kamu yang akan merebut Mas Farhat dari istrinya, Tapi sayang. Karena kamu tuh ...ih.... tidak menggairahkan, Jadi Mas Farhat pilih aku" Mawar begitu membanggakan diri nya sendiri. Aku menghela nafas berat sembari geleng-geleng kepala.


"Mawar!!kamu apa lagi sih?? kok ribut terus" tegur ku menahan kesal.


"Ini loh Mas, Dian... nyinggung-nyinggung hubungan kita" Mawar mengadu, padahal aku sudah dengar semuanya.


"Sudah-sudah.. ayo kita cepat pergi" Aku melangkah mendahului agar Mawar tidak berlama-lama lagi membuat masalah.


WUUUUUUUUUU


Ku dengar sorakan ramai di belakang punggung ku. Tapi ku acuhkan saja, Aku hanya ingin cepat pergi dari kantor ini agar tidak semakin malu karena sikap Mawar .

__ADS_1


__ADS_2