AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
KENANGAN MASA KECIL 14


__ADS_3

POV FARHAT


Aku melangkah gontai keluar dari ruangan mantan istri ku. Rupanya Mawar sudah menunggu di ruang kerja ku.Tatapan mata kekesalan ia layang kan padaku.


Namun aku tidak perduli, ku hempaskan tubuh ku ke kursi tempat biasa aku mengerjakan semua pekerjaan ku.


"Dari mana saja kamu Mas?" tanyanya sengit.


"Di panggil Rengganis ke ruangan nya"Jawab ku sambil memejamkan mata. Aku merasa lelah sekali.


"Untuk apa dia memanggil mu?? tidak seperti biasanya, Apa kalian pedekate lagi?" Pertanyaan yang membuat ku merasa gerah terlontar dengan lancar dari bibir Mawar .


"Jangan bicara yang bukan-bukan Mawar , Aku sedang tidak Mood untuk berdebat"


HEM


Mawar mendengus.


"Siang nanti kita diminta datang untuk interview " Tukasnya kemudian. Mataku langsung terbuka lebar.


"Siang nanti ??"


Mawar mengiyakan. Mendadak aku merasa ragu untuk pindah. Rasanya tak nyaman, sedangkan Rengganis sangat mempercayai diriku.


"Kau terlihat ragu Mas?" Mawar seperti seorang paranormal saja.


"Aku dipanggil oleh Rengganis untuk melakukan presentasi kepada seorang desainer dari Paris. Agar produk terbaru kita bisa ikut lomba modelling di Turki"


"Jadi kau berubah pikiran ?" Mawar terdengar kurang suka. Aku memilih untuk diam.


"Kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya Mas, kalau kamu tidak datang untuk interview. Sampai kapanpun kau akan tetap direndahkan oleh Rengganis"


"Anies justru percaya padaku" Aku membela Rengganis .


"Ch.. itu bukan percaya Mas, Tapi berusaha menunjukkan bahwa kamu sekarang adalah bawahan nya yang siap disuruh-suruh "


Aku terdiam,


"Kalau aku jadi kamu? tidak akan ku sia-siakan kesempatan ini" Mawar bangkit dari duduknya lalu berputar pergi.


Ku tatap punggungnya yang lenyap di balik pintu.


HUFFFF


Aku bingung harus bagaimana sekarang ??

__ADS_1


*


*


AKU-RENGGANIS


Desi mendatangi ku sesaat setelah Mas Farhat keluar.


"Farhat dari sini barusan??"


Aku mengiyakan dengan tangan menopang di bibir.


"Ngapain ?" Desi menghempaskan pan-tatnya ke atas kursi.


"Aku meminta nya untuk mewakili pabrik kita presentasi ke desainer dari Paris" jelas ku


Desi mengernyitkan keningnya.


"Kau percaya padanya ?? Ini bukan main-main loh Nies" dia terlihat ragu dengan keputusan ku.


"Selama ini dia kan tidak main-main kalau soal kerja" belaku .


"Iya tapi dulu kan dia belum punya masalah sama kamu, kalau ternyata dia dendam dan berkhianat gimana ??" Desi nampak cemas.


"Apa yang membuat dia dendam padaku, Aku tidak menyakitinya. Dia yang menyakiti ku" Aku tetap dengan pendirian ku.


"Terserah kamu saja deh, Tapi kalau aku? jujur aku sanksi sama dia"


Ku lempar kan senyuman tipis.


"Kita lihat saja nanti" jawabku kemudian.


*


Saat aku keluar untuk makan siang bersama Desi , Tanpa disengaja ku melihat Mas Farhat bersama Mawar pergi dengan tergesa-gesa.


Mereka naik satu mobil, Lalu melaju kencang meninggalkan area parkiran.


"Mau kemana mereka ?" gumamku.


"Idih masih kepo ya" Goda Desi .


"Perasaan ku nggak enak"


Desi mencebikkan bibirnya, Lalu melangkah mendahului. Aku pun mengekor di belakang sambil sesekali melihat ke jalan tempat yang dilalui Mas Farhat .

__ADS_1


Perasaan apa ini?


Ditengah asyik menyantap nasi Padang pesanan ku, ku lihat acara tv di restoran itu.Yang menyajikan tentang pertemuan anak dan orang tua yang telah lama tidak berjumpa.


"Kalau saja kita bernasib sama seperti yang di acara tv? pasti kita akan sangat bahagia ya Nies" Tukas Desi mengomentari.Aku tersenyum tipis.


"Aku nggak mungkin kayak gitu, Kedua orang tua ku meninggal terbakar di depan mataku" mendadak mataku mengembun mengingat kejadian silam yang menewaskan orang yang ku kasihi.


Meskipun itu sudah lama terjadi, Tapi jika ku kenang, Aku tetap ingin menangis.


"Apa kamu tidak mengingat sedikitpun tentang sanak keluarga mu??"


Pertanyaan Desi hanya ku balas dengan senyuman. Karena mereka sendiri yang membuang ku ke Panti asuhan.


"Kalau kamu gimana ?? apa kamu masih ingat wajah Ibumu??" Ku lempar kan pertanyaan yang sama.


"Emmmmm buram, mungkin sekarang dia sudah termakan usia ataupun sudah tiada "Desi tersenyum getir.


Ku alihkan perhatian ku pada televisi lagi.


"Dulu... Ibuku juga seorang perancang busana, Hanya itu yang ia wariskan padaku" Tukasku mengenang mendiang Ibu.


"Tapi kau sukses karena bakatmu" Puji Desi .


"Orang tua ku juga cukup sukses dengan pembuatan bajunya, Aku masih ingat mereka lebih cenderung memproduksi baju anak cewek karena aku yang dijadikan model nya"


Desi tertawa kecil yang membuat ku heran.


"Kenapa kamu tertawa ??"


"Aku masih ingat waktu kita masih kecil, Kau suka berlenggak lenggok seperti seorang model profesional di atas meja sekolah dengan memakai kain gorden sebagai gaun"


Aku pun turut tertawa bila mengingat hal itu.


"Tak pernah kita bayangkan bukan ?? bahwa kita akan tetap menjadi sahabat sampai detik ini"ucapku yang diangguki oleh Desi .


"Weekend kita pergi ke panti yuk"Ajakku tiba-tiba.


"Boleh-boleh... sekalian aku ingin ngasih undangan pernikahan ku sama Bu Anya"


Ku mengangguk setuju. Kami menyelesaikan makanan kami, Lalu kembali ke kantor. Karena banyak pekerjaan yang menunggu.


Terutama desain terbaru yang ingin ku presentasi kan. Aku berharap besar Mas Farhat bisa ku andalkan.


Aku tidak ingin mencampur adukkan masalah kehidupan pribadi dengan pekerjaan. Meskipun dia dan Mawar sudah menyakiti ku, tidak terbersit sedikitpun di hati ku untuk membalas perbuatan mereka.

__ADS_1


Dan semoga saja Mas Farhat memiliki keinginan yang sama.


__ADS_2