AKU TIDAK KERE MAS

AKU TIDAK KERE MAS
CALON ISTRI 31


__ADS_3

Entah sudah berapa kali ku buang nafas panjang dan mendalam. Rasanya sesak sekali, kata-kata Mawar tidak bisa ku telan habis.


Tapi aku memilih diam, karena jika sampai Desi mendengar aku mengeluh. Dia akan membuat perhitungan lagi dengan Mawar .


" Kok aku gedek banget sama si Mawar yah, rasanya pengen ku cabein mulut nya"


Aku tersenyum tipis menanggapi komentar Desi .


" Kamu kok bisa santuy banget sih Say, dikatain pakek guna-guna. Wanita berhati iblis lah, kalau aku dikatain begitu? Udah ku remuk tuh mulut Ugh!!"


Desi mencengkram kuat stering mobil nya.


" Sudahlah,,, aku malas meladeni dia,,, nanti juga dia bakal tahu sendiri siapa aku" Jawab ku.


" Iya juga sih, ah jadi nggak sabar aku pengen lihat gimana ekspresi wajah nya kalau tahu ternyata kamu adalah pemilik sah perusahaan tempat dia bekerja "


" Waahhh kamu bakal tambah tajir nih Say" Imbuh Desi memujiku.


" Ahhh biasa aja, aku nggak akan ikut campur perusahaan yang sudah ditangani oleh Indra. Aku akan tetap fokus dengan pabrik milik aku sendiri"


Desi manggut-manggut, dia pasti sudah paham bagaimana karakter aku.


Ku lambaikan tangan kepada Desi yang pergi setelah menurunkan aku di depan pintu gerbang.


Aku masuk dan cukup heran melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah ku.


" Mobil siapa ini?"


Ku percepat langkah kakiku karena sangat ingin tahu siapa kah gerangan tamu yang datang.


" Bang Bang" pekikku setelah melihat punggung seseorang yang baru tadi siang ku berjumpa dengan nya.


Pria itu menoleh disertai senyuman lebar.


" Kok sudah disini aja??" ku hempaskan pan-tat ku di kursi kosong di sebelah Indra Lesmana.


" Yah aku pengen cepet-cepet ketemu kamu" Jawab nya yang auto membuat ku salting.


" Ck kau ini ada-ada saja, ya udah aku siap-siap dulu ya"


Indra Lesmana mengangguk.


Baru saja aku akan menaiki loteng, ku lihat Bik Nursih baru saja selesai membersihkan toilet khusus untuk tamu.


" Bik.." panggil ku.


" Iya Nyonya" Ia segera datang memenuhi panggilan ku.


" Eeee tamu yang diluar itu kapan datangnya Bik?"


" Udah dari tadi Nyonya, habis saya sholat ashar dia datang. Katanya teman Nyonya, dia sempet sholat ashar disini "


Pantes... Pikir ku. Karena tadi aku lihat kopi yang dihidangkan sudah habis.

__ADS_1


" Ya udah Bik, tolong buatin dia kopi lagi ya..."


"Baik Nyonya "


*


*


Selesai bersiap, aku langsung turun menemui Indra Lesmana. Pria itu tersenyum menyambut kedatangan ku.


" Kau cantik sekali " gumamnya.


" Please stop, jangan memujiku terus" Pintaku memohon, bukan menyanggupi. Indra justru tersenyum tipis.


Dia memang lumayan tampan dan berkharisma. Tidak kalah dengan Mas Farhat , menurut ku.


" Yuk kita jalan sekarang, Mama sudah menunggu di restoran tempat kita akan bertemu"


" Hah?? kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Ya udah yuk " Aku gegas pergi setelah pamit kepada Komang dan istrinya.


Malam ini adalah malam yang mengharukan. Aku bertemu dengan sosok wanita sahabat dekat Mamaku.


Dia dulu juga sangat menyayangi ku, selain dia tidak punya anak perempuan. Tante Shella juga telah menganggap ku seperti anak sendiri.


Di tambah lagi, aku dekat dengan Indra Lesmana sejak kecil. Sampai Papa Indra dan Papaku ingin menjodohkan kami berdua.


" Tante sangat bahagia sekali bisa bertemu dengan mu Nak, Om Irawan sudah sangat putus asa. Sampai ia meninggal, kami belum juga menemukan mu"


" Tapi syukur Alhamdulillah, ternyata penantian kami terutama Indra tidak lah sia-sia "


" Selama ini kamu kemana saja Nak??" Sambung Tante Shella ingin tahu.


" Emm Maafkan Ies Tante, rasanya sangat tidak nyaman jika di momen bahagia ini bercerita sesuatu yang sedih-sedih" Jawabku yang enggan untuk mengisahkan perjalanan hidup ku.


" Oh baiklah kalau begitu sayang, Tante tidak akan memaksa " Tante Shella memegang tangan ku lembut.


" Mending cerita pengalaman Ies waktu ketemu Bang Bang Tante,,," Ucap ku bersemangat.


" Oh iya iya, Tante pengen tahu. Gimana gimana??"


Indra membulat kan matanya.


" Ah nggak usah nggak usah, itu bukan sesuatu yang menarik Mama" Cetus nya menghalangi aku untuk bercerita.


" Menarik lah, siapa yang bilang tidak menarik?? Malah menegangkan tahu" Bantahku.


" Ies... Please... jangan cerita kan sama Mama" Indra menatap ku tegas.


" Tante tahu tidak??? kalau Bang Bang sebenarnya sempat melaporkan Ies ke polisi atas tuduhan plagiarisme " Aku tak surut untuk menceritakan hal itu, karena pasti Bang Bang akan dimarahi sama Tante Shella.


" Ies!!" Indra Lesmana menjeling ku.


" Loh kok bisa??" Tante Shella justru penasaran.

__ADS_1


" Iya, Karena Ies merancang busana anak kecil yang menyerupai desain almarhum Mama" Jawabku tanpa takut dengan ancaman dibalik Tatapan Indra Lesmana.


" Ma,,, saat itu Indra nggak tahu kalau itu adalah Ies... Sumpah!!!"Indra Lesmana membela diri.


" Iya seharusnya kan cari tahu dulu Tante, jangan seenaknya lapor polisi menuntut somasi " Aku tetap kekeuh menyudutkan Indra.


" Indra,...Kau sudah melakukan kesalahan besar, apa kamu sudah minta maaf?"


Aku sudah tahu jika Tante Shella pasti akan membela ku. Seperti inilah waktu masa kecil kami berdua, dan aku suka sekali menyudutkan Indra.


Indra mendengus kesal menatap ku yang justru tersenyum senang.


" Maaf" Ia mengulurkan tangannya dengan wajah ditekuk.


" Yang ikhlas dong" Aku semakin menggoda nya.


Indra pun memasang senyum penuh keterpaksaan. Aku jadi tergelak sendiri.


" Iya Iya aku maafin" aku pun menyambut uluran tangannya, eh tiba-tiba dia justru mengecup tangan ku dengan lembut.


Membuat sekujur tubuh ku merinding, dan refleks aku menarik nya cepat.


" Apa-apaan sih Bang?"


Ia tersenyum nakal, Tante Shella pun tertawa renyah menggoda. Aku jadi malu dibuatnya.


" Mangkanya jangan jahil jadi orang"


Aku mendengus kesal, gila... Ini benar-benar gila. Nafas hangat yang sempat dihembuskan ke punggung tangan ku masih terasa sekali.


"Indra..."


Tiba-tiba sebuah suara membuat kami bertiga menoleh secara bersamaan. Seorang gadis cantik berpenampilan modis menghampiri meja kami.


" Tasyi??"


Indra Lesmana bangkit menyambut gadis itu, mereka bersalaman, terlihat sangat akrab sekali.


" Kamu sama siapa??" sambung Indra.


" Sama teman-teman ku, kamu disini sama siapa?" Tanyanya menatap diriku dan Tante Shella secara bergantian.


" Oh perkenalkan, ini Mama ku dan ini Rengganis , calon istri ku"


Aku terpegun mendengar ucapan Indra, gadis itu pun bereaksi sama dengan ku. Kami tidak sengaja bertembung mata.


" Calon istri mu??" Suaranya bergetar ragu.


Tante Shella senyam-senyum sendiri, membuat ku semakin salah tingkah.


"Iya.. Aku pernah cerita kan sama kamu kalau aku menunggu kehadiran seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, ya dia lah orang nya.. Siti Rengganis " Kali ini Indra menjawab dengan mantap membuat dadaku bergemuruh hebat.


Gadis itu canggung menyalami ku setelah bersalaman dengan Tante Shella.

__ADS_1


" Ya udah kalau gitu, aku gabung sama teman-teman ku dulu ya"


Indra Lesmana mengiyakan,


__ADS_2