
“NARA!”
Malam itu aku sudah hampir terlelap, tapi suara Mama tiba\-tiba terdengar seperti petir. Membuat aku terbangun. Pukul sepuluh malam lewat beberapa menit, begitu yang kulihat pada jam dinding di dekat meja belajar.
“Ma, Nara capek. Nara nggak bisa maksain diri lagi untuk melakukan apa yang Mama mau. Nara beneran capek, Ma.”
Aku mendengar suara Mas Nara.
Tahu tidak? Pertengkaran seperti ini sebenarnya bukan hal yang baru untuk telingaku. Mama dan Mas Nara memang sering sekali beradu mulut, biasanya Mas Nara akan mengalah pada akhirnya, lalu mereka akan berbaikan esok hari di meja makan.
Hanya saja, biasanya Mama tidak sampai mengeluarkan suara seperti petir itu. Menggelegar. Suara itu kudengar terakhir kali saat aku masih kecil, kalau tidak salah, usia 4 tahun, sebelum Mama dan Papa akhirnya bercerai.
Tiba\-tiba saja aku teringat Papa. Aku takut pertengkaran Mama dan Mas Nara kali ini akan berakhir dengan perpisahan antara keduanya. Aku tidak ingin kehilangan angota keluarga lagi. Cukup Papa saja.
Aku tidak mendengar suara Mama, tetapi ada suara tamparan keras. Ya aku yakin benar itu suara tamparan, aku pernah mendengar suara seperti itu saat usiaku 4 tahun, saat mengintip pertengkaran Papa dan Mama. Lekas aku menuju pintu kamar, membuka sedikit pintu itu tanpa suara, berusaha mengintip dan mencuri dengar.
Benar saja, Mama benar\-benar menampar Mas Nara, buktinya aku bisa melihat Mas Nara memegang pipi bagian kirinya. Lalu wajah Mas Nara tersenyum. Aneh, itu bukan senyum orang bahagia, itu senyum… seperti apa ya? Aku tidak tahu, tapi aku pernah lihat di televisi, itu seperti senyum penjahat yang mengejek.
“Maafkan Nara, Ma. Nara sepertinya lebih baik tinggal sama Papa aja. Nara beneran capek sama Mama yang sekarang ini.” Mas Nara beranjak, langsung masuk ke kamarnya. Aku masih mengintip.
Kamar aku dan Mas Nara bersebelahan, pertengkaran Mama dan Mas Nara terjadi tepat di depan pintu kamar Mas Nara.
“NARA!”
Mama mengulang kembali suara petirnya. Jantungku langsung dibuat bergemuruh. Seram sekali. Bahkan rasanya tangan ini menggigil.
Tak berapa lama Mas Nara keluar membawa ransel dan tas gitarnya. Dia melihat Mama sekilas. Lalu melirik ke arahku! Mata kami bertemu, membuat aku salah tingkah. Jadinya saat itu aku hanya bengong melihat Mas Nara.
Kejadian itu. Pesis seperti 8 tahun lalu. Persis seperti saat usiaku 4 tahun dan Papa pergi.
Sebelum pergi, Mas Nara seperti mengucapkan sesuatu pada Mama. Aku tak bisa mendengarnya. Dia kemudian berlalu, melewati ruang tengah, menuju ruang tamu yang di ujungnya terdapat pintu utama untuk keluar.
“NARA!” Mama memekik, kemudian suaranya melambat dan serak, “kalau kamu keluar dari pintu itu, Mama tidak akan pernah menerima kamu kembali. Dengar Nara, kalau kamu pergi sekarang, Mama akan menganggap tidak pernah memiliki anak laki\-laki.”
__ADS_1
Aku melihat punggung tubuh Mas Nara yang mengecil karena jarak kami yang sudah jauh itu berhenti sebentar. Seperti Papa dulu, Mas Nara juga tidak menoleh. Dia justru lanjut melangkah, keluar dari pintu. Pergi.
Aku tidak menangis. Hanya saja, mata ini terasa perih dan pandangan menjadi kabur. Dan entah mengapa, kakiku melangkah mendekati Mama yang begitu pintu tertutup langsung terduduk. Posisi Mama membelakangi aku, jadi dia tidak tahu kalau aku melangkah ke arahnya.
“Ma\-ma.”
Rupanya Mama menangis. Wajah Mama juga jelek, tidak seperti biasanya. Mama langsung memelukku. Erat sekali, hingga rasanya aku sulit bernapas. Sesaat kemudian Mama membuat jarak antara kami, lalu meletakkan tanggannya di bahuku, menatap aku lekat dengan sepasang matanya yang berair, “Alin, apa Alin sayang Mama?”
Mulutku rasanya terbuka, kaget mendapati pertanyaan seperti itu. Bukankah jawabannya sudah jelas? Memangnya ada anak yang tidak menyayangi ibunya? Ah apa mungkin itu adalah Mas Nara? Mas Nara pergi meninggalkan Mama karena Mas Nara sudah tidak sayang Mama?
Aku memeluk Mama yang sih berjongkok, berbisik di dekat telinganya, “Alin sayang banget sama Mama. Sayaaaang banget.”
Mama lagi\-lagi melepas pelukan. Menatap lagi, kali ini bibir Mama tersenyum, wajahnya mulai tampak cantik kembali, “Jika Alin sayang Mama, Alin jangan pernah ninggalin Mama ya.”
Aku mengangguk. Tentu saja. Aku tidak akan pernah meninggalkan Mama.
“Alin janji Alin nggak akan pernah ninggalin Mama, dan Alin juga janji akan buat Mama bahagia.”
Mama tersenyum, lebih lebar dari sebelumnya, sembari mengusap kepalaku. Kami kembali berpelukan.
*Alin sayang Mama*!
***
“Hei, udah sampai lho.”
“Ha? Iya, Ma?”
“Astaga, Mama kira kamu liatin buku itu belajar, ternyata malah begong?”
Aku nyengir, segera menutup buku yang sedari tadi aku pegang. Niatnya memang hendak membaca buku, tetapi entah kenapa pikiran ini bisa melayang jauh ke masa lampau.
“Ini amunisi biar lancar jawab soalnya. Harus lulus masuk jurusan IPA loh ya!”
Mama menyodorkan dua batang coklat yang disebutnya sebagai amunisi. Aku langsung melepaskan sabuk pengaman dan mengambil dua batang coklat tersebut sambil tersenyum lebar, “Makasih Mama sayang.” Kucium pipi kiri Mama, membuat dia mengusap kepalaku pelan.
__ADS_1
Setelah menyalami tangan Mama, aku turun. Kami berbagi lambaian sebelum Mama pergi. Aku selalu suka melihat lambaian tangan Mama yang dibersamai oleh wajah cantik penuh senyumannya. Rasanya seperti mendapatkan surga. Ah, padahal aku bahkan tidak tahu surga itu seperti apa.
“Selamat pagi, Alin, sepertinya kamu sudah sangat siap untuk ikut ujian jurusan?” Miss Regan menyapa dengan ramah ketika bertemu denganku di gerbang sekolah.
“Pagi, Miss. Sudah sangat siap.” Aku menjawab sekadarnya, juga berusaha memasang senyum sealami mungkin. Sungguh, sejujurnya aku tidak suka bersikap ramah dan berbasa basi seperti ini.
“Okay, sampai jumpa di ruang ujian, saya yang akan ngawas ujian kamu loh.” Miss Regan bersemangat, tentu saja aku terpaksa harus memasang senyum lebih lebar dan berpura\-pura untuk lebih bersemangat.
Miss Regan memang guru yang sangat ramah, wanita muda yang berusia 27 tahun itu banyak disukai siswa Kusuma karena ramah dan baik sekali memberikan soal ujian. Beliau selalu memberikan kisi\-kisi, yang mana kisi\-kisi itu jika dihafal, kita akan bisa dengan mudah menjawab soal. Soal dan kisi\-kisi sama persis! Miss Regan juga cantik dan pandai bergaya, tak heran anak cowok banyak yang menggoda Miss Regan sebagai candaan.
Ruang kelas X berada cukup jauh di gedung belakang, harus melewati koridor ruang kelas XI IPS. Namun, aku, jika tidak hujan, akan memilih untuk berpanas\-panasan membelah lapangan upacara agar sampai ke ruang kelas ketimbang harus melewati koridor kelas XI IPS. Sebab jika aku melewati koridor itu, akan ada saja senior yang jail menggoda, membuat sebal.
Ah tapi hari ini aku memilih melewati koridor tersebut, karena hari ini adalah waktu *Class Meeting*, semua siswa kecuali kelas X sibuk berada di lapangan dan di ruang serbaguna. Hanya anak kelas X yang harus melaksanakan ujian jurusan.
Ujian Jurusan adalah ujian yang dilakukan sekolah kami untuk menentukan jurusan apa yang akan menjadi jurusan kami di kelas XI dan XII nantinya. Setiap anak harus menuliskan keinginan jurusannya kemudian mengikuti serangkaian ujian. Nanti pengumuman kelulusan jurusan akan diumumkan saat menerima Raport. Begitu penjelasan dari Bu Betty, bidang kesiswaan di SMA Kusuma.
Bisik\-bisik yang aku dengar dari gosip para siswa di kelas, dari hasil ujian yang kami kerjakan, bisa saja nanti kami akan masuk jurusan yang tidak sesuai dengan keinginan, karena ujiannya juga akan melihat di mana bakat dan minat kami. *Hum*, aku tidak terlalu peduli dengan gosip ini, aku yakin akan masuk jurusan IPA dengan riwayat nilai bidang IPA dan ushaku selama ini. Pokoknya aku harus masuk IPA.
“Lea, kamu seriusan mau pilih jurusan Bahasa?”
“Yuhu! Aku kan pengin banget bisa jadi penerjemah. Kamu IPA kan?”
“Yoi dong, kan ntar mau lanjut ke Teknik, biar kayak Mas Ken, jadi Arsitek.”
“Danar! Kamu pilih apa ntar?”
“Pilih IPS dong biar sekelas sana Tifana, pujaan hatiku.” Danar tertawa di ujung kalimatnya. Sementara Tifana langsung memukul kepala Danar.
“Ih asli ya nih anak nggak punya impian, bucin aja kerjaannya.” Andin terkekeh geli. Mereka berempat tertawa.
Lea, Andin, Danar, dan Tifana. Empat orang itu posisi duduknya berdekatan, di bagian tengah. Mereka yang paling heboh di kelas. Aku selalu berusaha untuk tidak mencuri dengar atau memperhatikan percakapan mereka, pun teman\-teman yang lain, tapi entah kenapa, meski aku bisa mengabaikan suara percakapan teman\-teman yang lain, aku tidak bisa mengabaikan percakapan mereka berempat. Rasanya mataku senang sekali memperhatikan kebersamaan mereka berempat, tampak hangat dan menyenangkan. Kadang aku ingin seperti mereka, tetapi aku terlalu takut.
Dulu sekali, ketika SMP, aku pernah seperti mereka berempat, memiliki tiga orang teman dekat. Kami dijuluki teletubis karena selalu bersama. Aku, yang semula merasa hanya punya Mama di dunia ini, jadi merasa punya keluarga. Namun sayangnya, mereka sama seperti Papa dan Mas Nara, tidak setia. Justru lebih mengerikan lagi, mereka berkhianat, juga memanfaatkan. Nanti mungkin aku akan bercerita sedikit tentang mereka jika kurasa sudah tidak terlalu sakit. Untuk saat ini, sejak masa SMA\-ku dimulai di sekolah baru, aku memilih sendiri saja. Tidak ingin membuka pertemanan dengan siapa pun. Ini untuk berjaga\-jaga, aku tidak ingin ditinggal lagi oleh orang yang kusayangi. Apa lagi dikhiaati dan dimanfaatkan, cukup satu kali itu saja aku merasakannya.
__ADS_1
Miss Regan datang, membuat seluruh siswa langsung mengunci mulut dan duduk rapi di bangkunya. Ujian jurusan dimulai!