
“Alin duduk manis aja ya, biar Papa dan Mas Nara yang pasang balonnya.”
Papa meminta aku untuk duduk di sofa ruang tamu. Aku mengangguk lalu duduk, sedang beliau lanjut memasang balon pada sudut dinding.
“Nara, itu, tolong ambilkan itu.”
Mas Nara yang tadinya memegang beberapa balon di dekat Papa langsung bergegas mengambil tali di atas meja. Aku adalah anak penurut dan benar\-benar duduk manis saja melihat kesibukan Papa dan Mas Nara menyiapkan balon\-balon untuk kejutan ulang tahun Mama.
“Pa, bentar lagi mau jam lima, ayo buaruan.” Mas Nara melihat jam yang tergantug di dinding. Aku ikut melihat meski tidak bisa membaca waktu.
Papa dan Mas Nara mempercepat gerakan mereka. Papa yang semula memanjat kursi kayu langsung beralih ke sudut satunya, Mas Nara menyingkirkan kursi kayu. Kemudian kembali membawa kerta ucapan selamat ulang tahun, dia menempelkan kertas itu di dinding yang bersembarangan dengan pintu masuk, sehhingga siapa yang membuka pintu bisa langsung membaca tulisan tersebut.
“Pa, Alin bantu ambil kue dari kulkas ya, sudah boleh kan?”
“Iya sayang, hati\-hati ya!” Papa menoleh, tersenyum. Aku bergegas pergi ke dapur.
“Mas Nara! Kuenya berat!” Aku memekik dari dapur. Tidak disangka, rupanya kue ulang tahun yang dibeli Papa itu cukup berat setelah aku berusaha mengambilnya, membuat aku takut membawanya ke depan.
Setengah berlari Mas Nara datang menghampiri, “Dih, putri kecil satu ini mau sok sokan bawa kue, tapi penakut, wek!” Mas Nara menjitak pelan kepalaku, membuat aku meringis manja. Kami tertawa bersama. Mas Nara yang akhirnya membawa kue itu ke depan.
“Kamu tolong bawa itu\-tu,” Dengan bibirnya Mas Nara menunjuk dua mainan yang tidak aku kenali tergeletak di meja ruang tengah, aku mengangguk dan mengambilnya.
Begitu kami sampai di ruang depan, Papa sudah selesai menghias ruangan. Beliau tersenyum, “Sekarang kita tunggu Mama pulang.”
Lima menit kemudian terdengar suara mobil masuk ke pekarangan rumah. Kami bertiga langsung tersenyum. Papa langsung mengambil kue ulang tahun yang diletakkan di atas meja. Beliau berdiri di depan pintu. Bersiap menyambut Mama yang muncul di balik pintu. Mas Nara berdiri di samping kiri Papa, memegang mainan yang tadi aku bawa, seperti alat semprot. Aku berdiri di kanan Papa, memegang mainan yang sama, beberapa saat lalu Mas Nara sudah mengajariku cara menggunakan mainan itu.
Terdengar suara langkah kaki. Entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat. Lalu terdengar suara ganggang pintu diputar. Dan … “surprise!” Papa bersorak lebih dulu begitu pintu terdorong, mama muncul dari ballik pintu.
Mata Mama melebar, senyum Mama juga lebar. Mama memandangi kami satu per satu, matanya mulai berair tetapi senyumnya tidak pudar. Aku sampai terlambat memompa mainan yang ada di tanganku. Mas Nara yang memompa lebih dulu, menghasilkan serbuk\-serbuk berterbangan di udara, membuat suasana lebih semarak.
“Selamat ulang tahun, Sayang!”
“Happy Birthday, Ma!”
“Ye! Selamat ulang tahun, Mama!” Aku bersorak riang.
Usiaku 4 tahun. Usia Mas Nara 9 tahun. Mama hari itu berulang tahun ke\-37. Dan aku tidak menyangka kalau itu adalah perayaan terakhir kami dalam formasi keluarga yang lengkap.
*Pa, Mas Nara, aku rindu kalian melebihi rasa benciku pada kalian, sungguh*!
__ADS_1
***
“*Yeay*! Selamat untuk putri hebat Mama karena udah jadi juara satu dan masuk jurusan IPA! *Yeay*!”
Mama mengangkat tangan kanannya ke udara, beliau riang sekali. Ini adalah alasan mengapa aku harus masuk jurusan IPA. Ini adalah alasan mengapa aku harus rajin belajar dan mendapatkan juara kelas. Sebab dengan begitu, aku bisa melihat Mama tersenyum amat lebar. Sebab dengan begitu, Mama bahagia.
Sejujurnya, tiap perayaan semacam ini, aku selalu teringat dengan perayaan ulang tahun Mama yang ke\-37 waktu itu. Andai Papa dan Mas Nara tidak memilih pergi, mungkin meja makan malam ini akan lebih ramai. Mungkin kami berempat akan berbagi tawa dan yang terpenting, aku mungkin tidak hanya akan melihat senyum bangga Mama, tetapi juga Papa.
“Jika kamu terus begini hingga hari kelulusan, Mama yakin kamu bisa masuk Fakultas Kedokteran di Universitas terbaik. Dan Mama yakin kamu pasti bisa jadi dokter yang lebih hebat dari Mama.”
“Amin!” Aku tersenyum tak kalah lebar. Semeseter kedua di masa putih abu\-abu baru saja terlewati. Seperti prediksiku, aku menjadi juara satu seperti semester lalu, dan juga masuk jurusan IPA tentunya.
“Oh ya, Mama ada kabar gembira.” Mata Mama berbinar\-binar, beliau tampak bersemangat dan membuat aku penasaran tentang kabar apa yang hendak beliau sampaikan.
“Liburan semester ini Kak Jihan ngga kemana\-mana, dan dia sudah setuju untuk mengajar kamu. Jadi mulai senin depan kamu sudah bisa pivat sama Kak Jihan untuk menguasai materi kelas sebelas.”
Aku terdiam sesaat. Kemudian terpaksa harus membuat senyum agar Mama senang.
*Liburan semester diisi dengan kursus privat*? Itu disebut Mama sebagai kabar gembira. Astaga, seharus aku sudah bisa menebak. Semester lalu aku dikirim mengikuti kursus Bahasa Inggris ke Pare hanya karena Kak Jihan, guru les privatku tidak bisa mengajar di libur semester.
*Oh ayolah, kenapa Mama tidak mengajakku berliburan saja sebagai hadiah? Bukankah aku sudah cukup banyak belajar selama ini*? Sungguh aku merasa perlu liburan, perlu berhenti belajar. Namun, aku juga sadar diri, begini, ini sebuah rahasia besar yang tidak diketahui teman\-teman dan guru di sekolah. Aku … tidak pintar.
Aku tidak seperti Andin, temen satu gengnya Lea yang menempati juara 2 padahal kulihat dia sering bersenang\-senang. Tanpa memperhatikan guru di kelas, Andin bisa menjawab soal dengan benar. Dia seperti anak yang terlahir pintar. Berbeda dengan aku, sewaktu SD, aku tidak pernah juara kelas. Paling mentok rangking sebelas. Dan Mama tahu itu, sehingga kata Mama, “Pintar itu bukan sekadar bakat, Lin. Kamu bisa menjadi pintar dan bahkan mengalahkan orang\-orang yang terlahir pintar, kuncinya hanya kamu perlu belajar lebih keras. Jika orang\-orang pintar di luar sana belajar 1 jam, kamu harus mengejar dengan belajar 10 jam. Kamu pasti bisa. Mulai sekarang Mama akan tambah jam belajar kamu dan mencarikan guru terbaik untuk kamu.”
“Lin, ini nilai matematika kamu kok cuma tujuh lima?? Kamu tau kan anak pintar itu nilai matematikanya harus di atas delapan puluh.” Mama pernah mengomel begitu ketika nilai matematikaku rendah, besok\-besoknya nilaiku tidak pernah di bawah delapan puluh. Bukan karena aku mendadak pintar. Tentu saja aku harus belajar lebih lama.
“Hei, kamu kok bengong? Apa kamu ngga mau privat sama Kak Jihan?”
“Mau kok, Ma. Mau. Tapi, gimana kalau satu minggu pertama kita liburan ke rumah Nenek? Udah lama rasanya ngga ke rumah Nenek, Ma, rindu.” Aku mencoba menawar, memasang wajah memelas sementara tangan masih memegangi sendok dan garpu.
“Maaf, Sayang. Ngga dulu di liburan semester ini. Mungkin Ramadhan atau lebaran nanti kita ke rumah Nenek ya. Mama ngga dapat cuti soalnya.”
“Aku sendiri liburan di tempat nenek juga ngga apa kok, Ma. Ntar biar aku belajar sendiri di sana. Gimana?”
“*No*, Alin, Mama tahu kamu. Kamu ngga bisa belajar sendiri sayang, apa lagi materi pelajarannya belum kamu pelajari di sekolah, nanti kalau kamu bingung sendiri gimana?”
Tanpa sengaja aku mengembuskan napas, seperti frustasi, membuat alis mama terangkat.
“Kamu nggak suka ya dengan Kak Jihan? Atau mau Mama carikan guru baru?”
Aku bergegas menolak. Lalu memasang senyum gembira. Pada akhirnya, lagi\-lagi aku harus mengalah dan menuruti kemauan Mama.
__ADS_1
Kami melanjutkan makan malam. Ini makan malam di restoran pilihan Mama, sebenarnya sebagai bentuk perayaan, tetapi entah mengapa suasana hatiku sulit menjadi baik setelah mendapat kabar gembira dari Mama. Berulang kali aku berusaha menelan makanan dengan susah payah, pun memasang senyum agar tampak senang. Berpura\-pura itu sulit, menikmati yang tidak nikmat juga sama sulitnya.
“Ma, besok kan minggu, aku izin jalan keluar untuk beli buku\-buku pelajaran kelas XI ya?”
“*It’s okay*, ide bagus. Eh tapi sendirian nggak apa ya? Mama besok ada jadwal jaga.”
“Nga apa kok, Ma.” Aku tersenyum, kali ini senyum beneran, bukan pura\-pura. Entahlah, aku suka senang saja jika mendapatkan waktu berjalan\-jalan sendirian. Bebas.
***
Toko buku adalah tempat paling favorit bagiku. Meski aku kadang dihinggapi rasa jenuh pada kata ‘belajar’, tetapi tidak pada kata ‘buku’. Aku suka perpustakaan, aku suka toko buku. Tepatnya, aku suka melihat rak\-rak dengan susunan buku yang rapi. Aroma buku seperti aroma tanah setelah hujan, menentramkan, membuat rindu.
Kakiku berhenti di rak buku\-buku pelajaran, aku ingin menuntaskan kewajiban untuk membeli buku\-buku kelas XI sesuai janjiku pada Mama. Setelah itu baru beranjak ke rak novel. Menyenangkan sekali melihat novel\-novel dengan beragam sampul dan judul, berlama\-lama membaca tulisan di sampul belakang buku untuk kemudian memilih mana yang paling menarik. Hanya ketika pergi sendirian aku bisa begini.
Andai perutku tidak mengadakan konser, mungkin aku masih akan berdiri di rak novel. Suara perut yang memalukan tersebut membuat aku bergegas. Jam di pergelangan tangan kananku menunjukkan pukul 12 siang, tanpa sadar sudah 4 jam rupanya aku mengahabiskan waktu di toko buku tersebut.Wajar saja jika perutku sudah mulai konser.
Segera aku menuju kasir untuk membayar buku\-buku yang sudah ada dalam keranjang, penuh dan berat sekali. Sudah seperti memborong belanja bulanan.
Niatnya aku ingin makan di restoran Jepang karena sedang ingin makan ramen, tetapi langkah kakiku berhenti di depan kafe yang menyajikan kopi. Bukan tanpa alasan, aku mendengar ada suara musik yang menyenangkan. Bukan musik dengan lagu gembira atau irama yang cepat, iramanya lambat dan mendayu\-dayu, menentramkan seperti suara gerimis.
Aku masuk ke dalam kafe tersebut, tampak ada *band indie* yang sedang manggung. Kepalaku mengangguk\-angguk, mengikuti irama musik mereka yang penuh kedamaian. Tanpa sadar aku terdiam memperhatikan penyanyi laki\-laki yang tengah duduk sambil memetik gitar. Rambunya cukup panjang untuk ukuran laki\-laki, tetapi tidak sepanjang rambut perempuan. *Astaga*! Aku belum sempat memperhatikan dengan benar, tiba\-tiba mata kami bertemu, membuat aku spontan langsung mengalihkan pandangan. Dan bodohnya, ternyata antrian di depan sudah tidak ada, Mas kasir juga sudah memanggil aku.
“Mbak?”
“Ah iya, Mas. Saya pesan ….” Aku melihat menu yang terpampang di bagian atas, memilih menu apa yang bisa mengenyangkan. Syukurnya selain menyediakan kopi dan roti, kafe itu juga menyediakan pasta.
“*Beef sausage spaghetti* satu, terus *Latte Macchiato* satu.”
“Oke, atas nama?”
“Alinea.”
“Oke, totalnya sembilan puluh enam ribu, mau cash atau….”
Mas kasir yang di dada kirinya terdapat *name tag* dengan tulisan Kai itu belum selesai berbicara, tetapi aku langsung memotong dengan mengatakan, “ovo aja, Mas.”
“Siap.”
Setelah proses pembayaran, kemudian aku melirik lagi si vokalis, dia tengah melihat ke arah pengunjung lain. Dia tersenyum ke arah lain itu, dan aku tidak paham kenapa tiba\-tiba tanpa sadar bibirku rasanya ikut tersenyum pula. Lalu bisa\-bisanya si vokalis itu tiba\-tiba melihat ke arah aku yang tengah tersenyum ke arahnya. Sungguh! Aku langsung panik, buru\-buru mengalihkan pandangan dan mencari tempat duduk.
__ADS_1
Sial, sangking hanya memperhatikan *band indie* itu, aku tidak sadara kalau kafe tersebut ramai sekali. Tidak ada meja kosong. Mataku terus mencri. Ah, ketemu satu meja kosong, tapi posisinya. *Asataga*! Terpaksa, mau tidak mau aku melangkahkan kaki menuju meja kosong itu sebelum ada yang menempati. Meja kosong tepat di depan panggung, tepat di depan cowok vokalis itu! Semoga wajahku tidak tampak seperti kepiting rebus!