Alinea: Cita, Cinta, Dan Cerita

Alinea: Cita, Cinta, Dan Cerita
AKU SALAH DAN SHAKA BENAR


__ADS_3

“Juara ketiga dari kelas tujuh empat jatuh kepada ….” Pak Aras, Kepala SMP Persada itu pandai sekali membuat jantung para siswa berdebar\-debar karena penasaran. Terlebih jantung siswa\-siswa yang memang sudah mengincar peringkat juara kelas, seperti aku.


Sudah berulang kali aku meremas tangan dan menggigit bibir bawah, sesekali pandanganku juga melirik ke sisi kanan sekolah, melihat sosok Mama yang berdiri di koridor, tepat di depan kelas VII.4 yang menjadi kelasku selama satu semester ini.


Mama tersenyum cerah, meski jarak kami cukup jauh, tetapi aku tahu benar bagaimana wajah Mama ketika tersenyum. Terlebih Mama juga mengangkat kedua tangannya, seperti tengah memberikan semangat. Dalam hati, aku berdoa pada Tuhan, semoga aku berhasil menjadi juara kelas. Aku benar\-benar ingin menjadi juara kelas. Setidaknya juara tiga. Aku sudah berusaha keras, aku juga sudah memanjangkan doa pada Tuhan. Hasilnya, aku benar\-benar berharap Tuhan tidak ingkar janji.



“Elia Azzahra!”



Ah, Lia rupanya menjadi juara tiga. Senyumku mulai pudar. Lia sangat aktif di kelas. Dari gosip yang beredar, sejak SD dia juga sudah menjadi juara kelas. Aku mulai patah semangat. Lia yang sudah sejak SD menjadi juara kelas saja duduk di peringkat tiga, bagaimana bisa aku yang tidak pernah masuk sepuluh besar ketika SD bisa melangkahi peringkatnya?



Juara dua kemudian disebutkan. Bukan aku. Semua murid tujuh empat bersorak untuk Zaki. Anak cowok itu memang pintar. Seena, Rumi, dan Defi tersenyum kepadaku, entah apa maksud senyum mereka. Kala itu aku hanya berpikir positif, mengira itu senyum sebagai suntikan semangat.



“Juara satu jatuh kepada ….” Lagi\-lagi Pak Aras memberi jeda.



Aku tidak lagi berani menoleh pada Mama. Takut mendapati wajah kecewa.



“Alinea Ghita!”



Mataku terbelalak. Semua anak tujuh empat bertepuk tangan. Defi waktu itu berada tepat di belakangku, dia menepuk pundakku, mengucapkan selamat. Sementara Seena dan Rumi yang berada di bagian kanan, satu saf denganku tersenyum, mengacungkan jempol.



“Ayo ke tengah lapangan, Lin. Kamu ditungguin tuh,” bisik Defi dari belakang.


Aku mengangguk. Berjalan ke tengah lapangan. Senyumku merekah. Mataku mulai mencari sosok Mama. Mama mengacungkan dua jempol.


Hari itu hari pertama aku menerima *raport* di SMP. Hari pertama aku menjadi juara satu. Mama benar, aku bisa menjadi juara satu. Semasa SD aku hanya kurang belajar. Mama benar, dan mulai hari itu aku percaya semua kata\-kata Mama.



Hari itu juga, hari pertama aku melihat Mama benar\-benar melihat ke arahku.



“Kamu hebat, Sayang. Kamu benar\-benar hebat!” Mama berulangkali mengucapkan pujian itu sepannjang hari. Beliau juga mentraktirku makan malam di restoran ternama. Itu kali pertama kami merayakannya. Aku gembira sekali.


__ADS_1


Sejak hari itu juga, aku berjanji akan terus rajin belajar. Akan terus berusaha menjadi juara kelas. Agar aku, selalu bisa melihat senyum Mama. Agar aku, selalu bisa dilihat oleh Mama.


***


“Impianku adalah membahagiakan Mama, Shaka. Ya, aku ingin membahagiakan Mama.” Aku mengucapkan kalimat itu sebagai pembuka percakapan makan siang kami di kantin.



Shaka tidak langsung menanggapi. Dia menatapku sebentar. Aku sudah tidak gugup lagi mendapati tatapan Shaka. Sekarang aku justru tengah menyendokkan sesuap besar nasi goreng ke dalam mulut lengkap dengan potongan telur dadar.



“Kamu tidak akan bisa membahagiakan orang lain sebelum kamu bisa membahagiakan dirimu sendiri, Alin.”



“Apa maksudmu?”



“Kamu yakin akan jadi dokter demi kebahagiaan Mamamu? Bagaimana kalau itu artinya kamu akan terus menerus membohongi perasaanmu? Kamu tertekan, kamu tidak bahagia, bahkan masuk jurusan IPA ini saja pasti sangat sulit bagimu, Kan?”



Aku tergelak.




“Aku tahu. Aku tahu banyak dari ekpresi wajahmu. Di kelas, kamu terlalu banyak memasang wajah palsu. Kamu pura\-pura tersenyum pada Silvi dan Mia saat mereka menoleh ke meja kita untuk meminjam sesuatu atau sekadar menyapa. Kamu juga pura\-pura baik pada teman\-teman kita saat ada tugas kelompok. Di depan Mamamu waktu itu, kamu juga berpura\-pura menjadi anak penurut. Kamu terlalu banyak berpura\-pura, Alin. Mau sampai kapan kamu melakukannya? Dokter bukan pekerjaan yang bisa kamu lakukan dengan terus berpura\-pura. Kamu tidak bisa memasang wajah palsu erus menerus di hadapan banyak pasiens.”



Aku diam.



“Apa yang benar\-benar kamu sukai, Alin? Apa impianmu?” Shaka kembali menanyakan hal itu. Telingaku panas, aku benci pertanyaan Shaka.



“Aku suka melihat Mama tersenyum, Shaka. Aku ingin membuat Mama selalu bahagia. Itu saja. Itu impianku. Kamu tidak perlu banyak sok tahu tentang apa yang aku lakukan. Aku tidak seperti itu, aku tidak berpura\-pura. Kamu terlalu sok tahu!”



Aku marah. Pergi begitu saja meninggalkan Shaka. Cowok itu salah. Dia sok tahu.



Mata pelajaran berikutnya dimulai setelah jam istirahat. Aku masih berdiam diri menatap cermin toilet. Malas masuk ke kelas. Aku tidak ingin berjumpa Shaka.

__ADS_1



Kali pertama aku memutuskan untuk bolos pelajaran. Aku memilih ke perpustakaan, berbohong pada penjaga perpustakaan saat ditanya mengapa aku berada di perpustakaan saat jam pelajaran, kubilang saja kelasku kosong karena gurunya absen. Syukurnya Bapak Tua penjaga perpusatakaan itu percaya saja.



Aku langsung menuju rak novel. Senang sekali rasanya memandangi rak buku berisi banyak novel. Dulu sewaktu kelas sepuluh, beberapa kali aku menikmati istirahat dengan membaca buku di perpustakaan ini. Sejak kelas sebelas, tepatnya sejak bersama Shaka, aku jadi sering makan di kantin dan tidak pernah mengunjungi perpustakaan.



Aku mengambil sebuah novel di rak atas, membaca tulisan pada sampul belakangnya.



“Kamu suka membaca novel, Alin?” Suara itu mengangetkanku. Itu Shaka.



“Kamu? Jangan bilang kamu membuntuti aku ke sini?”



Shaka tertawa. Posisi kami berada di rak belakang, cukup jauh dari meja penjaga perpustakaan. Perputakaan juga sepi siang itu, jadi tidak ada yang akan terganggu dengan percakapan aku dan Shaka yang tanpa kami sadari berlangsung dengan suara seperti berbisik.



“Kamu geer sekali. Aku kesini karena aku pikir aku akan mengganggumu kalau aku ke kelas. Rupanya kamu justru di sini. Takdir kita lucu sekali.”



“Takdir kita?”



Shaka tidak menjawab, “Lanjutkan saja membacanya. Aku tahu sekarang, yang paling kamu sukai adalah novel. Kamu suka novel. Mungkin karena itu juga kamu suka pelajaran bahasa Indonesia. Apa kamu tidak tertarik menjadi penulis, Alin?”



“Penulis?”



“Ah lupakan. Kamukan mau jadi dokter.” Shaka pergi. Kepergian yang memunculkan tanda tanya besar.



Shaka. Poin keberapa aku sudah tak peduli, dia itu mungkin keturunan dukun. Kenapa dia bisa menebak dengan akurat? Kenapa kata\-kata yang keluar dari mulutnya selalu benar? Mnyebalkan.



Novel? Penulis? Pertanyaan itu terngiang. Ya, aku suka novel. Setelah dulu semasa kecil aku suka mendengar dongeng yang dibacakan Papa. Setelah itu aku suka novel. Ya, aku suka novel, tapi menulis? Kenapa rasanya tidak asing?

__ADS_1


__ADS_2