Alinea: Cita, Cinta, Dan Cerita

Alinea: Cita, Cinta, Dan Cerita
MAMA


__ADS_3

“Ibuk bilang juga apa? Makanya, kamu itu jadi anak, mbo ya dengerin kata orang tua. Begini kan jadinya.” Nenek terdengar mengomel. Aku melihat Mama menunduk di hadapan Nenek. Mungkin, Mama sedang dimarahi Nenek. Ya sepertinya begitu.



“Iya, Buk. Vena menyesal.”



“Andai saja dulu kamu menikah dengan Alex, mungkin nasibmu tidak akan begini, Nduk. Ah tapi kamu itu keras kepala sekali, ngotot sekali menikah dengan penulis miskin itu. Sudah Ibuk bilang Tama itu tidak punya masa depan. Kamu nggak juga mau denger. Begini kan jadinya. Kalau sudah begini, kamu sudah jadi janda punya anak 2 , siapa yang mau menikah dengan kamu?” Nada bicara Nenek meninggi. Mama masih menunduk.



“Maafin Vena, Buk.”



“Sekarang tugas kamu itu, jangan samapai anak\-anak kamu ngikutin jejak Bapaknya. Ibuk nggak mau punya cucu penulis atau apalah. Kamu harus contoh ibuk dan bapakmu ini. Meski kami hanya buruh tani, kami bisa bikin kamu jadi dokter, jadi anak yang sukses. Eh malah setelah sukses kamu milih kehidupan melarat bersama penulis miskin itu.”



Aku melihat Mama menangis kali ini. Bersimpuh di depan Nenek, memohon maaf berulang kali. Waktu itu usiaku 8 tahun. Mas Nara 13 tahun. Kami mencuri dengar tanpa benar\-benar tahu apa maksud pembicaraan Mama dan Nenek. Yang kami tahu hanya, Nenek memarahi Mama. Padahal itu kali pertama kami mengunjungi rumah nenek setelah terakhir kali waktu masih ada Papa, dulu sekali. Kalau tidak salah saat aku masih berusia 3 tahun. Sehingga aku tidak begitu tahu kondisinya.



“Eh, anak kecil nggak boleh nguping lho.” Kakek tiba\-tiba muncul. Ada kekehan renyah di akhir kalimatnya. Lalu Kakek mengajak aku dan Mas Nara ke ruang depan. Meninggalkan pintu kamar Nenek.



“Kek, kenapa Nenek marah sama Mama?”



Kakek hanya tertawa dan mengatakan itu urusan orang dewasa.



Sekarang, ketika mengingat kembali kejadian itu. Menyusun satu persatu pecahan kenangan bersama Papa, Mama, dan Mas Nara, aku mulai paham sesuatu. Paham alasan mengapa Mama, ingin anaknya menjadi dokter, juga alasan Mama jarang mengajak kami mengunjungi Nenek dan Kakek.



*Mama, beliau juga merupakan korban dari harapan yang salah*.


***


“Kamu sudah pintar berbohong ya, Alin?”



Aku terkejut mendapati Mama begitu masuk ke dalam rumah. Beliau sudah berdiri di balik pintu. Melipat tangan di depan dada. Wajah Mama merah, tampak kesal.

__ADS_1



“Mama barusan telepon Miss Regan. A, pertama tidak ada tugas kelompok. Kedua, ternyata kamu dan Shaka masih menjadi teman satu meja. Wow, kamu hebat sekali dalam berbohong, Sayang?”



Aku terdiam. Tidak ada kata pembelaan atau kebohongan yang mampu aku rangkai lagi. Jemariku dingin. Aku takut sekali melihat tatapan Mama. Ini pertama kalinya Mama tampak menyeramkan. Sungguh.



Aku langusng terduduk. Menangis. Memohon maaf pada Mama. Menarik\-narik tangan Mama, memohon agar dimaafkan. Dalam tangis itu aku teringat pesan Shaka, tapi aku sadar benar, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah berani mengatakan itu pada Mama. Tidak. Aku harus membuang jauh\-jauh perasaan suka dan impian itu. Mama tidak akan menyukainya.



“Bangunlah, Mama sudah bilang ke Miss Regan untuk memisahkan duduk kalian. Jika Mama tau kamu masih berteman dengan Shaka itu, nggak hanya duduk kalian yang Mama pisahkan Alin, kamu tahu Mama bisa dengan mudah mindahin sekolah kamu, Kan?”



Aku mengangguk. Menangis tersedu\-sedu. Mama sudah berlalu. Beliau masuk ke kamar lalu membanting pintu.



Dadaku berdebar kencang mendengar suara bantingan pintu. Tanganku mulai menggigil. Rasanya berat sekali bangkit dari posisi ini. Langkahku gontai menuju kamar. Aku teringat kisah Ashka, kakak laki\-lakinya Shaka. Aku memahami perasaannya dan aku mulai ingin melakukan hal serupa.



Hampir malam itu aku ingin melukai diri sendiri. Aku mendadak merasa lelah dengan apa yang selama ini aku lewati. Aku merasa tidak sanggup lagi untuk berpura\-pura dan mengikuti semua rencana Mama. Semua terlalu berat. Dan benar kata Shaka, aku tidak bisa membahagiakan orang lain jika diriku sendiri masih belum bahagia.




**Kamu tidak perlu lapor ke Mamamu sekarang. Ayo kita raih dulu impianmu. Kita buktikan ke Mamamu kalau impianmu tak kalah hebat dari apa yang Mamamu rencanakan. Bagaimana? Balas ya. Pulsaku habis karena menelponmu tadi**.



Ada suntikan semangat di awal kalimatnya. Lalu Shaka membuat aku tersenyum dengan kalimat akhirnya.



**Terima kasih**.



Hanya itu pesan balasan yang aku kirimkan pada Shaka.



Lima menit, tidak ada balasan. Sepuluh menit masih belum ada balasan. Setengah jam juga belum ada balasan. Lagi pula, balasan seperti apa yang aku harapkan dari pesan yang hanya kubaas dengan ucapan terima kasih?

__ADS_1



Ketika aku hendak mandi, ponsel itu berdering. Satu panggilan masuk dari nomor tanpa nama, tetapi sudah tidak asing. Aku sudah hafal nomor ponsel Shaka meski tidak menyimpannya. Dia menelpon.



“Kamu itu jahat banget ya! Sudah susah payah aku mengirimkan pesan panjang\-panjang, masa iya kamu cuma balas terima kasih? Apa ngga ada gitu kata lain? Atau setidaknya kamu kasih tau aku impian kamu apa. Cerita apa kek gitu? Ini Cuma teri makasih doang. Nyebelin banget tau nggak!”



Aku tertawa. Hampir saja suara tawaku memecah ruangan. Ingat kalau Mama ada di rumah, suara tawa itu langsung kutahan.



“Maaf.” Hanya itu yang mampu kujawab dari celoteh panjang Shaka.



“Jadi apa impianmu?”



“Penulis. Aku ingin jadi penulis.”



“Impian yang keren, ada banyak penulis terkenal di Indonesia. Bahkan aku yakin kamu bisa menjadi penulis hebat dan sukses seperti J.K Rowling, penulis Harry potter itu.”



“Ya, aku akan menjadi penulis hebat seperti itu.”



“Oke, kalau begitu jangan lupa mengerjakan tugas mengarang dari Miss Fitri, besok loh dikumpulnya.”



“Astaga iya! Terima kasih sudah mengingatkan ….” Aku belum selesai bicara, telepon sudah terputus. Lalu satu pesan masuk : **Sial, pulsa aku habis lagi. Kamu besok harus beli kartu yang satu provider dengan aku ya. Atau minimal kamu punya whatsapp kek gitu. Masa di zaman begini kamu nggak punya akun medsos atau chatting apa pun. Menyusahkan orang lain tau nggak**.



Tersenyum membaca pesan singkat Shaka. Lalu membalas singkat dengan dua huruf, **ok**. Aku yakin di sebrang sana Shaka akan berlonjak\-lonjak karena marah dibalas begitu singkat. Biarlah. Aku bergegas mandi.


Sekarang, aku sudah tau apa yang hendak aku tulis untuk tugas mengarang. Aku sudah mulai bisa membayangkan bagaimana aku 10 tahun yang akan datang.


Alinea Ghita di 10 tahun yang akan datang. Aku sudah memiliki buku atas namaku sendiri. Aku bisa melihat jejeran buku dengan namaku terpajang di bagian *best seller* toko buku. Banyak orang mengantri meminta tandatanganku. Menghadiri berbagai acara seminar dan talk show dunia kepenulisan. Semuanya, bayangan akan menjadi penulis hebat itu membuat senyumku merekah, seperti kuncup bunga yang baru memasuki waktu untuk mekar!


__ADS_1


Dan aku berharap, 10 tahun yang akan datang, Mama sudah menerima impianku tersebut. Juga, aku ingin sekali saat buku pertamaku lahir, Papa hadir memberikan selamat, Mas Nara muncul memberikan kado. Ah, aku benar\-benar mulai mengarang sekarang!


__ADS_2