
Satu hari setelah Mas Nara pergi dari rumah.
Usiaku ketika itu 12 tahun. Kelas 6 Sekolah Dasar. Dua bulan lagi akan masuk SMP.
Kupikir Mama akan menangis sepanjang hari tersebut karena kemarin malam beliau baru saja ditinggal anak laki-lakinya. Ternyata tidak. Pagi-pagi sekali, seperti jam ketika akan bersekolah, Mama membangunkanku. Membuka jendela kamar hingga aku tidak bisa melanjutkan tidur karena silaunya cahaya pagi.
“Bukannya ini hari minggu ya, Ma? Kenapa Alin di suruh bangun pagi-pagi?”
“Ada banyak hal yang akan Mama sampaikan Alin. Ayo lekas mandi, Mama tunggu di meja makan segera.”
Aku menguap lebar. Bermalas-malasan menuju kamar mandi. Mama sudah meninggalkan kamar.
“Buruan ya, Sayang!” pekik Mama dari luar. Aku tidak menyahut. Masih setengah tidur memasuki kamar mandi.
Kurang dari setengah jam, aku menemui Mama di meja sarapan. Beliau sudah menyiapkan bubur kacang hijau. Aku menggaruk kepala, Mama tampak aneh. Wajah Mama cerah sekali, senyumnya lebar.
“Ayo segera sarapan, Lin. Kamu suka bubur kacang hijau kan?”
Aku ingin menggeleng, tetapi urung. Memilih mengangguk saja. Sejak dulu Mama tidak berubah. Dia tidak pernah tahu apa kesukaanku. Beliau terlalu sibuk menjadi dokter di rumah sakit, juga sibuk mengurusi nilai-nilai dan prestasi Mas Nara.
Bubur kacang hijau, itu makanan kesukaan Mas Nara. Aku tidak pernah menyukai bubur kacang hijau. Aku suka sandwich, beberapa kali aku sudah mengatakannya pada Mama. Tapi, mungkin Mama tidak ingat.
Meski tidak menyukainya, aku tetap menyuap bubur kacang hijau yang telah dibuat Mama. Kan aku sudah berjanji semalam kalau aku tidak akan membuat mama sedih. Aku akan membuat Mama bahagia, apa pun caranya.
“Tunggu sebentar di sini.” Mama beranjak, wajahnya masih sumringah. Hatiku kala itu bertanya-tanya apa yang membuat Mama bisa riang sekali. Sekali lagi aku mengingatkan, ini adalah pagi di mana kemarin malam Mama dan Mas Nara baru saja bertengkar hebat dan Mas Nara pergi dari rumah. Bukankah seharusnya Mama tidak sebahagia itu?
Aku masih menunggu Mama di meja makan. Semangkuk kacang hijau telah tandas, begitu pula dengan secangkir teh hangatnya.
Mama kembali, beliau menyeret sebuah papan yang di bagian kakinya terdapat roda. Papan tulis beroda itu ia seret hingga kehadapanku. Papan tulis itu masih tertutup oleh kain panjang bermotif batik sehingga aku dibuat penasaran akan apa yang akan Mama perlihatkan.
Sebelum Mama membuka kain panjang itu, Mama menatapku, menanyakan hal aneh, “Alin, kamu sayang Mama kan?”
Aku mengangguk.
“Alin mau Mama bahagia, kan?”
Aku mengangguk lagi. Kan aku sudah berjanji kemarin malam.
“Kalau begitu, Alin harus melakukan apa yang sudah Mama rencanakan. Ini adalah yang terbaik untuk kamu, Nak. Ingat, jangan pernah melakukan hal-hal diluar rencana kita ya?”
__ADS_1
Aku bingung. Mama justru tersenyum.
Mama membuka kain tersebut. Aku terdiam memandanginya. Tulisan pada bagian atasnya adalah MASA DEPAN UNTUK ALINEA GHITA.
Aku melihat ada jejak penghapus di bagian nama tersebut. Jejak yang tak lama mulai kupahami. Papan itu dulu pasti dirancang untuk Mas Nara.
Ma, jika Mas Nara tidak pergi malam itu, apa jalan cerita ini akan berbeda?
***
“Kamu suka apa? Maksudku, adakah sesuatu yang kamu sukai, Lin? Sesuatu yang bukan karena Mamamu. Sesuatu yang benar-benar kamu sukai, kamu inginkan, seperti sebuah impian. Seperti impianku untuk terkenal bersama Nadav Band. Kamu, impian kamu apa?”
Pertanyaan Shaka itu muncul lagi.
“Alin? Kamu ngga dengerin penjelasn Kakak ya?”
Aku terkaget ketika Kak Jihan memegangi lenganku. Baru sadar kalau aku tengah berada di ruang tengah bersama Kak Jihan, guru les privatku.
Aku menatap Kak Jihan sebentar. Perempuan yang mengenakan jilbab hitam itu menatapku heran dengan sepasang bola mata coklatnya. Kak Jihan adalah guru privateku sejak SMP kelas 3, menggantikan guru privateku yang lama, karena guru sebelumnya mengambil kuliah lanjutan di luar kota.
“Jangan bilang kamu lagi jatuh cinta?”
“Kakak kuliah jurusan pendidikan Matematika, kan?”
Dia mengangguk.
“Kakak beneran suka matematika?” Ah seharusnya aku tak perlu menanyakan hal begitu. Tentu saja Kak Jihan menyukainya. Jika tidak suka, tidak mungkin dia bisa begitu hebat mengajariku pelajaran tersebut. Bahkan dia juga bisa mengajariku kimia, fisika, dan biologi. Kak Jihan cerdas sekali memang.
“Tentu. Kakak sangat suka pelajaran hitung-hitungan sejak kecil. Makanya Kakak ambil jurusan Pendidikan Matematika. Karena sejak kecil kakak pengin banget jadi guru matematika.” Wajah Kak Jihan tampak bersemangat ketika menyampaikan. Dari ekspresinya, aku tahu dia menjawab dengan jujur.
“Kakak kenapa pengin jadi guru matematika? Maksudku, apa ada yang meminta kakak jadi guru matematika?”
Kak Jihan tertawa mendengar pertanyaanku. Dia menjawab, “Tidak ada yang menyuruhku, Lin. Impian itu datang dari sini.” Dia menunjuk dada. Hati. Aku mulai bingung.
“Aku suka matematika. Lalu ketika SMP, aku dapat guru MTK yang keren banget. Ngga tau kenapa, aku jadi pengin seperti guruku itu. abah dan ambu Kakak hanya buruh tani di kampung, Lin, tetapi mereka sangat mendukung pilihan Kakak, jadi Kakak diiznkan kuliah di kota untuk bisa jadi guru.”
Aku tersenyum. Ngga tau kenapa aku tersenyum, padahal bukan cerita bahagia. Justru ada haru dalam ceritanya. Mata kak Jihan tampak berkaca-kaca.
“Kamu sendiri, kata Mama kamu, kamu pengin jadi dokter ya? Apa karena melihat Mama kamu adalah dokter yang keren makanya kamu pengin jadi dokter?”
__ADS_1
Aku diam. Kemudian hanya berdeham. Lalu mengalihkan pembicaraan kembali ke materi pelajaran. Untungnya Kak Jihan tidak seperti guru privatku yang lama, yang suka bertanya dan kepo. Kak Jihan tidak terlalu banyak bicara, dia hanya menjawab apa yang ditanya dan bertanya apa yang sedang dibahas saja. Jika ada pertanyaan lain seperti yang barusan dan tidak kujawab, Kak Jihan tidak akan menangihnya. Itu sebabnya juga aku nyaman belajar dengan Kak Jihan.
Pukul 5 sore. Kak Jihan telah meninggalkan rumah. Waktu kami untuk belajar private hanya selama dua jam per hari, kecuali hari Minggu. Bukan, bukannya aku tidak belajar di hari Minggu. Justru khusus hari minggu jam privateku dengan kak Jihan menjadi lebih lama, 5 jam. Bayangkan aku, di hari minggu harus belajar bersama Kak Jihan dari pukul 1 siang hingga pukul 5 sore. Kadang-kadang, aku berdoa agar Kak Jihan tidak bisa datang, entah itu karena keperluan kampus atau lainnya. Aku hanya berdoa Kak Jihan ada halangan untuk datang. Sebab hanya dengan begitu aku terbebas dari les private yang membosankan itu.
Selepas mandi, pertanyaan Shaka masih terngiang di telinga. Bahkan bertambah dengan pertanyaan Kak Jihan. Lalu muncul pula bayang-bayang Miss Fitri yang memberikan tugas mengarang.
“Apa impianku? Apa yang aku sukai? Apa yang benar-benar aku inginkan? Bagaimana aku sepuluh tahun yang akan datang??” Aku menanyakan itu pada sosok yang mirip sekali denganku, di depan cermin.
Wajah perempuan di dalam cermin itu tampak murung. Dia kelihatan sama bingungnya dengan aku. Hingga aku teringat pada papan tulis yang pernah diperlihatkan Mama 5 tahun lalu. Papan tulis itu terletak di sudut kamarku, tertutup oleh kain batik. Di samping lemari pakaian. Aku mendekat, membuka kain batiknya.
Terpampang tulisan besar MASA DEPAN UNTUK ALINEA GHITA.
Di papan tulis itu, ada gambar-gambar gedung sekolah, dimulai dari gedung SMPku yang dulu, kemudian gedung SMAku yang sekarang, gedung universitasku nantinya bahkan sampai gedung rumah sakit yang Mama harapkan aku akan bekerja di sana.
Dulu, Mama pernah menjelaskan satu persatu rencana tersebut. Aku masih ingat benar.
“Ini adalah Yayasan Kusuma, SMP – SMA, di sana adalah tempat anak-anak elite dan banyak alumninya yang menjadi dokter, tentara, polisi serta segala macam bidang. Orang-orang sukses banyak lahir dari Yayasan tersebut, kamu harus bisa sekolah di sana. Lalu ini adalah Universitas dengan Fakultas Kedokteran terbaik di Indonesia, untuk bisa kuliah di sini kamu harus menjadi lulusan terbaik di Yayasan Kusuma. Kemudian, kamu bisa lanjut mengambil spesialis di universitas luar negeri ini. Setelah lulus, mama jamin kamu akan diterima bekerja di rumah sakit ini. Kamu akan menjadi wanita yang sukses nantinya, Alin. Kamu akan lebih baik dari Mama.”
“Dan karena kamu sudah pasti gagal masuk SMP Kusuma karena nilai kamu yang buruk semasa SD, Mama akan daftarkan kamu ke SMP lain, ini dia. SMP Persada. Ingat, kamu harus masuk SMA Kusuma nantinya, jadi nilai kamu di SMP ini harus bagus, jika perlu harus selalu berada di posisi satu atau minimal 3 besar. Kamu paham?”
Penjelasan panjang Mama waktu itu masih terekam jelas dalam memoriku.
Hari ini aku memandangi lagi gambar\-gambar tersebut. Rencana masa depan itu. Aku sudah berjalan cukup jauh. Aku hanya perlu bertahan menjadi juara kelas di kelas IPA ini hingga lulus, lalu aku akan kuliah seperti rencana Mama. Ya, aku tinggal menjalankan apa yang sudah direncanakan.
Segalanya tidak terlalu berat. Namun, kenapa sejak mendapati pertanyaan dari Shaka, juga cerita dari Kak Jihan, aku mulai keberatan dan merasa sulit?
Dan entah angin apa yang membawa pikiranku melayang\-layang. Percakapan geng Lea waktu itu muncul kembali. Lea dan Andin waktu itu bertukar informasi mengenai cita\-citanya. Lea ingin jadi penerjemah, andin ingin jadi arsitek. Mereka punya cita\-cita. Sama seperti Shaka yang ingin menjadi musisi ternama, Kak Jihan yang ingin menjadi guru. Aku, tiba\-tiba saja merasa iri.
Aku ingin memiliki impian juga. Impianku sendiri. Bukan impian dari rencana ini. Menjadi dokter? Aku melihat lagi gambar rumah sakit tersebut. Hati kecilku mulai menolak. Tapi, bagaimana dengan Mama? Aku ingin membahagiakan Mama.
__ADS_1
Lalu, sebuah jawaban muncul. Jawaban yang membuat aku bernapas lega. Tersenyum riang. Dan siap menjawab pertanyaan Shaka esok hari. Aku tahu apa impianku!