
“Kak, Alin pucat, jika dia tidak ke UKS sekarang mungkin dia akan pingsan.”
Matahari mulai meninggi. Sedang panas\-panasnya, lalu aku serta beberapa siswa baru lainnya diminta berjemur menghadap tiang bendera. Kami dihukum dengan variasi alasan.
Aku dihukum karena rok yang aku kenakan terlalu pendek, padahal hanya sedikit di atas lutut. Itu juga karena aku masih mengenakan seragam sekolah dasar, wajar kalau seragam itu sudah mulai pendek. Tapi, Kakak senior itu tidak terima.
Cewek di sebelahku, yang di *name tag*nya tertulis nama Seena, dihukum karena tidak menggunakan pita sesuai jumlah yang telah ditentukan. Cewek itu sudah berdalih kalau awalnya jumlahnya sudah 7, mungkin nyangkut di helm atau terjatuh. Lagi\-lagi kakak\-kakak senior tersebut tidak menerima alasan apa pun.
Sementara itu, cowok di sebelah Seena, dihukum karena tidak memakai sepatu hitam. Kalau itu aku masih bisa menerima, karena sejak awal memang sudah diberi tahu harus mengenakan sepatu hitam. Namun, untuk kasus aku dan Seena, seharusnya ada toleransi dong?
“Alin, ayo kita ke UKS!” Seena memegangi lenganku setelah beberapa saat lalu dia mencoba berkomunikasi dengan Kakak Senior yang duduk di dekat kami sambil berpayung ria. Kakak Senior itu tidak menanggapi, cuek saja seolah Seena tidak pernah bicara. Membuat Seena akhirnya mengambil keputusan sendiri.
Tubuhku sudah tak sanggup melakukan pergerakan, sudah lima belas menit kami dijemur di sini. Aku benar-benar dehidrasi, ingin pingsan rasanya. Seena memegangi lenganku, menuntun langkah pelan-pelan.
“Hei! Siapa yang membei kalian izin untuk pergi?”
“Dia pucat, Kak. Apa Kakak mau dia pingsan di sini? Jika dia pingsan, kalian juga yang akan dimarahi guru. Sudah syukur kami masih mau menuruti hukuman dengan alasan konyol Kakak itu.”
“Kamu berani melawan senior?” Kakak senior berambut panjang tergerai itu langsung berdiri, menatap jengkel. Mataku sudah seperti akan tertidur, masih mencoba bertahan. Tunggu, jika diperhatikan, sebenarnya Kakak senior itu mengenakan rok yang lebih pendek dariku. Ah, sungguh tidak adil.
Seena tidak menjawab ucapan Kakak senior itu, dia berbalik, lanjut menuntunku pergi. Aku juga tidak menanggapi. Kakak itu berteriak, mengomel, tapi kami lanjut saja. Sayup\-sayup, dari jarak yang semakin jauh, aku bisa mendengar kalau senior lainnya datang dan menenangkan kemarahan Kakak itu.
“Ini, kamu perlu minum dulu.” Seena kembali sesaat setelah dia pergi mengambil air minum. Dia mendudukkan aku di atas ranjang UKS. Hanya ada kami berdua di UKS tersebut.
Hingga tak berapa lama, muncul dua orang cewek, wajah mereka tampak panik. Aku melihat seragam putih merah yang mereka kenakan, seragam itu sama dengan yang Seena kenakan, sepertinya mereka berasal dari sekolah yang sama.
“Seena, kamu baik-baik saja? Kami denger kamu bikin keributan sama Kak Anne?” Anak perempuan yang rambunya dikepang dua lebih dulu bicara, tubuhnya kecil, tetapi wajahnya chubby. Kulit dia yang paling putih di antara mereka bertiga. Ada aroma stroberi ketika dia semakin mendekati kami.
“Tau nggak, para senior pada bahas kamu yang ngelawan senior, duh habislah kita.” Anak perempuan satunya menunjukkan ekspresi cemas, dia yang paling tinggi. Kulitnya hitam manis dengan rambut keriting, kulihat di papan namanya terdapat tulisan Elrumi.
“Santai aja, kita nggak akan mati kok hanya karena senior itu. Lagi pula siapa coba yang akan berani gangguin kita setelah rapat yayasan nanti.”
Aku melihat raut wajah Seena, tidak seperti sebelumnya, itu raut wajah yang serupa dengan para senior, penuh keangkuhan. Hanya saja, ketika itu aku mengabaikan raut wajah Seena, kebaikan Seena yang mau membawakku ke UKS dan memberikan segelas air, cukup bagiku untuk tidak bisa tidak menyukainya.
“Ah ya, Rumi, Defi, kenalkan ini Alin. Alin ini Rumi dan Defi, kami bertiga sahabat sejak SD.”
Aku mengangguk. Itu perkenalan awal kami. Aku masih ingat dengan jelas. Karena Seena, Rumi, dan Defi adalah sahabat pertamaku.
Semasa sekolah dasar, aku memiliki banyak teman, tetapi tidak ada teman yang benar-benar dekat denganku seperti aku dekat dengan mereka bertiga. Kami menghabiskan banyak waktu dan cerita bersama.
Seisi sekolah sudah tahu, jika ada aku, maka akan ada Seena, Rumi, dan Defi. Kami cukup terkenal karena Seena yang melawan senior waktu itu, apa lagi rupanya Seena adalah anak pemilik Yayasan sekolah tersebut, makin populerlah dia, dan kami kecipratan juga kepopuleran itu.
Kelas 1 bersama. Kelas 2 bersama. Hingga kelas 3 semester 1, kejadian itu terjadi. Ah tunggulah, nanti kuceritakan. Aku benar-benar masih malas mengenangnya. Menulis cerita di atas saja aku sudah kesulitan.
***
Hanya ada satu kantin di SMA Kusuma. Kantin tersebut sangat luas, mungkin luasnya setara dengan jumlah enam kelas digabung jadi satu. Wajar saja, siswa di SMA Kusuma lebih dari seribu. Belum lagi jika para guru masuk dalam hitungan.
Di kantin yang luas tersebut, ada beberapa warung makan dengan pemilik dan jenis makanan yang berbeda, mulai dari makanan berat seperti nasi Padang, soto, bakso, mie ayam sampai siomay, lontong, pecel dan roti bakar serta cemilan lainnya, ada. Berbagai warung minuman juga tersedia secara terpisah, pos jus sendiri, pos minuman soda dan minuman rasa tersendiri lagi, pos kopi dan teh juga terpisah lagi. Jadi jika dihitung ada sekitar 15 etalase berbeda\-beda, berjejer dari satu sudut hingga sudut satunya.
Siang itu aku memilih makan nasi Padang karena perutku lapar sekali. Tadi pagi Mama tidak sempat memasak sarapan karena harus jaga pagi. Jadi aku hanya makan sereal saja. Aku mengantri. Ada lima orang yang berbaris di depan.
“Kamu di sini emang karena ingin makan nasi Padang atau karena ngikutin aku sih?” Pertanyaan itu muncul juga. Sungguh, sejak bel istirahat berbunyi, aku mulai risih. Bagaimana tidak? Shaka, si anak baru itu, membuntutiku terus.
Oke awalnya aku pikir karena kami searah, karena jam istirahat, wajar kalau dia juga ke kantin. Tapi, ketika dia ikut\-ikutan berhenti ketika langkahku berhenti, apa lagi sekarang ikut berbaris di belakangku, tentu membuat aku merasa dia ngga hanya sekadar ingin makan nasi Padang.
“Kamu ternyata kepedean juga ya?” Bukannya menjawab tanyaku, dia malah meledek.
“Awas aja kalau setelah ini kamu ikutin aku sampai ke meja makan.”
__ADS_1
Aku mengancam. Dia tersenyum, seperti hendak tertawa tapi ditahan.
Begitu aku siap mengambil makanan, bergegas aku mencari meja kosong. Tidak banyak meja kosong, aku menemukan satu di sudut kantin yang dekat dari tempat aku berdiri. Aku duduk, mengarah ke luar, membelakangi jejeran etalase makanan.
“Ini bukan karena aku ngikutin kamu loh ya, tapi ini meja kosong terdekat.” Shaka tersenyum, duduk di hadapanku.
“Harus gitu di sini?”
“Sudah aku bilang, ini meja kosong terdekat. Aku malas jalan jauh\-jauh.”
“Bilang aja kamu emang ngebuntutin aku.”
“*Well*, kalau emang begitu kenapa?”
“Kan aku bilang jangan ngebuntutin aku, pindah ngga? Atau aku yang pindah?”
Padahal aku sudah memasang wajah paling jutek, tetapi Shaka justru tertawa. “Kamu jelek kalau marah begitu, udah makan aja. Lagian, apa kamu ngga kesepian gitu? Hobi banget makan sendirian.”
“Aku pindah.” Aku langsung berdiri, tapi, ketika melihat sekitar, meja kosong terdekat sudah tidak ada lagi. Beberapa meja kosong ada di ujung yang jauh, area itu banyak anak laki\-lakinya, aku jadi sangsi ke sana.
Tapi\-tapi, begitu melihat Shaka lagi, apa lagi dia tersenyum melihat aku yang tidak menemukan meja kosong, membuat aku gengsi untuk duduk lagi.
Kata\-kata Shaka yang terakhir cukup menggelitik, tapi gengsi membuat aku harus menahan rasa geli itu dan menggantinya dengan embuskan napas putus asa.
“Btw, kita kan lagi di kantin nih, berarti semua peraturan yang kamu tulis itu ngga berlaku kan ya?”
Aku menyendokkan nasi ke mulut, malas menanggapi.
“Oke, maaf karena udah ngeledek nama kamu. Aku ngga ada maksud apa\-apa, suer.”
Padahal aku tidak marah pada Shaka karena nama yang dia ledek. Aku hanya tidak suka saja didekati. Aku tidak suka menjalin pertemanan dengan siapa pun.
“Maaf diterima dengan syarat kamu diam dan habiskan makanan itu, bel masuk sebentar lagi berbunyi.”
“Siap!”
Aku kanget mendapati Shaka penuh semangat dan matanya berbinar. Dia langsung makan dengan lahap, bahkan kecepatan dia makan mengalahi aku yang sedari awal sudah mengangsur makanan. Beberapa kali Shaka mengangkat wajahnya, dia seperti hendak berbicara, tetapi aku lebih dulu memberikan isyarat untuk diam. Syukurnya dia menurut.
“Makanannya sudah habis dan kamu sudah maafin aku, artinya sekarang kita teman kan?” Shaka kembali mengulurkan tangan, aku menatapnya heran, makananku tinggal satu suapan lagi.
__ADS_1
“*Why*? Apa lagi yang salah?”
Aku tersenyum ganjil, mengabaikan uluran tangan Shaka, memilih menghabiskan suapan terakhir lalu meneguk segelas air.
“Kamu laki\-laki, berteman saja sama anak laki\-laki. Sana, di sana banyak anak laki\-laki, kamu bisa mengajak mereka berteman.”
“Memangnya sejak kapan ada peraturan anak laki\-laki harus berteman sama anak laki\-laki?”
“Entahlah, yang jelas aku tidak tertarik berteman denganmu, jadi tolong berhentilah mengusikku. Aku pamit dan tolong jangan ikuti aku.” Aku beranjak, bergegas meninggalkan kantin. Bel berbunyi bersamaan dengan langkah kakiku.
Poin ke empat tentang Shaka, dia keras kepala. Aku hanya bisa menghela napas kesal sembari memandanginya sebal dengan bibir mengerucut ke depan. Dia lagi\-lagi mengikuti langkahku. Iya, aku tahu dia dan aku menuju kelas yang sama, tetapi kenapa dia harus berjalan di dekatku.
Belum lagi, sejak awal, sejak berjalan ke kantin, selama makan di kantin, sampai sekarang balik ke kelas, aku merasakan benar banyak pasang mata yang memperhatikan kami. Ah, bukan, maksudku memperhatikan Shaka. Iya, Shaka tampan, mungkin itu satu di antara dua alasan. Alasan lainnya, yaitu karena seragam Shaka berbeda dengan kami.
“Aku sudah memutuskan sesuatu.” Dia berujar saat kami meniki tanga menuju kelas. Aku tidak tertarik menoleh, tetapi telingaku mendengarkan. Dia seperti tahu kalau aku tengah mendengarkan, jadi dia lanjut saja bicara sekalipun aku tak menoleh, “Aku akan membuntuti kamu terus sampai kita jadi teman.”
Langkah kakiku berhenti tiba\-tiba, membuat Shaka yang berjalan di belakangku kaget dan menabrak punggungku. Dia langsung minta maaf, kami bersitatap, “Mau kamu apa sih?”
“Loh? Kamu ngga *budeg* kan? Aku mau kita temenan. Apa susahnya sih jadi temen aku? Atau kamu maunya jadi pacar aku?” Shaka terkekeh geli dengan idenya sendiri.
“Ngga lucu.” Aku mempercepat langkah, masuk ke kelas. Berharap terhindar dari lelaki menyebalkan itu. Namun bagaimana bisa? Dia jelas\-jelas duduk semeja denganku. Oh Tuhan, rasanya aku ingin pindah kelas, atau kalau bisa pindah sekolah saja.
Shaka, vokalis yang tampak manis di panggung waktu itu, ternyata sangat menyebalkan!
Shaka memberikan secarik kertas, aku membaca tulisan tangannya yang berantakan, **Tidak ada peraturan dilarang berkirim surat, jadi boleh kan aku menulis surat sebagai sarana komunikasi kita selama jam belajar**?
Aku mengembuskan napas jengkel. Hari ini, rasanya sudah ratusan kali aku menghela napas dengan nada serupa. Miss Leona, guru Biologi kami sedang membuat catatan di depan kelas sembari menerangkan, tetapi Shaka justru memberikan kertas dengan isi yang tidak penting.
Bukannya membalas surat Shaka, aku justru memasukkan kertas itu ke laci.
**Aku akan ganggu kamu sampai kita jadi teman**.
Surat berikutnya muncul lagi.
“Sampai di sini ada pertanyaan tentang Sel?”
Miss Leona mengajukan pertanyaan. Seluruh siswa diam.
Selama libur semester aku sudah privat dengan Kak Jihan, jadi aku sudah menguasai materi awal tentang sel ini, niatnya aku ingin iseng bertanya agar tampak aktif di kelas saja, kata Mama itu bisa menambah poin di SMA Kusuma dan membuat kita jadi dikenal guru. Ya, Mamaku adalah alumni SMA Kusuma karena itu aku masuk sekolah ini, kelak aku juga sudah direncenakan Mama untuk masuk Fakultas Kedokteran tempat Mama berkuliah dulu.
Niatku mengangkat tangan lenyap gara\-gara Shaka memberi surat yang isinya membuat kesal dan membuyarkan pertanyaan yang sudah aku rancang.
Gara\-gara isi surat terakhir Shaka, aku terpaksa mengalah. Membalas surat itu dengan kata sesingkat mungkin.
__ADS_1
**Oke, kita temenan**.