
“Mama!”
Hari itu Mama tidak datang ke Sekolah karena kesibukannya di Rumah Sakit. Aku ingat benar bagaimana aku berlari meninggalkan gerbang sekolah. Menyetop taksi yang lewat, menumpahkan air mata di dalam taksi kemudian berjalan cepat-cepat menuju ruang kerja Mama di Rumah Sakit.
Beliau tidak ada di ruangan. Dengan mata sembab dan wajah basah, aku menjumpai suster jaga, bertanya tentang Mama.
“Dokter Vena sedang memeriksa pasien di ruang Angrek.”
“Terima kasih, Sus.”
Berjalan cepat, membaca plang demi plang. Meski aku sering mengunjungi Mama di Rumah Sakit, tetapi aku masih belum menguasai ruang demi ruang di Rumah Sakit tersebut, hanya ruang kerja Mama yang kuhafal.
“Alin? Ada apa, Sayang? Kamu kenapa?” Mama yang kala itu baru saja menutup pintu di lorong ruang Anggrek tampak terkejut mendapati panggilanku. Mungkin dia juga kaget melihat penampilanku yang berantakan. Terlebih ketika aku berhambur dan memilih memeluknya tanpa kata. Membuat Mama bergegas melepas pelukan dan mengulang kembali pertanyaannya.
“Alin ingin pindah sekolah, Ma.”
“Pindah Sekolah? Kenapa? Bukannya di SMP kamu sekarang ini kamu punya sahabat? Seena, Rumi, dan Defi baik-baik saja, Kan?”
Aku menggeleng.
“Ayo kita ke ruangan Mama, kamu harus cerita semuanya.”
Mama berjalan cepat menuju ruangannya, aku tergopoh-gopoh mengikuti langkah Mama.
Hari itu, di ruang kerja Mama, semua rahasiaku terbongkar. Tentang Seena dan teman-temannya.
Kelas satu dan dua mereka memang baik, baik sekali malah. Namun, aku tidak tahu mengapa di kelas tiga mereka jahat sekali.
“Kita udah kelas tiga, Sen, kamu harus belajar mengerjakan PRmu sendiri.”
Mungkin itu awal perubahan sikap Seena. Sejak aku berkata demikian, dia jadi sering menatapku dengan tatapan tidak suka. Dia juga kerap sekali meninggalkan aku di kelas sendirian saat jam istirahat. Rumi dan Defi mengekori Seena.
“Seena, PRmu sudah selesai? Apa mau kupinjamkan? Aku sudah membuatnya.” Aku masih mencoba bersikap baik pada Seena dan teman-temannya sekalipun mereka mulai menjauhiku. Sikap mereka yang berubah sejak awal kelas tiga, tidak pernah aku katakan pada Mama. Berharap, sikap itu hanya sikap teman yang merajuk sesaat.
Bukannya menerima tawaranku, pagi itu Seena memperlihatkan wajah aslinya. Wajah yang aku lihat dulu sekali saat pertama kali mengenal Seena, wajah angkuh dengan garis bibir yang tertarik tidak simetris.
“Jangan sok baik kamu, Lin. Kami tau kamu pintar dan juara kelas, tetapi kamu nggak perlu sombong begitu. Kami bisa kok bikin PR sendiri.”
“Ho begitu, baguslah kalau kalian sudah bisa membuat PR sendiri.” Aku menjawab polos, memasang senyum pertanda tidak berniat memperpanjang hubungan tidak baik tersebut. Rasanya aku ingin kembali menjadi teman mereka.
“Ah ya, Lin, kamu mau tahu satu rahasia tidak?”
Seena memandang sekitar, aku mengikuti arah matanya. Tampak murid-murid di kelas sudah memperhatikan kami bak tengah menonton sebuah pertandingan bola, serius sekali.
“Pada saat MOS waktu itu, pitaku tidak kurang satu, lengkap. Aku sengaja saja minta dihukum karena melihat kamu dihukum.”
Aku tidak mengerti.
“Alinea Ghita, anak dokter Vena. Dokter sombong yang tidak berhasil menyelamatkan nyawa ibuku. Dokter perempuan jahat itu membunuh ibuku. Mama kamu, Alin. Saat usiaku 10 tahun, sejak kejadian itu, aku berjanji akan membalas dendam pada dokter sombong yang tidak becus itu. Takdir merestui, tidak sengaja aku menemukan nama dokter Vena ketika mengacak berkas murid baru di sekolah ini. Kamu tahu kan Papaku pemilik Yayasan ini, aku bisa mengakses semuanya.”
Dadaku sesak. Irama jantungku tidak stabil. Semakin kencang ketika berada di antara jeda-jeda kalimat panjang Seena.
“Aku tidak pernah berniat menjadi temanmu, Lin. Aku ingin menghancurkanmu sejak awal, tapi rupanya kamu anak yang rajin dan cukup pintar, sangat bagus sekali untuk dimanfaatkan.” Dia kembali tersenyum dengan senyum yang memuakkan, membuat tanganku ingin meremas mulutnya.
“Selamat, kamu cukup sabar untuk kami manfaatkan selama ini. Tugas-tugas rumah, pekerjaan kelompok, bahkan mengantar makanan saat di kantin, kamu melakukannya dengan baik. Ah andai kamu tidak menolak memberikan PRmu beberapa waktu lalu, mungkin kamu bisa jadi kacung kami hingga ujian akhir.” Seena tertawa.
“Jaga sikapmu kalau kamu tidak mau jadi bulan-bulanan di sekolah ini selama setahun ke depan, Alin.”
Aku pikir apa yang dikatakan Seena hanya omong kosong. Ternyata dia benar-benar menjadikan aku bahan rundungan. Beberapa kali dia dan kedua pengikut setianya itu mengunciku di kamar mandi hingga aku terlambat pengikuti pelajaran, kemudian dia juga sempat membuatku menumpahkan makanan di kantin. Hingga hari ini, puncak yang tak mampu lagi ketahanan.
Seena dan Kakak senior yang waktu itu menghukum kami, mereka rupanya komplotan.
“Hai, Alinea, apa kabar? Masih ingat Kakak?” Kakak Seior itu memakai seragam bebas, dia sudah lulus tahun lalu. Entah apa gerangan di datang ke sekolah. Mungkin ada keperluan yang harus diurus.
__ADS_1
Ketika itu aku sedang makan sendirian di kantin. Melihat Kakak senior yang sudah kulupakan namanya itu menyapa membuat aku merasa tercekat. Terlebih ketika Seena, Rumi dan Defi ikutan menghampiri. Lalu Kakak senior itu melingkarkan tangan di pundak Seena, mereka tampak akrab sekali. Padahal dulu, sewaktu aku menjadi sahabat Seena, sewaktu Kakak itu masih sekolah di sini, mereka tidak begitu. Justru tampak berlawanan.
Seena, Rumi, dan Defi, mereka bertiga memang berhasil menipuku mentah-mentah.
“Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya, Sen. Mamanya sombong dan anaknya, lihatlah, sombong banget sampai nggak mau balas sapaan seniornya.”
Aku langsung mengambil gelas yang berada di depanku. Tak peduli isinya adalah cairan jus. Membuangnya ke wajah Kakak senior bermulut tajam itu. Dia boleh menghinaku, tetapi aku tidak suka dia mengatai-ngatai Mama.
“Jangan hina Mamaku.”
Mereka tertawa. Seisi kantin riuh.
Kakak senior itu langsung menjambak rambutku. Waktu itu aku masih memiliki rambut panjang yang dikuncir satu. Dijambaknya! Lalu Rumi, perempuan yang dulu aku kenal polos situ justru menuangkan seceret air ke kepalaku. Membuat aku terkejut, menatap Rumi tak percaya, dia justru tersenyum.
“Jangan pikir aku akan berbaik hati padamu, Alin. Sejak awal aku adalah orang yang menantang Seena menjadikanmu bagian dari kami.”
Aku tidak tahan. Dari semua kata-kata yang pernah mereka ucapkan. Aku merasa sangat sakit mendengar kata-kata yang diucapkan Rumi. Terlebih cara dia mengucapkan, datar dengan wajah tanpa dosanya.
Lari, aku langsung lari meninggalkan kantin. Tak peduli dengan sorak mereka. Aku menuju kelas yang berada beberapa gedung dari kantin. Lari, melewati ruang guru dan hampir menabrak Bu Sofia, belum sempat Bu Sofia menyapa, aku sudah melesat. Keluar gerbang. Dan di ruang kerja Mama, semua cerita itu akhirnya tumpah.
Seena, Rumi, dan Defi aku ingin membenci kalian. Namun, tiap aku melihat Lea dan teman-temannya, rindu itu menyelinap diam-diam untuk kalian. Ah, bodohnya aku.
***
“Kamu kenapa sih ngotot banget pengin jadi temen aku?”
Aku dan Shaka makan di kantin berdua. Sudah hampir satu bulan sejak Shaka menjadi temanku, aku jadi sudah terbiasa dengan kebisingannya. Iya, dia cerewet sekali. Kupikir selama ini cerewet itu hanya bisa dimiliki cewek, rupanya, cowok se cool Shaka yang manis banget ketika di atas panggung, bisa cerewet juga.
Aku juga sudah terbiasa makan berdua dengan Shaka di kantin. Awalnya cukup risih karena banyak pasang mata yang memandang, terlebih ketika aku tak sengaja mendapati mata-mata temen sekelasku sewaktu kelas sepuluh dulu, mereka seolah memandang aneh. Namun, semakin hari, mereka sudah mulai bisa saja. Terlebih ketika Shaka sudah mulai memakai seragam sekolah ini di minggu kedua dia bersekolah, membuat banyak pasang mata tak lagi memandang ke arah kami.
Hanya saja, Danar sempat berkata, “Cie, sekarang udah punya temen nih ya. Itu temen apa pacar?”
Dulu Danar tidak berani menggodaku karena di kelas X aku sangat cuek. Danar menjadi korban kecuekanku waktu kerja kelompok. Namun, sekarang dia sudah berani berkata begitu sejak aku mulai dekat dengan Shaka. Itu ucapannya ketika kami tidak sengaja berpapasan. Waktu dia berkata demian, Shaka ada tepat di sampingku, tetapi dia justru melengos saja dan lanjut berjalan.
“Kan sudah aku bilang, aku ngga terlalu suka memulai hubungan dengan orang asing.”
“Emangnya aku nggak asing? Kan kita nggak pernah kenal sebelumnya?”
“Asing ngga asing bagi aku itu standarnya bukan kenal ngga kenal, Lin. Kalau aja aku jumpa Danar lebih dulu dari kamu, aku nggak akan minta jadi temen kamu kok. Mungkin aku akan milih semeja sama Danar dan menawar untuk berteman dengan dia.”
“Kamu aneh.”
“Sedikit. Tiap orang memang memiliki sisi anehnya masing-masing. Kamu sendiri juga aneh, udah setahun sekolah di sini, tapi sejak awal aku nggak pernah liat kamu sama seseorang.” Dia langsung melanjutkan ketika alisku bertaut, “teman, maksudku. Biasanya cewek itu suka berkelompok. Lihat deh.” Dia mengarahkan pandangan ke hamparan siswa yang memenuhi kantin siang itu.
“Umumnya cewek berkelompokkan?”
Aku melihat apa yang ingin ditunjukkan Shaka. Sebenarnya aku juga menyadari fakta tersebut.
Tak ada kata yang ingin aku lontarkan. Membantah juga percuma, sebulan aku kenal Shaka, poin lain tentangnya adalah dia tak terbantahkan.
“Ah ya, aku ada alasan lain kenapa aku ingin jadi teman kamu.”
“Alasan lain?” Aku menatap heran Shaka. Dia tidak langsung menjawab. Mendahulukan suapan Mie yang telah ia sumpit beberapa saat lalu. Terpaksa aku menunggunya mengunyah.
“Kapan-kapan saja aku beri tahu. Mendadak aku lupa.” Dia tersenyum, memasang wajah tanpa dosa.
Ah aku lupa point utama tentang Shaka, dia menyebalkan!
***
“Alin, daripada naik transportasi online, mending pulang bareng aku yuk.” Shaka mensejajarkan langkahnya ketika kami meninggalkan kelas. Sebulan terakhir memang aku pulang menggunakan transportasi online. Mama sedang sibuk-sibuknya di rumah sakit. Ah tapi, sejak SMA, aku memang akan lebih sering pulang dengan transportasi online ketimbang di jemput Mama, karena letak SMA ini dan Rumah Sakit Mama berlawanan arah, juga akan membuat Mama bolak balik ketika harus menjemput lalu kembali ke rumah sakit.
Meski begitu, kadang-kadang, ketika ada waktu longgar, Mama juga menyempatkan diri menjemputku. Biasanya kami juga akan menikmati kuliner bersama sebelum pulang, lalu Mama akan kembali lagi ke rumah sakit. Atau kadang ketika jam pulang Mama cepat, Mama juga akan menjemputku. Seperti hari ini, sejak tadi pagi Mama sudah mengulang-ngulang informasi kalau dia akan menjemputku.
__ADS_1
“Aku dijemput Mama kok.”
“Wah, kalau gitu aku harus kenalan sama Mama kamu.Udah sebulan jadi temen kamu kan aku belum pernah ketemu Mama kamu.”
“Eh?”
Shaka tampak bersemangat, senyumnya lebar. Dia bahkan menuruni tangga sambil bersenandung. Aku hanya melangkah mengikutinya, setengah khawatir. Aku takut Mama tidak menyukai Shaka, entahlah, perasaanku menebak Mama tidak akan menyukai Shaka. Tapi semoga saja perasaan itu salah.
Shaka bener-bener menemaniku di depan gerbang. Sudah setengah jam sejak bel pulang berbunyi, sekolah juga hampir lengang. Mama belum juga datang.
“Mama kamu beneran mau jemput kamu, Kan?”
Aku belum sempat menyahut, sebuah mobil Pajero putih lewat, memutar, kemudian berhenti tepat di depan kami. Mama menurunkan kaca mobil, tersenyum kepadaku dan minta maaf karena sudah terlambat. Lalu Mama menoleh ke Shaka, wajahnya datar. Aku tidak bisa menebak Mama suka atau tidak pada Shaka.
“Halo, Tante. Saya …” Shaka belum menyelesaikan kalimatnya. Namun, Mama lebih dulu bicara, “Alin ayo, Mama belum makan siang nih.”
Aku ling lung untuk beberapa saat. Tidak siap menoleh ke arah Shaka. Merasa tidak enak. Panggilan Mama barusan jelas sekali menunjukkan bagaimana Mama menolak kehadiran Shaka.
“Buruan, Lin. Aku balik duluan ya.” Shaka yang memecah bimbangku. Dia masih bisa tersenyum lebar. Salut, aku tahu benar itu bukan senyum nyata, sebab aku sering memunculkan sneyuman yang serupa.
Meski tanpa suara, aku jelas-jelas mengucapkan, “Maaf ya.”
Shaka mengangguk. Artinya dia bia membaca pergerakan bibirku. Semoga saja.
“Tante, Shaka pamit ya.” Oh astaga, dia masih bisa-bisanya menyapa Mama kembali. Aku melihat Mama hanya melihatnya, tapi tidak tersenyum.
Shaka pergi, masuk kembali ke sekolah. Aku melihat punggungnya kian jauh dan kian dekat dengan parkiran sekolah yang berada di sayap kanan dekat gedung IPS.
“Siapa cowok itu?”
Aku menyesal membiarkan Shaka menyapa Mama. Seharusnya aku lebih mengenal Mama. Sepanjang jalan menuju rumah, ah tidak bahkan kami harus berhenti di sebuah restoran lebih dulu sebab Mama belum makan siang. Padahal kala itu jam menunjukkan pukul 3.33 dan Mama belum makan siang.
Sepanjang jalan, di tambah dengan waktu makan siang, Mama menanyaiku tentang Shaka. Aku sudah menjelaskan sejujurnya tentang Shaka. Tentang kami yang merupakan teman sebangku. Tapi Mama justru berkata, “Wali kelas kamu yang baru Miss Regan kan?”
Aku mengangguk.
“Oke, Mama akan hubungi Miss Regan, minta anak cowok itu untuk pindah bangku, jika perlu pindah kelas, atau mungkin pindah sekolah lagi.”
“Mama.” Tanpa sengaja nada suaraku sedikit meninggi, membuat Mama kaget. Aku sendiri juga tak kalah kaget.
“Kamu tidak sedang membela anak cowok itu kan?”
Aku diam. Berusaha mengendalikan diri.
“Alinea, kamu denger Mama ya, pertama, tugas kamu sekolah hanya untuk belajar. Kamu tidak perlu berteman dengan siapa pun. Mereka hanya akan membuat kamu tidak fokus belajar. Dan Mama juga tidak ingin kejadian semasa SMP kamu terulang lagi. Kedua, Shaka atau siapalah cowok itu, Mama tidak mau kamu berteman dengan cowok, itu tidak baik untuk kelangsungan masa depan kamu. Tidak ada pertemanan yang murni antara cowok dan cewek, Alin. Mama tidak mau kamu punya cinta monyet. Kamu bisa merasakan cinta nanti ketika kamu sudah sukses, Paham?”
Aku masih diam. Kata demi kata yang diucapkan Mama terlampau panjang. Otakku tidak mampu mencernanya.
“Alin, kamu paham?”
“Paham, Ma. Tapi biar Alin aja yang bicara dengan Miss Regan, Alin ngga enak kalau Mama harus sampai turun tangan. Mama percaya sama Alin kan?”
Mama lalu mengangguk. Kemudian menghabiskan sisa nasi di piringnya, sementara aku lanjut menghabiskan segelas jus terong belanda. Aku tidak makan karena masih kenyang oleh bakso yang kumakan saat istirahat siang.
Sedang otakku tengah berpikir keras perihal Shaka. Haruskah aku memutuskan pertemanan yang baru seumur jagung tersebut?
Ada penolakan dalam hati ini. Terlebih ketika mengingat momen saat Shaka memberikan surat yang isinya : Jadi teman atau pacar? Kalau kamu menolak jadi teman, berarti kita pacaran. Aku akan umumkan ke satu sekolah kalau kita pacaran.
Kalimat yang membuat aku akhirnya mengiyakan ajakan Shaka. Sebab malas saja jika harus membuat drama ini menjadi lebih besar. Terlebih melihat Shaka yang tampaknya bukan tidak mungin akan melakukan apa yang dia katakan.
Wajah Shaka waktu itu riang sekali ketika aku memberinya surat balasan dengan tulisan : Oke kita temenan.
Aku bisa melihat senyumnya lebar dan tulus. Ketulusan yang aku jumpai di sepasang bola matanya. Semoga saja kali ini aku memang tidak salah menilai Shaka. Lalu bagaimana sekarang? Bagaimana caranya memutuskan pertemanan?
__ADS_1