Alinea: Cita, Cinta, Dan Cerita

Alinea: Cita, Cinta, Dan Cerita
MATEMATIKA


__ADS_3

“Nara, ini apa-apaan? Nilai ulangan matematika kamu kenapa bisa dapat nol begini?”


“Ma, itu gurunya yang salah, ngasih soal cuma satu. Ya pilihannya cuma ada dua, kalau ngga dapat nol ya dapat seratus.”


“Ya seharusnya kamu dapat seratus dong, kenapa malah dapat nol.”


“Ma, soalnya susah. Lagi pula itu hanya ulangan harian. Besok Nara akan belajar sungguh-sungguh untuk ujian semester.”


“Nara, jangan menyepelekan ujian harian, kamu ini sudah SMP lho, nanti gimana mau dapat SMA favorite kalau nilai kamu begini?”


“Baru sekali itu loh, Ma Nara dapet Nol. Besok nggak lagi-lagi.”


Itu kali pertama Mama dan Mas Nara beradu mulut. Waktu itu aku kelas 1 SD. Mas Nara kelas 1 SMP. Selama Sekolah Dasar, Mas Nara selalu juara kelas dan mendapatkan nilai bagus. Jadi ketika masuk semester pertama SMP dan mendapatkan nilai buruk, Mama langsung marah pada Mas Nara. Aku mencuri dengar percakapan itu dari balik pintu.


“Nara, cuma anak bodoh yang nilai MTKnya dapat nol, dan Mama ngga mau punya anak bodoh, kamu tau itu kan?”


“Iya, Ma.” Terdengar suara Mas Nara menyahut dengan malas.


Kali itu, pertengkaran mereka berakhir dengan janji Mas Nara untuk tidak lagi mendapatkan nilai nol. Beberapa waktu ke depan, nilai Mas Nara memang bagus, bahkan membanggakan. Namun, ketika menginjak kelas 3 SMP, semua prestasi Mas Nara menurun. Mas Nara dan Mama semakin sering bertengkar karena nilai-nilai yang memburuk. Bahkan Mama sempat menahan gitar Mas Nara.


“Kenapa kalau Alin nggak juara kelas Mama biasa aja, kenapa kalau Nara Mama marah? Mama pilih kasih!” Aku pernah merekam kalimat tersebut diingatan, kejadian yang entah kapan.


Waktu itu, aku justru cemburu pada Mas Nara karena Mama lebih memperhatikan Mas Nara, karena Mama tidak pernah sepedulli itu terhadap nilaiku. Bahkan ketika tiap terima rapot aku tidak masuk sepuluh besar, Mama biasa saja. Kupikir itu karena Mama tidak peduli. Hingga pada saat pertanyaan Mas Nara itu terekam, terekam pula jawaban Mama, “Kamu itu anak laki-laki, kamu juga anak pertama, kamu adalah contoh untuk Alin. Kamu harus sukses Nara. Mama nggak mau kamu jadi seperti Papa kamu, penulis miskin yang tidak punya masa depan.”


“Tapi, Ma.”


“Ngga ada tapi-tapi, Mama akan datangkan guru privat untuk kamu biar kamu belajar lebih giat. Gitar kamu akan mama sita. Mama ngga suka ya anak laki-laki Mama jadi pemain gitar, jadi seniman yang tidak ada tujuan dan masa depan.” Mama pergi begitu saja tanpa sempat mengizinkan Mas Nara bicara, seingatku begitu.


Waktu itu, ketika mama sudah berlalu pergi, aku hendak menghampiri Mas Nara, namun langkahku terhenti ketika mendengar Mas Nara berkata, “Matematika, kenapa harus ada mata pelajaran itu di dunia ini.” Suara Mas Nara lirih, dia lalu membuka pintu kamarnya tanpa menoleh.


Hari itu, aku baru tahu satu hal, Mas Nara sama seperti aku. Kami tidak menyukai Matematika.


***


“Kamu, nggak beneran suka matematika, kan?”


Mataku beralih pada Shaka. Dia masih menjadi teman sebangkuku tanpa sepengetahuan Mama.


“Peraturan nomor dua.”


“Astaga!” Shaka menggaruk kepalanya. Kami memang sudah menjadi teman, tetapi peraturan tetaplah peraturan.


Aku kembali menatap Mister Jay di depan kelas yang sibuk menjelaskan materi Logika Matematika, sesekali aku mencatat bagian penting yang dijelaskan Mister Jay. Lalu dengan sudut mata aku melirik Shaka yang juga mulai fokus menyimak pelajaran. Dia sudah tidak lagi menggambar kartun ketika jam pelajaran beralgsung.


Pertanyaan Shaka beberapa saat lalu lewat begitu saja. Bagaimana cowok cerewet itu bisa tahu? Padahal aku selalu belajar dengan penuh semangat saat pelajaran matematika. Meski kadang beberapa kai aku sempat menguap sih. Tapi, memangnya menguap saat pelajaran bisa menjadi indikasi kita tidak menykai pelajaran tersebut? Tidak kan?”


“Ada yang bisa memberikan contoh lagi?”


Aku terlena melihat Shaka tiba-tiba saja mengangkat tangan. Jarang sekali anak itu mau aktif dalam pelajarn, apa lagi matematika.


“Iya, Shaka, silakan.”

__ADS_1


Entah apa maksudnya, dia melirik aku sebentar, lalu tersenyum sekilas sebelum melihat kembali ke arah Mister Jay.


“Premis satu, Alinea akan banyak menguap ketika tidak menyukai suatu mata pelajaran. Premis dua, pada pelajaran matematika Alinea banyak menguap. Penarikan kesimpulannya, Alinea tidak menyukai pelaran matematika.”


Aku mengernyitkan dahi, bisa-bisanya dia berkata begitu di hadapan Mister Jay. Seisi kelas menjadi gaduh. Banyak anak tertawa. Wajah Mister Jay semula merah, sepertinya dia menahan marah, lalu tersenyum dan berkata, “Contoh yang tepat. Jadi Alinea, kamu tidak menyukai pelajaran saya? Apa materi logika matematika begitu membosankan?”


Aku tergagap. Jika boleh berkata jujur, ya, benar sekali, materi Logika matematika sangat membosankan, apa lagi Mister Jay mengulang materi ini selama sebulan setengah hanya karena pada ulangan harian minggu lalu banyak murid yang mendapatkan nilai jelek. Tentu aku semakin bosan. Saat libur semester lalu, bahkan tiap rabu, Kak Jihan juga menjelaskan materi yang sama.


“Tidak begitu, Mister. Saya hanya….” Aku bingung melanjutkan kata-kata.


“Tenang Mister, tadi hanya contoh saja. Alin tidak menguap kok, Mister.” Shaka tertawa geli. Mataku menatapnya seolah hendak menerkam cowok menyebalkan itu. Anak-anak lain masih tertawa.


“Oke kita lanjutkan ke bagian Tautologi dan Kontradiksi.”


Mister Jay melanjutkan materi, begitu Mister Jay menghadap papan tulis, diluar kendali, aku menguap begitu saja.


“Nah kan!” Shaka tergelak, menunjuk wajahku, membuat aku sadar betapa aku benar-benar menguap.


Tanganku yang semula menutup mulut langsung mengarah ke kepala Shaka, ingin mengetuk kepala anak itu. Beruntungnya Shaka karena Mister Jay kembali menoleh ke seluruh siswa.


Sepanjang pelajaran matematika, akhirnya aku tidak benar-benar fokus mendengarkan materi dari Mister Jay lagi. Justru ucapan Shaka yang terngiang-ngiang. Aku bukan hanya sekadar bosan pada materi logika matematika, tetapi aku memang tidak menyukai pelajaran ini.


Pelajaran Matematikan berakhir dan selanjutnya, tanpa jeda yang begitu lama, Miss Fitri, guru Bahasa Indonesia kami langsung memasuki kelas. Miss Fitri adalah guru Bahasa Indonesia di kelas X dulu, beliau adalah guru yang selalu tepat waktu memasuki kelas dan jarang sekali absen.


“Selamat siang, Anak-anak.” Miss Fitri menebar senyum cerah. Usianya terbilang sudah kepala 5, beliau adalah guru senior di sekolah ini. Meski begitu, Miss Fitri masih sehat dan bugar, wajah oval yang terbalut dengan jilbab lebar itu selalu cerah meski Miss Fitri memiliki warna kulit yang gelap. Keriput di wajahnya yang menua juga tidak terlalu kelihatan, sepertinya beliau melakukan perawatan agar tetap tampak muda.


“Hari ini kita akan masuk ke bab membuat karangan. Ada yang tidak paham mengenai apa yang disebut dengan karangan?”


Inilah yang aku sukai dari Miss Fitri dan pleajaran Bahasa Indonesia, beliau berbeda dari guru-guru lain yang akan menjelaskan materi lebih dulu, kemudian memberikan soal. Miss Fitri hanya akan menyebutkan Bab materi, lalu tanpa penjelasan apa pun, dia akan bertanya langsung. Jika tidak ada siswa yang mengajukan pertanyaan, maka Miss Fitri akan langsung memberikan tugas.


“Seakarang, karena kalian sudah SMA, kalian harus membuat karangan tentang masa depan. Jadi tema karangan kita adalah aku di masa 10 tahun yang akan datang. Kalian bisa mengarang gambaran kalian di 10 tahun yang akan datang. Bagaimana? Seru kan?”


Seluruh siswa masih diam. Aku juga masih diam sedang otakku mulai berpikir. Sepuluh tahun yang akan datang? Itu artinya saat usiaku 22 tahun.


“Wah, tampaknya kalian udah langsung berpikir nih. Tenang-tenang, tugasnya ngga di kumpul sekarang kok. Miss akan beri waktu tiga minggu. Tapi kalian boleh mengangsur dari sekarang. Kebetulan Miss hari ini harus ke rumah sakit karena suami Miss masuk rumah sakit, jadi kalian silakan mulai mengarang dan Miss izin ya. Ingat, jangan ada yang keluar kelas, jangan ada yang ribut juga. Wali kelas kalian Miss Regan ada di sebelah, jadi beliau akan mengawasi kalian. Yang ketauan ke kantin akan dapat hukuman minggu depan ya, begitu juga kalau kelas ini ribut, maka seluruh siswa akan Miss hukum minggu depan.”


Begitulah Miss Fitri, beliau jarang absen. Tapi sekalinya harus meninggalkan kelas, selalu tegas dengan hukuman. Aku tidak khawatir tentang kelas ini jika ditinggal oleh Miss Fitri, percayalah semua siswa tidak akan ada yang berani keluar kelas apa lagi ke kantin, kecuali kalau ke toilet. Dan kelas tidak akan ribut. Itu semua terjadi setelah kelas kami, X satu, dulu di awal-awal semester melanggar aturan Miss Fitri dan berakibat pada hukuman satu kelas yang harus berdiri di lapangan bendera dan membersihkan kantin serta menyusun buku di perpustakaan. Informasi hukuman itu menyebar ke seluruh kelas hinngga tidak ada lagi anak yang mau melanggar aturan dari Miss Fitri.


Miss Fitri kemudian pamit meninggalkan kelas. Anak-anak tidak ribut sedikit pun, tidak rusuh seperti jika ditinggalkan oleh guru lain. Mereka hanya saling berdiskusi tentang 10 tahun yang akan datang.


Shaka, tumben sekali anak itu diam. Biasanya dia akan mengajakku bicara ketika tidak ada guru di kelas. Aku melihat Shaaka menulis di buku, dia sudah mulai menulis karangannya.


Aku di usia 22 tahun. Begitu judul yang di tulis Shaka di buku catatatnnya.


Aku membaca paragraf pertama yang ditulis Shaka dengan tulisan yang berantakan.


Aku di usia 22 tahun, sepertinya masih single. Sebab aku berniat menikah di usia 27 tahun.


Aku menatap Shaka tak percaya, paragraf pertama dia justru bercerita tentang pernikahan, seperti tidak ada topik lain saja.


Aku dan Nadav Band sudah menjadi band terkenal. Sudah merilis beberapa lagu di mayor label. Kami punya gedung latihan sendiri dan tidak menyewa.

__ADS_1


Kalimat keduanya membuat aku tersenyum. Shaka benar-benar menyukai dunia musik. Dia punya impian yang jelas.


“Hei, kamu mau mencontek?”


Tanganku akhirnya berhasil juga mengetuk kepala Shaka. Dia meringis. Ah berlebihan, padahal aku hanya mengetuk pelan, tidak pakai tenaga super.


“Kamu yang nyontek kok malah mukulin aku sih? Dasar cewek aneh kamu ini!”


“Kamu itu yang aneh, sejak kapan tugas mengarang bisa menyontek?”


“Trus kenapa ngeliatin tulisan aku? Nah loh itu buku kamu juga masih kosong.”


Aku melihat bukuku, memang masih kosong.


“Ini mau ditulis.” Aku mengalihkan, mulai fokus pada buku sendiri.


“Btw, cita-cita kamu apa, Lin?”


“Jadi dokter. Kata Mama aku harus jadi orang sukses dengan menjadi dokter seperti Mama.”


Shaka tertawa, “Lin, sukses nggak mesti jadi dokter kali. Banyak loh di luar sana musisi-musisi yang sukses. Ayahku tentara dan bundaku perawat, mereka nyatanya juga sukses.”


Aku diam. Sebenarnya, ketika aku mulai beranjak besar saat ini, aku juga mulai tahu profesi lain selain dokter. Aku tahu kalau banyak orang yang sukses diluar sana meski mereka bukan dokter, seperti guru-guruku, misalnya?


“Eh tapi gimana kamu bisa jadi dokter? Kamu aja kayaknya nggak suka pelajaran IPA.” Shaka tertawa. Aku justru kaget. Bagaimana bisa Shaka tahu tentang ketidak sukaanku?


“Aku suka IPA kok, buktinya aku masuk jurusan IPA.”


Shaka tertawa lagi. Kali ini, tawa shaka lebih menyebalkan dari kecerewetannya. “Ah bohong, pasti kamu masuk IPA karena Mama kamu, kan?”


“Kamu sok tahu banget sih.”


“Aku udah jadi teman kamu satu setengah bulan. Aku punya mata kali, Lin. Aku bisa liat kamu itu berusaha keras untuk belajar, tapi kamu nggak bener-bener senang. Mata kamu cuma berbinar kalau Miss Fitri ngajar, pas bel istirahat bunyi, sama pas jam pulang. Udah gitu aja. Iya kan?”


Aku menghela napas. Bahkan aku tidak menyadari apa yang dikatakan Shaka. Setelah Shaka mengatakan itu, kepalaku mulai mengingat-ingat.


“Sepertinya sepuluh tahun yang akan datang kamu ngga kan jadi personil Nadav Band, tapi jadi peramal.”


“Yee, enak aja.”


“Kamu sendiri kenapa masuk IPA? Kenapa ngga lanjut ke sekolah musik aja?”


“Aku kan udah masuk sekolah musik. Aku masuk IPA karena apa ya? Nothing special, sih. Cuma ya, selain musik, aku lebih memilih mempelajari ilmu alam ketimbang sejarah atau ilmu sosial, apa lagi bahasa. Aku hanya melakukan berdasarkan apa yang aku suka.”


Aku hanya melakukan berdasarkan apa yang aku suka. Kalimat itu melekat dalam benakku. Membuat aku terdiam sesaat. Membuat aku justru mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, pertanyaan yang kemudian juga keluar dari mulut shaka.


“Kamu suka apa? Maksudku, adakah sesuatu yang kamu sukai, Lin? Sesuatu yang bukan karena Mamamu. Sesuatu yang benar-benar kamu sukai, kamu inginkan, seperti sebuah impian. Seperti impianku untuk terkenal bersama Nadav Band. Kamu, impian kamu apa?”


Aku terdiam. Itu adalah pertanyaan yang aku tanyakan pada diri sendiri. Apa yang aku sukai? Apa yang aku impikan?


Aku tidak tahu jawabannya.

__ADS_1


“Aku mau ke toilet dulu kebelet.”


Pada saat itu, aku mungkin bisa menghindar dari pertanyaan Shaka. Namun, aku tidak bisa menghindar dari pertanyaan yang diajukan oleh diriku sendiri. Sepanjang hari itu, aku terus memikirkannya.


__ADS_2