
“Tarra!”
Papa pulang membawa kejutan. Aku dan Mas Nara dibuat takjub oleh sebuah tas gitar. Semakin takjub ketika Papa mengeluarkan gitar tersebut.
“Ini hadiah untuk Nara.”
“Tapi kan Nara belum ulang tahun, Pa?” Mas Nara bertanya sembari mengelus gitar besar itu. Ulang tahun Mas Nara masih empat bulan lagi.
“Lah? Memangnya harus nunggu ada yang ulang tahun dulu baru boleh ngasih kado?” Papa terkekeh di akhir kalimatnya, belum sempat kami berdua menjawab, Papa sudah berkata lagi, “atau gitarnya Papa simpan lagi deh, biar ntar ngasihnya pas kamu ulang tahun.”
Mas Nara yang duduk di sisi kanan langsung menarik gitarnya. Menampakkan wajah tidak rela.
Aku waktu itu masih berusia 4 tahun, hanya tertawa saja di samping kanan Papa melihat wajah Mas Nara berganti masam.
Dua bulan lalu, waktu merayakan ulang tahun Mama dengan berjalan-jalan ke Mall, kami tidak sengaja menonton konser musik dari Band ternama tanah air. Mas Nara antusias sekali, memaksa kami berhenti dan ikut menyaksikan. Pulang-pulang, Mas Nara berujar pengin jadi gitaris jika besar nanti, dia juga mengemis-ngemis pada Mama dan Papa untuk dibelikan gitar.
Mama tentu menolak, tetapi Papa justru tersenyum dan membuat janji. Jadilah hari itu Papa menepati janjinya.
Mas Nara girang sekali. Sejak ada gitar tersebut, tangannya yang masih kecil itu, berusaha terus menerus memetik gitar. Papa bukan musisi, jadi Papa tidak bisa mengajarkan Mas Nara. Mas Nara terus menerus mementik gitar asal-asalan. Sampai seminggu sebelum Papa akhirnya meninggalkan rumah, aku melihat Papa membelikan Mas Nara ponsel, katanya itu ponsel pintar, bisa membantu Mas Nara untuk belajar gitar.
Papa memang baik sekali pada Mas Nara. Namun, aku tidak cemburu, karena selalu setiap Papa memberikan hadiah pada Mas Nara, Papa juga memberikan aku hadiah lain, yaitu buku dongeng. Papa juga kerap membacakan buku-buku tersebut. Aku suka sekali mendengar Papa mendongeng, perubahan suara Papa ketika menjadi tokoh kancil, musang, monyet, pangeran, putri dan lainnya, menyenangkan. Selain itu, aku juga suka sekali mendapatkan kecupan Papa sebelum tidur.
Hanya saja, Mama tidak menyukai semua yang kami sukai. Mama selalu bertengkar dengan Papa ketika Papa membelikan aku dan Mas Nara hadiah. Mama selalu bertengkar dengan Papa usai Papa membacakan dongeng untukku. Aku mendengar semuanya, pertengkaran-pertengkaran itu.
Aku ingat benar malam itu, sebulan sebelum hari ulang tahun Mas Nara. Ketika aku menghabiskan waktu di kamar Mas Nara untuk mendengarkan kemajuan Mas Nara dalam memetik gitar. Ketika aku bertepuk tangan untuk Mas Nara, “Wah keren! Dengan tubuh kecil begitu Mas bisa mainin gitar besarnya! Keren.” Aku tertawa besar-besar, bertepuk tangan, setengah memuji setengah meledek.
“Dasar kamu ini, kalau muji muji aja, jangan pakai bahas tubuh kecil. Ntar Mas kalau udah gede juga ikutan gede tubuhnya.”
“Iya-iya. Ayo lagu baru lagi dong. Lagu balonku ada lima!”
Mas Nara teratwa mendengar aku memintanya memainkan gitar untuk lagu tersebut. Namun dia tidak menolak, dia langsung mencari kuncinya di ponsel. Baru saja jemari Mas Nara hendak memetik gitar, kami mendengar suara seseorang membanting pintu. Lalu di susul dengan seseorang membuka pintu. Rumah kami tidak bertingkat, juga tidak terlalu besar, sehingga dapat mendengar suara dengan cukup jelas.
“Ada apa?” Itu suara Papa.
“Ada apa? Kamu sudah mengacaukan masa depan kita dan sekarang kamu bilang ada apa?”
“Maksud kamu apa?”
“Pihak penerbit menghubungiku, katanya kamu membatallkan kontrak untuk naskah itu?”
“Iya, itu karena mereka meminta aku menuliskan hal yang aneh-aneh. Aku tidak mau menulisnya.”
“Kamu tahu betapa sulitnya kita tanpa adanya satupun naskah kamu yang terbit belakangan ini kan? Kenapa kamu pakai berlagak sombong segala?”
“Bicara apa kamu? Toh kita juga tidak akan mati kelaparan hanya karena aku menolak penerbit itu.”
“Iya, kita nggak mati kelaparan karena kamu punya aku. Sampai kapan kamu mau bergantung pada istrimu? Kamu itu suami, Mas. Harusnya kamu yang keluar dari rumah ini dan menjadi tulang punggung keluarga kita, bukan aku.”
“VENA!”
Waktu itu, aku dan Mas Nara ada di ambang pintu kamar Mas Nara, manatap lulus ke ruang depan, jarak kami cukup jauh, tetapi kami bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang terjadi. Papa menampar Mama, suara tamparan itu kuat sekali.
Suara Papa bagai petir.
“Kenapa Tam? Apa yang aku bilang benar kan? Aku capek, Tam, jadi istri penulis yang miskin seperti kamu. Aku menyesal tidak mendengarkan kata ibuku dulu. Seharusnya aku menikah saja dengan Alex, dokter pilihan ibuku. Bukan kamu, penulis miskin yang tidak punya masa depan.”
Tangan Papa hampir melayang untuk kedua kalinya, tetapi tertahan.
“Kenapa? Kamu mau nampar aku lagi?”
__ADS_1
Papa tidak menjawab, dia masuk ke kamar. Lalu keluar membawa ransel.
“Kita cerai saja jika kamu tidak ingin memiliki suami sepertiku, Vena.”
Papa melangkah pergi. Mama menangis malam itu. Aku, langsung menjerit, “Pap-!” Suaraku tertahan, Mas Nara membekap mulutku. Tapi, Papa sudah terlanjut menoleh ke arah kami. Menoleh sebentar lalu berbalik, melangkah pergi.
“JAHAT KAMU, TAMA!” Mama memekik, tetapi Papa justru telah melewati pintu. Pintu itu kini tertutup. Papa pergi hari itu. Aku tidak pernah melihatnya lagi setelah malam itu.
Pa, bisa tidak Papa kembali dan membacakan Alin dongeng lagi?
***
“Alin?”
Aku tersentak.
“Kamu baik-baik aja?”
Aku mengangguk.
“Dia kayaknya butuh aqua deh, Bro.” Cowok dengan kaos hitam longgar tersebut terkekeh. Rambut cowok itu dicat merah gaya jabrik, jadul sekali. Kulitnya yang hitam tampak lumayan putih efek baju yang dia pakai. Beberapa saat lalu, aku sudah dikenalkan Shaka dengan cowok itu, namanya Fengki, biasa dipanggil Ipeng. Dia memegang posisi Drumer di Nadav Band.
“Aqua-aqua!” Cowok lainnya yang berpenampilan lebih rapi mengulurkan aqua pada Shaka yang berada di depanku. Cowok itu yang paling putih di antara mereka, dia gitaris. Karena melihatnya bermain gitarlah membuat aku jadi teringat Mas Nara. Perawakannya juga kurus dan tidak terlalu tinggi, persis Mas Nara. Hanya saja mata dia lebih belok, sedang mata Mas Nara sedikit kecil tapi tidak sipit. Namanya Oka, sebenarnya kalau diperhatikan lebih lama, Oka yang paling ganteng di antara mereka semua.
“Makasih,” kataku begitu Nara menyodorkan sebotol air mineral. Sebenarnya aku tidak haus, tetapi begitu melihat air, rasanya ingin minum.
“Ada apa? Jangan bilang kamu ingat mantan kamu yang juga anak band?”
Aku baru saja meneguk air, pertanyaan Nara membuat air tersebut muncrat. Aku tersedak.
“Jadi kamu punya mantan anak Band, Lin? Indie? Atau?” Suara cowok itu membuat aku harus mendongak, namanya Andra, dia bassis dan sekarang masih berdiri menyetel-nyetel alat musiknya.
Aku melongo. Cowok di grup Shaka ini, mengapa semuanya terdengar cerewet? Apa itu karena mereka terlalu sering bergaul dengan Shaka? Atau karena mereka justru Shaka jadi cerewet?
“Hei! Bengong lagi. Kesambet ntar. Di belakang gedung ini ada kuburan loh!” Shaka melambaikan tangan di depan wajahku.
“Pertama aku nggak pernah pacaran.”
“Eh seriusan?” Ipeng tampak takjub.
Aku hanya mengangguk, lalu melanjutkan, “Kedua, jadi aku nggak mungkin lagi ngelamunin pacar.”
“Trus kamu kenapa bengong? Jangan-jangan dari tadi kamu ngga dengerin kami latihan lagi? Iya kan?” Shaka kembali bertanya. Dan dengan polosnya aku mengangguk. Aku benar-benar tidak mendengar mereka bernyanyi. Begitu Oka memetik gitarnya, entah kenapa pikiranku melayang pada kejadian masa lalu. Aku keingat Mas Nara juga Papa.
“Maaf. Aku Cuma keingat Mas Nara.”
“Nara? Nara Shakeel?” Oka membuat aku terkejut dengan pertanyaannya. Dia yang paling anteng dan beda dari yang lain, dia tidak terlalu cerewet. Tapi, kenapa dia bisa tau Mas Nara?
Aku mengangguk lagi.
“Nara itu temen SMAku waktu di Malang. Kami sempet satu band bareng dulu.”
“Kamu seriusan, Ka?”
“Oka sekelas Mas Nara? Berarti kamu yang paling tua di band ini?”
“Bukan. Ipeng lebih tua.”
“Yuhu, aku senior di sini, 25 tahun. Oka 22, Andra 20 dan tu si Shaka paling junior dan paling ngeselin.”
__ADS_1
Aku terperangah. Tak percaya kalau usia mereka rupanya berbeda-beda, kupikir mereka seusia.
“Jangan kaget. Kami emang biasa panggil nama aja biar lebih akrab. Kamu juga jangan jadi panggil Mas atau apalah, kami lebih suka dipanggil nama kok. Lagian, kami berempat satu angkatan di sekolah musik dulu, trus bikin band bareng.” Ipeng membuka cerita.
“Kalian sekolah musik bareng? Kapan?”
“Tiga atau empat tahun lalu, eh lima deh, soalnya waktu itu aku masih SD.”
“Kamu dari SD udah belajar musik, Shaka?”
Shaka mengangguk. Aku takjub.
“Sejak kecil aku suka nyanyi, pas SD kelas 6, aku minta kursus dan dikasih izin sama ayah kursus di sekolah musik. Trus jumpa mereka deh.”
Percakapan kami tanpa kusadari teralihkan begitu saja. Tidak ada pembahasan tentang Mas Nara lagi. Shaka bercerita panjang tentang impiannya menjadi musisi, pun demikian dengan Ipeng, Oka, dan Andra.
Ah ya, aku juga baru menyadari satu hal penting, bersama mereka, aku merasa lebih banyak tersenyum dan menjadi diri sendiri. Maksudku, aku merasa tidak ada basa-basi di antara kami. Mereka semua membuka diri, melempar senyum, melempar tawa secara natural. Tidak ada yang dibuat-buat.
Aku merasa senang diajak Shaka ke tempat latihannya ini. Walau sebelumnya aku sudah menolaknya mentah-mentah, tapi Shaka terus saja memaksa.
Ruang berukuran 4x4 meter ini adalah satu di antara banyak ruang latihan musik di studio tersebut. Mereka membayar perbulan untuk menyewa studio ini. Alat musiknya sendiri adalah milik mereka, studio ini hanya menyediakan ruang dan fasilitas seperti ac dan listrik saja. Begitu yang diceritakan Oka ketika aku bertanya mengenai tempat latihan yang rupanya baru hari ini mereka gunakan.
“Sebelumnya kami latian di studio deket Mall, karena lebih dekat dari tempat tinggal kami semua. Eh tiba-tiba ni anak satu ngajak pindah karena lebih deket ke sekolahnya. Tapi, mumpung biayanya murah dan Shaka mau bayar 60 persen, jadi kami ngga bisa nolak.”
Ya, studio itu memang dekat dari sekolah kami. Mungkin hanya sekitar 2 kilo meter, jika naik motor, rasanya baru menaruh pantat di jok, eh tau-tau sudah sampai saja.
“Jangan-jangan dia pindah ke sini biar bisa ajak kamu sering-sering main ke sini kali. Ciee, ada yang falling in love!” Ipeng ketawa, dia yang paling tua juga paling heboh.
“Appan sih, sotoy. Aku ngajakin dia biar dia ini kerjanya ngga belajar mulu.”
Aku ingin menjitak kepala Shaka rasanya karena dia sudah asal bicara. Eh, meski apa yang dikatakan Shaka ada benernya. Aku memang sibuk belajar mulu.
Ponselku tiba-tiba berdering sebelum aku sempat membela diri. Ada tulisan MAMA CALLING di layar ponsel. Aku pamit sebentar pada mereka, lalu menjawab telepon mama di luar ruangan.
“Alin, kamu di mana? Mama baru aja ditelepon Kak Jihan, katanya kamu membatalakan pertemuan les hari ini?”
Mama biasa begitu. Jarang sekali membuka percakapan dengan salam. Mungkin beliau terlalu sibuk hingga tak punya waktu berbasa basi dengan bertukar salam.
“Alin masih di sekolah, Ma. Ada tugas kelompok, jadi tadi Alin kabarin Kak Jihan, maaf lupa ngabarin Mama.” Ini bukan kali pertama aku berbohong pada Mama. Sejak memutuskan untuk tidak menuruti Mama dan memilih tetam berteman dengan Shaka, aku mulai pandai berbohong pada Mama. Awalnya gugup. Lama-lama jadi seperti bicara biasa saja. Aku juga mulai tau mengapa orang berbohong. Rahasia. Ya, ada rahasia yang harus disembunyikan sehingga mereka harus berbohong. Dan kebohongan itu seperti narkoba, sekali kamu mencoba, kamu akan terjerat. Kebohongan satu akan beranak pinak demi saling menutupi kebohongan lainnya.
“Oke, kalau gitu Mama jemput kamu ntar ya, kira-kira kamu pulang jam berapa?”
Aku berdeham cukup lama, lalu menjawab, “setengah jam langi, Ma. Ya, paling setengah jam lagi kelar.”
“Oke, Mama ke sana sekarang kalau gitu. Daaa.” Telepon terputus.
“Mama kamu?”
“Iya, Mama mau jemput ke sekolah. Aku balik duluan ya.”
“Biar aku anterin.”
“Aku bisa sendiri, lagian kamu masih harus latian kan?”
“Ngga apa, sekalian aku juga mau nyapa Mama kamu.”
“Eh?” Spontan aku emnggaruk daun telingaku. Sejak seminggu lalu, usai Shaka berjumpa dengan Mama waktu itu, mereka memang belum ada bertemu lagi. Mama belum sempat menjemputku lagi, tepatnya. Dan sebenarnya, aku ingin memberi tahu Shaka tentang Mama. Namun, ada binar yang selalu aku lihat di mata Shaka. Mata cowok itu berkilau, seperti ada bahagia juga harapan. Aku melihat mata itu dulu sekali, di cermin, setiap pagi. Masa itu, ketika aku sangat riang karena aku memiliki sahabat Teletubbies.
Aku tahu bagaimana rasanya patah. Aku paham benar bagaimana lukanya dibuat kecewa. Jadi, aku memutuskan merahasiakan itu dari Shaka. Apa lagi setelah Shaka mengajak aku ke tempat ini. Bertemu dengan Oka, Andra, dan Ipeng. Aku, entah kenapa, merasakan kembali sebuah kehangatan yang sudah lama hilang.
__ADS_1
“Diam berarti iya. Ok, cus!” Shaka melewatiku, keluar. Langkahnya cepat menuju pintu. Aku melempar senyum lebih dulu kepada tiga teman Shaka. Senyum yang tidak dibuat-buat. Aku tidak merasa kalau harus berbasa basi pada mereka, aku justru merasa aku tersenyum karena memang begitulah yang seharusnya dilakukan.