
“Alin!”
Siang itu aku terkejut mendapati Mas Nara muncul di gerbang sekolah, dia masih mengenakan seragam putih abu\-abu, hanya saja pakaian putihnya tertutup oleh jaket levis yang ia kenakan. Mas Nara melambai dengan senyum riang dari atas motor besarnya.
“Mas Nara? Tumben? Mama mana, Mas?”
“Mama ada operasi di RS, jadi nyuruh Mas jemput kamu.”
Aku ber\-oh saja mendengar jawaban Mas Nara.
Sekolah kami berlawanan arah, sangat jarang Mas Nara menjemputku, karena biasanya Mas Nara memiliki jadwal les tambahan, jadi Mama yang biasanya datang menjemput.
“Kamu mau ikut Mas jalan\-jalan dulu nggak?”
“Kemana, Mas?”
“Ada deh, kejutan. Tapi sepertinya kita harus ke toko baju anak dulu deh.” Mas Nara seperti tengah menimbang\-nimbang.
Hari itu, aku lupa hari apa. Sepertinya senin atau selasa, karena aku mengenakan seragam putih merah. Beberapa bulan sebelum Mas Nara pergi dari rumah, beberapa bulan juga dari hari ulang tahunku. Mas Nara mengajakku jalan\-jalan. Pertama ke toko baju, dia membelikan aku gaun yang cantik. Entah dari mana uangnya. Lalu kami menghabiskan waktu di Mall hingga malam, tepatnya Mas Nara tahu betul jam berapa Mama akan pulang, jadi kami sudah di rumah sebelum Mama sampai di rumah.
Ah ya, hari itu Mas Nara membawa gitarnya. Mas Nara memang hampir setiap hari membawa gitarnya ke sekolah meski Mama selalu mengomel tiap pagi agar Mas Nara tidak membawa gitar itu. Karena gitar itu, aku jadi kepayahan duduk di jok belakang, menggunakan gaun pula.
“Mas Nara akan tampil di panggung itu?”
Mas Nara mengangguk. Aku bertepuk tangan dan melonjak\-lonjak antusias ketika nama Mas Nara dipanggil. Mas Nara beneran tampil di panggung yang ada di Mal itu. Ketika aku melihat sekeliling, banyak pengunjung Mall yang menyaksikan. Mas Nara memetik gitarnya, menyanyikan lagu dari penyanyi terkenal.
Melihat Mas Nara waktu itu, aku bangga sekali. Selepas memamerkan kehebatannya, Mas Nara mengajakku ke toko buku yang ada di Mall. Aku senang sekali, karena setelah Mama dan Papa bercerai, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di toko buku.
Terakhir saat digendong papa. Waktu usiaku empat tahun. Papa mengajakku memilih buku dongeng.
Hari itu, saat aku kembali menginjakkan kaki di toko buku, aku menangis. Teringat Papa.
“Kamu ingat Papa ya? Kalau kamu ngga mau di sini, kita langsung ke tempat makan aja yuk.”
Aku menggeleng. Aku ingin di sana. Aku suka toko buku. Aku suka melihat buku buku berjejer rapi. Kami menghabiskan waktu cukup lama di tempat itu. Mas Nara membelikan aku sebuah novel anak. Novel yang hingga saat ini masih tersimpan di bawah kasurku. Ya, semua novel\-novel yang aku beli berada di bawah kasur, Mama tidak boleh tahu. Jika Mama tahu, Mama akan membuangnya, seperti Mama membuang semua buku dogeng yang dibelikan Papa dulu.
“Kamu harus ingat nama penulis buku itu. Jika besar nanti, kalau kamu ketemu penulisnya, kamu harus minta tanda tangannya dan bilang kalau Mas yang belikan buku itu untukmu ya.”
“Atma Ilham? Siapa dia, Mas?”
“Menulis terkenal. Kamu nanti juga akan tau.”
“Mas, kalau Alin nanti besar, Alin mau jadi penulis buku juga, boleh?”
Alinea Ghita berusia 12 tahun rupanya pernah bertanya demikian. Aku cukup terkejut dengan ingatan ini.
“Tentu saja boleh. Setiap orang bebas memiliki impian apa pun, Lin. Mas akan jadi musisi terkenal, kamu akan jadi penulis hebat. Bukankah itu keren?”
Aku mengangguk. Itu adalah rencana masa depan yang hebat. Ah, bagaimana bisa aku lupa kejadian itu?
*Aku, rupanya pernah bercita\-cita menjadi penulis. Bagaimana bisa aku lupa*?
***
Aku berbohong lagi pada Mama. Meminta izin untuk tidak les *private* dengan alasan ada tugas kelompok yang harus dikerjakan di sekolah. Beruntungnya, Mama selalu percaya padaku. Padahal, pulang sekolah, aku mampir ke studio tempat Shaka latihan. Kali ini aku mampir bukan karena diajak Shaka, tapi keinganan sendiri. Aku ingin bertemu Shaka.
__ADS_1
Cowok cenayang itu, sejak pertengkaran kami di kantin, sejak terakhir bertemu di perpustakaan, dia tidak ada di kelas. Hari ini pun dia tidak masuk. Jadi, kupikir, dia akan ada di strudionya.
“Alin?” Oka tampak kaget melihat aku berada di balik pintu. Tangannya spontan membuka pintu ruang studio.
“Wah ada pacar Shaka! Halo, Alin!” Ipeng menyapa. Aku tidak terlalu fokus pada isi sapaannya. Mataku menjelajah ruangan ukuran 4x4 tersebut. Ipeng ada di belakang drumnya.
Seperti biasa, Andra masih suka sibuk mengusuri kabel dan senar bass nya.
“Kamu kesini sendirian, Lin? Shaka mana?” Oka bertanya, dia duduk di dekatku, tengah meneguk sebotol air mineral usai bertanya.
“Aa, kamu kesini nyariin Shaka ya? Dia pasti hari ini nggak ke sekolah, iya kan?”
Aku mengangguk. Selain Shaka, Ipeng sepertinya juga cenayang.
Oka langsung membuka ponsel, lalu dia seperti baru mengerti sesuatu.
“Oh astaga, aku lupa, hari ini 1 September!”
Ipeng berdeham. Andra sudah selesai dengan Bassnya. Dia mendekati Oka, meminta minum.
“Ada apa dengan 1 September?”
“Peringatan hari meninggalnya Ashka.”
“Ashka?”
“Ka, kamu ini ngomong kok nanggung\-nanggung, yang jelas dong.” Ipeng menghampiri, dia meninju bahu Oka pelan.
Mereka seolah tidak ingin bercerita. Aku sudah terlanjut penasaran, kutatap Ipeng, memasang senyum manis, memintanya bercerita. Oka dan Andra tertawa melihat tingkahku. Aku sendiri baru sadar kalau aku tengah melakukan tingkah memalukan.
Biasanya aku begitu hanya pada Mas Nara. Sekarang aku sudah bisa bertingkah sok imut di hadapan orang lain. Kadang, nyaman bisa membuat kita bersikap menajdi diri sendiri. Dan teman-teman Shaka, adalah tempat ternyaman bagiku selain bersama Papa dan Mas Nara.
“Ashka itu sudara laki\-lakinya Shaka, mereka beda berapa tahun ya?” Ipeng memutar bola matanya, berpikir. “Pokoknya, waktu Shaka SD kelas 5, Ashka itu udah SMA kelas 2. Dulu itu Ayah Bunda Shaka belum kayak sekarang. Dari cerita Shaka sih, Ayah Bundanya berubah sejak Ashka meninggal. Merasa bersalah gitu. Makanya setelah itu Ayahnya langsung masukin Shaka sekolah musik dan dukung apa pun yang Shaka inginkan.”
Aku diam. Otakku tengah mencoba mencerna maksud cerita Ipeng.
“Kenapa Ayah Bundanya menyesal? Memangnya Ashka meninggal kenapa?”
“Bunuh diri. Lompat dari gedung sekolah.” Andra menjawab dengan santai. Aku ternganga.
Oka dan Ipeng tampak saling lirik. Andra dengan wajah tak bersalah berkata, “Cepat atau lambat Alin juga bakal tau kan? Toh kalian duluan yang mulai cerita ini kedia.”
“Lin, jangan bilang ke Shaka kalau kami cerita ini ke kamu ya. Shaka nggak suka bahas ini.”
“Kenapa Ashka bunuh diri?” Aku bertanya, tak mengubris tawaran Oka.
“Ashka itu suka gambar dan bodoh banget sama pelajaran akademik. Ayah mereka kan Tentara, didikannya cukup keras gitu. Ashka dilarang menggambar sampai nilai akademiknya bagus. Ya kamu taulah anak cowok itu gimana, mudah memberontak. Apa lagi pas SMP dan SMA Ashka itu suka diam\-diam ikut lomba gambar gitu. Bahkan kata Shaka kakaknya itu pernah juara gambar komik\-komik gitu. Eh, pialanya sampai rumah malah dibuang sama ayahnya. Kasian banget deh pokoknya. Mana ayah mereka ingin anaknya jadi tentara. Berlawanan gitu, jadi ya, Ashka bunuh diri karena ngga sanggup sama didikan orng tuanya.”
Ipeng bercerita panjang lebar. Aku melongo.
Ponselku berdering, panggilan dari Mama. Sebelum mengangkat telepon, aku pamit lebih dulu pada Ipeng, Oka, dan Andra.
“Mama udah di depan gerbang, kamu masih lama?”
__ADS_1
Astaga. Bagaimana ini?
“Eh? Kok Mama ngga bilang mau jemput? Aku malah udah di jalan, Ma, naik ojek.”
“Kamu naik ojek? Kok bisa angkat telepon?”
“Eh, maksudnya aku naik ojek yang mobilnya, Ma.”
“Oh ya udah, kalau gitu Mama langsung balik aja. Sampai jumpa di rumah ya.”
Telepon mati. Syukur Mama tidak curiga.
Buru\-buru aku memesan transportasi online. Aku harus tiba di rumah lebih dulu sebelum Mama.
Ketika di dalam mobil, ponselku bergetar. Ada satu pesan masuk dari nomor asing.
**Kata anak\-anak kamu ke studio nyariin aku, ada apa**?
Aku tersenyum membaca pesan singkat itu. Baru sadar kalau ini adalah pesan singkat pertama Shaka. Kami tidak pernah bertukar pesan, pun chatting di media sosial. Tepatnya, aku tidak punya akun media sosial apa pun. Tidak punya waktu. Pulang sekolah pukul 2, sampai rumah pukul 3 kurang, siap\-siap untuk les privat sampai jam 5 sore. Malamnya tepar.
Aku tidak langsung membalas, memilih untuk menyimpan nomor ponsel Shaka lebih dulu. *Shaka*.
Oh tidak. Kontak Shaka tidak boleh begitu, jika nanti dibaca Mama, Mama akan tau kalau aku dan Shaka masih berteman. Aku menghapus kontak tersebut. Memikirkan nama yang tepat untuk kontak Shaka. Belum sempat aku menyimpan kontak Shaka dengan nama samaran, ponselku kembali berdering.
“Kamu ngga ada pulsa untuk balas sms aku apa emang ngga mau balas? Masih marah sama yang di kantin? Trus kenapa ke studio?”
Aku tertawa mendengar suara kesal super cerewet Shaka di ujung sana.
“Kamu bisa ngga sih kalau ngomong satu\-satu? Kamu itu cowok, tapi cerewetnya ngalahin cewek.”
“Emangnya ada aturan di dunia ini kalau cerewet itu milik cewek?”
“Ada aku yang buat.”
Aku mendengar suara Shaka tertawa sebentar, lalu dia berkata kembali, “Jadi kenapa nyariin? Jangan bilang sehari aku nggak masuk sekolah kamu udah kangen?”
“Pede.”
“Aku Shaka Nadav Gilli, bukan Pede.”
“Btw, kamu kok bisa punya nomor aku?”
“Pengalihan pembicaraan.”
Kami tertawa serentak.
“Aku udah menemukan impian aku. Aku udah tau apa yang aku suka. Aku mau ketemu kamu untuk sampaikan itu.”
“Oh ya? Selamat. Sebenarnya kamu nggak perlu lapor ke aku, tapi lapor ke Mama kamu, itu penting. Mama kamu harus tau.”
Aku diam. Lama sekali. Hingga ponselku mati sendiri karena batrainya habis. Hingga sang supir sudah berulang kali memanggilku karena kami sudah tiba di depan rumahku.
__ADS_1
Sudah ada mobil Mama di pekarangan rumah. Habislah aku.