Alinea: Cita, Cinta, Dan Cerita

Alinea: Cita, Cinta, Dan Cerita
LOMBA


__ADS_3

Hari di mana Mas Nara mengajakku ke Mall dan kami menghabiskan waktu di Toko Buku. Ingat tidak kalian bagian itu?


Waktu itu, sekilas aku mengatakan kalau Mas Nara tampil di panggung kan?



Ah ceritaku waktu itu masih kurang lengkap, sebab memang aku tidak terlalu fokus pada bagian tersebut. Baiklah, ini adalah bagiannya.



“Peserta nomor urut 16, Nara Shakeel!” Pembawa acara memanggil nama Mas Nara. Sorak sorai dan tepuk tangan terdengar.



“Kamu tunggu di sini sebentar ya.” Itu pesan Mas Nara. Aku menurut. Menyaksikan Mas Nara setengah berlari menaiki panggung. Lalu dia duduk di atas bangku, bersama gitarnya. Menyanyikan sebuah lagu dari band ternama. Petikan gitar, suara merdu. Semua orang terlena. Sedang aku bertepuk\-tepuk tangan tanpa mengikuti irama, berlonjak kegirangan menyaksikan kakak laki\-lakiku berada di panggung, sudah seperti penyanyi yang waktu itu pernah kami lihat di Mall.



“Mas Nara!” pekikku, bertepuk tangan sengat riang. Mas Nara melepas senyum padaku. Dia, meski masih memakai seragam putih abu\-abu dan hanya ditutup oleh jaket levis, tetap saja membuat perempuan\-perempuan berdecak kagum memuji ketampanannya.


Mas Naraku memang tampan sekali. Wajah putihnya berkilau ketika mendapat sorotan lampu. Apa lagi ketika Mas Nara tersenyum, bagian di pipi kirinya ada yang berlubang, sebuah lesung pipi. Manis sekali.


Setelah lagu usai, pembawa acara memuji Mas Nara. Para perempuan yang berda di sekitarku berbisik\-bisik.



“Udah selesai, yuk kita ke tempat berikutnya.” Mas Nara membawa aku ke toko buku setelah selesai dari ajang itu. Ajang yang aku baru tahu esok harinya kalau itu adalah sebuah lomba, itu juga karena Mas Nara merebut remot televisi dari tanganku.


Pengumumannya di umumkan di televisi.


“Wah, Mas Nara masuk tv!” Aku berteriak spontan begitu menyaksikan penampilan Mas Nara kemarin disiarkan di televisi hari ini. Itu hebat sekali. Mas Naraku masuk TV!



“Jangan bilang Mama loh ya.”



“Ye, aku kan bukan pengadu.”



Kami kemudian menyaksikan tayangan televisi. Mendengarkan dengan saksama pengumaman juara.



“Ah sayang sekali.” Aku melengos usai mendengar ketiga juara sudah diumumkan tetapi tidak ada nomor peserta Mas Nara di salah satunya.



Sedang Mas Nara, bukannya sedih, dia justru tersenyum dan berkata, “Ngga apa, ini kan baru awal. Besok\-besok Mas akan jadi juaranya. Kamu tunggu aja tanggal mainnya.”



“Beneran ya Mas akan juara?”



Mas Nara mengangguk mantap. Bel rumah seketika berbunyi.



“Eh Kak Anggun datang, buruan matiin tivinya!” Kami buru\-buru mematikan televisi lalu aku langsung menuju kamar. Sedang Mas Nara juga buru\-buru membukakan pintu.


__ADS_1


Kak Anggun adalah guru les Mas Nara pada masa itu. Sama seperti Kak Jihan, Kak Anggun juga rutin mengajar Mas Nara ketika itu setiap hari, tepat satu jam setelah jam pulang sekolah, Kak Anggun akan datang dan Mas Nara akan belajar hingga menjelang magribh. Sementara aku akan menghabiskan waktu di kamar. Mama? Jangan tanya, beliau dokter yang sibuk di Rumah Sakit.



*Mas Nara, apa kabar? Sudahkah Mas berhasil menjadi musisi terkenal? Sudahkah Mas menjuarai banyak kompetisi*?


***


“Alin sepuluh tahun yang akan datang, akan sibuk sekali menggarap banyak naskah. Menandatangani banyak buku. Tunggulah, buku\-buku karya Alin akan berjejer cantik di rak toko buku nantinya, seperti buku\-buku Bang Tere Liye yang saat ini menguasai rak toko buku.”



Aku berkata demikian penuh percaya diri di depan kelas. Mengakhirnya dengan senyuman. Itu senyum sungguhan. Aku juga sungguh\-sungguh membagi senyumku pada teman\-teman di kelas tersebut.



Shaka yang pertama kali memberikan tepuk tangan. Aku bahkan melihatnya berdiri di kursi belakang. Bu Fitri turut bertepuk tangan diikuti seluruh siswa lainnya. Senyumku semakin lebar.


Ada energi positif yang terasa ketika banyak orang memberikan senyuman dan tepuk tangan pada kita, seperti ada banyak orang yang tengah mendukung dan bembesarkan hati kita, seolah mereka berkata tanpa suara, “Kamu akan berhasil menggapai impianmu, Alinea.”


Meski awalnya aku gugup dan mengomel karena permintaan Bu Fitri menyuruh kami membacakan isi karangan di depan kelas, tetapi saat ini aku justru bersuyukur telah membacakan karanganku. Ini baru Alin di sepuluh tahun mendatang, belum lagi dua puluh atau puluhan tahun yang akan datang.



“Seharusnya kamu masuk jurusan Bahasa, Alin.” Danar berkomentar begitu aku kembali ke kursi.



Gara\-gara Mama meminta Shaka dipindahkan, aku jadi semeja dengan Danar. Dia memang tidak secerewet Shaka, tetapi dia memiliki komentar yang tajam, suka membuat aku kesal.



“Anak bahasa yang bisa menulis itu biasa. Kalau anak IPA bisa nulis, bukankah itu lebih keren, Danar?” Jawabanku embuat Danar terdiam. Sebenarnya itu bukan kata\-kataku. Itu kalimat hiburan dari Shaka saat aku mengatakan betapa aku tidak seharusnya masuk jurusan IPA.




“Danar, bahkan ayam saja mungkin bisa menulis lebih rapi.”



“Itu tulisan dokter, wajar kalau kamu sulit bacanya. Kan tulisan dokter memang begitu.”



“Emangnya kamu dokter?”



“Calon.” Danar terkekeh. Aku jadi teringat Mama ketika Danar berkata demikian.



Kami belum sempat saling mendebat. Pun tugas mengoreksi ini juga belum selesai, tetapi bel istirahat sudah berbunyi saja. Tiap pelajaran Bahasa Indonesia, aku merasa waktu berlalu begitu cepat.



“Oke, karena sudah bel, itu jadi PR ya, kita kumpul minggu depan.”



Seluruh siswa bersorak seperti tidak senang itu menjadi PR. Ah, mereka hanya berpura\-pura saja, aku bisa melihat wajah mereka begitu berseri\-seri sangking senangnya bel istrirahat berbunyi.


__ADS_1


“Alin, kamu jumpai Miss di ruangan ya.” Aku terkaget begitu Miss Fitri memanggil namaku, terlebih meminta aku menjumpainya ke ruangan.



Aku memang aktif dan merupakan juara kelas. Namun, aku hampir tidak pernah diminta oleh guru untuk menemui mereka di ruangan. Jadi wajar saja kalau aku gugup, apa lagi laki\-laki berambut keriting di sebelahku ini pakai acara menakut\-nakuti segala, “Ayoloh dipanggil ke ruang guru, ntar dipanggil ortunya.” Begitu ucapan Danar, membuat aku takut.



“Karangan kamu bagus banget. Kamu hebat.” Shaka menghampiriku sebelum aku keluar ruangan. Tidak, dia tidak bicara dari jarak dekat, dia mengambil duduk di kursi Mia, ketika Mia sudah meninggalkan kelas. Lalu berbicara membelakangiku.



Itu cara kami tetap berinteraksi di sekolah sejak aku mendapati ancaman Mama. Sejak kami berdua dipanggil oleh Miss regan ke ruangannya.



“Miss ngga bisa membantu kalian. Alin, Mama kamu tahun ini menjadi donatur untuk Yayasan Kusuma, dia bisa melakukan apa saja terhadap kamu ataupun shaka. Jadi Miss minta kalian jaga jarak. Mungkin akan ada mata\-mata Mama kamu di sekolah ini. Miss ga tau siapa, tapi kalian harus hati\-hati.” Begitu ucapan Miss Regan.



“Makasih. Btw, Miss Fitri nyuruh aku ke ruangannya. Apa Miss Fitri mata\-mata Mama ya? Apa Miss Fitri tau kita masih temenan? Aduh aku ngga mau dipindahin dari sekolah ini, Shaka.” Aku mengadu pada shaka, tapi lebih terlihat seperti berbicara sendiri. Danar sudah meninggalkan kelas sejak tadi.



Shaka masih membelakangiku. Dia berbicara seolah sedang berbicara sendiri juga, “Temui dulu aja. Jangan mengkhawatirkan apa\-apa yang belum pasti, buang buang energi tau nggak.”



Belum aku menjawab, seorang anak laki\-laki melewati kami, aku tidak ingat namanya. Sampai saat ini aku masih belum hafal nama teman\-teman sekelasku. “Kalian berdua lagi ngapain sih?” ucap anak laki\-laki itu.



Kami berdua tidak menyahut, spontan aku beranjak lebih dulu, “Kepo.” Sahutku sinis, anak laki\-laki itu balas dengan tatapan sinis. Buru\-buru aku meninggalkan kelas. Hendak menemui Miss Fitri.



Ponselku berbunyi ketika aku masih dalam perjalanan menuju ruang Miss Fitri.



**Semangat**.



Satu pesan singkat dari nomor yang belum aku simpan, tetapi aku sudah tahu benar siapa pemilik nomor tersebut. Aku tersenyum. Melihat sekitar, kutemukan Shaka ada di sisi tangga kanan, bersebrangan dengan tangga yang baru saja aku lewati. Dia tersenyum. Aku balas tersenyum.



“Ini, jika benar kamu ingin jadi penulis, kamu harus ikut lomba ini. Ini kesempatan emas banget buat kamu.” Aku menerima sebuat poster dari tangan Miss Fitri. Ah, rupanya Miss Fitri hendak menemuiku untuk poster ini.



Poster yang berisi informasi lomba menulis novel. Menulis novel! Bahkan aku tidak pernah menulis cerpen, bagaimana bisa aku hendak menulis novel?



“Tapi, Miss?”



“Ngga ada kata tapi jika kamu benar\-benar menginginkan sesuatu, Alin.” Kalimat itu, aku ingat benar dulu aku pernah mendengarnya dari mulut seseorang.



Mas Nara. Ketika dia gagal dalam lomba, ketika aku meragukannya untuk bisa menjuarai lomba yang lebih besar, dia pernah berkata kalimat yang sama. Ya, Mas Naraku. Apa kabar dia?

__ADS_1


__ADS_2