Alinea: Cita, Cinta, Dan Cerita

Alinea: Cita, Cinta, Dan Cerita
VOKALIS ITU!


__ADS_3

“Alin, kamu harus cepat besar biar cepat masuk sekolah.”



“Memangnya sekolah itu enak, Mas?”



“Seru! Banyak teman, bisa main.”



“Kan Mas Nara udah sekolah, udah bisa main. Trus kenapa Mas Nara pengin Alin cepat masuk sekolah juga?”



“Kamu tahu tidak, ada momen paling menyenangkan saat kamu pertama kali masuk sekolah. Momen itu pengin Mas ulang, makanya Mas pengin kamu cepat masuk sekolah.”



“Momen itu apa?”



Mas Nara tertawa. Mungkin dia baru menyadari kalau sudah memakai kosa kata yang terlalu rumit untuk anak usia 4 tahun.



Lalu pada waktu itu Mas Nara menjelaskan tentang momen, juga apa yang ada dalam momen tersebut. Momen yang tidak pernah bisa aku dapatkan. Momen yang rupanya tidak bisa terulang dan hanya berupa ingin yang sebatas angan.



Hari itu, ketika aku benar\-benar sampai pada usia masuk sekolah. Aku melihat sendiri bagaimana anak\-anak seusiaku diantar oleh mama dan papa mereka, juga saudara mereka. Ada beberapa anak yang menangis ketika masuk ke kelas dan harus berpisah dari orang tuanya.



“Pakai topi yang bener, ini hari pertama kamu ikut upacara bendera. Cieee, Alin udah sekolah niyee sekarang!” Mas Nara merapikan topiku, dia juga mencolek pipiku dan tertawa menggoda. Membuat bibirku maju lima senti pertanda aku tidak suka dan kesal.



“Semangat sekolahnya ya, Sayang.” Mama berjongkok agar sama tinggi denganku, beliau mengusap kepalaku lembut.



Pada foto hari pertama masuk sekolah Mas Nara, aku melihat Mas Nara kecil berda di posisi tengah, digendong Papa, lalu Mama yang ketika itu tengah menggendong aku, mencium pipi bagian kanan Mas Nara, Papa mencium pipi bagian kiri. Ekspresi mereka sangat bahagia.



Aku ingin membuat foto yang sama ketika masuk sekolah. Tapi, bagaimana bisa? Papa sudah tidak ada.



“Ayo kita berfoto untuk mengabadikan momen Alin pertama masuk sekolah!” Mas Nara mengeluarkan ponsel bututnya. Membalikkan ponsel agar kameranya menghadap ke kami, kami tidak bisa melihat wajah di ponsel waktu itu, hanya bisa tersenyum ke arah kamera di belakang layar.



Tepatnya ketika itu aku mengusahakan senyum. Mama mencium pipi kiriku, Mas Nara mencium pipi kananku. Posisinya Mama sedikit berjongkok agar sama tinggi denganku, sedang Mas Nara menekuk kakinya. Ketika itu, aku ingin menangis karena teringat Papa, tetapi aku harus ternyum.



*Mas Nara, tahu tidak? Hari pertama masuk SMPku, justru hanya tinggal Mama saja yang datang mengantar*.


***


Ruang kelas XI IPA 1. Aku tidak tahu ruang kelas itu terletak di mana, gedung sekolah ini begitu besar. Aku hanya tahu di mana letak kelasku, juga bagian kelas XI IPS karena untuk menuju ke kelasku, harus melewati koridor XI IPS lalu memutar melewati mushola dan koperasi sekolah, atau jalan lainnya adalah membelah lapangan upacara.



Jika jurusan IPS ada di sayap kanan sekolah, katanya gedung jurusan IPA ada di sayap kiri. Sejak datang aku sudah menyusuri koridor di sayap kiri, membaca satu persatu tulisan yang ada di depan kelas. Hanya ada tulisan kelas dua belas. Hingga tak sengaja aku melihat Andin, dia menaiki tangga. Tiap gedung sekolah kami memang bertingkat, termasuk ruang guru yang di lantai duanya terdapat perpustakaan sekolah.



Aku ikut naik tangga. Jika Andin menaiki tangga bagian kanan, aku memilih menaiki tangga di sisi lainnya, di samping kelas XII IPA 3. Dan begitu sampai rupanya ruang kelasku ada di posisi paling ujung, jika aku naik tangga di bagian kanan seperti Andin, maka aku akan langsung sampai di ruang kelasku. Baiklah, kali itu tidak masalah, namanya juga hari pertama masuk kelas baru.



Aku dan Andin berselisih jalan. Sepertinya dia tidak sekelas denganku. Andin sempat melihat ke arahku, tetapi aku langsung menunduk dan memilih melewatinya begitu saja. Ya, memang begitu biasanya. Tidak ada teman kelas X yang akrab denganku dan tertarik bertukar sapa dennganku setelah sapaan mereka sering kali aku abaikan.



Begitu memasuki kelas, aku mendapati banyak wajah\-wajah baru. Hanya beberapa orang saja yang wajahnya tak asing karena satu kelas denganku di kelas X. Jangan tanya nama mereka. Selain geng Lea, aku tidak hafal nama teman\-teman sekelasku yang lainnya.



Tunggu, ternyata Danar, teman satu gengnya Lea juga ada di kelas ini. Aku melihatnya duduk di bagian pinggir dekat meja guru. Dan Tifana rupanya tidak ada di sini. Sepertinya teman satu geng itu terpisah oleh jurusan. Secara sengaja aku menarik bibirku tidak simetris, merasa senang saja karena mereka terpisahkan, jadi tidak ada lagi di kelas ini yang akan memecah perhatianku. Aku benar\-benar bisa jadi lebih fokus belajar.



Aku memilih duduk di baris kedua dekat pintu. Sebenarnya aku ingin duduk di bagian tengah atau baris depan agar bisa menyimak guru lebih fokus, tetapi tempat\-tempat itu sudah ada yang menempati.



Begitu menentukan posisi duduk, aku juga segera meletakkan ransel di sebelahku, agar tidak ada yang duduk di sampingku, sebab aku tidak tertarik memiliki teman sebangku.



Usai upacara bendera, kami kembali ke kelas masing\-masing. Aku tidak lagi naik tangga bagian kiri, sudah langsung menuju tangga kanan agar tidak melewati koridor kelas lain. Malas sekali rasanya harus melewati banyak orang.



Syukurlah, tidak ada siswa yang menempati posisi duduk di sampingku. Aku jadi bebas duduk dan fokus belajar sendirian. Mataku mulai menjelajah seisi kelas. Isinya tidak sebanyak waktu kelas sepuluh dulu, mungkin karena kami sudah berpencar ke jurusan masing\-masing. Dua orang di bagian depanku perempuan, mereka tengah berkenalan, sepertinya berasal dari kelas yang berbeda. Sedang di belakangku terdengar suara laki\-laki, mereka berdua sepertinya berasal dari kelas yang sama karena percakapan mereka kedengarannya akrab.


__ADS_1


Di bagian kiri terdapat dua orang perempuan, mereka juga tampak sudah akrab, bahkan mereka mengobrol dengan dua perempuan di depannya lagi.



“Hai, aku Silvia dari sepuluh empat.” Aku tersentak mendapati uluran tangan perkenalan dari cewek berlesung pipi dengan rambut dikuncir tersebut. Silvia duduk tepat di hadapanku, dan kini dia tengah memiringkan badannya hingga tangannya terulur di hadapanku.



Canggung, aku balas uluran tangan Silvia sekenanya, turut memperkenalkan diri. Sungguh aku sangat malas sekali melakukan basa\-basi perkenalan semacam ini.



“Hai, aku Mia dari sepuluh dua, kamu juara satu dari sepuluh satu kan ya?”



Dengan menutupi rasa malas, aku berusaha tersenyum sekenanya dan mengangguk. Syukurlah Miss Regan masuk ke kelas tepat waktu, jika tidak, mungkin Mia dan Sil, Sil siapa ya tadi namanya? Ah sebut saja dua cewek di depanku itu, akan mengajakku mengobrol panjang lebar.



Miss Regan, artinya pelajar pertama di semester ini adalah Kimia. Ketika aku hendak mengeluarkan buku pelajaran Kimia, Miss Regan langsung bersuara di depan kelas, “Santai, Guys, Miss bukan guru yang akan mengajar kalian pagi ini. Miss masuk kelas ini sudah izin dengan Mister Jay meminta waktu lima belas menit untuk perkenalan singkat. Jadi Miss di sini itu mau bilang kalau wali kelas kalian di kelas ini adalah Miss.”



Seluruh siswa langsung bersorak. Tentu saja, siapa yang tidak mau mendapatkan wali kelas sebaik dan secantik Miss Regan.



“Tenang\-tenang. Tenang dulu, Miss di sini tidak hanya ingin memperkenalkan diri sendiri, tapi Miss juga bawa seorang siswa baru, dia pindahan dari SMA Negeri 5. Anaknnya cakep loh!” Miss Regan terkekeh di akhir kalimatnya. Kelas kembali riuh.



“Shaka, ayo masuk.”



Mataku langsung mengarah ke pintu. Sepertinya bibir ini terbuka sedikit dan mataku melebar begitu melihat sosok yang muncul. Cowok itu! Tadi Miss memanggilnya apa? Ah aku lupa. Tapi aku ingat benar itu cowok vokalis yang nyanyi di kafe dua minggu lalu.



Penampilan cowok itu beda sekali dengan dua minggu lalu. Rambutnya sudah tidak panjang, sudah dipotong pendek seperti tentara, mungkin karena dia harus mengikuti peraturan sekolah kami. Seragamnya tampak rapi, putih\-abu\-abu khas sekolah negeri.



“Silakan perkenalkan diri kamu.”



Cowok itu menyapu seisi kelas dengan pandangannya, aku bisa melihat bola matanya bergerak, kemudian bola mata itu berhenti tepat ketika bertemu dengan bola mataku. Sesaat kami bersitatap dari jarak jauh. Bukannya membuang pandangan, mataku justru seperti beku, diam saja memandangi cowok itu, hingga cowok itu tersenyum. Dia tersenyum kepadaku selama satu detik! Lalu segera membuang pandangnya ke depan, memperhatikan seisi kelas dan tersenyum, lalu membuka mulut, “Halo.”



Aku melihat beberapa siswi tersenyum dan sepertinya mulai ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama.




“Itu saja, Shaka?”



“Memangnya apa lagi yang perlu disampaikan, Bu?”



“Status! Status!” Anak laki\-laki yang bersorak heboh, membuat seisi kelas riuh.



“Lho kok malah yang cowok yang nanyain status? Miss ngga mau ya ada penyuka sesama jenis di kelas ini.”



Cowok\-cowok yang duduk di bagian belakang itu tertawa\-tawa, salah satu di antara mereka menyahut, “tenang Miss, kami masih suka sama Miss kok.” Kemudian dia tertawa.



“Tapi kami mewakili isi hati cewek\-cewek pemalu di kelas ini, Miss.” Danar ikut meyambung dan diakhiri dengan tawa. Aku tidak mengerti di mana letak lucunya. Justru aku melihat mereka sebagai kumpulan siswa yang tidak sopan. Padahal mereka berada di kelas IPA, kata Mama anak\-anak IPA kelakuannya tidak begitu. Kata Mama, kalau aku masuk kelas IPA nanti, aku akan mendapati teman\-teman cerdas dan orang\-orang yang peduli dengan prestasi serta sopan santun, tetapi yang kulihat pagi ini, mereka sama saja seperti siswa kelas X dulu.



“Status saya masih pelajar kok.”



Seisi kelas semakin riuh mendengar jawaban Shaka.



“Oke untuk menghemat waktu biar kita nggak ngambil waktu Mister Jay semakin banyak, Shaka kamu boleh duduk.”



Shaka membungkuk kemudian dia berjalan ke kiri. Tidak, dia mengarah ke bangkuku. Sial! Aku belum sempat menolak kehadiran Shaka, Miss Regan kembali bersuara, “Kalian semua, semangat ya! Selamat karena telah berhasil masuk IPA!”



Miss Regan keluar, sementara Mister Jay belum masuk. Kelas langsung riuh. Sedang aku, jantungku berdebar\-debar. Mengapa itu cowok harus memilih duduk sebangku denganku?



“Kosongkan?”

__ADS_1



Dengan wajah malas, aku mengangguk.


Dia tersenyum, mengulurkan tangan, “Shaka.”



Aku tidak tertarik membalas uluran tangannya, “Udah tau, kan tadi kamu sudah bilang di depan.” Memilih menyahut saja sambil mengeluarkan buku Matematika, Mister Jay adalah guru matematika.



Dia menarik kembali tangannya, lalu tertawa, “Kamu lucu juga.”



Aku memandangnya sebentar, lalu berkata, “Kamu pikir aku pelawak?”



“Bukan, tapi badut.” Dia tertawa lagi.



“Kamu nggak lucu.”



“Baguslah, berarti kamu tidak punya saingan.”



Aku mengembuskan napas kesal. Tidak tertarik memandangnya lagi. Poin pertama tentang Shaka, dia memang tampan, jauh lebih tampan jika dilihat dari dekat, wajahnya memang tidak putih, sawo matang, tapi bersih. Hanya saja, poin kedua tentang Shaka adalah dia menyebalkan, sangat menyebalkan!



“Alinea Ghita, oh jadi itu nama kamu.” Dia membaca tulisan yang ada di sampul buku tulisku. Membuat aku spontan menutup bagian nama.



“Kok ditutup? Emang nama kamu kenapa sampai harus dirahasiakan?” Aku belum menjawab, dia berkata lagi, “Ah ya aku lupa, kan kamu badut, jadi identitasnya harus dirahasiakan ya?” Dia tertawa. Aku tidak menanggapi.



“Btw, kenapa nama kamu ngga sekalian paragraf aja? Atau bait.” Dia tertawa lagi. “Atau jangan\-jangan nama sadara kamu narasi lagi? Atau mungkin deduktif, induktif?”



Tuhan, kenapa Mister Jay lama sekali datangnya? Aku tidak tahan untuk tidak menatap murka ke arah lelaki menyebalkan ini. Dan poin ketiga tentang Shaka adalah dia cerewet sekali!



“Iya, nama saudara laki\-lakiku Narasi, kenapa? Memangnya ada yang salah?”



“Sori, becanda. Jangan marah gitu.” Shaka langsung menahan tawanya, dia tampak kaget melihat wajah murkaku.



“Bangku di belakang masih banyak yang kosong, kenapa harus duduk di sini sih?” Aku mengucapkan kalimat itu secara cepat dan dengan tatapan murka yang masih sama dengan sebelumnya, sepertinya beberapa anak termasuk dua perempuan di depan kami ikut memperhatikan.


“Aku malas harus berkenalan dengan orang asing. Jadi aku pilih duduk di sini karena kamu sepertinya tidak asing. Kamu cewek yang di kafe itu kan?”


Mataku berkedip\-kedip. Aku mengalihkan wajah. Dia ingat aku. Ini membuat aku malu, kejadian di kafe itu sangat tidak pantas untuk diingat.



Syukurnya, sebelum pembahasan memalukan ini berlanjut, Mister Jay memasuki kelas.



Ketika Mister Jay menjelaskan, aku berusaha sangat fokus mendengarkan. Namun, Shaka membuat aku gagal fokus, cowok itu bukannya mencatat materi pelajaran, dia justru mencoret\-coret bukunya, membuat gambar Mister Jay yang tengah menjelaskan. Mataku terus saja teralihkan melihat gambar\-gambar yang dibuat Shaka.



Terpaksa, aku menuliskan sesuatu di buku, merobeknya dan memberikannya pada Shaka, tanpa suara.



**Peraturan Duduk sebangku dengan Alin :



Dilarang menggambar ketika guru sedang menjelaskan.


Dilarang mengobrol ketika jam pelajaran berlangsung.


Diarang meminjam alat tulis atau apa pun.


Dilarang mencuri-curi pandang kapan pun.


Dilarang senyum-senyum.


Dilarang membahas kejadian waktu di kafe.


Silakan pindah bangku jika tidak mau mengikuti aturan tersebut di atas**.



“Kamu gila ya?” Shaka berbisik usai membaca tulisanku.


“Peraturan nomor dua,” jawabku sinis, lalu kembali fokus memperhatikan Mister Jay.

__ADS_1


__ADS_2