
10 tahun yang lalu
Hujan sedang turun membasahi kota A
Di suatu Mension milik salah satu pengusaha terkaya tuan Albert Thomson pemilik Albe company sedang merayakan ulang tahun putri sulungnya secara sederhana yang hanya di meriahkan oleh keluarga kecilnya dan para maid yang berkerja di Mension itu.
Alana skhaya Albert istri dari tuan Albert, dan anak dari tuan Albert dan nyonya Alana adalah Elvira skhaya Thomson dan Adiknya Elvano skhaya Thomson.
"Sayang apakah kau yakin hanya ingin merayakan ulang tahun sederhana ini" Tanya sang Ayah
"Iya ayah aku hanya ingin merayakan bersama ayah bunda dan adik, aku ingin berfoto bersama" jawab Elvira
Setelah mengatakan itu mereka berfoto bersama, Elvira sangat bahagia di hari ulang tahunnya dia merayakan bersama orang tuanya dan juga adiknya.
"Sayang katakan pada ayah dan bunda apa yang kamu inginkan sebagai hadiah untukmu" tanya sang ayah sambil menikmati kue ulang tahun putri nya.
"Apakah aku boleh meminta untuk liburan bersama, ayah?" Tanya Elvira
"Iya sayang nanti kita pergi liburan ya kalau sudah ada waktu" ucap sang bunda entah kenapa perasaan nya sangat tidak enak sekarang namun dia menutupinya karena sekarang hari bahagia sang putri.
Saat sedang asik menikmati makan bersama dengan tawa yang tidak pernah berhenti tiba tiba ada salah satu bodyguard yang berjaga di Mension itu masuk ke dalam dengan wajah panik.
"Ada apa dengan mu Brian" tanya Albert
Brian membisikan sesuatu ke majikannya yang membuat wajah tuan Albert menegang, setelah itu Brian pamit untuk kembali ke depan tempat dia berjaga.
"Yah ada apa" tanya alana sang bunda
"Kita sudah pernah membicarakan ini bukan, mungkin ini waktunya siapkan semua berkas berkas itu dan sembunyikan anak kita" ucap sang ayah tersenyum lembut.
Sang bunda yang paham segera berlari ke kamar mengambil beberapa barang yang sudah mereka siapkan, menurut perkataan sang suami.
"Ayah ada apa" tanya Elvira
"Tidak ada apa-apa sayang, Elvira dengar kan ayah apapun yang terjadi jagalah dirimu dan juga adikmu, kalian tau bukan ayah sangat menyayangi kalian" ucap Albert pada kedua anaknya serta memeluk dan mencium beberapa kali.
Alana yang menyaksikan itu dari jauh saat dia hendak kembali menuju keluarga nya hanya bisa meneteskan air matanya.
"Ya tuhan jika aku dan suamiku akan tiada malam ini tolong jaga putra putri kami berikan kebahagiaan untuk mereka hanya itu yang kuminta padamu" ucap Alana dalam hati, sungguh dia tidak ingin anaknya terluka.
Alana segera menghapus air matanya dia tidak ingin anak-anak nya bersedih.
"Yah aku sudah menyiapkan semuanya" ucap sang bunda
"Berikan ini pada Elvano dan sembunyikan anak kita bund dan suruh semua maid untuk bersembunyi jangan keluar sampai semuanya aman" ucap sang ayah yang kemudian pergi mengambil katananya
Alana segera ke dapur menemui beberapa maid yang mulai panik dengan keadaan ricuh di halaman Mension
"Kalian bersembunyi lah jangan keluar sampai semuanya aman" setelah mengatakan itu semua maid segera bersembunyi untuk menyelamatkan diri nya masing-masing.
"Bi asih ikutlah denganku" suara Alana menghentikan langkah bi asih maid terpercaya yang sudah lama bekerja di Mension ini bahkan sebelum Elvira dan Elvino.
Bi asih mengikuti langkah majikannya menuju salah satu kamar tamu yang berhadapan langsung dengan ruang keluarga.
Alana menyuruh bi asih dan ke dua anaknya masuk di salah satu lemari pakaian yang lumayan besar, sebelum menutup pintu nya Alana memandang kedua anaknya bahkan memeluk nya sangat erat.
__ADS_1
"Bundaa" lirih Elvira
"Elvira, Elvano dengar kan bunda jagalah ini untuk bunda dan ayah" ucap Alana membuka kalung yang ada di lehernya dan memakai kannya ke leher Elvira, kemudian memakai kan kalung suaminya yang sudah di berikan tadi ke leher Elvano.
"Bunda Elvira takut" ucap elvira lirih, sedang kan adiknya sejak tadi sudah menangis
"Anak anak bunda anak yang kuat, berjanji sama bunda kamu akan jaga diri kamu dan adikmu, bahagiakan adikmu sayang" ujar sang bunda
Setelah itu Alana memberikan sebuah tas kepada Elvira yang terdapat beberapa berkas yang akan berguna untuk mereka.
"Jangan biarkan tas ini diambil darimu, dan jangan biarkan siapapun membuka tas ini sebelum dirimu" ucap sang bunda
"Bi asih aku titip anakku dengan mu tolong jaga mereka dengan baik aku mohon, aku hanya percaya padamu, jangan keluar sebelum semuanya aman dan jangan bersuara, bila nanti waktunya tiba untuk keluar, bergerak lah dengan cepat dan jangan biarkan para polisi melihat kalian, karena mereka tidak akan membantu kalian mereka kerja sama"
"Baik nyonya saya akan menjaga non Elvira dan den Elvano semampu saya" jawab bi asih dengan air mata mulai berjatuhan
"Aku berikan ini padamu jagalah dengan baik dan pakailah untuk biaya hidup kalian nanti" ujar sang bunda memberikan satu tas berisikan uang kepada bi asih
"Elvira, Elvano turuti kata bunda ya, jangan bersuara apapun yang terjadi jangan menimbulkan suara" ucap sang bunda
"I-iya bunda" jawab Elvira
"Anak pintar, bunda sangat menyayangi kalian" ucap sang bunda mengecup kening kedua anaknya
Setelah itu Alana menyuruh bi asih untuk mengunci lemari itu dari dalam, barulah pergi mencari suaminya
Albert kalah jumlah dia tak menyangka lawan nya membawa anggota sebanyak itu.
Elvira yang mengintip melalui celah pintu dari lemari itu mengigit bibirnya kuat saat mendengar dan menyaksikan kedua orang tuanya di bunuh ia berusaha untuk menahan suaranya yang ingin teriak dan menangis memeluk bunda dan ayahnya bahkan tanpa ia sadari bahwa bibir bawahnya susah mengeluarkan darah.
"Akhh kau sungguh nikmat Alana,, seandainya kau lebih memilih ku maka ini tidak akan pernah terjadi" ucap sang pembunuh yang tengah memerkosa Alana.
"Lepas aku mohon lepass" ucap Alana memohon bahkan tenaganya tidak cukup untuk memberontak lagi.
"Lepaskan istriku aku mohon kau boleh mengambil semua nya tapi bebaskan istriku" ucap Albert yang sedang terikat di sebuah kursi dengan berlinang air mata.
"Kau tau selain aku ingin mengambil hartamu aku juga sudah lama menginginkan istrimu ini tapi dia memilih mu sialan" ucap sang pembunuh sebelum menembak mati Albert.
Dorrrr
Dorr
Elvira anak kecil berusia 7 tahun menyaksikan ayahnya tertembak mati dan dia mampu memeluk sang adik yang berusia 5 tahun memastikan Elvano tidak melihat itu, bayangkan di usia mereka yang masih sangat kecil harus melihat kematian orang tua nya secara langsung.
Satu kali tembakan itu menembus kepala sang ayah bahkan isakan dari bundanya terdengar sangat memilukan.
Yahh
A-yahhh
Bunda mohon
"Dan sekarang giliranmu Alana, itu salahmu karna lebih memilih nya di banding aku" ucap sang pembunuh setelah mencapai kenikmatan nya, mengarahkan pistol itu tepat di kepala Alana dan
Dorrr
__ADS_1
Dorr
Dua kali Alana mendapatkan tembakan satu di kepala dan satunya lagi tepat di jantung nya.
Elvira hanya menangis dalam diam sakit sungguh hatinya sakit dan hancur melihat pembantaian keluarganya itu sampai rasanya suara sudah tidak mampu ia keluarkan.
Bi asih yang bisa melihat anak majikan nya itu hanya bisa menangis merasa iba dan juga khawatir terhadap mereka.
Bi asih menunggu sampai subuh tiba untuk membawa kedua anak majikan nya pergi dari rumah ini sebelum polisi datang untuk mengamankan rumah ini, Elvano sudah tertidur di pelukan Elvira, sedangkan Elvira hanya menatap kosong ke arah ayah dan bundanya yang sudah tiada.
Saat mereka sudah merasa aman, bi asih membawa kedua anak majikannya keluar dari rumah itu bi asih menggendong Elvano yang sedang tertidur sedangkan Elvira berlari memeluk ayah dan bundanya.
Ada rasa takut, sedih, marah yang berkecamuk dalam diri Elvira dia hanya mampu menangis tanpa suara, rasa marah dalam tubuhnya seolah membakar dirinya.
"Non ayo kita segera pergi dari sini" ucap bi asih menyadarkan Elvira dalam lamunannya
"Yah, bund vira pergi dulu, vira janji akan jaga adik dan akan membalas mereka semua" ucap elvira dengan mata yang memancar kemarahan
Bi asih membawa kedua anak majikannya menuju terminal dia berencana untuk tinggal di pedesaan pinggir kota sampai semuanya aman.
Lamanya perjalanan membuat mereka sangat lelah terlebih Elvira dan bi asih yang belum tidur sejak kejadian kemarin, hingga mereka sampai di tempat tujuan mereka di sebuah pedesaan kecil yang terlihat sangat asri dan nyaman mereka tinggal di salah satu rumah kecil yang sederhana.
"Non masuklah di kamar itu dan beristirahat lah biar bibi tidur di kamar lainnya" ucap bi asih
"Terima kasih bi telah membantu Elvira dan Elvano"
"Itu sudah tugas bibi non"
Elvira memasuki kamar yang terlihat sangat kecil, ada Elvano yang sedang tertidur di kasur itu, Elvira hanya menatap adiknya sedih, mereka baru saja menyaksikan pembunuhan yang menghancurkan keluarga nya.
Selesai membersihkan diri, Elvira mengambil tas pemberian sang ibu, dia membuka dan melihat apa saja yang ibu siapkan sampai dirinya harus menjaga tas itu dengan sangat hati-hati.
Elvira terbilang sangat pintar di umurnya yang masih sangat dini, dia bahkan sudah bisa membaca dengan lancar, menghitung dan juga menguasai beberapa pelajaran lain di bidang akademik maupun non akademik.
Elvira membuka tas yang si berikan oleh sang bunda, ada beberapa berkas dan kartu black card serta hp sang ayah, Elvira bingung apa yang akan dia lakukan dengan semua barang itu sampai dia membaca note yang bundanya tulis.
***Sayang saat kamu membaca ini mungkin ayah dan bunda sudah tidak bersama kalian lagi, simpanlah berkas ini baik baik ini adalah surat asli dari warisan ayah dan bunda untuk kalian berdua, Surat asli kepemilikan Albe company, dan semua aset yang ayah punya akan jatuh ke tangan kalian berdua saat berusia 17 tahun dan untuk mu Elvira gunakan black card itu untuk keperluanmu dan juga adikmu, ayah percaya Elvano dengan mu***
Aluna kembali menangis mengingat bahwa orang tua nya telah tiada, Elvira kembali melihat note kecil yang terselip antara berkas berkas itu.
***Sayang telfon lah nomer ini menggunakan hp ayah dan perkenalkan dirimu, hanya dia yang akan membantu mu melawan orang orang yang akan berbuat jahat padamu dan juga adikmu, turuti apa yang dia katakan***
Elvira mengambil hp ayahnya dia yakin apa yang ayah dan bundanya katakan akan benar adanya.
Drttttt drttttt
Drttt drtt
Dering telfon menganggu tidur seorang pria berkepala 3 itu, seketika membuat terkejut melihat nama siapa yang terlihat jelas dalam panggilan itu "Albert" nama seseorang yang telah meneleponnya.
"Hallo" ucap datar pria itu saat mengangkat nya
"Aku Elvira putri Albert, ayah meminta untuk menelpon di nomer ini" ujar Elvira
"Jangan tidur malam ini, tunggu lah sampai jam 12 malam tiba, aku akan menjemputmu dan satu lagi aku hanya akan membawa mu tidak dengan adik mu itu akan sangat berbahaya untuk nyawanya kelak" ujar pria itu kemudian mematikan telepon nya tanpa mendengar jawaban Elvira.
__ADS_1
Dan inilah awal perpisahan Elvira dengan sang adik Elvano.....