Alter Ego (Dua Jiwa)

Alter Ego (Dua Jiwa)
4. Dua jiwa


__ADS_3

Elvira baru saja keluar sekolah nya, dia menuju ke tempat seseorang yang paling ia sayangi


Memarkirkan mobilnya agak jauh, memakai hoodie hitam dan masker untuk menjaga identitasnya


Di depan batu nisan bertuliskan Albert Thomson dan Alana skhaya, tempat peristirahatan terakhir kedua orang tua Elvira


"Hai yah,bun Elvira datang, Vira kangen banget sama ayah dan bunda, maafin vira juga belum bisa jagain adek dia masih terluka bun dan aku baru mengetahuinya sekarang tapi tenang aja, Vira udah kembali, Vira akan jagain adek sekarang, bahkan vira akan membalas mereka termasuk orang yang udah bunuh kalian. Ayah,bunda Vira pamit ya vira gak bisa lama-lama, tenanglah disana vira sayang kalian" Elvira bahkan tidak mengeluarkan setetes air matanya seakan air matanya habis setelah pembantaian kedua orangtuanya.


Elvira kembali ke Mension miliknya, semua para maid menyambutnya dengan menundukkan kepala kepada majikannya itu


"Biar saya bantu nona" ujar salah satu maid yang membantu Elvira membawakan tasnya, Elvira hanya menganggukkan kepalanya


"Maaf nona tuan menunggu nona di ruang kerja" ujar maid lainnya


Elvira tidak menjawab tapi dia langsung menaiki lift menuju lantai 2 ruang kerja papa angkatnya itu


Tanpa mengetuk Elvira masuk dan langsung duduk di hadapan Alexander


"Bisakah kau sopan dengan papamu ini hm" ujar Alexander jengah menghadapi putri angkatnya itu


"Apa yang salah ini Mensionku kalo papa lupa" ujar Elvira datar


"Kau memang suka membuatku darah tinggi vira" ujar Alexander kesal dengan anak angkatnya itu


"Aku bercanda pah,ada apa memanggilku" ujarnya terkekeh pelan sungguh Elvira senang menggoda papa angkatnya itu


"Papa mendapatkan satu tikus kecil untukmu, anak buah dari orang itu" ujar Alexander


"Aku akan mengambil alih pah" ujar Elvira datar


"Papah akan mengizinkanmu asalkan kau sanggup mengontrol emosimu"


"Hm,aku kesana pah" balas Elvira


Elvira menuju ruang bawah tanah tempat dia menyiksa orang-orang yang dia cari, Elvira berjalan di lorong gelap menuju ke ruangan bawah tanah


Tuk


Tuk


Tuk


Suara langkah kaki memenuhi ruangan itu membuat orang yang sedang terikat dengan posisi berdiri itu mengangkat kepalanya melihat siapa yang menghampirinya Elvira menatap datar pria itu


"Hei anak kecil bukakan ikatan ini" ucap pria yang diperkirakan baru berusia 30 tahunan


"Kenapa buru-buru paman" ujar Elvira tersenyum miring


Seketika aura di ruangan itu serasa mencekam bahkan mampu membuat pria itu merinding


"Siapa kamu sebenarnya" tanya Pria itu


"Harusnya aku tidak mengatakan ini, tapi karna kau akan mati jadi aku akan mengatakannya, ELVIRA PUTRI ALBERT kau pasti mengenalnya bukan" ujar Elvira dingin dan menekankan setiap kata dari namanya


"K-kamu anak a-albert" tanya pria itu terbata

__ADS_1


"Hm kau pasti tidak bodoh untuk mengetahui maksudku menculik mu bukan " seringai tipis Elvira


"Kau tidak akan mendapatkan informasi dariku anak kecil" ujar pria itu memberanikan diri


"Hahhahahaha" sungguh Elvira tertawa tapi terdengar sangat mengerikan


"Anda tau tuan, itu sama sekali tidak masalah untuku, saya masih punya banyak waktu untuk mencari siapa saja kalian, saya hanya akan membuat berita kematian tikus-tikus seperti kalian sampai bos kalian lah yang merasa tidak tenang dan keluar menunjukkan dirinya sendiri"


'Ck lo sudah terlalu banyak bicara bodoh,biarkan gue yang bermain'


"Bisakah kau tidak mengusikku disaat seperti ini Elvina"


Yahh dia adalah Elvina nama yang Vira berikan untuk Alter Egonya yang sudah beberapa tahun hidup dalam dirinya, Elvira dan Elvina mempunyai sifat yang berbeda dalam 1 tubuh,, Elvira mempunyai sifat yang dingin,cuek jarang tersenyum dan irit bicara sedangkan Elvina memiliki sifat ceria, mudah terseyum, dan sangat cerewet tapi jangan tertipu dengannya dia jauh lebih sadis dibandingkan Elvira


"Hei apa kau gila anak kecil" ujar pria itu saat melihat Elvira berbicara sendiri


"Sepertinya kau mau bermain dengannya" ujar Elvira dingin


'Biarkan gue keluar' ujar Elvina


"Hm" jawab Elvira dan memejamkan matanya sejenak


Saat Elvira membuka matanya lagi, pria itu dapat melihat tatapan yang berbeda, tatapan gadis itu tidak sedingin tadi


"Hai calon mayat" Sapa Elvina dengan riang


"Dasar gilaa" ucap pria itu


"Cih gue udah nyapa lo selembut itu sebelum lo mati, ya udah gue langsung aja " ucap Elvina mengambil pisau yang tersedia di situ


"Hanya bermain-main "jawab Elvina dengan tersenyum


Vina mendekatkan pisau itu ke wajah pria itu kemudian turun ke bawah dan sampai ke tangannya membuat pria itu menegang


"Gimana kalau kita mulai dengan tangan ini, bukan kah tangan ini yang memegang pistol hm"


Arrgghhhhhhh


Teriak pria itu saat Elvina memotong satu jarinya


Arrgghhhhhhh


Dua jari


Arrgghhhhhhh


3 jari


"S-saya mohon berhenti" ujar pria itu memohon bahkan darah dari tangannya tidak berhenti


"S-saya sungguh tidak tau siapa orang itu, dia hanya mengatakan akan membayar kami jika kami mengikuti perintahnya" sambung pria itu


"Karna lo udah bocorin sedikit informasi jadi gue bakal langsung ke intinya biar lo gak sakit lama-lama hihihihi" ujar Elvina tertawa


Jleb

__ADS_1


Jleb


Argggghhhh


Jleb


Pria itu mati saat tusukan terkahir yang tepat di jantungnya bahkan Elvina sempat menarik pisau itu ke bawah sehingga menjadi robekan panjang di dada pria itu


"Gue udah selesai Vir" ucap Elvina kemudian memejamkan matanya setelah itu Elvira kembali membuka matanya dia sudah tidak kaget melihat keadaan pria itu yang sudah tidak bernyawa bahkan Elvina pernah lebih sadis dari ini


Elvira keluar dari ruangan itu setelah menyuruh anak buahnya mebereskan ruangan itu, semua maid yang melihat keadaan Elvira saat keluar dari ruangan itu hanya diam seolah tidak ada kejadian apapun


"Apa kamu bersenang-senang nak" tanya Alexander yang baru turun ke lantai 1


"Dia bukan aku pah" ujar Elvira


"Kalian sama saja, bersihkan tubuhmu dan turun makan bersama papah,mama dan adikmu akan segera tiba dari London" ujar sang papa


"Sungguh?" Tanya Elvira bersemangat


Elvira sangat menyayangi perempuan paru baya itu istri dari Alexander dia sudah sangat menyayangi Elvira,, Alexander Skhaya adalah adik kandung dari bunda Elvira tidak ada yang tau mengenai hal itu karna Mereka dengan sengaja menyembunyikan identitasnya


"Giliran mamanya aja langsung semangat gitu" sindir Alexander


"Biarin, Vira mandi dulu pah, bay bay" ujar vira bersemangat


"Anak itu kalo dengar kata mamanya langsung berubah gitu" ujar Alexander menggelengkan kepalanya


Elvira segera membersihkan tubuhnya yang penuh dengan darah dari pria itu


Setelah itu dia turun ke bawah, disana sudah ada mamanya yang baru sampai dan juga adiknya anak kandung dari Alexander dan istrinya Sintia


"Mamah" panggil Elvira dan kemudian memeluk mamanya erat


"Apa anak gadis mama ini berbuat nakal lagi hm" tanya Sintia yang mengetahui Elvira baru saja membunuh


"Pasti papa yang laporin kan" jawab Elvira menguraikan pelukannya


"Lo kok gak nungguin gue kak" ujar Xavier anak semata wayang papa dan mama angkatnya dia senang melihat kesadisan saudara angkatnya ini


"Mama ngapain bawa nih bocah" ujar Elvira membuat Xavier mengerucutkan bibirnya


"Dasar tembok" balas Xavier


"Dia akan masuk ke sekolah kamu, dia mama tugaskan untuk membantumu melindungi Elvano, apa kau sudah bertemu dengannya sayang" tanya Sintia


"Dia sedang mengikuti olimpiade mah mungkin besok dia baru balik, aku juga belum ingin dia tau bahwa aku adalah kakaknya dia pasti sudah sangat membenciku, untuk sekarang aku cukup menjaganya dari jauh" ucap elvira sendu


"Tapi kenapa kak bukan kah kau sangat merindukannya" tanya Xavier


"Aku hanya tidak ingin semua musuhku mengetahui dia adikku,itu akan berbahaya dan aku tidak mau itu" sambung Elvira


"Papa mengerti, sekarang biarkan kalian merahasiakan identitas kalian termasuk kamu Xavier" ucap Alexander


"Dan untukmu Xavier kamu akan masuk ke sekolah itu besok" ucap sang mamah

__ADS_1


"Sekarang kita makan malam dan langsung beristirahat " ujar Alexander


__ADS_2