Anak Gadis Tuan Gifari

Anak Gadis Tuan Gifari
Kepergian orang kesayangan


__ADS_3

Kisahku bermula ketika dunia kecil milikku berubah menjadi dunia yang mencekam dan gelap. Tak kuingat dengan jelas berapa usiaku kala ayah dan ibu telah pergi meninggalkanku. Mereka bukannya pergi untuk kembali, mereka pergi buat selamanya. Aku terkejut saat ibu Maya wali kelasku datang kekelas dengan raut wajah yang sulit buat anak2 seusiaku memahaminya. Dia mendekat dan menatapku dan lagi2 aku tak dapat memahami ekspresinya itu.


"Suci..Nak! Kau harus pulang, " ucapnya dengan suara gemetar. Aku ingin bertanya ada apa? Pelajaran kan belum habis? Ini belum waktunya untuk pulang! Belun sempat semua isi kepala ini kuluapkan padanya, tiba2 ibu kembali bersuara,...


"Ayah dan ibumu, kecelakaan. Mereka sudah meninggal! " Aku diam terpaku, berusha mencerna kalimat ibu Maya barusan. Dahiku berkerut, dua bola mataku menatap tak percaya pada ibu Maya. aku yang masih kecil dan polos ini, tak sanggup menelaah makna kalimat itu. Ibu Maya mulai menitikan air matanya,wanuta cantik tersebut menggenggam erat lenganku, ia meraih tas ransel pinkku yang teronggok diatas meja lalu menentengnya. Isakan tangis mulai terdengar membuncah keluar dari mulut ibu Maya. Sungguh aku belum bisa mencerna semuanya! Apakah ini nyata? Apa aku ini mimpi? Apa itu meninggal? beberapa minggu lalu juga Tasya ibunya meninggal dan aku tak memahami itu? Aku ditarik pergi oleh ibu Maya meninggalkan ruang kelas. Hatiku mulai berdebar begitu hebatnya. Aku hanya membisu, tak sanggup berpikir atau pun memikirkan apapun. Apa itu meninggal? Apa itu artinya aku akan seperti Tasya? Kulirik sosok disampingku yang terlihat setia menjatuhkan air matanya sedari tadi. Ibu Maya memelukku dari samping seolah memberiku kekuatan agar tidak melemah. berulang kali ia mencium pucuk kepalaku. Isak tangisnya masih ada, sembari mobil berjalan menuju rumahku.

__ADS_1


Itu rumahku, sebuah gubuk kecil beratapkan seng rusak. Mobil berhenti tepat didepan kerumunan orang2 yang sedang duduk ramai diberanda rumah. Aku terhenyak menyaksikan banyak orang berkumpul dirumah, Ada apa ini? Apakah benar2 kedua orang tuaku pergi? Tap-tapi mereka pergi kemana? meninggal kemana? dua bola mata polosku masih melotot menatap dari kaca jendela mobil, kusaksikan sendiri bagaimna tatapan orang2 disana yang menatapku dengan ekspresi yang aku tak memahaminya?


"Turunlah syang," ucap ibu Maya, membukakan aku pintu mobil. tubuh kecilku akhirnya turun dan menapaki tanah. orang2 ada yang menangis dan menyembunyikan wajah mereka usai memandang diriku. aku menyeka keringat yang berkumpul didahiku, tubuhku bergetar mati2an aku berusaha mencerna semua yang telah terjadi hari ini. Aku ingat dengan orang tuaku, tadi pagi kami boncengan bertiga saat ibu dan ayah akan ketempat kerja. Wajah bahagia mereka masih basah dalam ingatanku. Aku berpikir keras dan lagi2 aku tak memahaminya. Apakah ayah dan ibu ada didalam? Mereka meninggal? Apa itu meninggal?


Aku dibawa masuk kedalam rumah oleh ibu Maya, Kupandangi wajah2 yang sedang berkerumun didalam rumah kecilku, aku resah, aku takut! Ayahku! Ibuku! Aku ingin bertemu mereka! Kami berjalan keruang tengah yang sangat sempit, tempat dimana aku dan dua orang tuaku menghabiskan waktu bersama, biasanya ditempat itu kami akan makan bersama atau hanya sekedar bersenda gurau. Mataku terarah pada sesuatu yang dibalut kain batik disana. Ada dua orang yang seperti sedang tidur telentang dilantai rumahku namun kain itu menutupi seluruh tubuh mereka. Aku diseret ibu Maya agar duduk didekat dua orang yang tak aku kenali itu? Siapa yang sedang tidur itu? Aku enggan mendekat, aku takut! Aku ingin lari! Pergelangan tanganku dicengkram kuat oleh bu Maya, dengan sedikit paksaan akhirnya aku diduduk simpuhkan didekat dua orang itu yang aku takut melihatnya.

__ADS_1


Detik berikutnya, seorang wanita yang kukenali jika ia tetangga sebelah rumahku melorotkan kain batik yang menutup sempurna seluruh tubuh sosok didekatku itu. Ia melorotkam kedua kain dari tubuh2 itu. Mataku membulat, aku terperanjat kaget mendapati siapa ternyata yang tengah tertidur itu?!


...........................


Air mata, air mata dan hanya air mata..

__ADS_1


Kepalaku penuh dengan bayangan wajah kedua orang tuaku, aku tak sanggup berdiri, lebih tepatnya aku tak sanggup menerima semua kenyataan ini. Entah sudah berapa kali aku dikatakan pingsan oleh bu Maya. Aku menangis tersedu, kadang aku tak sanggup lagi menahan tekanan dari dalam dada yang hendak meledak keluar. suaraku tertahan dalam kerongkongan sehingga isak tangis ini terdengar amat memilukan bagi semua orang. Jasad kedua orang tuaku telah dibawa pergi kepemakaman setempat saat aku masih pingsan. Aku sudah tak melihat orang tuaku berada didalam rumah. Orang2 itu telah membawa keduanya pergi Ingin ku menyusul menghentikan orang2 itu! Jangan bawa mereka pergi, aku tak punya siapa2 selain mereka. Namun lelah mendera tubuhku yang kecil ini.


__ADS_2