Anak Gadis Tuan Gifari

Anak Gadis Tuan Gifari
Bayiku


__ADS_3

Author Pov


Tuan Gifari membuka pintu mobil mewahnya, mendudukkan Suci diatas kursi empuk mobil. Ia berputar mengitari mobil dan masuk lewat pintu lainnya. Pak Harun sudah siap didepan kemudi, menanti perintah tuannya untuk tancap gas. Terlihat bu Maya dan dua orang pria disana memandang nanar kearah mobil hitam yang kini membawa seorang gadis kecil yatim piatu. Maya lah yang paling sedih dan sakit melihat murid kesayangannya itu harus diadopsi orang lain. Entah mengapa takdir Suci harus dipertemukan dengan tuan Gifari? dan menjadikan ia ayah angkat Suci? Maya akui jika tuan Gifari orang yang penyayang dan penuh kasih, hal itu terbukti dengan sikap dan caranya memperlakukan Suci bagai anak sendiri. Ia juga ingat bagaimana kecemasan tuan Gifari terpancar dari dua matanya saat mendapati Suci terbaring lemah diatas kubur ayah dan ibunya. Takdir selalu saja mempertemukan ia dan Suci! Apakah Allah mempunyai rencana indah atas semua pertemuan itu?


Mobil bergerak maju perlahan, klakson dibunyikan berkali2 pertanda hormat dan detik berikutnya mereka sudah pergi meninggalkan tiga orang dewasa yang tercenung ditempatnya.


"Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan baik.." (Pak Kades)

__ADS_1


"Bapak yakin Suci akan baik2 saja bersama tuan Gifari? " (Maya)


"Yakin seratus persen bu Maya. Pak Gifari itu hanya hidup sendiri dengan ibunya, dia tiada anak dan istri. Kehadiran Suci pasti akan sangat berharga untuknya yang hidup dalam sepi tanpa keluarga yang lengkap. " (Kades) . Maya terdiam lama, jadi tuan Gifari itu duda? atau memang seorang bujang permanen?


"Maksud bapak, Tuan Gifari itu Bujang sampai sekarang? Dia belum beristri?" tanya Maya penasaran, yang ia tau tuan Gifari itu duda lewat pencarian diintenet.


"Dia duda bu Maya, soal istri dan anaknya saya terlalu sungkan untuk menanyakan langsung pada tuan Gifari. Ia seperti tak suka jika diusik tentang maasalah itu. Cukup tau saja jika dia hanya hidup seorang diri bersama ibunya yang usianya sekarang genap 60 tahun. "(Kades) Maya terdiam, ia memikirkan banyak hal tentang tuan Gifari. Bagaimana latarbelakang kehidupan pria itu? Mengapa rasanya penuh misteri?

__ADS_1


Mobil bergerak agak laju, menyusuri jalanan yang akan membawa penghuni didalamnya keluar dari kampung kecil Suci. Hati gadis kecil itu benar2 hampa, ia sungguh telah pergi meninggalkan semuanya, ayah dan ibu, bu Maya dan paman berkumis. Suci merasa sesak, ia menangis sesenggukan tak pernah membayangkan akan mengalami kehidupan yang rumit seperti ini. Tuan Gifari memperhatikan wajah anak angkatnya yang layu mulai dibasahi air mata, hatinya ikut bersedih melihat gadis kecil tersebut memandang keluar jendela berusaha melihat kampung halamannya yang sudah menghilang dipelupuk mata.


"Papa janji, akan sering2 membawamu pulang kekampung menengok kubur ayah dan ibu.. " Gifari mengusap lembut kepala Suci membuat gadis itu menoleh cepat. ia tersenyum sedikit, lalu kembali memasang wajah sedih.


"Dia benar2 mirip Anjani jika sedih seperti itu, ya Allah mengapa kau menciptakan wajah ini? wajah yang mirip dengn wajah istriku? Mungkinkah Suci bayiku yang hilang bertahun2 lalu? Ataukah ini hanya suatu kebetulan?? " hembusan nafas kasar keluar dari mulut Gifari, lalu kemudian pria itu mengangkat Suci dan membawanya dalam pelukannya.


"Jangan takut, ada papa disini sayang. Papa sangat menyayangi Suci, jadi tidak boleh bersedih... " Suci memeluk erat Gifari, ia sangat nyaman diperlakukan seperti itu oleh papa angkatnya. Perasaan aneh itu terbit lagi, Suci kecil tak sanggup menggambarkannya, perasaan yang membuat ia bertambah menyayangi sang papa angkat.

__ADS_1


Suci, gadis kecil itu telah tertidur dalam pangkuan Gifari. perjalanan kekota A memakan waktu lama.


"Ya Allah, aku begitu merindukan istri dan anakku. Jika memang bayi kecil itu masih hidup hingga saat ini,, mohon kabulkanlah doaku agar bisa berjumpa dengannya.... Aku sangat merindukan bayiku ya Rabb.. " Gifari membatin, ia menatap jalanan luas didepan. sesekali pria itu mengusap dan membelai kepala Suci. Ia sangat bersyukur bertemu anak kecil diatas kubur ini, setidaknya rasa rindu pada Anjani sedikit terobati. Masih diingatnya saat pertama kali menjumpai seorang gadis kecil tidur memeluk kuburan pagi itu, keadaaannya yang sangat lusuh dan kotor dengan baju merah putih yang belum jua terlepas. Gifari begitu iba kala itu, ia berpikir mungkin gadis kecil tersbut sedang berduka atas kehilangan orangnyang disayanginya. Tanah kubur juga terlihat masih baru. Perlahan Gifari mendekati sosok kecil didekat kubur sana lalu membelai kepalanya dengan sayang. Air mata jatuh begitu saja, Gifari dapat merasakan beban berat yang menimpa kehidupan kecil anak itu. Waktu itu Suci menggeliat dan membuka matanya, wajahnya yang bersembunyi ia hadapkan kearah Gifari. Gadis itu mencoba membuka mata... Gifari terkejut menatap wajah itu. Betapa wajah itu mengingatkannya akan masa lalunya. Mata, hidung dan bibir Suci seolah duplikat dari milik istrinya.


__ADS_2