
Pagi yang indah bertemankan langit biru nan bersih. Aku termenung melihat dari atas keindahan taman bunga disana yang selalu menawanku agar tak beranjak barang selangkah pun. Hmmm, ingin rasanya duduk diantara bunga2 itu lalu menciumi baunya dan memetik.. eh! Tidak.. aku tidak boleh memetiknya lagi bukan? Sudah janji dengan papa waktu itu. Kudengar pintu kamarku bergeser menandakan seseorang sedang memasuki kamarku sekarang.
"Nenek? " Wanita tua diambang pintu itu terlihat melempar senyum kearahku. ia selalu menggunakan tudung kepala warna hijau, bertemankan baju longgar hingga lutut dan celana lebar sebagai bawahannya. Tak lupa, sebuah tongkat yang setia menemaninya kemanapun melangkah. Aku bangkit berdiri brranjak meninggalkan kursi kecilku mendekati nenek disana. Raut wajahnya meneduhkan, menghangatkan ia tampak jauh lebih baik dibandingkan semalam saat sakit.
"Sedang apa nak? Hmm? " ujarnya lagi2 menorehkan senyum manis sembari mengusap pucuk kepalaku. Aku menggeleng dan tersenyum, tangan keriput itu menggiringku menduduki kasur.
"Kenapa Suci tidak keluar kamar? Memang tidak bosan? Bermainlah dibawah sayang... ada banyak mainan bukan? " ucap nenek. Memang sih banyak mainan, kemarin papa membelikan begitu banyak mainan barbie dan alat2 masak kesukaan anak2, tapi entah mengapa rasanya aku sangat malas keluar kamar. Disini lebih menyenangkan, apalagi saat aku memandang taman bunga dibawah sana... uhhhh menyenangkan! Andai aku bisa melangkahkan kakiku ketaman itu...
"Ada apa? Suci menginginkan sesuatu? mmmh? Apa mainannya jelek? Nanti nenek akan meminta papamu membelikan yang baru sayang... "
"Tidak nek, tidak usah. emmmm... nek?!"
"Iya? Ada apa sayang? "
"Bolehkah Suci bermain ditaman bunga? "
Seketika raut wajah nenek berubah, entah apa ada yang salah dengan ucapanku? Dahinya sedikit berkedut, dan pandangan matanya menabrak sudut2 kamar.
__ADS_1
"Boleh.... Asal.... " ucap nenek, membuatku tak sabaran.
"Asal, Suci tidak merusak bunga2 yang ada disana. Bisakah Suci berjanji untuk tidak merusak bunga2 ditman itu, sayang? Kalau bisa berjanji dan memegang janji, maka akan nenek izinkan... "
...****************...
Dan disinilah aku kini, duduk diatas rerumputan membawa paket mainanku bermain dengan hati gembira ditaman bunga. Aku berjanji pada nenek tidak akan merusak apapun, terlebih lagi bunga2nya. Aku hanya akan memasak bersama boneka barbieku, lihatlah sipirang ini juga ikut bahagia bisa bermain ditaman bunga. Aku menoleh memandangi dua orang wanita sama usia sedang bertukar cerita, duduk diatas sebuah kursi cantik dan panjang. Sesekali nenek melihat kearahku menyuguhkan senyumnya, lalu kembali menatap bi Inah yang ikut duduk didekatnya. Entahlah apa yang dibicarakan oleh mereka? Aku lebih mementingkan masakanku kini yang hampir matang, kasihan barbieku Sepertinya sudah lapar yah?
BRUM BRUM BRUM ......
aku mengangkat wajah mendengar deru mesin,kulihat sebuah mobil hitam melesat memasuki gerbang yang sedari tadi tertutup. Mobil itu berhenti tepat didepan taman bunga, kulihat nenek segera bangun dari duduknya dan ikut memandangi mobil hitam disana. Tak lama pintu mobil terbuka, memperlihatkan seorang wanita cantik dan seorang gadis kecil. Mmhh? Sepertinya gadis itu lebih tua dariku? Ia nampak lebih tinggi, mungkin aku hanya sebatas bahunya. ada apa dengan wajah anak itu? Kenapa murung? Kulihat wanita itu merenggut pergelangan tangan gadis kecil didekatnya, dengan sedikit kasar. Nenek sudah maju hendak menyampari wanita cantik tersebut, bersama bi Inah dibelakangnya. Aku setia mengamati dari jauh, penasaran siapa wanita dan anak kecil tersebut? wanita itu memperbaiki tatanan rambutnya, yang terurai panjang. Ia berbicara dengan nenek seraya matanya berisyarat pada gadis kecil disampingnya. Aku tak dapat melihat wajah nenek karena wanita itu membelakangiku. Dari arah pintu rumah, tiba2 papa sudah muncul dan berjalan cepat menghampiri tiga orang wanita disana. Dua alis miliknya bertaut tajam saat wanita cantik itu mulai komat kamit berbicara. Issh? Apa yang mereka bicarakan yah? ah sudahlah, aku lanjut main saja. Itu urusan orang dewasa bukan? Akhirnya aku kembali menyuapi si pirang ini, satu suap.... dua suapp... Lalu tiba2 sebuah suara mengagetkan aku.
"Eh? Tapi kenapa bi? " tanyaku, tak terima jika harus menyudahi permainanku, namun aku juga tak berontak saat bi Inah mengambil dan menggendongku. Permainanku akhirnya tergeletak begitu saja diatas rerumputan, bi Inah bilang papa menyuruhku masuk, katanya hendak hujan. Si pirang dan alat2 masakku nanti akan dibawa oleh bibi yang lain. Aku terdiam memeluk leher bi Inah, sambil memandang papa dan nenek beserta wanita asing disana yang juga hendak beranjak masuk kedalam rumah.
"Nona Suci mau makan? Biar bibi ambilkan.. " ujar Bi Inah meletakkanku keatas kasur. Kini aku sudah berada dalam kamar serba pink ini.
"Mmm iya? Memang ada bi? " tanyaku hati2. Biasanya pagi2 begini sangat susah bagi aku, ibu dan ayah mendapatkan makanan. Paling kami hanya mengisi perut dengan air hangat.
__ADS_1
"Tentu saja...Tunggu sebentar ya," Bi Inah akhirnya menghilang dibalik pintu. Mainanku? Ah.... aku masih ingin main. Aku berlari kesisi jendela besar, menyingkap tirai pink itu dan memandang taman bunga disana. Sudah tidak ada apapun disana? Itu artinya permainanku telah dibawa masuk.
KRIEEEEETT
Pintuku dibuka kembali, dan itu papa. Dia berjalan kearahku,
"Sayang? Sedang apa hmm?" papa berjongkok didepanku seraya membelai pucuk kepalaku lembut. Aku menatap kearah taman bunga, menunjukkan pada papa bahwa aku senang mengamati taman itu dari atas sini.
"Jangan sering main didekat jendela nak. Nanti hujan datang, Suci bisa bsah... " ucap papa.
"Apa tamannya sangat indah? Sehingga kau suka melihatnya? " tanya papa dan aku segera mengangguk antusias.
"Kalau Suci mau? Suci bisa bermain disana setiap hari, asal... "
"Tidak boleh memetik dan merusak bunganya, iya kan?" Ucapku memotong pembicaraan.
"Gadis pintar! "
__ADS_1
Cup
Papa membelai dan memelukku dengan sayang. Tak lama bi Inah pun datang membawa nampan berisi buah buahan. Wah?! sangat menggiurkan, ada apel, anggur, pisang dan banyak lagi! Wah senangnya.