Anak Gadis Tuan Gifari

Anak Gadis Tuan Gifari
Perempuan mulia


__ADS_3

"Apa ini kuburan ayah dan ibumu? " Aku mengangguk lemah tanpa menatap si bapak. Dia sangat harum dan bersih, aku masih memeluknya erat. Berapa kali kurasakan usapan dan belaian tangannya menjelajahi rambut dan kepalaku dengan sayang. Aku sangat2 merindukan belaian seperti ini, aku rindu ayahku! ibuku!


Aku duduk bersimpuh didekat kuburan Kedua orang tuaku sambil memperhatikan tingkah bapak2 disebelahku yang sperti sedang berdoa. Ia nampak mengusap2 nisan ayah dan ibuku lama. Aku menangis dalam kebisuan, menyadari aku benar2 hampa sekarang. Kemana aku akan pergi? Aku tak punya siapa2 lagi! Tiba2 tubuh mungilku lengser ditanah dan melekat pada kuburan ayah. Aku menangis terisak disamping bapak2 itu.


"Siapa namamu nak?" tangan itu membelai kepalaku lagi. Aku menjawab dengan lemah dan hampir tak terdengar. Kudengar bapak itu menarik nafas panjang lalu menghembusnya pelan. ia tampak menyeka ujung matanya. Aku direnggutnya dan didudukkan dipangkuannya seraya kembali membelai dan mengusap rambut hitam panjangku.


"Apa Suci mengira ayah dan ibu telah tiada? " ia bertanya padaku. Aku mengangguk lemah, tentu saja mereka telah tiada.


"Mereka tidak pergi, mereka masih bersama kita. Hanya saja tempat mereka sudah berbeda dengan kita, nak.... " Ucapannya membuatku mengernyitkan dahi mencoba menelaah kalimat itu.


"Jadi ayah dan ibu tidak hilang? yah? " tanyaku sembari menatap dua kubur didepan.


"Mereka tidak kemana2 sayang, mereka hanya pindah tempat. Kelak paman (saya) dan Suci juga akan menyusul mereka (ayah dn ibh). Kalau Suci rindu pada mereka, kirimkanlah doa. Mereka akan sangat senang dengan doa2 Suci. " Aku terdiam, jadi ayah dan ibuku masih ada? ya?


"Kapan paman dan aku akan menyusul mereka? Aku ingin menyusul ayah ibu sekarang, aku juga mau ikut mereka pindah.... " ujarku penuh harap.


"Tiada yang tahu, kapan kita akan menyusul orang2 seperti ayah dan ibumu. Tiada yang tahu nak. "


"Kenapa sngat susah bertemu ayah dan ibu kembali? Jika memang hanya pindah paman? Tempat mereka seperri apa? Apa masih satu langit dengan Suci? "

__ADS_1


"Iya. "


Aku merenung mendalami percakapan kami barusan. Aku rindu, rinduuu sekali ayah dan ibu. Aku akan setia mendoakan, aku akan mengirimi doa setiap hari untuk mereka. Aku akan menunggu saat2 dimana aku juga akan menyusul mereka.


"Apa Suci tidak pernah pulang kerumah? Suci tidur dikubur ayah dan ibu? " tanyanya lagi. Aku mengangguk lemah, kenyataannya sudah dua hari lebih aku bermalam dipemakaman ini.


"Pasti ayah dan ibu sedih melihatmu seperti ini"


"Kalau mereka sedih harusnya mereka pulang kesini dan menemani Suci lagi paman. Tapi mereka tidak datang2 juga, ayah dan ibu... "


"Ingin, mereka ingin datang nak. Hanya saja mereka tidak bisa, " bapak itu merenungi kuburan ayah dan ibu menatap dua gundukan tanah didepannya lama.


"Suci... "


Aku menoleh menatap wajah bapak yang kusebut paman itu, aneh! Ia menatapku dengan tatapan yang sulit untuk kumengerti.


"Suci, Allah lebih sayang ayah dan ibumu dibanding siapapun didunia ini. Untuk itu ia menahan mereka dan mengambilnya...."


Aku terdiam....

__ADS_1


"Harusnya Suci bersyukur sayang, ayah dan ibu tidak lagi lelah dan menderita hidup didunia ini." lanjut paman membawaku dalam ingatan tentang hari2 dimana ayah dan ibu sakit dan kelelahan setiap kali pulang kerja. Ucapan paman masuk dalam akalku. Namun tetap aku tak bisa menerima kenyataan mereka diambil Allah. Tidakkah Allah kasihan kini aku hidup


sebatang kara?


"Tap-tapi kenapa Allah tidak kasihan pada Suci? Ia mengambil ayah dan ibu lalu membiarkan Suci sendiri.... hiks hiks" isak kecilku membuncah keluar.


Cup


"Apakah Suci tau? Kebanyakan orang orang mulia hidup dalam kesendirian? Para Nabi adalah orang2 mulia yang pernah hidup dimuka bumi ini dan mereka hidup tanpa ayah atau pun ibu bahkan semenjak lahir..."


Aku membisu, aku pernah mendengar cerita ibu tentang nabi, mereka adalah orang2 hebat. Ibu selalu membacakan kisahnya setiap aku tidur. meski ibu terkdang salah menyebut nama nabi nabi menurutnya.


"Saat Suci jadi yatim, Allah akan mengirimkan banyak kasih sayang pada Suci. Banyak yang akan menyayangi Suci....." Paman tersenyum padaku disertai linangan air mata, aku sungguh tersihir dengan kata2nya.


"Jadi jangan sedih nak, meski tiada ayah dan ibu. Allah akan mengirimu orang orang baik yang Suci tak akan pernah mengiranya. Suci akan menjadi orang mulia dengan derajat ini...."


"Ayah dan ibu pun akan bahagia disana jika tau Suci berjuang menjadi perempuan mulia... meski tanpa ada mereka. "


Air mataku sudah surut sejak tadi, entah mengapa aku merasa terhibur dengan rangkaian kata paman ini. Seakan aku dan paman itu anak dan ayah yang berjumpa setelah terpisah lama. Hatiku menghangat bila kupandang wajahnya yang teduh.

__ADS_1


__ADS_2