
"Argh! " gemuruh itu lagi! seketika aku tersentak dari tidurku. Rupanya masih hujan? Pantas rasanya nyenyak sekali! Aku pun bangkit dari ranjang kemudian berjalan menghampiri jendela kamar. Tirai itu kusingkap sedikit, dan terlihatlah taman bunga yang sudah basah diguyur hujan. Mmhh indaahnya..... Mengapa hujan ini indah sekali? Ah ya? Aku ingin keluar kamar... barangkali nenek sakit lagi gara2 hujan ini?
Satu langkah, dua langkah, aku menggeret kakiku mendekati pintu kamar nenek. saat akan melewati tangga besar kulihat diujung tangga seseorang sedang duduk. Aku mendekati besi2 emas yang terpalang dekat tangga, mengamati dari jauh sosok disana. Hei!? Bukankah itu anak yang tadi pagi kulihat? Sedang apa dia? Rambutnya diikat sembarang dan nampak begitu acak acakan. Sesaat kemudian gadis itu pergi dari sana, aku membuntutinya hingga anak tangga terakhir. Lalu kudapati gadis itu termenung menatap menghadap jendela kaca yang dibasahi air hujan. Punggungnya bergetar, seperti sedang menangis? Dia itu kenapa ya? Apa ibunya meninggalkannya disini?
"Mh?" Aku mendongak merasa seseorang menyapu kepalaku.
"Sedang apa hmm?" itu papa. Aku mengarahkan pandanganku pada gadis kecil disana. papa melakukan hal yang sama, ia sepertinya paham jika aku sedang bingung dan penasaran mengapa gadis itu ada disini?
"Ayo kita temui saudaramu," ucap papa tersenyum.
"Ha? " aku membelalakan mata tak mengerti.
__ADS_1
"Mulai sekarang Syahnaz akan tinggal bersama kita sayang. Dia akan menjadi saudarimu,"
"Syahnaz? "
"Iya! Ayo kita berkenalan dengannya.. " Papa menggendongku seraya berjalan menghampiri gadis kecil didepan jendela itu. Aku diturunkannya saat kami sudah bersebelahan dengan gadis tersebut. Aku merasa bingung tak tau hendak berbuat apa? siapa gadis ini? Kenapa ia nampak sedih? Banyak jejak air mata membentuk dipipinya.
"Syahnaz, nak. Berhentilah bersedih, bukankah paman sudah disini? " Ucap Papa mengusap2 kepala anak itu sayang. aku setia berdiri didekat papa mengamati wajah gadis itu. Kudengar isakan kecilnya kian keras terdengar. Papa pun memeluk anak itu sambil membelai pucuk kepalanya.
"Sabarlah nak, ayahmu sudah tidak bersamanya lagi. Percayalah! "
"Benarkah?! " Kulihat lihat Gadis bernama Syahnaz itu mendongak menatap papa.
__ADS_1
"Iya, paman bisa pastikan itu. Jadi tenanglah, jangan sedih... Mulai sekarang paman akan mengurusmu dan menganggapmu sebagai anak pamaan sendiri. Syanaz akan tinggal disini...." jelas papa. Jadi dia akan tinggal disini? Gadis itu? Syahnaz? Wah senangnya... Aku tidak akan sendirian dirumah besar ini... Kusunggingkan senyum termanisku, menatap Syahnaz, sudah kubayangkan bagaimana nanti kita akan main masak2 bersama ditaman bunga. Uwhhh pasti menyenangkan!
"Syahnaz, kenalkan ini Suci saudarimu. Dia anak paman. Ayo kalian berkenalan." Papa mendekatkan aku dengan Syahnaz, aku merasa sedikit malu.
"Oh, Suci? Hai, perkenalkan namaku Syahnaz, senang bisa menjadi saudarimu mulai sekarang! " Dia tersenyum meski suaranya sedikit serak lantaran habis menangis. Dia sangat baik!
"Apa aku bisa memanggilmu kakak? " ucapku pelan2, takut ia tak setuju dengan panggilan itu. Jujur saja, aku selalu bermimpi bisa memiliki seorang kakak yang akan melindungiku saat teman2 nakal mengganggu.
"Tentu, aku senang dengan panggilan itu. Terima kasih Suci... " senyum lebar menguasai bibirku. Aku sangat gembira, dia sama sekali tak keberatan. Dia benar2 kakak yang baik... Tunggu apa mulai sekranag aku benar2 memiliki seorang kakak? Wah? Apa aku bermimpi?
"Suci, ajak kakakmu kekamar... sedikit lagi waktunya makan. Bi inah akan memanggil kalian kalau masakan sudah selesai dimasak. Bwalah kakakmu kekmar sayang.. " Ungkap papa. Aku menggangguk mengiyakan, lantas aku dan kakak sgera menaiki tangga berjalan beriringan sambil sesekali saling melemparkan senyum.
__ADS_1