
"Hiks hiks......." aku menangis didekat kubur ayah dan ibu.
"Suci harus tinggal bersama paman itu nak. dia akan jadi ayah angkat Suci, tenanglah sayang dia orang baik. Dia sangat menyayangi Suci... " (Bu Maya)
Aku menoleh kesamping memandang wajah teduh itu yang kini tengah merenungi dua gundukan tanah didepannya. Apa benar paman baik hati ini akan menjadi ayah angkatku?
"Suci? " ucap sang paman menatapku.
"Ya? "
"Kalau Suci rindu ayah dan ibu kita akan pergi kesini setiap tahun mengunjungi mereka. "
Aku terdiam, aku kembali mengingat ucapan paman baik hati dirumah sakit kemarin.
"*Suci.... paman pernah bilang kan? Jika ayah dan ibumu tidak memghilang? mereka hanya pindah tempat... "
"Suci akan tinggal bersama paman, dan tumbuh menjadi perempuan hebat dan mulia! Paman akan membantumu nak, dan buatlah ibu dan ayah bangga melihat Suci dewasa kelak! "
__ADS_1
"Meski makam ayah dan ibu akan menjadi jauh bagimu, mereka tidak akan pernah jauh dari hati dan doa mu sayang. Kau bisa terus mendoakan ayah dan ibu, mengirimi mereka doa2 itu setiap hari. menanyakan keadaan mereka pada Allah, meminta Allah menjaga mereka*.... "
"Hei? Kenapa diam? " tanya paman membelai kepalaku. Aku diangkatnya dan digendongnya. Kusandarkan kepalaku didada paman baik itu, rasanya amat nyaman dan tentram. dia sangat bersih dan wangi...
"Paman, janji kita akan kekubur ayah dan ibu setiap tahun?" tanyaku...
"Papa. Panggil aku papa mulai sekarang nak. Aku sekarang papamu.. " aku mendongak menatap wajah paman, merasa terkejut
"Apa? "
"P-pa-pa? " ucapku ragu. Paman tersenyum, kemudian mencium pucuk kepalaku. Aku sama senangnya dengan paman, entah mengapa hatiku merasa sangat bahagia bisa menyebutnya papa. Aku memeluk papaku kian erat,
...............***************.................
Bu Maya memeluk diriku erat, aku digendongnya dan ia menciumi wajah dan pucuk kepalaku berulang kali. Aku sangat menyayangi wanita ini, aku juga sedih harus meninggalkannya. Air mataku merembas jatuh, aku menangis sambil kudekap erat leher yang tertutupi tudung itu.
"Su-suci? Janji yah? Jangan pernah lupakan ibu? Harus jadi anak yang baik dan sholehah, paham sayang? Hiks hiks hiks..." Aku mengangguk mengalungkan tanganku pada leher bu Maya.
__ADS_1
"Suci jangan lupa main kesini yah nak? Kalau sudah besar nanti, atau kalau ad rejeki ibu akan menengok Suci disana.... " Aku mengangguk, aku merasa tak sanggup pergi meninggalkannya dan kampung halamanku. Terlalu banyak kenangan yang bertaburan disini, terutama didalam rumahku...
"Huuuuuu,, huuuuuu hiks.... " (Bu Maya)
"Sudahlah sayang, Suci harus pergi..." ucap suami Bu Maya mendekat. Papaku (Tuan Gifari) pun sama, ia mendekati kami dan bersiap menggendongku. Bisa kulihat wajah bu Maya yang amat tak rela aku direnggut dari dekapannya. Dilihat dari dua bola matanya ia nampak berusaha tegar dan ikhlas. Aku merasa sangat aneh, paman baik hati ini adalah orang asing yang kukenal tidak kurang dari dua hari. Bagaimana bisa aku menjatuhkan pilihan untuk hidup bersamanya dibesarkam sebagai anak? Aku merasa hairan dengan perasaanku ini, mengapa wajah papaku itu seolah tak asing dan batinku seolah terikat dengannya.
"Kami pergi dulu, Assalamualaikum..." ujar papa tersenyum sembari menyalami semua orang (paman berkumis, bu Maya, dan suaminya).
"Jagalah anak ini dengan baik pak, dia amanah Allah yang dipercayakan pada bapak. Bersyukurlah bapak. bisa membesarkan dan merawatnya kelak, karena pahalanya sangat besar terlebih lagi Suci anak yatim... " (Pamam berkumis)
"In syaa Allah pak, doakan saya agar bisa menjaga amanah ini sebaik-baiknya. Terima kasih atas kepercayaan bapak dan warga membiarkan saya menjadi orang tua angkat bagi Suci...(Papa)
"Semoga Allah memberkahi kehidupan bapak dan Suci,,, tolong jaga baik2 anak saya pak. Saya sangat menyayangi Suci, jika bapak memiliki anak dirumah, tolong jangan perlakukan Suci dan mereka secara berbeda. Kalaupun itu harus terjadi, usahakan untuk tak terlalu menampakkannya, karena itu akan menyakitkan bagi Suci... " ungkap bu Maya menatap papa.
"Saya menyayangi anak ini seperti anak kandung saya, bu Maya tak perlu khawatir tentang kasih sayang saya dan bagaimana saya membagi kasih sayang itu. . "
...........************...........
__ADS_1